
Beberapa hari kemudian.
Kondisi Rana sudah mulai membaik, dia sudah lepas dari kursi rodanya dan sekarang mencoba menggunakan tongkat elbow karena kakinya masih belum sepenuh sembuh total. Kakinya yang terkilir masih terasa nyeri tetapi Rana tidak ingin terus bergantung dengan kursi roda. Vitto juga selalu ada di sampingnya, membantunya dengan sangat baik ketika dia butuh sesuatu. Mereka berdua juga semakin akrab. Vitto memperlakukan Rana dengan baik, dan dia berusaha untuk membuat Rana merasa nyaman, sebagai ungkapan rasa bersalahnya kepada Rana atas apa yang sudah Vino lakukan.
Rana adalah perempuan yang menyenangkan, dan Vitto sangat senang bisa mengobrol berbagai hal dengan perempuan itu. Seolah obrolan mereka juga tidak ada habisnya. Rana juga sudah mulai banyak tersenyum, meskipun sesekali Vitto sering mendapati dia menangis. Vitto tahu bahwa Rana sudah mengalami hal yang begitu sulit di kehidupannya meskipun terlihat baik-baik saja, tetapi pasti ada waktu dimana Rana akan merasa sedih jika mengingat hal buruk dan kemalangan yang dialaminya kemarin. Rana tidak memiliki siapapun lagi saat ini, dia mengatakan jika dia hanya memiliki Jeany yang selalu ada untuknya tetapi sayangnya, fitnah dan ucapan Vino pada Jeany membuat Rana harus kehilangan sahabatnya itu. Dan sekarang Jeany juga sedang menghadapi masalah besar berkaitan dengan hidupnya akibat ulah Vino. Vitto masih belum mendapatkan kabar terbaru tentang Jeany, anak buahnya juga masih berusaha menggali informasi di rumah sakit mana saat ini Jeany sedang dirawat. Tetapi Vitto selalu meyakinkan Rana bahwa semua akan baik-baik saja dan dalam waktu dekat pasti dia akan mendapatkan informasi tentang keberadaan Jeany dan keluarganya.
Seperti biasa, Vitto menyiapkan sendiri sarapan untuknya dan juga Rana. Meskipun hanya sarapan sederhana seperti membuat omelette ataupun nasi goreng, dia bisa melakukannya.. Untuk memasak sesederhana itu tampaknya Vitto bisa melakukannya karena dia terbiasa berkelana dan hiduo sendiri. Tetapi masalah baking memang Vitto tidak ahli dalam hal itu, dan kemarin dia sangat bersemangat ketika Rana mau mengajarinya.
Rana keluar dari kamarnya, dan Vitto yang sedang menata roti bakarnya di meja makan langsung tersenyum menyapa Rana dengan ramah. "Selamat pagi, sarapan sudah siap, roti bakar buatan chef paling tampan disini untuk nona Rana yang cantik..." Ucap Vitto yang langsung diikuti oleh senyum Rana.
"Terima kasih Chef Vitto....! Aku semakin merasa tidak enak saja kepadamu, ingin sekali rasanya aku bisa segera sembuh dan menggantikanmu mengurus semua hal disini...!"
Vitto menarik kursi makan dan membantu Rana duduk. "Tenang saja, aku tidak akan meminta bayaranku sekarang, jadi kau jangan khawatir mengenai hal itu, hahaha nikmati saja...!"
__ADS_1
Rana tersenyum, dan Vitto meletakkan dua lapis roti bakar dan selai di piring Rana. Vitto kemudian duduk di kursinya dan menikmati sarapannya dengan Rana.
"Rana...! Aku hari ini akan pergi, apa kau tidak apa-apa aku tinggal untuk beberapa jam saja? Aku ada urusan sebentar...!" Ucap Vitto.
Rana melempar senyumnya. "Pergi saja, aku tidak apa! Aku tahu kau pasti bosan disini, kau tidak keluar kemanapun dan hanya melihatku saja... Pergi dan cari hiburan saja...!" Rana menimpali.
Rana tahu Vitto pasti juga butuh waktu untuk mencari udara segar. Beberapa hari ini, lelaki di depannya itu selalu ada bersamanya dan menghabiskan waktunya untuk menemaninya dan membantunya. Rana bisa mengerti bahwa Vitto pasti lelaki bebas dan karenanya Vitto jadi harus seperti ini.
