
"Kenapa kau berbicara seperti itu??? Kau seperti mensyukuri jika bayi kita meninggal??? Jahat sekali...!" Protes Vino.
Rana tersenyum. "Bayi itu justru yang selalu menguatkanku untuk bertahan, memotivasiku untuk bangkit dan kuat, aku menjaganya dengan baik meskipun selama 3 bulan aku harus menghadapi masa dimana semua makanan enak tidak terasa enak, lalu bagaimana bisa aku mensyukuri kepergiaannya???
Aku hanya mencoba untuk berpositive thingking atas cobaan yang Tuhan berikan paadaku, lalu aku bisa apa jika Tuhan mengambilnya??? Rencana Tuhan selalu indah meskipun terkadang awalnya membuat kita kesulitan dan banjir air mata, tetapi pasti suatu hari kebahagiaan dan kebaikan yang datang menghampiri...!"
"Aku tahu itu, tetapi seharusnya kau tidak berkata seperti itu...! Bagaimana pun itu adalah bayimu.. Aku juga menyesal ini terjadi, kau juga seharusnya berhati-hati saat akan mengkonsumsi sesuatu, itu bukan untukmu tetapi kau malah memakannya...!"
Rana tersenyum dingin. "Lalu jika bukan aku yang mengkonsumsinya tetapi Vitto, kemudian terjadi sesuatu padanya, apa kau tidak akan peduli dengannya?? Apa kau akan menyalahkannya karena tidak hati-hati??? Yang membuat ini bisa terjadi juga bukan sembarang orang, dia sangat dekat denganmu, dekat sekali....!" Ucap Rana.
"Seseorang yang hidupnya selalu di penuhi dengan kedengkian, ketamakan, dan juga yang selalu kau puja-puja di setiap waktu justru adalah orang yang sudah menghancurkanmu dan keluargamu... Kau mencintainya begitu besar bahkan kau sering berdebat dengan saudaramu juga Papa mu hanya karena membela dia, dan sekarang kau baru merasakan dan menyadari bahwa orang itu yang sudah merenggut adikmu juga bayi kita... Jadi berhentilah menyalahkan aku yang sudah memakan makanan itu juga menyalahkan Vitto karena teledor membiarkan makanan itu di rumah...!"
Vino menunduk. "Sorry sorry... Aku tidak bermaksud seperti itu tadi...! Rana...! Sekali lagi aku minta maaf padamu atas semuanya, aku tahu aku salah selama ini bahkan aku juga tidak mempercayaimu, melukaimu, yang bisa ku katakan hanyalah permintaan maaf yang sebesar-besarnya.!"
"Asal kau tahu Vin, aku sebenarnya sudah memaafkanmu jauh sebelum kau mengatakan ini bahkan sebelum om Andri dan Vitto yang meminta maaf padaku atas namamu...! Aku sudah menghadapi terlalu banyak kesulitan karenamu, dan itu juga terjadi atas keputusanku sendiri untuk menikah denganmu jadi aku mencoba menerima semuanya serta memaafkan semua yang terjadi...!" Ujar Rana.
Senyum Vino mengembang. "Jadi kau mau memaafkanku????"
"Ya..!" Jawab Rana singkat.
"Yeeeesss......!!!" Seru Vino kemudian dia memeluk Rana yang terbaring tetapi Rana segera melepaskannya dan meminta Vino agar tidak memeluknya.
"Aku memaafkanmu tetapi bukan berarti aku melupakan semuanya, karena aku tidak akan pernah bisa melupakan sesuatu yang menyakitkan, sulit sekali untuk melupakannya. Tugas manusia adalah saling memaafkan pada kesalahan manusia lainnya, aku memaafkanmu karena itu salah satu prinsip hidup yang selalu ku pegang dari dulu sampai saat ini. Aku hanya berharap kau bisa jadi manusia yang lebih baik lagi"
"Aku mengerti tetapi aku benar-benar lega kau mau memaafkanku, aku berjanji aku akan jadi lebih baik lagi..! I promise...!" Vino mengangkat dua jarinya dan senyumnya melebar, dia benar-benar bahagia Rana mau memaafkannya. "Thanks kau sudah memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku berjanji bahwa aku tidak akan pernah melakukan hal itu lagi...!" Ucap Vino lagi.
