
Mobil Vino memasuki gang menuju sebuah perumahan dimana disana ada rumah Arindah. Vino melihat ada cukup banyak perubahan di perumahan itu mengingat dia sudah bertahun-tahun tidak datang kesini. Tetapi ingatan Vino tentang rumah Arindah cukup jelas, dimana rumah Arindah terletak di bagian ujung jalan. Vino mengemudikan mobilnya secara perlahan, takut dia akan terlewat nanti nya.
Di kursi belakang, Vino sudah membeli beberapa mainan untuk Naufal, dari mobil-mobilan, hingga mainan dengan bentuk hewan serta lainnya. Vino berharap Naufal menyukai mainan yang di bawa nya. Baru satu hari tidak bertemu, Vino sudah merasa rindu sekali terhadap Naufal, entah kenapa dia merasakan hal itu.
Sampai akhirnya, Vino menghentikan mobilnya di sebuah rumah berpagar hitam. Dia melihat rumah itu sambil mencoba mengingat sesuatu apakah itu rumah orang tua Arindah atau tidak, karena ada perubahan disana, seperti cat rumahnya dan juga pagar yang dulu tidak seperti ini. Untuk lebih memastikan, Vino turun dari mobilnya dan berjalan menuju rumah itu. Dan mengucapkan permisi berharap pemilik rumah keluar.
Tak lama seorang perempuan keluar dari dalam rumah sambil menggendong Naufal. Vino tidak tahu siapa perempuan itu. Gerbang di buka. "Ada apa mas???" Tanya perempuan itu.
Vino tersenyum. "Hai Naufal...!" Sapa Vino. "Eh saya temannya Arindah, apa Arindah ada???" Tanya Vino.
"Oh temannya bu Arindah, kebetulan ibu belum pulang, masih di rumah sakit..."
"Belum pulang ya???" Tanya Vino memastikan.
"Iya belum, di dalam hanya ada ibu dan bapak saja..! Orang tua nya bu Arindah..! Silakan masuk, mungkin sebentar lagi bu Arindah akan pulang..! Mobilnya lebih baik di bawa masuk saja pak???"
"Baiklah... Terima kasih.." Vino kemudian kembali ke mobilnya dan membawa nya masuk ke halaman rumah Arindah. Setelah itu, Vino di persilahkan masuk ke dalam rumah, di minta menunggu karena perempuan itu akan memanggilkan orang tua Arindah yang ada di lantai dua.
Vino duduk di sofa yang ada di ruang tamu dan tidak lama tetdengar suara dari atas yang ternyata orang tua Arindah. Vino berdiri ketika mereka menuruni tangga dan menghampiri nya.
Orang tua Arindah terkejut dan mencoba mengingat siapa yang datang. Melihat ekspresi kedua nya, Vino kembali memperkenalkan diri agar mereka ingat. Dan benar saja, kedua orang tua Arindah mengingatnya. "Astaga... Vino adiknya Vitto ya??? Apa kabar??? Sudah lama sekali kau tidak datang kesini..??" Ucap Mama Arindah.
"Dia pasti sibuk Ma, kan mengurus perusahaan milik keluarga nya... Duduk lah Vino... Apa kabarmu???" Tanya Papa Arindah.
Sementara Mama Arindah menyuruh pengasuh Naufal agar membuatkan Vino minuman, dan dia kemudian mengambil Naufal dari gendongan Art nya. Melihat Vino, Naufal meminta turun dari gendongan Oma nya lalu berlari ke arah Vino dan memeluk lulut Vino. Melihat itu, Vino langsung mengangkat Naufal dan memangku nya di kedua paha nya sambil mencium pipi Naufal. "Lihatlah... Uncle membawakan mu banyak mainan..." Ucap Vino sambil mengangkat paperbag besar berwarna hijau.
"Mainan...!" Seru Naufal dengan girang, dan dia turun dari pangkuan Vino kemudian naik ke sofa dan membongkar paperbag yang tadi di bawa oleh Vino.
