Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 344


__ADS_3

"Eh Hai... Kalian ada disini???? Sudah pesan makanan????" Tanya Jeany yang tiba-tiba muncul dan mendekat ke arah Vino dan Arindah.


"Hai Jean... Kita baru saja pesan... " Arindah berdiri dan cipika-cipiki dengan Jeany.


"Oh sudah pesan ya.... Makan siang bersama, apa kalian sedang tidak bekerja????" Tanya Jeany.


"Hanya makan siang saja, nanti aku akan kembali ke kantor lagi dan mengantar Arindah ke rumah sakit..." Jawab Vino.


"Wah.... Pengantin baru harus bisa mencuri waktu untuk berduaan... Kapan akan menyusul Vitto dan Rana honeymoon??? Jangan di rumah terus dong honeymoon nya!!" Goda Jeany.


Vino dan Arindah terkekeh. "Kami menunggu mereka pulang lebih dulu, pekerjaan di kantor sedang banyak, dan tidak bisa di tinggalkan begitu saja, jadi jika aku berencana pergi, Vitto bisa menghandle pekerjaan di kantor, dan Arindah juga butuh waktu untuk mengurus cuti nya... Kami pasti akan berangkat nanti jika semua nya sudah beres... " Ujar Vino.


"Good Idea..." Timpal Jeany.


"Kau sendiri kapan menyusul kami??? Kau sudah begitu cocok dengan Edward..." Ucap Vino berganti menggoda Jeany.


"Aku dan Edward???? Hahahahha.... Kami just friends... Kau ini sama saja dengan Vitto, selalu mengatakan itu... Haha padahal aku sudah sering mengatakan jika kami hanya teman....!"


"Aiiihhhh... Masa dari dulu tidak ada kemajuan sih... Astaga..! Apa kalian memang sama-sama tidak punya hati ya... " Ejek Vino.


"Brenggseeekk... Sembarangan.. Masa aku tidak punya hati??? Oke makanan kalian sudah datang, aku harus masuk ke dalam, dan karena kalian sudah datang kesini, maka aku bebaskan kalian dari tagihan... Makanan ini gratis untuk kalian... So enjoy for your lunch guys...!" Ucap Jeany, lalu melambaikan tangan meninggalkan meja Vino dan Arindah, sebelum kedua nya menolak.


"Eh Jeany... Kau tidak bisa melakukan itu... " Ucap Vino tetapi Jeany hanya tersenyum dan tetap berjalan.


Jeany berhenti di bagiang kasir, dan memberitahu satafnya yang berjaga di meja kasir, agar membebaskan Vino dan Arindah dari tagihan karena dia ingin memberi mereka hadiah kecil dengan makan gratis.


"Astaga Jeany.... Kenapa dia bersikap seperti itu... " Gerutu Vino.


"Inilah kenapa kadang aku merasa enggan pergi ke tempat makan dimana itu milik teman atau kenalan kita, takut bertemu mereka disana dan endingnya seperti ini... " Ucap Arindah.


"Aku pikir dia tidak kesini, karena dia punya beberapa restoran... Aiiihhh...."


"Ya sudah kita makan sekarang... Kapan-kapan kita harus membalas apa yang di lakukan Jeany sekarang... "

__ADS_1


Arindah dan Vino menikmati makan siang mereka. Vino dengan begitu antusias menikmati ramen yang dia pesan. Dia memang sangat menyukai ramen, dan ramen disini sangat enak terutama creamy miso ramen dengan daging bebek dan black truffle nya, Vino sangat menyukai nya. Sementara Arindah memilih untuk menikmati Donburi sebagai makan siangnya. Dan mereka juga memesan Takoyaki dan juga Gyoza. Untuk minuman, Vino lebih memilih menikmati green tea yang di sedih dengan air panas, sedangkan Arindah memilih green tea latte.


"Kau sepertinya suka sekali dengan Ramen nya.. Apa seenak itu???" tanya Arindah.


Vino menganggukkan kepala nya dan tersenyum. "Ya,. Miso ramen nya yang ini sangat enak, dan aku penyuka daging bebek... Selain miso ramen, curry ramen nya juga sangat enak apalagi topingnya wagyu dan di tambah black truffle... Aku selalu memesan itu jika kesini... "


"Di hari yang panas seperti ini, kau justru memilih green tea panas juga??? Hahaha aneh sekali..."


