
Besok sebenarnya Vitto sudah harus kembali syuting setelah mendapat libur dua hari. Akan tetapi setelah mengetahui kebenaran perihal Vino yang menyuap rumah produksi itu, Vitto sangat marah sekali. Dia merasa dibodohi dan dipermainkan. Mereka seolah tidak profesional hanya karena segepok uang yang diberikan Vino. Vitto tidak pernah takut untuk melawan sesuatu yang tidak dia sukai, dan kali ini dia tidak akan pernah kembali untuk melanjutkan syuting film itu. Dia benar-benar kecewa. Dan jika mereka menuntut, Vitto akan mengembalikan semua yang sudah dia terima. Vitto tidak pernah merasa rugi sama sekali jika harus meninggalkan atau merelakan sesuatu yang tidak sesuai dengan dirinya. Bagi Vitto ini adalah sebuah hukuman untuk orang-orang yang tidak bisa menghargainya.
Vitto menghubungi managernya dan menjelaskan bahwa besok dia tidak akan melanjutkan syuting film itu lagi jika pihak PH todak meminta maaf kepadanya dan juga membiarkannya mengambil waktu yang sama seperti ketika rencana itu dimajukan sepuluh hari sebelum hari H. Tidak lupa Vitto menceritakan apa yang sudah dilakukan oleh adiknya kepada PH itu. Tetapi Vitto mengingatkan agar jangan sampai Vino tahu mengenai hal itu, dan mereka harus berpura-pura tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Jika PH itu tidak terima dengan keputusannya, Vitto meminta agar managernya mengembalikan seluruh uang yang sudah diterimanya. Vitto enggan bekerja sama dengan orang-orang seperti itu. Persetan dengan kelanjutan dan kontrak yang sudah ditanda tangani. Tidak ada untungnya juga bagi Vitto, karena yang justru akan merugi adalah rumah produksi itu sendiri karena banyak orang sudah menantikan film ini mengingat bintang utamanya adalah dirinya.
Setelah menghubungi managernya, Vitto menghampiri Rana dan makan malam Rana juga sudah diantar. Vitto membantu Rana bangun dan akan menyuapinya. Rana menolak dan ingin makan sendiri, tetapi Vitto tetap memaksa bahwa dia yang akan menyuapinya.
"Kau marah hanya karena hal itu, bagaimana jika mereka menuntutmu atau membawamu ke jalur hukum karena kau tidak menjalankan apa yang ada di dalam kontrak itu???" Tanya Rana.
Vitto tersenyum. "Persetan... Jika mereka mau melakukannya biar saja, apa kau pikir aku akan peduli? Para penggemarku menunggu film ini karena ada diriku, jika mereka mencari penggantiku ya tidak masalah, yang rugi bukan aku tapi mereka karena pasti tidak akan banyak yang menonton, so simple....!"
"Kau memang angkuh dan suka seenaknya sendiri...!" Gumam Rana.
Sontak Vitto tertawa mendengar ucapan Rana. "Hahaha aku angkuh??? Wow sepertinya kau salah satu penggemarku ya???" Ledek Vitto.
"Aku mengikutimu di sosial media, dan aku sering membaca komentar dari nitizen betapa mereka tergila-gila padamu tapi kau tidak pernah menanggapinya, dan karena itu juga aku jadi sering kepo dengan laman penggemarmu dan ada juga haters, mereka bilang kau sombong sekali... Aku sempat berpikir kau memang seperti itu, tapi ternyata tidak sepenuhnya hahaha, masih ada sisi baik darimu...!" Ujar Rana yang justru diikuti gelak tawa Vitto.
"Jadi kau termasuk penggemarku atau hatersku???" Tanya Vitto lagi.
"Tidak dua-duanya, aku hanya iseng saja mengikutimu di sosial media, dan suka saja dengan aktifitasmu yang hobi mendaki gunung itu....!"
