
"Papa...????" Ucap Vino sambil menelan ludahnya karena dia tidak menyangka Papanya berada disini.
Vino kemudian melangkah mendekati Papanya dan menyalaminya. "Papa ada disini??? Kapan Papa kembali? Kenapa tidak memberitahu Vino???? Vino pasti akan menjemput Papa...! Papa datang dengan siapa???" Berbagai pertanyaan itu langsung dilontarkan oleh Vino untuk menutupi rasa keterkejutannya atas kehadiran Papanya.
"Untuk apa aku harus memberitahumu jika aku akan pulang? Apa selama ini kau peduli denganku? Apa kau pernah sekali saja menghubungiku, sekedar menanyakan kabarku???"
Vino tertunduk tetapi kemudian dia mengangkat kepalanya dan memandangi Papanya. "Iya, Vino memang salah, tidak pernah mengunjungi atau menghubungi Papa, tetapi bukan berarti Vino tidak peduli pada Papa....! Papa kapan datang???" Tanya Vino mengalihkan pembicaraan.
"Kemarin...! Papa menginap di rumah Vitto semalam tapi dia ternyata tidak ada dirumah dan sedang pergi ke luar kota...!"
Vino menarik kursi kerjanya dan duduk tepat di depan Papanya. "Kenapa harus ke rumah Vitto??? Kenpa tidak langsung pulang saja? Papa seperri tidak tahu dia saja, dia kan selalu menghabiskan waktunya di luar melakukan hal yang tidak penting seperti biasanya...!"
"Itu rumah putra Papa juga jadi tidak ada salahnya Papa datang kesana, lagi pula Papa yang salah karena tidak memberitahunya jika Papa akan pulang, pengobatan Papa sudah selesai jadi Papa kembali, Papa akan membantumu untuk mengurus perusahaan lagi, mengingat kau sepertinya sering mengeluh pada Vitto bahwa kau terkadang mereasa lelah mengurusnya sendirian dan dia tidak mau membantumu, itu sebabnya Papa ingin segera menyelesaikan pengobatan Papa agar bisa pulang dan membantumu...!"
Vino diam. Ini sama sekali tidak pernah di duga oleh Vino bahwa Papanya kembali dan akan langsung ke kantor untuk membantunya. Itu benar jika dia selalu mengeluh pada Vitto karena kakaknya itu tidak pernah mau membantunya di perusahaan, tetapi dasar Vitto, dia justru melaporkan semuanya kepada Papanya.
Vino tidak ada masalah dengan hal itu, dan justru sangat bagus jika Papanya datang untuk membantunya mengurus perusahaan lagi mengingat perusahaan mereka semakin besar dan tanggung jawab Vino juga semakin banyak membuat Vino kadang merasa lelah.
"Papa kenapa harus membawa meja dan kursi kerja kesini? Vino bisa menyuruh orang untuk mempersiapkan ruangan Papa hari ini juga...!" Ucap Vino lagi.
__ADS_1
"Tidak perlu Vin, Papa memang sengaja ingin satu ruangan denganmu sehingga Papa bisa mudah berdiskusi denganmu tanpa perlu jauh-jauh atau dibatasi oleh ruangan lain, kau pastintahu Papa memakai kursi roda saat ini, tidak mngkin juga Papa harus keluar masuk ke ruanganmu jika ingin berdiskusi tentang sesuatu...! Ada masalah kah dengan Papa berada satu ruangan denganmu? Kau tidak senang???" Tanya Tuan Andri pada Vino.
"Tidak Pa.... Maksud Vino bukan begitu, Vino hanya takut Papa tidak nyaman saja berada disini, lagipula juga ada babyak ruangan di kantor ini, mungkin saja Papa ingin ounya ruangan sendiri, tetapi jika Papa ingin bersama Vino disini juga tidak masalah, Vino sangat tahu keadaan Papa dan Vino mungkin juga bisa dengan mudah membantu Papa...!"
Vino memang merasa tidak masalah dengan kehadiran Papanya tetapi jika satu ruangan dengannya dia tentu tidak bisa membiarkan Angel datang sesuka hatinya ke ruangan ini seperti biasanya. Apalagi dia dan Angel terbiasa melakukan hal sesuka hati di dalam ruangan ini tanpa ada yang berani mengganggu. Tetapi jika ada Papanya tentu dia dan Angel tidak akan bisa melakukannya lagi.
Dan Vino tidak bisa menolak atau membantah Papanya, karena jika dia melakukannya itu hanya akan menambah permasalahannya saja. Papanya adalah orang yang berprinsip, tegas dan juga tidak pernah main-main dengan keputusan yang dibuatnya. Pada akhirnya Vino hanya bisa pasrah dan membiarkan Papanya satu ruangan dengannya.
Kurang dari 30 menit akhirnya ruangan Vino sudah selesai disiapkan. Vino kemudian meminta sekretarisnya agar sementara menyiapkan sebuah laptop untuk Papanya sebelum besok memasang perangkat PC di mejanya. Vino juga menyuruh sekretarisnya agar mengumpulkan laporan perusahaan selama sebulan ini kepada Papanya agar bisa di cek.