"Aku rasa semua nya cocok saja dengan green tea panas... Dan aku tidak menyangka jika kau seperti anak kecil, memesan green tea latte untuk minuman mu.. Padahal banyak sekali pilihan minumannya... "


Arindah tersenyum. "Hari panas harus di buat menjadi dingin dengan minuman dingin nan manis seperti green tea latte... Kau sering datang kesini dengan Angel ya???"


Vino menghentikan kunyahan nya dan menatap Arindah. Dia tampak terkejut dengan apa yang baru di katakan oleh istrinya itu. Vino tersenyum tipis. "Iya... Beberapa kali...."


"Kalau sering juga tidak apa-apa...." Gumam Arindah.


Vino terdiam, dan tiba-tiba dia merasa bersalah mengajak Arindah makan siang disini. Dia dan Angel memang beberapa kali datang kesini dulu, tetapi kemudian memilih berhenti datang setelah Jeany kecelakaan, tetapi Vino sering meminta sekretarisnya untuk membeli makanan disini untuknya dan di bungkus untuk di bawa ke kantor. Atau terkadang Vino juga memesan secara online. Hal itu dia lakukan karena dia tidak berani datang setelah membuat ulah yang mengakibatkan Jeany kecelakaan. Akan tetapi Vino tidak bisa memungkiri jika makanan disini sangat enak sekali.


"Berhentilah membahas Angel, aku merasa tidak nyaman dan tidak enak kepadamu.. Aku juga tidak ingin mengingat apa yang menjadi masalalu ku, karena tujuanku saat ini adalah membahagiakanmu dan keluarga kita... Biarkan itu jadi cerita masalalu, dan aku ingin menanggalkan semua nya dan berfokus padamu dan Naufal.."


"Maaf, aku tadi hanya bercanda... Dan tidak bermaksud mengingatkanmu pada hal yang sudah lalu... Sorry... "


"It's okay... Ayo habiskan makanannya... Nanti kau bisa terlambat kembali ke rumah sakit... "


Mereka melanjutkan makan siangnya. Dan setelah itu memilih untuk mengobrol sebentar, karena Arindah akan kembali ke rumah sakit baru sekitar jam dua. Dan Vino juga bisa menyesuaikan untuk kembali ke kantornya. Jadi mereka masih memiliki waktu sedikit lebih lama.


****


Setelah selesai makan siang, Vino pun mengantar Arindah ke rumah sakit, karena istrinya masih memiliki jadwal


praktek dan akan menjemput lagi nanti saat sudah selesai, Arindah akan pulang malam, jadi Vino nanti akan pulang lebih dulu. Vino juga harus kembali ke kantornya setelah mengantarbistrinya, dia masih harus membereskan pekerjaannya lalu menjemput Naufal.


"Ponselmu berbunyi ya???" Tanya Arindah ketika mendengar suara ponsel berbunyi yang identik dengan nada panggilan dari ponsel suami nya.

__ADS_1


"Ah iya.... Tolong ambilkan..." Pinta Vino.


Arindah meraih jas Vino yang ada di kursi penumpang belakang dan mencari ponsel itu yang ada di dalam saku jas Vino. Ada nama pengacara disana, dan Vino meminta istrinya agar mengangkat dan mengaktifkan loudspeaker nya.


"Halo pak... " Sapa Vino. Ponselnya di pegang Arindah.


"Halo, selamat siang Mas Vino... Maaf, apakah saya mengganggu anda???" Tanya pengacara di ujung telepon.


"Oh tidak pak... Sama sekali tidak mengganggu.. Ada apa???" Tanya Vino.


Pengacara pun mulai bercerita dan memberitahu Vino jika dia mendapatkan informasi bahwa ternyata Reino datang ke pengadilan dan mendaftarkan gugatan hak asuh Naufal bersama pengacara nya. Dan fakta nya, pengacara yang di pilih oleh Reino bukanlah pengacara sembarangan, karena pengacara itu adalah salah satu pengacara terkenal akan kesuksesan nya memenangkan setiap persidangan, dengan presentasi kemenangan 85 sampai 95 persen. Karena keberhasilannya, untuk bisa mendapatkan pengacara itu tentu dengan biaya yang sangat tinggi, sehingga biasanya bukan sembarang orang yang bisa di bantu oleh pengacara itu.


