Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 95


__ADS_3

Detik itu juga Rana merasa tubuhnya lemas sekali. Dia kembali teringat hari itu, hari dimana Vino sudah melakukannya. Hal yang dilakukan dengan paksaan itu dia sama sekali tidak menyangka jika akan membuatnya hamil.


Sementara itu untuk lebih pastinya, dokter menyarankan agar Rana melakukan tes kehamilan sendiri ataupun langsung ke rumah sakit sehingga bisa lebih pasti berapa usia kehamilannya dan juga kondisi bayi serta ibunya. Dokter berpamitan dan Vitto mengantarnya sampai ke depan kamar hotelnya.


Vitto menutup kembali pintu kamarnya, dan dia sama sekali tidak menyangka bahwa Rana hamil. Sebelumnya Rana mengatakan bahwa dia tidak pernah satu kamar apalagi tidur dengan Vino. Yang ada Vino justru tidur di kamar Rana dengan Angel. Lalu bagaimana bisa Rana hamil. Tetapi Vitto tidak ingin berspekulasi, mungkin itu hanya prediksi saja, dan dia harus membawa Rana ke rumah sakit.


Vitto melangkah pelan menuju tembat Rana berbaring tetapi dia justru mendapati Rana duduk bersandar di tempat tidur dan perempuan itu terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Vitto bergegas menghampirinya. "Are you okay????" Tanya Vitto. "Kau kenapa menangis? Semuanya akan baik-baik saja, mana mungkin kau hamil? Pasti ini hanya efek jetlag saja...!" Gumam Vitto.


"Bagaimana jika itu benar??? Aku memang hamil, dan anak ini tidak akan memiliki seorang Ayah.....!"


"Tapi kau bilang kau tidak pernah tidur dengan Vino???" Bantah Vitto.


Rana semakin terisak. "Aku memang tidak pernah tidur dengannya, tetapi hari itu dia melakukannya, dia memaksaku, aku memberontak tetapi dia tetap melakukannya.... Sebenarnya itu adalah alasanku kabur dari rumah itu, karena aku benar-benar merasa kesakitan baik itu hati juga diriku, itu pertama kali untukku tetapi dia benar-benar menyakitiku....!"


"Berengs*k......!!!!" Umpat Vitto. "Bagaimana dia bisa melakukan hal itu padamu, meskipun kau istrinya, dia sangat tidak pantas melakukan pemaksaan seperti itu... Astaga Rana kenapa kau tidak pernah mengatakan ini kepadaku sebelumnya??? Ini sudah keterlaluan sekali....!"


Rana semakin terisak. Ingatannya akan hal itu membuatnya semakin sesak. "Setiap mengingatnya aku sangat sakit sekali, lalu bagaimana bisa aku mengatakan hal itu padamu? Aku malu mengatakan semua itu, aku tidak tahu jika hal itu akan berakibat seperti ini...!"


"Astaga Rana... Kau ini bukan anak kecil, jika seorang wanita dan laki-laki melakukan itu tanpa pengaman itu pasti membuat si perempuan hamil, tidak semua kasus harus dilakukan berulang untuk membuat seseorang hamil, meskipun hanya sekali kemungkinan itu pasti ada.... Ah ya ampun....! Jika seperti ini aku tidak bisa lagi diam, Vino harus bertanggung jawab, bagaimanapun bayi itu adalah darah dagingnya, aku akan memberitahunya sekarang...!"


Vitto berdiri dan akan pergi untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Vino. Tetapi tangan Rana menahannya dan menyuruhnya untuk duduk lagi. "Please Vitto... Please...! Jangan katakan apapun pada Vino, aku tidak mau kembali lagi dengannya semua usahaku selama ini untuk terbebas darinya akan sia-sia saja jika kau mengatakan ini padanya dan meminta dia untuk kembali denganku.... Tidak...!! Aku tidak mau...!"


"Tapi Rana....! Bayimu pasti butuh ayahnya.."

