
Sudah 3 bulan mereka menjalin hubungan, sema benar-benar begitu indah. Vino selalu bersikap manis kepada Rana bahkan seolah perempuan itu adalah prioritas utamanya. Setiap waktu Vino sellau.mengirimkan pesan-pesan manis, memperhatikan Rana dengan sangat detail mulai dari hal-hal yang kecil seperti apakah perempuan itu sudah makan atau belum, atau apakah perempuan itu sedang merindukannya atau tidak, semua hal romantis mulai perkataan hingga perbuatan seolah sudah menjadi kewajiban Vino untuk membuat Rana bahagia. Dan tentu saja Rana sangat bahagia akan hal itu.
Setiap hari mereka selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama ketika pulang kerja. Dan setiap weekend Vino selalu mengajak Rana untuk pergi jalan-jalan kemana pun yang mereka inginkan. Mereka pergi ke bioskop, taman, pantai, seluruh tempat yang menjadi faforit anak muda sudah mereka datangi untuk sekedar menghabiskan waktu bersama.
Rana benar-benar dibuat mabuk kepayang oleh semua perhatian dan cinta dari Vino. Karena semua itu pastilah diinginkan oleh semua perempuan yang ada di dunia ini. Mendaoatkan Lelaki yang lenuh dengan cinta, kasih sayang dan selalu menghujaninya dengan ribuan perhatian.
Malam ini, entah kenapa Vino tampak sangat misterius, lelaki itu banyak berdiam diri dan tidak penuh canda seperti biasanya. Dan ketika mereka sampai di rumah makan, Vino telah mengatur sebuah makan malam resmi yang mewah, tidak seperti makan malam santai yang biasanya mereka lakukan setiap malam.
Dan sekarang lelaki itu menatap dirinya dengan tatapan mata serius dan penuh harap. Suaranya ketika berkata-kata terdengar serak dan lembut.
"Aku sangat mencintaimu Rana, kau mungkin tidak percaya cinta pada pandangan pertama, tetapi aku merasakannya. Semakin lama kita melewatkan waktu bersama, aku semakin merasa yakin. Aku ingin menjagamu Rana, aku ingin menghabiskan hidupku denganmu, menjadi tua bersamamu."
Lelaki itu mengeluarkan kotak berwarna merah dari saku jasnya dan kemudian membukanya di depan Rana yang ternganga kaget.
"Rana, aku mencintaimu, maukah kau memberiku kehormatan dengan menikahiku?"
Mata Rana membelalak kaget melihat cincin berlian yang berkilauan itu. Dia mengalihkan tatapan matanya ke arah Vino, melihat keseriusan yang terpancar di sana.
"Astaga Vino, apakah kau serius?"
Vino menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut, "Aku mencintaimu, Rana sangat mencintaimu"
"Tetapi kita.... Kita belum saling mengenal lama..."
"Tidak perlu waktu lama untuk mengenali cinta sejatimu." Jawab Rana mantap. "Kalau kau menerima cincin ini, kau akan membuatku menjadi pria paling bahagia di dunia ini, terimalah keseriusanku, ini cincin turun temurun keluargaku sebagai tanda aku mengikatmu dan nanti menikahlah denganku! Aku akan melamarmu lagi nanti dan memberi cincin yang baru, sebagai tanda bahwa aku akan benar-benar menikahimu, kau terima ya??"
__ADS_1
Rana menelan ludah, perasaannya bergejolak, dia juga mencintai Vino tentu saja, kebersamaan mereka telah menumbuhkan benih-benih cinta yang makin lama makin kuat.
Tiba-tiba matanya terasa panas, air mata bahagia berdesakan menyeruak di sudut matanya. Rana menelan ludahnya lalu menghela napas panjang, mengambil keputusan terpenting dalam kehidupannya.
"Ya aku mau mau menerima cincin ini Vin" Jawab Rana mantap.
Lelaki itu memejamkan matanya dengan penuh kelegaan, lalu mengecup jemari Rana dengan lembut.
"Terima kasih sayang" Bisik Vino serak, tetapi terdengar lembut dan penuh cinta.
Mereka berdua berpelukan penuh haru dalam suasana romantis restoran itu lalu melanjutkan lagi makan malam mereka. Setelahnya Vino mengantar Rana kembali pulang, dan dalam perjalanan itu seperti biasanya Vino selalu menggenggam jemari Rana dan tidak akan melepaskannya sebelum perempuan itu sampai di rumahnya.