Vino mencoba bersikap seperti biasa meskipun dalam hatinya dia merasa gugup juga ada sedikit rasa canggung. Sudah lama sekali dia tidak sedekat ini dengan Papanya, terlebih lagi sudah satu tahun ini dia tidak pernah mengunjunginya di Perancis karena sibuk mempersiapkan balas dendamnya kepada Rana. Dan yang lebih membuatnya kesal lagi adalah sampai detik ini dia sama sekali tidak tahu keberadaan Rana dimana. Dia sudah mengerahkan segala cara tetapi Rana sama sekali tidak bisa dia temukan, padahal masih banyak hal yang ingin dilakukannya pada Rana.
"Vino.....!!!!" Panggil Papanya lagi.
Vino terlonjak dan langsung menoleh ke arah Papanya. "Ya Pa....!!!?"
"Apa yang kau pikirkan? Bukannya bekerja malah melamun...! Berikan Papa laporan kerjasama kita dengan perusahaan Jerman...!"
"Sorry Pa....! Vino akan carikan dan akan Vino kirim ke email Pap sekarang...!" Ucap Vino sambil terbata kemudian dia dengan cepat mencari apa yang diinginkan oleh Papanya.
__ADS_1
Mereka berdua pun terlihat berdiskusi dengan serius. Vino menjelaskan secara detail segala proyek dan kerjasama yang ditangani oleh perusahaan mereka saat ini. Papa Vino juya mendengarkan dengan seksama serta sesekali membaca laporan yang diterimanya. Papa Vino tersenyum, dia merasa sangat bangga sekali dengan putra keduanya itu. Meskipun Vino punya sikap keras kepala dan juga dingin, tetapi Vino mampu membangkitkan perusahaan yang sempat goyah akibat skandal yang dilakukan oleh Mamanya. Vino luar biasa, dengan segala kecerdasan serta kejeniusannya dalam menangani segala permasalahan, pada akhirnya dia mampu untuk melewatinya dengan kerja keras dan usaha pantang menyerah. Hanya saja saat ini yang membuat Papa Vino merasa kecewa adalah sikap Vino yang sesuka hati dan tidak manusiawi terhadap Rana. Balas dendam salah sasaran itu justru melukai Rana begitu dalam, bahkan dia bisa melihat ada trauma tersendir yang dialami oleh Rana, meskipun gadis itu berusaha untuk kuat. Yang bisa Papa Vino lakukan saat ini hanyalah membebaskan Rana dari belenggu kekejaman putranya, setelah itu dia akan menangani akar kuat dari masalah ini, yaitu Angel.
Ditengah diskusi itu, sebuah ketukan pintu mengalihkan Vino juga Papanya. Vino menyuruh masuk, yang ternyata itu adalah sekretarisnya. "Maaf pak, klien sudah menunggu bapak diruang meeting, apa kita bisa pergi sekarang???" Tanya sekretaris itu pada Vino.
Vino kemudian menoleh ke arah Papanya. "Apa Papa mau ikut meeting juga???" Tanya nya.
Papa Vino menggeleng. "Tidak, kau pergi saja dengan sekretarismu, Papa akan disini dan mempelajari semuanya dulu, pergilah...!"
"Baiklah..... Papa catat atau tandai saja mana yang Papa ingin tanyakan, nanti setelah meeting Vino akan menjelaskannya...!" Vino kemudian berdiri dan meninggalakan Papanya di ruangannya untuk meeting.
Papa Vini kembali fokus pada mao berisi laporan juga pada layar laptop di depannya. Sudah bertahun-tahun dia melepaskan seluruh tanggung jawab perusahaannya pada Vino, dan kali ini dia tidak bisa berhenti memuji hasil dari kerja Vino selama ditinggalkan olehnya dan itu diatas rata-rata. Sangat luar biasa dan juga sangat memuaskan.
Sekitar satu jam kemudian, akhienya Papa Vino sudah selesai membaca dan mempelajari laporan yang diberikan oleh Vino. Ada beberapa yang dia tandai untuk ditanyakan kepada Vino nanti. Papa Vino menghela napasnya dan melihat sekeliling ruangan dari putranya itu, ruangan yang luas dan sangat nyaman, dengan gaya simple tetapi elegant khas dari Vino. Dia memutar kursi rodanya untuk berkeliling di ruangan itu tetapi tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka dan seseorang masuk tanpa permisi.
"Hai Vino sayang.... Bisakah kau sekarang mengantarku? Ada tas dan sepatu keluaran terbaru aku ingin kau membelikannya untukku, kau bisa mengantarku ka......nnnn????" Angel masuk begitu saja seperti biasanya tanpa melihat siapa yang ada di ruangan itu, dan betapa terkejutnya dia karena bukan Vino yang ada di ruangan itu melainkan Papa Vino.
Angel terdiam juga terpaku di depan pintu dan mulutnya sedikit terbuka karena keterkejutannya. Angel menelan ludahnya dan masih tidak percaya dengan yang ada di hadapannya.
Sementara Papa Vino memandanginya dalam diam tetapi tatapannya sangat tajam terhadap Angel. Otak dan dlang dari segala kekacauan yang terjadi di keluarganya. Dan perempuan ini masih melenggang bebas serta tidak mau berhenti untuk mencoba merusak keutuhan yang ada di keluarganya.
__ADS_1
"Apa kau tidak punya sopan santun? Tidak bisakah kau mengetuk pintu lebih dulu sebelum memasuki ruangan seseorang? Apa memang ini sudah menjadi kebiasaanmu untuk tidak menghargai seseorang???" Ucap Papa Vino dengan nada penuh kekesalan.