Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 73


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Vitto mengirim supir untuk menjemput Papa serta tantenya di airport. Vitto ingin melakukannya sendiri tetapi niatnya itu terhalang oleh berbagai pertimbangan, salah satunya dia tidak ingin dikenali oleh orang saat di airport saat menjemput Papanya, mengingat Vitto tidak ingin membuat kehebohan dan Vino menjadi tahu bahwa Papanya kembali. Ya, meskipun pada akhirnya nanti Papa ya akan tetap menemui Vino, tetapi untuk saat ini belum waktunya memberitahu adiknya itu.


Vitto meminta agar sang Papa dibawa ke apartemennya saja lebih dulu untuk menemui Rana, sebelum nanti ke rumah Vino. Setidaknya Papanya bisa menjelaskan semuanya kepada Rana lebih dulu, dan Vitto juga ingin mendengar apa yang dulu sebenarnya terjadi pada Adiknya. Jika memang itu murni kesalahan supir taksi itu kenapa Papanya justru membebaskannya dulu, dan jika dibebaskan tentu ada kebenaran dibalik semua itu. Dan kasus itu ditutup begitu saja tanpa tahu kelanjutannya.


Kenapa dan bagaimana Vitto serta Vino tidak mengetahui kejelasan perihal masalah itu adalah karena mereka berdua dulu berada di luar negeri untuk kuliah. Mereka baru kembali setelah mendpat kabar bahwa Vania mengalami kecelakaan hingga meninggal, dan setelahnya mereka harus kembali lagi sehingga tidak tahu apa yang terjadi setelah sekitar hampir 2 bulan kepergian Vania. Dimana tiba-tiba saja mereka mendengar kabar bahwa proses hukum kepada supir taksi itu dihentikan. Papanya hanya menjelaskan bahwa supir taksi itu tidak bersalah dan meminta mereka agar tidak membahasnya lagi. Vitto menghargai itu dan dia tidak lagi banyak bertanya karena kepergian adik perempuannya sudah cukup menghancurkan hatinya, dia hanya akan mengingat segala keceriaan Vania saja, tidak ingin mengingat hal buruk itu.


Vitto dan Vino juga baru tahu jika Vania menjalani perawatan selama beberapa lama, dan setelah kejadian itu Vania mengalami penderitaan dari rasa sakitnya sampai akhirnya dia menyerah dan meninggal dunia.


Sebenarnya Vitto tidak sepenuhnya menyalahkan apa yang dipikirkan Vino dan kemarahannya, mengingat memang tidak ada kejelasan apapun mengenai hal itu. Hanya saja Vitto tidak suka jika sesuatu yang didasari kemarahan menjadi sebuah dendam yang justru menyakiti orang yang tidak bersalah seperti Rana. Karena sebelum melakukan apapun hendaknya dipikirkan baik buruknya, serta dicari tahu kebenarannya. Dulu ketika Vino mengajak Vitto melakukan semua ini dan Vitto menolak, tetapi setelah penolakan itu Vino terlihat biasa saja dan tidak menggebu-gebu untuk melakukan balas dendamnya. Membuat Vitto yang sudah bercerita kepada Papanya tentang hal itu, langsung mengurungkan niat sang Papa untuk menjelaskan pada Vino tentang yang terjadi, karena Vitto tahu seluruh keluarganya sangat tidak suka ketika membahas tragedi itu karena mereka akan merasa sangat sakit sekali mengingatnya. Terlebih lagi saat itu Papanya juga dalam kondisi sakit dan dalam proses pengobatan sampai saat ini.


Ada rasa penyesalan di hati Vitto ketika dia mengetahui bahwa Vino ternyata melakukan pembalasan itu. Vitto menyesal karena sempat menghentikan Papanya untuk menjelaskan semuanya dan saat ini Rana yang menjadi korbannya. Andai saja dulu dia tidak menghentikan Papanya, mungkin kekacauan dan kegilaan ini tidak akan pernah dilakukan oleh Vino.


"Vitto...!" Panggil Rana. Lamunan Vitto langsung terbuyarkan oleh panggilan itu.


"Ya???" Jawab Vitto.

__ADS_1


"Kenapa melamun apa yang kau pikirkan???" Tanya Rana.