__ADS_1


Rana menggeleng, kemudian menyeka airmatanya. "Tidak perlu... Aku pasti bisa membesarkannya sendiri tanpa bantuan dari Vino....! Aku bahkan tidak ingin dia tahu tentang kehamilanku ini, penderitaan yang dia berikan padaku sudah cukup dan aku tidak ingin menderita lagi! Vino tidak pernah menginginkan diriku, lalu bagaimana rumah tangga itu akan dibangun lagi? Apa kau senang melihatku semakin menderita lagi karena Vino, aku semakin menderita dengan kondisiku seperti ini... Hatinya tidak pernah untukku meskipun dia sudah tahu tentang kebenaran dendamnya yang salah sasaran, apa itu menjamin dia akan bisa menerimaku? Sudah cukup semua yang dia tinggalkan untukku...!"


"Tapi kalaupun diantara kalian tidak ada yang menginginkan kembali, Vino harus tetap tahu...!" Ujar Vitto.


"Tidak...! Aku akan membesarkannya sendiri, Vino tidak perlu tahu, jika dia tahu dan menginginkan bayi ini kemudian mengambilnya dariku? Aku sudah hidup sendirian selama ini, dan aku akan bahagia jika ada bayiku bersamaku....! Jadi ku mohon jangan katakan apapun pada Vino....!"


Isakan Rana semakin menjadi. Ini hal yang masih mengejutkannya dan dia juga harus dihadapkan dengan ketakutannya dengan Vino. Lelaki itu seperti bayangan yang menakutkan bagi Rana. Semua kekejamannya juga rasa tidam berperikemanusiaannya membuat Rana benar-benar takut. Jika Vino tahu hal ini, Rana bisa saja menjadi tertekan. Rana yakin dia bisa merawat bayinya sendiri tanpa bantuan dari Vino.


Melihat Rana menangis dan terisak, Vitto duduk disampingnya dan memeluknya. Vitto mengusap lembut punggung Rana untuk membuat perempuan itu tenang dan tidak terlalu memikirkan hal yang berat. Vitto berjanji bahwa dia tidak akan mengatakan apapun kepada Vino juga terkait dengan kehamilan Rana saat ini. Itu akan sama seperti halnya Vitto yang sudah menyembunyikan keberadaan Rana hingga saat ini. Vitto tetap meminta Rana untuk tinggal di apartemen miliknya, menunggu sampai masa penyewa di rumah Rana selesai. Selama tidak ada yang memberitahu jika bayi itu adalah anak Vino, Vitto yakin Vino pun tidak akan peduli atau merecoki hidup Rana lagi. Sehingga Rana tidak perlu mengkhawatirkan apapun dan fokus saja dengan kehamilannya.


Vitto meminta Rana agar tenang dan mereka harus ke rumah sakit untuk memastikan semuanya, jika memang benar Rana hamil. Sekaligus datang untuk menjenguk Jeany lagi.


★★★★★


Rana dan Vitto masuk dan mereka bertemu dengan dokter. Rana mulai menceritakan perihal dia sudah telat mendapatkan tamu bulanannya dan dia juga mengalami mual serta sakit kepala akhir-akhir ini. Dia seperti mengalami gejala seperti sedang hamil tetapi belum sempat melakukan tes kehamilan karena dia bukan warga dari negara ini dan baru sampai disini kemarin. Dokter kemudian bertanya mengenai kapan terakhir Rana mendapati tamu bulanannya dan memberi Rana alat test kehamilan dan meminta Rana agar ke kamar mandi.


Beberapa menit di dalam sana, Rana akhirnya keluar dan memberikan alat test kehamilan itu pada dokter lagi. Hasilnya positif dan dokter memberi ucaoan selamat pada Rana juga Vitto. Ya, dokter mungkin mengira Vitto adalah suami Rana, tetapi itu tidak masalah untuk Vitto karena memang dia yang mengantar Rana kesini.


"We’ll have an examination to count how many weeks you’ve been pregnant and see if everything’s okay... We’ll also see if an ultrasound report is needed..." (Kita akan melakukan pemeriksaan untuk mengitung berapa usia kehamilan Anda dan mengecek apakah semuanya baik-baik saja... Kita juga akan melihat apakah laporan USG diperlukan) Ucap dokter itu, kemudian dia meminta Rana agar berbaring untuk dilakukan Usg.