******
Hari berlalu, Rana semakin bahagia karena sebentar lagi dia dan Vino akan segera menikah. Tinggal satu bulan lagi, tidak banyak persiapan yang akan di lakukan mengingat Vino hanya ingin pernikahan yang sederhana saja tetapi sakral. Dia juga tidak ingin mengundang banyak tamu dan hanya beberapa orang terdekat saja.
Dengan penjelasan yang rinci, juga berbagai pertimbangan akhirnya Rana pun menerimanya dan siap menggelar pernikahan secara sederhana saja.
Seperti biasa, hari ini Rana disibukkan dengan kegiatannya di dapur, membuat adonan kue. Dan ponselnya berbunyi, ada nama Jeany sahabatnya disana.
"Hai Jean??? Apa kabar? Lama sekali kau tidak menghubungiku?"
"Iya Na, sorry sorry aku baru saja kembali dari Tokyo ada pekerjaan disana, aku sedang dalam perjalanan ke Bakery mu, tunggu ya 10 menit aku sampai"
"Oke, see you!!" Ucap Rana lalu menutup teleponnya.
__ADS_1
Rana menghela napasnya kemudian teringat sesuatu bahwa dia belum mengatakan pada Jeany tentang rencana pernikahannya dengan Vino. Ya nanti dia akan mengatakannya sekaligus dia sudah berjanji kepada sahabatnya itu untuk mengenalkan Vino kepadanya. Rana berpikir sepertinya akan seru jika dia mengajak Vino untuk berkenalan dengan Jeany.
Benar saja, tidak butuh lama Jeany akhirnya datang dengan membawa beberapa oleh-oleh untuk Rana. Seperti biasa mereka menghabiskan waktu cuap-cuap di halaman belakang bakery Rana. Mereka mengobrol ngalor ngidul dan sesekali terdengar suara tawa dari keduanya sampai kemudian Rana berdehem membuat Jeany dilingkupi rasa penasaran.
"Jean! Aku dan Vino akan segera menikah" Gumam Rana yang langsung membuat Jeany membelalakkan matanya tidak percaya.
"Menikah???? Kenapa secepat itu, bukankah kalian baru beberapa bulan menjalin hubungan? Atau jangan-jangan kau??? Sudah ha..."
"Diamlah dan jaga mulutmu itu.... Sembarangan saja, memangnya setiap orang yang menikah cepat selalu dikonitasikan bahwa si perempuan hamil?? Apa aku terlihat seperti oerempuan gampangan??? Aiiisshhh"
"Hahaha karena itulah yang sering terjadi, but why Na? Kenapa secepat itu??" Tanya Jeany.
"Jika sudah merasa cocok kenapa harus ditunda-tunda Jean, oh iya aku belum mengenalkanmu dengan Vino ya? Ummmmm bagaimana kalau aku mengenalkanmu padanya? Kau mau kan???"
"Hhmmmm kupikir kau tidak akan melakukannya, mana aku ingin melihat foto calon suamimu itu" Jeany di lingkupi rasa lenasaran yang luar biasa tentang kekasih sahabatnya itu.
"Eittss tidak perlu melihatnya, kau harus bertemu langsung dengannya nanti, biar kau semakin penasaran haha"
"Kau ini, dasar!!! Ya sudah atur saja, atau kau bisa membawanya ke restoranku"
"Hmmm jangan deh, ntar yang ada kita malah makan gratis wkwkwk pokoknya nanti ku kabari ya"
Jeany dan Rana kembali melanjutkan obrolan mereka tentang perkembangan usaha mereka masing-masing. Mereka saling berbagi tips bagaimana cara mengembangkan usahanya. Itu adalah hal yang selalu menjadi bahasan mereka berdua setiap bertemu karena mereka masing-masing bisa saling bertukar pikiran. Sampai akhirnya Jeany pun berpamitan kepada Rana, dan menunggu kabar dari Rana tentang rencana pertemuannya dengan Vino, mengingat Rana harus menanyakan kepada Vino kapan bisa makan bersama dengan Jeany sahabatnya.
"Oke see you Rana sayang!" Ucap Jeany sambil memeluk Rana.
__ADS_1
"See you juga Jean, kapan dan dimana tempatnya nanti aku kabari ya?"
"Iya, atur saja, bye..." Jeany masuk mobilnya dan meninggalkan Bakery Rana.