
Tubuh Rana menggigil kedinginan tetapi dia mencoba terus bertahan dan berdoa agar Tuhan mau menyelamatkannya, karena Rana tidak mau mati konyol disini. Rana juga menahan kesakitan ditubuhnya akibat tendangan Vino, Rana juga melihat beberapa lebam ada di tubuhnya. Vino seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya dan tangannya dingin karena begitu mudahnya menyiksa Rana seperti itu. Tetapi Rana memutuskan akan diam mulai saat ini dia tidak ingin berbicara kepada siapapun yang ada di rumah ini, walau tahu itu akan membuat Vino semakin murka tetapi Rana tidak akan memperdulikannya. Dalam diamnya juga dia akan mencoba mencari cara agar bisa keluar dari neraka ini bagaimanapun caranya.
Malam tiba, Rana tidak tahu ini sudah jam berapa. Tubuhnya membiru, begitu juga dengan bibirnya. Rana bisa saja melepaskan pakaian basahnya dan membiarkan tubuhnya kering dengan sendirinya tetapi Rana takut jika tiba-tiba nanti ada yang membuka pintunya dari luar kemudian menemukannya tanpa mengenakan apapun. Jadi Rana memutuskan untuk tidak melakukan itu dan bertahan dalam keadaan pakaian yang basah. Ini toilet bukan kamar mandi sehingga tidak ada jubah mandi atau handuk ada disini. Rana duduk bersimpuh di depan kloset dan meletakkan kepalanya disana lalu memejamkan matanya untuk tertidur. Dia tidak tahu apakah besok dia masih hidup atau sudah berada di alam lain, Rana hanya bisa pasrah dan berharap Tuhan masih memberinya kesempatan untuk melanjutkan hidup dan keluar dari tempat ini.
Rana terlonjak ketika sebuah tangan menarik tubuhnya dengan kasar. Rana menemukan Vino menyeretnya keluar dari toilet. Rana berusaha berdiri meskipun dia masih sangat terkejut. Ketika dia berhasil berdiri, Vino masih melakukan hal yang sama menyeretnya juga beberapa kali mendorongnya hingga hampir tersungkur ke lantai.
"Cepat naik ke kamarmu.....!" Teriak Vino dan terus saja mendorong Rana hingga di depan tangga. "Aku tidak ingin kau buru-buru mati, kau harus mersakan hal yang lebih lagi daripada ini.... Cepat.....!"
Rana sudah memutuskan untuk tidak ingin berbicara dengan siapapun disini, jadi dia tetap diam meskipun Vino kembali menyiksanya. Rana melangkah menaiki tangga dan menuju kamarnya berada, sementara Vino masih mengikutinya di belakang. Rana sempat melihat ke arah jam dinding yang ada di sebuah tembok arah kamarnya, dan jam itu menunjukkan sudah pukul 23.30 artinya ini sudah sangat larut. Rana melangkah pelan tetapi lagi dan lagi Vino mendorongnya dengan kasar, menyuruhnya agar berjalan lebih cepat lagi.
Sampailah akhirnya Rana di depan kamarnya, dia membuka handle pintu itu perlahan kemudian masuk, dan Vino juga masih mengikutinya.
__ADS_1
"Mandi dan gunakan air hangat agar kau tidak sakit, sehingga aku bisa menghukummu lagi, lalu ganti pakaianmu cepat....!!" Teriak Vino.
Rana menoleh ke belakang menatap Vino dalam pandangan yang dingin tetapi mulutnya tetap terkunci rapat. Lelaki ini menyuruhnya mandi dengan air hangat agar tidak sakit tetapi dibelakang itu justru Vino menyelipkan keinginan untuk menyiksanya lagi. Rana benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Vino. Dan masih terus bertanya dosa apakah yang sudah di perbuatnya sehingga Vino memganggapnya seperti sampah yang tidak berguna.
Rana kemudian melangkah menuju lemari dan mengambil pakaiannya lalu menuju ke kamar mandi. Ketika Rana hendak menutup pintu kamar mandi, tangan Vino menahannya. Rana mengangkat kepalanya dan mendongak menatap lelaki itu. Sementara itu Vino menatap Rana tajam. "Biarkan pintu ini terbuka, aku akan mengawasimu, karena jika tidak kau bisa saja mengakhiri hidupmu disini, biarkan terbuka dan aku akan terus mengawasimu....!" Ujar Vino.