Vitto menggeleng. "Tidak...! Aku hanya berpikir dan berharap setelah ini kau bisa terbebas dari Vino, lalu kau bisa berbahagia dengan kehidupanmu lagi...!"


"Amin...! Kau sudah banyak sekali membantuku, semoga suatu saat aku bisa membalas semuanya meskipun kau mungkin akan menolak tetapi sudah kewajibanku untuk membalas semua ini....!"


Vitto terkekeh. "Kenapa kau terobsesi sekali dengan membalas kebaikan yang begitu kecil ini, dan tidak seberapa dengan penderitaan yang kau alami akibat Vino...!"


"Penderitaan yang ku dapatkan kemarin sudah ditakdwkan oleh Tuhan, jadi sudah berlalu dan aku bisa melewatinya berkat dirimu, terima kasih..." Rana menepuk paha Vitto dan tersenyum amnis kepada lelaki itu. "Sebentar lagi papamu pasti datang, tetapi aku justru ingin ke kamar mandi, aku masuk dulu ya???"


Ketika mendengar interkom berbunyi, Vitto langsung beranjak dari sofa dan membuka pintu, karena itu sudah pasti Papanya yang datang. Vitto langsung mencium tangan Papanya dan memeluknya, meluapkan kerinduannya, kemudian dia berganti kepada tantenya yang berdiri di belakang Papanya. Vitto mendorong kursi roda Papanya dan mempersilahkan tantenya untuk masuk. Sementara kedua pengawal menunggu di depan.


"Sorry Pa, Vitto tidak bisa menjemput Papa dan Tante di airport....!" Gumam Vitto.


Papanya tersenyum. "Tidak apa-apa, Papa mengerti kondisimu, dimana Rana???" Tanya Papanya.

__ADS_1


"Dia tadi ke kamar mandi, sebentar lagi pasti keluar, Papa pasti lelah lebih baik Papa istirahat dikamarku saja...!"


"Tidak perlu, Papa baik-baik saja dan tidak lelah sama sekali, kau mencari pesawat yang bagus sehingga papa bisa nyaman beristirahat sambil berbaring tanpa perlu berlelah duduk berjam-jam dinpesawat...!"


Vitto tersenyum. "Itu milik temanku Pa, dia menawarkan sendiri padaku ketika aku bertanya tentang penyewaan pesawat yang bagus dan nyaman untuk Papa... Itu milik Aditya, Ceo HS Enterprise, aku rasa Papa juga mengenal baik orangtuanya tuan Harry Sahasya, partner kerja Papa...!" Vitto menjelaskan.


"Ah iya tuan Harry, ya ya Papa mengenalnya, dia partner kerja yang luar biasa, dan kau ternyata berteman juga dengan putranya...!"


"Aku mengenal Aditya ketika kami sama-sama kuliah di Oxford, aku satu tingkat dibawahnya, tetapi kami berbeda jurusan...! Aditya bahkan tidak mau menerima uang dariku untuk pembayaran sewa pesawat itu, aku merasa tidak enak tetapi dia bilang bahwa aku harus menganggap itu sebagai bantuan seorang teman, dia juga menitipkan salam dari Tuan Harry untuk Papa..!"


Papa Vitto tersenyum. "Kau berteman dengan orang yang tepat, sampaikan rasa terima kasihku padanya dan salam kembali untuk tuan Harry...!"


Vitto tersenyum kemudian mengangguk. Sebenarnya dia tidak begitu dekat dengan Aditya dulu, karena hanya beberapa kali bertemu saja, tetapi kesan dari lelaki itu memang luar biasa dan sangat bersahabat. Dia akhirnya bertemu lagi sekitar satu tahun yang lalu dan pertemanan yang sempat terpisah itu kembali dekat. Bahkan mengenai pesawat yang baru saja dibicarakan itu, Aditya tidak mau menerima sepeserpun uang dari Vitto. Aditya meminjamkan secara percuma karena dia juga tahu betul bahwa Papa Vitto adalah rekanan bisnis yang sangat dekat dengan Papanya.


Ditengah obrolan Vitto dengan Papanya, Rana akhirnya keluar dengan langkah pelannya di bantu oleh tongkat. Vitto tersenyum dan memberitahu Papanya bahwa itu adalah Rana. Papa Vitto langsung tahu karena dia sendiri beberapa kali berbicara dengan Rana melalui panggilan Video.

__ADS_1


__ADS_2