"Kenapa kau repot-repot sekali Vino, harus nya tidak perlu membawa apapun..." Ucap Mama Arindah.
Vino tersenyum. "Tidak apa-apa tante, hanya mainan... Kemarin saya melihat Naufal selalu memegang mainan hewan, jadi saya berpikir ingin memberikan mainan untuk Naufal... "
"Om dan tante semalam sudah mendengar tentang masalah yang sedang kau hadapi dengan Arindah kemarin, kami meminta maaf jika karena Arindah, kau justru menghadapi masalah semacam itu..." Ujar Papa Arindah.
"Kenapa om tante harus meminta maaf, saat Arindah mengatakan bahwa saya adalah calon suami nya, saya langsung bisa mengerti jika dia butuh perlindungan dari saya, jadi saya memilih diam saja.. " Ucap Vino.
"Reino memang sering bersikap seperti itu kepada Arindah, sering mengancam dan bersikap seenaknya. kadang kami kasihan melihat Arindah tertekan dan ketakutan dengan ancaman Reino..."
"Saya bisa melihat arogansi nya saat bertemu kemarin... Itulah kenapa saya sempat beradu argumen dengannya.. "
"Reuni sangat keras kepala, tapi ya sudahlah kita jangan membahasnya... Oh iya bagaimana kabar Papa mu???"
"Papa baik om.. "
"Kami minta maaf kemarin tidak bisa datang ke acara pernikahan Vitto, tolong sampaikan juga salam kami kepada Papa mu dan juga kakakmu...!"
__ADS_1
Vino tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia kemudian mengobrol bersama kedua orang tua Arindah dan sesekali membantu Naufal membuka pembungkus mainan. Wajah senang Naufal sangat jelas terlihat, bocah itu bahagia sekali mendapatkan banyak mainan dari Vino, bahkan sempat bertanya apakah Vino membawa es krim untuknya karena dia sangat menyukai es krim.
Sampai akhirnya, Arindah masuk ke dalam rumahnya. Dia baru saja kembali dari rumah sakit. Arindah terkejut mendapati ternyata ada Vino di rumahnya. "Vino... Kau ada disini???" Tanya Arindah sambil berjalan menghampiri Vino yang duduk di sofa.
"Kau baru pulang???" Tanya balik Vino.
"Iya... Kau kenapa ada disini??? Kenapa tidak memberitahu ku???"
Vino tersenyum. "Aku kebetulan selesai meeting di dekat sini jadi mampir saja, kemarin aku kan sempat berjanji akan datang, ya sekarang aku datang.. "
"Harusnya kau menghubungi ku jadi aku bisa segera pulang, tidak mampir ke mana-mana.." Arindah kemudian duduk di sofa dan bertanya-tanya karena Naufal membongkar banyak mainan. Orang tua nya menjelaskan jika mainan itu adalah dari Vino.
Arindah kemudian ikut bergabung dan mengobrol banyak hal dengan Vino. Karena hari juga sudah gelap, Arindah menawarkan agar Vino makan malam di rumahnya saja dan pulang nanti. Vino merasa tidak enak untuk menolak dan memilih untuk menyetujui ajakan Arindah makan malam disini.
Tanpa di duga, sebuah mobil berhenti di depan rumah Arindah. Seorang laki-laki keluar dari mobil, yang ternyata adalah Reino. Lelaki itu sebenarnya sejak tadi mengikuti Arindah di belakang, menunggu Arindah sejak di rumah sakit. Dan Arindah bukan langsung pulang melainkan sempat berhenti di sebuah supermarket. Reino menunggu di area parkir sampai Arindah keluar lagi dan mengikuti lagi sampai di rumah orang tua Arindah.