"Kau juga harus berjanji bahwa kau tidak aka pernah lagi mengganggu dan mengusik kehidupanku, apapun itu bentuknya, aku tidak mau terlibat lagi dalam segala hal mengenai dirimu, aku ingin hidup normal seperti sebelum mengenalmu, yang berlalu biarkan berlalu.."
__ADS_1
Vino mengangguk. Dia menyetujui ucapan Rana bahwa dia tidak akan mengganggu Rana atau mengusiknya, juga tidak akan melakukam kesalahan yang sama. Vino akan memberi Rana ruang agar Rana tidak merasa risih atau tidak nyaman tetapi Vino masih yakin bahwa dia memiliki banyak waktu untuk membuat Rana bisa percaya dan mau dekat dengannya lagi. Vino tidak akan melepaskan Rana, dia tahu bahwa Rana dulu sangat mencintainya dan sampai saat ini juga pasti masih memiliki perasaan itu, hanya saja Rana saat ini sedang dalam tahap menghilangkan trauma nya jadi wajar jika Rana memintanya agar tidak tidak di usik dulu.
Sementara itu, sejak tadi Vitto ternyata mendengarkan semua obrolan Rana dan Vino. Dia tidak bergerak serta tetap di posisi tidurnya sambil Rana sudah menyampaikan permintaannya kepada Vino agar Vino tidak mengusiknya lagi. Vitto benar-benar merasa senang sekali karena Rana sudah memutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan Vino, artinya Rana sudah melepaskan masalalu nya kemudian memulai yang baru. Dan Vitto yakin, Rana sudah benar-benar mantap untuk bersamanya, walaupun Rana masih belum mengiyakan untuk mau menikah dengannya tetapi Vitto tidak mempermasalahkannya karena suatu saat pasti Rana akan mengatakan iya untuk bersamanya.Vitto hanya harus sedikit bersabar lagi.
★★★★
"Sibuk sekali sampai terrlambat datang...!" Protes Jeany pada Edward yang baru sampai di rumahnya. Lelaki itu terlmabat lebih dari satu jam dari janjinya.
"Aku tadi harus menghubungi beberapa orang, seperti make up artist, designer juga lainnya... Vino meminta bantuanku untuk segera menghubungi orang-orang itu, dia ingin membuat video dokumenter perjalanan cintanya dengan Angel, dan akan dia tayangkan saat pertunangannya nanti, aku pikir dia akan membuatnya untuk acara pernikahannya, ini malah pertunangannya..."
"Video dokumenter??? Untuk pertunangannya???" Tanya Jeany.
"Iya...!" Edward mengangguk.
"Untuk apa??? Bukankah dia sudah mengetahui kebusukan perempuan itu? Lalu kenapa meminta di buatkan video dokumenter??" Tanya Jeany lagi, merasa bingung sekaligus heran.
"Aku juga bingung kenapa dia ingin melakukan itu, tetapi dari cara bicaranya dia seperti sedang menyiapkan sesuatu yang entah tujuannya untuk apa... Jika dia memang tetap ingin melanjutkan pertunangannya dengan Angel ya itu hak dia sih meskipun menurut kita itu adalah hal yang bodoh sekali."
Orang tua Jeany sedang ada di luar kota jadi Jeany hanya sendiri dan mengajak Edward untuk makan malam berdua. Sebenarnya jika tidak ada masalah kemarin mungkin Jeany akan merasa senang bisa bersama Rana di rumah sahabatnya itu, sayangnya Rana justru terkena musibah. Besok dia akan ke rumah sakit lagi dan menemani Rana. Meskipun Rana menunjukkan bahwa dia kuat tetapi Jeany tidak bisa memungkiri bahwa ada kesedihan yang di rasakan oleh sahabat nya itu atas kepergian bayi yang ada di kandungannya.