Dokter mulai memeriksa perut Rana dan menggerakkan alatnya untuk menemukan rahim Rana, hingga akhirnya dia menemukannya. Dokter menunjuk ke arah satu titik yang sedang bergerak, mengatakan bahwa itu adalah janin Rana, dan ssepertinya usia dari janin Rana sekitar 7 Minggu. Senyum Rana mengembang di wajahnya, dia tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Ada kehidupan lain di dalam perutnya saat ini, dan itu adalah bayinya. Bayi itu hadir tanpa diduga dan hadir setelah Rana mengalami kesakitan yang luar biasa juga rasa tamrauma yang tidak akan pernah bisa Rana lupakan. Tetapi Rana bersyukur karena Tuhan sudah mengirimkan bayi ini kepadanya untuk menemaninya dan dia tidak akan pernah merasa kesepian lagi nantinya. Rana bertekad bahwa dia harus berjuang untuk menjaga dengan baik janin yang ada dikandungannya, dia harus kuat.


Setelah melakukan Usg, Vitto pun bertanya pada dokter apakah Rana akan baik-baik saja jika melakukan penerbangan karena besok mereka harus pulang. Dokter akan memberi obat penguat kandungan dan mengijinkan hal itu, hanya saja ketika nanti sudah sampai, Vitto harus membawa Rana ke rumah sakit lagi dan memeriksakan lagi memastikan bahwa baik-baik saja. Tetapi setelah itu jika bisa Rana tidak boleh sering-sering bepergian menggunakan pesawat.

__ADS_1


Setelah dari dokter kandungan, Rana dan Vitto pun menuju ruang perawatan Jeany untuk menjenguknya. Rana juga ingin memberitahu kabar bahagia ini pada sahabatnya itu. Kabar ini harus diketahui oleh Jeany, dan Rana tidak bisa begitu saja menyembunyikan berita ini dari sahabatnya itu.


"Kau terlihat bahagia sekali....!" Gumam Vitto. Dia dan Rana saat ini sedang berjalan menuju lift.


Rana menoleh dan mendongak menatap Vitto sambil tersenyum. "Tentu saja, walaupun aku tidak senang dengan dengan apa yang dilakukan oleh Ayahnya tetapi kehadiran bayi ini membuatku bahagia karena aku tidak sendiri lagi....!"


"Aku senang kau terlihat bahagia.... Itu akan membuatmu merasa lebih baik.... Ingatlah lesan dokter tadi bahwa kau harus menjaga dirimu, tidak stres yang justru akan mengakibatkan janinmu juga ikut stres... Oh iya apakah aku boleh memberitahu Papa tentang hal ini??? Dia pasti akan senang karena mendapatkan cucu, tapi tenang saja, Papa tidak akan memberithu Vino tentunya..."


Rana mengangguk, tidak masalah jika Vitto memberitahu Papanya, karena Papa Vitto juga sangat baik kepadanya selama ini. Rana yakin sebenarnya jika Papa Vitto mengetahui juga alasannya kenapa dia bisa hamil, dia pasti marah besar terhadap Vino. Hanya saja mungkin sebisa mungkin akan ditahannya. Vino telah meninggalkan luka begitu dalam.l


"Vitto...! Tapi aku meragu jika hal ini akan terus bisa disimpan, suatu saat pasti Vino akan mengetahuinya, dan itu membuatku takut....!!" Gumam Rana.


"Rana....! Jangan pikirkan hal itu dulu, sekarang fokuslah dengan dirimu dan calon bayimu....! Semua itu bisa kita pikirkan nanti, untuk saat ini pilihanmu untuk tidak memberitahu Vino itu benar, si nenek lampir itu juga berbahaya, selain Vino dia juga bisa saja memiliki niat buruk lagi padamu... Dia memang menyerah untuk saat ini, tapi aku tidak yakin itu akan bertahan selamanya, apalagi jika kebusukkannya terbongkar...?" Vitto terkekeh. "Dia akan mencari cara lain untuk membela atau mencari pembenaran atas dirinya.... Jangan khawatirkan apapun...!"