Vitto masih tertawa, kemudian dia meraih ponselnya dan bertanya pada Rana apa nama sosial medianya dan dia ingin mengikuti balik Rana. Tetapi Rana menolak memberitahu Vitto dengan alasan bahwa nanti bisa saja mengundang kecurigaan Vino atau Angel. Vitto mengangguk. "Iya benar juga... Baiklah tidak untuk saat ini tapi nanti setelah semua ini berakhir aku akan mengikutimu balik, jadi kita berteman???" Ucap Vino sambil melipat ke empat jarinya dan hanya menyisahkan jari kelingking sebagai tanda ikatan baru diantara dirinya dan juga Rana.
Rana pun membalasnya dan mengatakan mau menerima ajakan Vitto untuk berteman. "Baiklah aku menerimamu sebagai temanku...!" Jawab Rana. Mereka berdua kemudian tertawa lagi.
Dan inilah awal dari kisah mereka berdua. Vitto dan Rana. Mereka akan memulai sebuah perjalanan baru sebagai seorang teman, dan mereka tidak tahu takdir apa yang akan terjadi di kemudian hari. Hari ini boleh berteman tetapi tentu tidak untuk nanti.
Beberapa hari kemudian, Vino masih dalam keadaan gusar membolak balikkan badannya ke kanan, ke kiri, berbaring mentap langit-langit kamarnya, karena dia masih belum menemukan keberadaan Rana, dan dia sulit untuk tidur. Segala usaha sudah dia lakukan tetapi belum juga mendapatkan hasil. Yang dilakukan Vino akhir-akhir ini hanyalah marah-marah untuk setiap hal kecil yang terjadi, bahkan Angel memilih untuk menghindar jika Vino terlihat sedang tidak bersahabat.
Vino juga tidak berhenti mengumpat dan terus menyalahkan ke empat orang itu atas perginya Rana. Vino meminta pertanggung jawaban mereka tetapi Vino tidak memecat mereka karena itu hanya akan menimbulkan masalah besar jika sampai keempat orang itu tidak menerima keputusan pemecatannya marena bisa saja memreka membuka mulut kepada orang lain perihal apa yang dilakukannya kepada Rana. Vino tidak mau mengambil resiko lebih besar lagi. Rana kabur saja sudah membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang.
Sementara itu, kesehatan Rana sudah semakin membaik, hanya saja Rana masih belum bisa berjalan karena kakinya masih dalam proses pemulihan dan harus dibantu dengan kursi roda ataupun tongkat. Vitto membawa Rana pulang saat malam hari agar tidak terjadi kehebohan. Vitto selalu memakai masker, topi dan kacamata hitam ketika mengambil obat Rana atau sekedar pergi mengambil makanan yang di pesannya. Dan ketika membawa Rana pulang juga tidak lupa dia melakukan hal yang sama, begitu juga dengan Rana yang memakai masker serta jaket hodie.
Dan Vitto sama sekali tidak meninggalkan Rana dari rumah sakit untuk menjaga peremluan itu. Dia memilih menghubungi managernya agar mengirim pakaian untuknya. Vitto melakukan tugasnya menjaga Rana dengan sangat baik. Saat sampai di apartemennya, Vitto sudah ditunggu oleh seorang pengawal yang akan dia tugaskan untuk berjaga disini memastikan keamanan Rana. Pengawal itu langsung mengambil kursi roda di bagasi mobil Vitto, sementara Vitto menggendong Rana keluar dari mobil dan menempatkannya di kursi roda.
Pengawal itu mendorong kursi roda Rana dan Vitto mengikutinya di belakang. Ini adalah apartemen baru Vitto, tidak ada yang tahu selain dirinya dan managernya. Ini menjadi tempat yang nyaman untuk Vitto tinggali dan akan aman juga untuk Rana. Mereka bertiga memasuki lift dan naik ke lantai 19 dimana unit milik Vitto ada disana.
Setelah sampai mereka keluar, Vitto membuka apartemennya dan menyalakan lampunya. Saat masuk Rana dibuat takjub dengan apartemen Vitto yang begitu luas bahkan mungkin lebih luas dari rumahnya. Sangat mewah, dengan interior yang tidak kalah luar biasanya. Tentu saja karena Vitto adalah aktor terkenal dan segalanya pasti dia memilikinya. Vitto kemudian mengambil alih mendorong kursi roda Rana dan pengawalnya langsung keluar dan menutup pintu. Vitto mengajak Rana ke kamar yang nanti akan digunakan oleh Rana.