***
Vino sedang keluar membeli makan malam untuk Vitto dan dirinya sendiri. Makan malam Rana sudah di antar, Vitto langsung menyuapi perempuan yang sangat di cintainya itu. Rana tersenyum dan mengucapkan terima kasih karena Vitto selalu memperhatikannya dan setia menjaganya sejak semalam.
"Bagaimana rasanya???" Tanya Vitto.
"Hambar...." Jawab Rana.
__ADS_1
"Hambar??? Apa mungkin hambar seperti hati Vino saat ini... Hahaha" Jawab Vitto sambil tertawa.
Rana langsung memukul bahu Vitto dan ikut tertawa. "Dasar kau ini...."
"Nah kalau tertawa seperti ini kau pasti terlihat lebih cantik...!" Puji Vitto.
"Masa???"
"Tidak percaya ya sudah...!" Ucap Vitto.
Rana tersenyum. "Aku merasa lega setelah memberi Vino maaf, aku sudah lama menunggu dia meminta maaf padaku, meskipun sebenarnya aku sudah lama memaafkannya..!"
Vitto meletakkan piring ke meja kemudian menggenggam jemari Rana lalu mengecupnya. "Hatimu begitu luas, aku benar-benar bangga memilikimu..!"
"Vitto...! Disetiap doa yang aku panjatkan pada Tuhan, aku selalu meminta agar aku di jauhkan dari segala kesulitan yang sekiranya akan membelengguku...! kau seperti anugrah yang di kirimkan Tuhan untukku..!" Ucap Rana. Kemudian matanya berkaca-kaca menatap Vitto penuh dengan cinta.
Rana membelai pipi Vitto kemudian dia mengungkapkan segala kebahagiaannya setelah bersama Vitto selama ini. Bagaimana ketakutan serta trauma yang dia rasakan begitu berat hingga rasanya hatinya ingin dia tutp selamanya untuk laki-laki. Vino membuat luka yang begitu dalam di hati Rana.
Sebuah kisah tertulis begitu kelam di masa lalu Rana hingga rasanya tidak ingin teraba oleh hati siapapun. Sampai akhirnya Vitto hadir dengan segala kelemahannya, kelebihannya dan juga ketulusuannya. Vitto bisa menyempurnakannya dengan segala kekurangan serta kelebihan yang di milikinya.
Rana sendiri sempat merasa mesakitan dan juga pahit ketika harus mengakui dan menahan rasa cinta nya untuk Vitto. Namun sayangnya semakin menahan semua itu, Vitto justru tetap dan selalu ada.
Vitto hadir dalam bayangan yang tak pernah Rana anggap, Vitto selalu ada di dalam bayangan semu nya. Vitto selalu merindu dan membuat Rana semakin jatuh kepada nya.
Rana meneteskan air matanya memandangi Vitto, kemudian dia mengecup jemari Vitto. "Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena sudah mengirimmu kepadaku, sehingga aku ingin berteriak bahwa Ku Temukan Penggantinya sekarang, aku temukan kebahagiaanku, mungkin benar kata Om Andri, bahwa kita memang harus segera menikah, aku yakin kau juga mau itu kan???" Rana mengedipkan matanya dengan genit pada Vitto.
"Kau serius???" Tanya Vitto.
__ADS_1
Rana mengangguk. "Ya, lebih baik kita menikah, itu akan lebih baik dan kita bisa memulai kebahagiaan yang baru, aku ingin menjadi istri yang sesungguhnya yang di limpahi kebahagiaan oleh suamiku, bukan malah di berikan penderitaan dan siksaan seperti kemarin....!"
Senyum Vitto melebar. "Tidak... Aku tidak akan melakukan apa yang sudah di lakukan Vitto padamu, aku akan membahagiakanmu, itu janjiku... Thanks God...." Vitto berdiri dan memeluk Rana dengan rasa syukur yang tidak terkira.