Reino sebenarnya ingin berbicara dengan Arindah dan meminta penjelasan mengenai Vino yang di katakan calon suami Arindah. Tetapi Reino sejak tadi menahan diri untuk tidak menemui Arindah mengingat Arindah sedang berada di tempat keramaian, itulah kenapa Reino memilih mengikuti Arindah sampai di rumah dan akan menanyakan hal itu. Reino masih tidak Terima jika Arindah menikah dengan orang lain, dan Reino akan memberi peringatan kepada Arindah jika Arindah benar-benar menikah, maka Reino tidak segan untuk merebut hak asuh Naufal.
****
Reino membuka pagar rumah Arindah dan masuk begitu saja tanpa permisi. Dia mempercepat langkahnya. Dan di halaman depan itu ada mobil Arindah dan satu mobil lainnya, mobil mewah berwarna blue metalic, yang Reino tidak tahu milik siapa, tetapi dia tidak akan terlalu memikirkannya. Reino tetap masuk dan berjalan menuju pintu rumah itu.
Sampai di depan pintu, Reino juga kembali tidak mengucapkan permisi dan langsung membuka pintu itu. Membuat orang-orang yang ada di dalam langsung menengok ke belakang. Reino mendapati di rumah itu selain ada Arindah dan kedua orang tua nya, ada juga Vino, lelaki yang kemarin lusa dia lihat bersama Arindah dan Naufal.
"Kau lagi ada disini.... " Teriak Reino.
"Aku yang harusnya bertanya, kenapa dia ada disini???" Tanya Reino dengan suara meninggi.
"Ini rumah orang tua ku dan juga rumahku, jadi siapapun boleh datang kesini, dan kenapa kau masuk ke rumah orang tanpa permisi??? Mana etika mu???" Tanya Arindah setengah berteriak.
"Aku ingin bertemu dengan Naufal...!" Ucap Reino masih dengan suara meninggi.
Arindah membuang muka, mengernyit kemudian memanggil pengasuh Naufal, agar bisa membawa Naufal ke kamar. Pengasuh Naufal berlari dan menggendong Naufal sekaligus membawa mainan pemberian dari Vino. Kemarahan Reino semakin memuncak karena Naufal di bawa naik ke lantai dua. Reino ingin mengejar tetapi Vino dengan sigap menghalangi nya. "Setidaknya bersikaplah dengan sopan di rumah orang lain.. " Ucap Vino.
"Aku datang untuk menemui anakku, jadi bisakah kau tidak ikut campur, ini masalahku dengan keluarga ini, kau orang luar, jadi jangan ikut campur... "
"Tidak ada yang melarangmu menemui Naufal, tetapi jika sikapmu arogan seperti ini dan berteriak-teriak seperti di hutan, apa itu pantas??? Naufal masih kecil dan dia bisa mengikuti apa saja yang di lihat dan di dengar oleh nya... Jadi sebagai orang tua, kau harus menjaga sikapmu di depan Naufal... " Ucap Vino lagi.
"Diamlah...!" Teriak Reino.
Arindah menarik pergelangan tangan Vino. Vino pun memundurkan langkahnya. Arindah kembali berhadapan dengan Reino. "Ada apa kau kesini??? Masalah apa lagi yang ingin kau buat??? Apa tidak cukup kau mempermalukan ku lagi seperti kemarin lusa??? Kau harusnya bersyukur karena aku tidak melaporkan mu balik atas fitnah mu padaku dan Vino dan juga pencemaran nama baik, tetapi aku tidak ingin memperpanjang masalah denganmu, jadi aku mengurungkan niatku untuk melakukan itu... "
"Aku datang untuk mengingatkanmu, jika kau masih tetap tidak mau kembali denganku dan tetap memilih untuk menikah dengan lelaki itu... !!" Reino menunjuk ke arah Vino. "Aku akan mengajukan hak asuh Naufal agar jatuh kepadaku, karena sebagai seorang ibu, kau tidak becus mengurusnya dan lebih mengutamakan nafsu mu menikah dengan laki-laki lain... "
Arindah membuang muka sambil mendengus kesal. Reino masih saja bersikap sama. "Oh ya ampun... Kenapa sikapmu selalu saja seperti ini???"