"Siapa???" Tanya Vino.


"Hendra Sagala...!" Jawab Pengacara.


Vino mengernyit. Siapa yang tidak tahu nama itu. pengacara itu memang sangat terkenal dan punya rekam jejak bagus. "Hebat juga di brengseek Reino itu, dia bisa menyewa seorang Hendra Sagala untuk membantu nya... Tetapi sehebat apapun pengacara itu, untuk masalah ini pasti harapan nya sangat kecil untuk bisa menang... Maksudku, fakta nya selama ini istriku yang sudah membesarkan anaknya sendiri, dan si brengseek itu tidak pernah melakukan kewajiban nya sebagai seorang Ayah kan??? Apa dengan fakta seperti itu kita bisa kalah???" Tanya Vino.


"Jika masalahnya seperti ini sebenarnya jalan kita untuk menang lebih besar Mas, tetapi kita tidak tahu strategi apa yang akan di gunakan oleh mereka... Karena terkadang sangat di luar dugaan, karena beberapa kali tim kami pernah berhadapan dengan mereka, dan hasilnya, beberapa kali, kami di kalahkan... "


"Pak.... Aku sama sekali tidak peduli siapapun pengacara si brengseek itu... Dan aku sangat berharap kepada bapak dan tim bapak untuk bisa bekerja dengan sebaik mungkin membantu istri saya mempertahankan hak asuh Naufal agar tetap padanya dan tidak jatuh kepada si brengseek itu... Aku sangat menaruh harapan besar kepada bapak dan tim... " Ucap Vino.


"Terima kasih Mas Vino atas kepercayaan anda, saya akan berusaha maksimal untuk membantu anda dan istri... "


"Ya, saya sangat berharap besar pada anda dan juga tim... Btw bagaimana dengan alasan gugatan itu sendiri??? Karena pasti ada alasan yang mendasari nya kan...???" Tanya Vino lagi.


"Untuk mengenai itu, kami mendapat kan informasi jikaa lsan di balik gugatan ini adalah karena nona Arindah berhubungan dan menikah dengan Anda, dan nona Arindah di anggap lalai dan abaikan menjaga dan merawat Naufal karena hanya sibuk bersenang-senang dengan suaminya yaitu Anda, sehingga Arindah di nilai tidak sanggup dan tidak cocok untuk merawat Naufal... "


"Apa.....???!!!!! Alasan konyol macam apa itu???? Shiiitttt... Sedetik pun istriku tidak pernah mengabaikan tugasnya sebagai seorang ibu dan seorang istri, karena aku tetap menyuruhnya untuk memperhatikan anak jadi hal yang paling utama baru setelah itu diriku dan juga pekerjaannya... Istriku sama sekali tidak pernah teledor dengan tugasnya sebagai seorang ibu... Brengseek Reino... Kurang ajar sekali dia, berani menggunakan alasan sekonyol itu... " Gerutu Vino. "Oke pak, saya minta Anda menyiapkan segala nya, dan istriku juga akan mulai menyiapkan berbagai bukti yang dia miliki, nanti aku akan memberikannya kepada bapak.. Saat ini aku sedang ada di jalan.. Tolong siapkan dengan baik semua nya.. "


"Oh Oke Mas Vino, anda jangan khawatir, kami akan mengurus segala nya, dan saya minta anda dan istri anda segera mengambil dan mengumpulkan berbagai bukti yang bisa jadi pendukung, kalau begitu saya akhiri panggilannua, selamat siang... "


"Oke, selamat siang.. " Panggilan pun di akhiri. Vino melihat istrinya. Tadi Arindah sudah merasa lebih baik dan tidak lagi khawatir mengenai gugatan Reino, akan tetapi Arindah kembali terlihat murungd an sedih setelah mendengar apa yang nari saja di katakan oleh pengacara mengenai siapa yang akan menjadi pendukung Reino di persidangan. Vino tahu istrinya pasti mulai khawatir lagi. Lagi-lagi karena Reino, Vino harus kembali meyakinkan Arindah agar tidak perlu sedih. Reino benar-benar merusak seluruh perasaan Arindah, dan tidak membiarkan Arindah berbahagia. Vino sangat kasiha. terhadap istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2