Vitto merangkul punggung Rana. Meskipun bayangannya terhadap Rana sebelumnya ternyata salah, tetapi entah kenapa Vitto juga ikut bahagia dengan kehamilan Rana. Ya, bagaimanapun bayi itu tetaplah memiliki ikatan darah dengannya. Itu adalah keponakannya yang harus dia sayangi juga. Faktanya mahkota Rana sudah direnggut paksa oleh Vino, itu tidak bisa kembali lagi. Faktanya juga adalah Rana sudah pernah menikah jadi jika dia masih mengharapkan Rana menjadi pilihannya, maka Vitto juga harus menerima segala kekurangan yang dimiliki Rana.


Lagipula Vitto merasa malu karena dirinya sebelumnya berharap terlalu tinggi untuk mendapatkan satu hal istimewa dari Rana, nyatanya hal itu sudah hilang dari Rana. Vitto merasa mungkin ini teguran dari Tuhan bahwa dia memang tidak ditakdirkan untuk.mendapatkan itu karena selama ini dia juga sering melakukan itu pada perempuan-perempuan yang mengejarnya. Artinya dia juga sudah tidak suci, jadi tidak mungkin dia akan mendaoatkan hal yang sama juga. Tetapi meski begitu, bagi Vitto, Rana adalah perempuan yang suci, dia kehilangan itu karena keadaan yang memaksanya bukan keinginan Rana sendiri.


Vino memang sangat keterlaluan, memaksakan kehendaknya dengan kejam tanpa memikirkan dampak yang harus dialami oleh Rana. Dan sekarang yang harus menanggung perbuatannya adalah Rana. Memikirkan Rana akan menghadapi hari-harinya tanpa ada seorang suami pastilah akan sangat berat sekali, bahkan mungkin lebih berat dari siksaan yang kemarin Vino berikan kepadanya.


Vitto senang melihat sikap yang ditunjukkan oleh Rana, keteguhan serta kesabaran perempuan itu memang luar biasa meskipun awalnya di shock dengan kenyataan atas dirinya. Tetapi Rana tahu bahwa bayinya tidak bersalah dalam hal ini, dan dia berhak diberikan kasih sayang oleh ibunya. Rana juga langsung tahu bahwa dia harus menjaga dengan baik kandungannya. Mungkin benar bahwa bisa jadi kehadiran bayi ini adalah kekuatan baru untuk Rana dalam menghadapi hari-harinya nanti. Meski itu berat tetapi dia akan mencoba sebaik mungkin.


Vitto yakin juga bahwa Vino melakukan itu pasti tanpa sepengetahuan Angel juga. Mengingat tadi Rana sempat bercerita kepadanya jika sebelum hal itu terjadi, Angel tidak terlihat selama beberapa hari di Villa itu dan hanya Vino sendirian. Bagi Vitto itu sedikit menggelikan dan menjijikkan dimana Vino meluapkan hasratnya pada Rana dengan memaksanya karena dia tidak bisa melampiaskan pada Angel yang tidak berada disana saat itu. Vino terlalu berhasrat begitu juga dengan Angel, hingga mereka berdua lupa akan akal sehat mereka. Angel sibuk menjual diri diam-diam lalu Vino juga seperti itu memaksa perempuan lain untuk memuaskan hasratnya yang tidak tersalurkan. Lalu saat ini pertanyaan Vitto adalah "Apakah dia masih akan tetap mencintai Rana meskipun saat ini Rana sedang mengandung anak dari laki-laki lain???"

__ADS_1


Vitto tersenyum dengan dirinya sendiri. Dia meyakinkan dirinya bahwa cintanya untuk Rana tidak akan berubah dan dia akan berusaha untuk berada disamping Rana, mendukung serta menemani perempuan itu melewati masa sulitnya. Tidak akan ada masalah apapun dengan bayi yang dikandung Rana, karena itu juga akan seperti anak Vitto sendiri mengingat Vino adalah adik Vitto. Semua tidak akan ada bedanya bukan?.


__ADS_2