Mendengar itu sontak mata Rana terbelalak. Kurang ajar lelaki ini. Bagaimana bisa dia akan mengawasinya mandi. "Tidak....!" Jawab Rana akhirnya. Dia tidak bisa membiarkan Vino melihatnya mandi, itu adalah hal konyol menurutnya. Dan Rana tidak bisa diam untuk masalah satu ini.
"Apa kau sudah gila ingin melihatku mandi? Aku tidak pernah sedikitpun memiliki pikiran untuk bunuh diri, lebih baik kau yang membunuhku daripada aku yang mengakhiri hidupku sendiri, setidaknya ketika kau membunuhku Tuhan mau membawaku ke surga, tetapi jika aku hunuh diri, sudah pasti neraka adalah tempat untukku, sudah cukup tempatmu ini menjadi neraka ku, tetapi tidak untuk neraka milik Tuhan, karena itu jutaan kali lipat lebih buruk dari tempat ini....!" Seru Rana jengkel.
"Pergilah dan biarkan aku mandi lalu istirahat, kekasihmu itu pasti saat ini sudah menunggumu, atau kau ingin bercinta lagi dengannya disini? Di depanku! Lakukan saja sesuka kalian karena itu tidak akan merubah apapun dari diriku, karena kalian berdua adalah manusia paling hina yang pernah aku temui, dan tidak memiliki rasa malu sama sekali....!" Ujar Rana lagi.
__ADS_1
Ucapan Rana itu langsung membuat wajah Vino berubah, dia terlihat marah dan sangat tersinggung dengan perkataan Rana. Perempuan ini ternyata sudah berani melawannya bahkan sudah menghinanya dan Angel. Dia sudah berusaha berbuat baik dengan membawa Rana kesini tetapi peremluan itu justru menghinanya. Vino mendekatkan wajahnya tepat di depan Rana. "Kurang ajar.....! Berani sekali kau menentang dan menghinaku.....! Rupanya kau senang sekali mendapatkan kemarahanku....!" Geram Vino lalu mendorong Rana ke belakang dan dia masuk ke dalam kamar mandi lalu menguncinya.
Di dalam kamar mandi itu, tatapan Vino semakin menajam penuh kemarahan. Emosinya memuncak karena ucapan Rana. "Kau adalah istriku...! Lalu apa salahnya jika aku melihat istriku mandi di depanku???? Apa salahnya? Coba katakan....!!!" Teriak Vino dan suaranya langsung menggema di dalam kamar mandi itu.
"Memang tidak ada yang salah dengan itu, tetapi seharusnya kau melihat kondisinya Vino, kau harusnya sadar apa yang sudah kau lakukan dengan diriku yang tadi kau sebut sebagai istrimu itu, apa kau tidak sadar hal dan kewajiban apa yang harus dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya? Menjaganya, mencintainya, memberinya kasih sayang tetapi apa yang terjadi sekarang? Kau memperlakukanku begitu buruk, kau harusnya malu mengatakan bahwa aku adalah istrimu....!"
Vino terlihat semakin marah dan dengan cepat dia mendaratkan sebuah tamparan keras ke pipi Rana. Saking kerasnya, ada bekas telapak tangannya disana berwarna merah. Mata Rana berkaca-kaca dan dia hanya mengusap pipinya lembut sambil melempar senyum me arah Vino.
"Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan padaku, tetapi ingatlah Vino, aku diam bukan berarti kau bisa berbuat semaumu, siksalah aku sesuka hatimu, tetapi kau harus ingat, Tuhan melihat semua yang sudah kau lakukan kepadaku, kau menikahiku bukan untuk membahagiakanku tapi justru menyiksaku, tidak apa kau mengkhianati janjimu padaku, tetapi bukan hal baik jika kau mengkhianati janjimu di hadapan Tuhan....!"
"Kurang ajar sekali kau, berani menceramahiku...." Vino mendekati Rana dengan marah, dia mencengkeram kerah blouse yang dipakai Rana, hingga sedetik kemudian dia menarik kasar dan blouse itu sobek dari atas sampai bawah membuat dada hingga perut Rana terlihat. Rana langsung menutupi dengan kedua tangannya
__ADS_1
"Apa kau ingin aku melakukan tugasku sebagai suamimu? Aku bisa melakukannya sekarang disinj, dan aku akan menunjukkannya padamu" Kilatan mata Vino terlihat begitu menyeramkan membuat Rana kali ini benar-benar ketakutan setengah mati.