Rana terdiam kemudian menatap Vino. "Apa kau akan mengatakan pada Vino jika aku ada disini?" Tanya Rana dengan wajah yang berubah menjadi penuh antisipasi dan sedikit ketakutan.
"Tentu saja tidak, memangnya aku sudah gila mengatakan keberadaanmu padanya??? Aku sangat membenci pengkhianat dan aku tidak akan pernah berkhianat kepada orang, kau jangan khawatir, aku bukan orangbyang seperti itu aku hanya ingin memastikan saja apa yang saat ini sedang terjadi dengan Vino, lagipula Papa akan pulang dan dia memintaku untuk melakukan ini... Ku harap kau mengerti...! Aku benar-benar tidak ada niat untuk menjebakmu seperti yang Vino lakukan...!"
Rana mengangguk dan dia mencoba percaya pada Vitto dan berharap dia tidak lagi di permainkan oleh orang lain. Rana bergumam dalam hatinya agar ketakutannya tidak menjadi kenyataan dan Vitto benar-benar tulus membantunya. Jika setelah ini ada hal yang mencyurigakan atau Vitto mengkhianati janjinya, Rana tidak akan pernag mau memaafkan juga tidak mau lagi percata kepada orang lain selain dirinya sendiri. Dikhianati oleh orang yang dipercaya itu sangatlah menyakitkan sekali.
__ADS_1
Vitto mendekat ke arah Rana. Kemudian menatap dalam-dalam perempuan itu mencari keyakinan di mata Rana bahwa perempuan itu harus mempercayainya bahwa dia tidak akan pernah menjadi pengkhianat seperti Vino.
"Pergilah... Aku juga tidak memiliki hak untuk melatangmu...!" Gumam Rana lagi.
"Aku hanya akan pergi beberapa jam saja, kau istirahat dan jangan melakukan aktifitas apapun yang membahayakan dirimu, jima kau butuh sesuatu hubungi aku, telepon atau kirimi aku pesan, aku akan segera pulang....!"
Rana menjawab dengan anggukkan kepala. Vitto tersenyum dan mengusap kepala Rana lembut. Kemudian Vitto segera membereskan piring dan gelas yang sudah dipakai, lalu membawanya ke wastafel di dapur. Setelah membersihkannya, Vitto mengantar Rana ke kamarnya lagi dan memberikan obat kepada Rana, membantu peremluan itu meminumnya. Vitto juga membaringka Rana agar Rana bisa istirahat karena biasanya Rana memang akan selalu tertidur setelab meminum obatnya.
Vitto menunggui Rana dan mengajaknya mengobrol sebelum akhirnya Rana mengatakan bahwa dia mengantuk karena efek obatnya. Rana berbaring dan menarik selimutnya kemudian memejamkan matanya dan tidur. Vitto kemudian keluar dari kamar Rana dan menutup pintunya.
Setelah kepergian Vitto, Rana membuka matanya kembali dan menatap langit-langit kamarnya. Dia tadi beroura-pura mengantuk hanya agar Vitto segera keluar dari kamarnya. Rana sangat khawatir jika Vitto melanggar janjinya dan memberitahu Vino tentang keberadaannya. Atau mungkin diam-diam Vitto sudah memberitahu Vino sejak qwal jika dia ada disini, dan Vitto selama ini hanya berpura-pura baik kepadanya padahal mungkin saja Vitto sudah menyiapkan hal besar lainnya seperti yang dilakukan Vino padanya. Berbagai ketakutan dirasakan oleh Rana saat ini, dan dia sangat khawatir. Rana bahkan berpikir bahwa dia ingin pergi juga dari tempat ini tetapi di depan ada bodyguard bayaran Vitto yang menjaga apartemen ini. Pasti akan sangat sulit untuk keluar dari tempat ini, dan kalaupun keluar Rana juga tidak memiliki tujuan kemana dia harus pergi.
Ditengah pemikira buruknya, Rana teringat akan kebaikan Vitto dan juga Papa Vitto yang sangat perhatian kepadanya. "Oh God... Semoga Vitto benar-benar orang baik yang tulus untuk membantuku....!" Gumam Rana sambil memejamkan matanya.
__ADS_1