__ADS_1
Reino terkekeh dan melempar senyum ejekan pada Arindah. "Berhentilah sok suci Arindah....! Aku tahu betapa busuknya dirimu sebenarnya, kau selalu menolak untuk kembali dengan ku selama ini, karena kau tidak mau kehilangan sumber uangmu kan??? Kau membungkus bejatnya dirimu itu dengan kepolosan dan title dokter mu, padahal kau sebenarnya adalah peIacuur yang cerdas dan mencari target para pria kaya hanya untuk menguasai uang mereka, iya kan????"
Plaaaakkkk......
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Reino, meninggalkan bekas memerah disana. Arindah benar-benar terlihat sangat marah sekali dengan Reino. Lelaki ini sangat keterlaluan, dan berani mengatakan hal buruk tentang dirinya. Hati Arindah benar-benar sakit sekali. "Hentikan omong kosongnya itu Reino..!!!! Kau keterlaluan sekali... " Seru Arindah.
Bukannya tersadar, Reino justru kembali tertawa. "Kenapa kau terlihat marah sekali????? Apa karena ucapanku itu benar? Bahwa kau selama ini menjual dirimu, untuk menghidupi keluargamu??? Kau menjual dirimu pada laki-laki kaya seperti laki-laki yang ada di belakangmu itu???"
"Reino....!!! Jagalah ucapanmu itu, tidak sepatutnya kau merendahkan ibu dari anakmu dengan ucapanmu...!" Sela Vino.
"Aku tidak merendahkannya, aku hanya berbicara sesuai fakta, kau terlihat seperti laki-laki cerdas tetapi kenapa kau mau dan mudah sekali di tipu oleh Arindah, tampilan dan wajahnya memang terlihat polos, tetapi dia adalah peIacur yang cerdik, dan kau masih ingin menikahi nya????"
"Reino.....!!!!" Teriak Papa Arindah dengan suara yang sangat keras. Dia berjalan mendekat ke Reino.
Papa Arindah berdiri tepat di depan Reino dengan tatapan tajam, dipenuhi dengan emosi sehingga membuatnya langsung menarik kerahasiaan kemeja Reino. "Kau sudah melewati batas... Berani sekali kau mengatakan hal hina seperti itu kepada putriku????? Tutup mulutmu dan pergilah dari rumahku.. Kau sudah mempermalukan Arindah kemarin dan hampir membuatnya jatuh dalam masalah yang besar, aku sudah mencoba menahan kemarahanku ketika mendengar itu, dan sekarang kau berulah lagi dengan mengatakan hal buruk kepada putriku... Sebelum aku semakin emosi lebih baik pergilah dari rumahku, dan jangan coba berani mengancam keluargaku...!!!"
"Apa yang aku lakukan kemarin tdaklah salah, bagaimana bisa seorang perempuan berada di dalam kamar dengan laki-laki yang bukan suami nya??? Mereka berdua sudah sama-sama dewasa, jadi sudah pasti mereka melakukan sesuatu yang sangat di sukai oleh orang dewasa yaitu berhubungan badan... Siapa pun pasti akan berpikir seperti itu, jadi bagaimana aku bisa salah dalam mengartikan hal semacam itu???? Tidak ada ikatan apapun dan kedua nya berada di kamar, sudah pasti Arindah seperti seorang pelacuur.... "
Tiba-tiba saja sebuah dorongan keras mendarat di wajah Reino hingga membuat lelaki itu jatuh ke lantai. "Kurang ajar kau....!!!" Teriak Vino.
Vino duduk berjongkok menatap Reino dengan penuh kemarahan. Dan menarik kerahasiaan kemeja Reino. "Sekali lagi kau mengatakan hal buruk tentang Arindah, aku tidak akan segan-segan menghajar mulai bahkan membunuhmu... Jaga mulutmu itu, jangan kurang ajar dan merendahkan seorang perempuan, jika kau tidak tahu kebenarannya.... Lihatlah dirimu...!!! Kau harusnya sadar diri kenapa Arindah selalu menolak ajakanmu untuk kembali, itu karena sikapmu yang buruk seperti ini yang membuatnya enggan kembali lagi denganmu, sejauh aku mengenalnya, dia adalah perempuan yang baik dan sekalipun tidak pernah melakukan hal yang menyakiti orang lain.... Jadi camkan ucapanku baik-baik, jangan sampai aku mendengar sesuatu yang buruk lagi tentang Arindah dari mulutmu, atau kau akan berurusan denganku... " Ancam Vino lalu mendorong Reino ke belakang.
"Memangnya kau siapa??? Berani mengancamku??? Kau belum terikat dengan Arindah, kau belum menjadi suami nya.. Lalu apa kau pikir, aku akan takut dengan ancaman mu??? Kau tidak memiliki hak apapun atas Arindah...!"
Vino yang tadi sudah berdiri lun kembali duduk berjongkok dan menatap Reino. "Aku calon suami nya, aku akan segera menikah dengannya, jadi sudah tanggung jawabku untuk menjaga nya dari orang yang berusaha menghancurkannya" Ancam Vino lagi.
"Baru calon suami nya, kau belum terikat apapun, dan sekarang kau sudah sok sekali, memangnya kapan kau akan menikahi nya??? Besok.?? Lusa??? Atau kapan??? Sampai kau berani sekali menyebut dirimu calon suaminya dan akan menikahi nya???"
Vino terdiam dan masih menatap Reino dan kembali tertawa mengejek. "Aku pikir aku dan Arindah nanti harus mengundangmu ke pernikahan kami, aku penasaran sekali bagaimana reaksimu ketika melihat kami menikah, dan Naufal akan memanggilku Papa... Aku penasaran dengan reaksi mu... Tunggu saja dalam seminggu ini undangan pernikahanku dengan Arindah akan di kirim ke rumahmu, aku akan menikahi Arindah 2 minggu lagi, jadi aku harap kau datang dan aku pastikan pesta pernikahanku dengan Arindah akan sangat meriah, uangku terlalu banyak, sayang sekali kalau tidak di gunakan untuk berfoya-foya merayakan pernikahanku dengan Arindah... Kau harus datang oke...??? Sekarang pergilah dari rumah ini...!!" Ucap Vino dengan penuh keyakinan sambil tersenyum mengejek ke arah Reino.
Reino berdiri dengan marah dan tanpa permisi, langsung pergi begitu saja. Sementara Arindah di buat terkejut dengan ucapan Vino pada Reino tentang pernikahan.
"Vin.... Kau berhasil membuatnya pergi, tetapi bagaimana jika jika menagih undangan itu, tidak mungkin kita membuat undangan palsu karena dia pasti akan marah jika mengetahui undangan itu palsu dan tidak ada pernikahan sebenarnya, dia pasti akan mengganggu ku lagi???" Tanya Arindah.
"Siapa yang bilang jika aku akan membuat undangan palsu???" Tanya Vino balik.
"Maksudmu???" Arindah heran.
"Kau hanya akan bisa membungkam Reino jika aku benar-benar melakukan apa yang aku katakan tadi..."
"Melakukan yang kau katakan tadi???? Kita menikah maksudmu??" Tanya Arindah.
Vino mengangguk. "Ya.... Kita menikah... Setelah itu kau akan benar-benar terbebas dari Reino, dan dia tidak akan berani mengganggu mu lagi.. Aku akan memastikan keamanan mu dan Naufal..." Jawab Vino dengan entengnya.
"Kita menikah?????" Tanya Arindah lagi.
__ADS_1
"Iya, tadi aku hilang seperti itu, kenapa kau bertanya lagi, kita akan menikah dua minggu lagi... " Ucap Vino meyakinkan.
Arindah terperanjat, karena berpikir itu mungkin hanyalah ancaman agar Reino pergi dan berhasil, tidak mungkin juga Vino akan menikahi nya.