"Kau akan tinggal disini, dan ini kamarmu, aku sudah menyruh managerku menyiapkan semuanya, ada juga pakaian di dalam lemari, kau bisa menggunakannya, aku ada disebelah kau bisa memanggilku jika butuh sesuatu....! Art akan datang besok pagi, jadi dia akan membantumu, kau jangan sungkan-sungkan...!" Ucap Vino lalu mengantar Rana dan membantunya naik ke atas tempat tidur.
"Sudah malam istirahatlah....!" Vitto membaringkan Rana dan menyelimutinya.
"Thanks ya Vit...!" Ucap Rana.
"My pleasure. .." Vitto kemudian meninggalkan kamar Rana dan menutup pintunya.
Vitto begitu baik dan membantunya tanpa pamrih, Rana tidak tahu harus membalas dengan apa kebaikan Vitto padanya. Ketulusan lelaki itu terlihat jelas dan sangat bertanggung jawab. Rana masih tidak menyangka jika Vitto ternyata adalah orang yang sangat menyenangkan. Vitto tidak pernah meninggalkannya sendirian di rumah sakit dan selalu sigap membantunya. Yang berbuat jahat adalah Vino tetapi Vitto lah yang sepertinya merasa sangat bersalah hingga berkali-kali pula meminta maaf pada Rana atas apa yang sudah dilakukan oleh Vino. Seolah permintaan maaf itu adalah sebuah mantra. Berkali-kali pula Rana mengatakan agar Vitto berhenti mengatakan itu karena semua itu adalah kesalahan Vino dan yang harus melakukannya seharusnya Vino sendiri bukan dirinya, tetapi Rana sangat mengerti kondisi Vitto, bahkan Papa Vitto juga setiap hari menyempatkan waktu untuk berbicara dengan Rana dan berkali-kali juga meminta maaf atas perbuatan putranya. Dari situlah Rana yakin bahwa Vitto dan Papanya adalah oranv yang baik, hanya saja sepertinya Vino salah pergaulan sehingga bisa berbuat demikian tanpa mau mengasihani orang lain, sangat jauh berbeda sekali.
Rana mematikan lampu tidur dan memejamkan matanya. Kali ini tidak ada lagi tangisan, yang ada adalah rasa nyaman dan aman. Kemarin-kemarin ketika menjadi tawanan Vino, Rana selalu mengawali harinya dengan ketakutan akan apa yang akan terjadi nanti, dan ketika malam selalu berakhir dengan tangisan dan airmata. Tetapi sekarang semuanya akan baik-baik saja, itu yang Rana harapkan, walaupun semuanya belum berakhir sepenuhnya karena dia masih terikat pernikahan dengan Vino. Mulai saat ini dia akan berusaha melupakan lelaki itu, lelaki yang sangat dicintainya kemudian memulai hidup baru. Dan jika semua kesulitan ini beralhir tentu dia juga sudah menyiapkan diri untuk menjadi seorang janda di usia muda dan dalam usia pernikahan yang baru beberapa bulan. Bagi Rana itu berat tetapi tidak apa daripada dia harus menanggung semua kesulitan dan penderitaan setiap harinya. Disakiti oleh orang yang paling dicintai adalah hal yang sangat berat dan menyedihkan. Jika cinta dibalas dengan hal semacam itu, akan lebih baik menyerah saja dan merelakan orang itu pergi. Berat memang tetapi harus dilakukan. Jika terus bertahan sama sekali tidak ada jaminan untuk mendapatkan kebahagiaan karena cinta yang tidak terbalaskan.
★★★★★
Angel mendekatkan tubuhnya di sebelah Vino dan menenangkan kekasihnya itu. Vino sejak tadi tidak bisa tidur dan terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Angel bisa melihat kegelisahan lelaki itu. Angel kemudian meletakkan tangannya di dada Vino dan memeluknya.
"Sudahlah.... Jangan terlalu khawatir, Rana tidak akan bisa melakukan apapun, lagipula jika dia berani melaporkan kita ke polisi, dia tetap tidak akan bisa menang melawan kita, biarkan saja dia pergi tetapi kita jangan berhenti untuk menemukannya karena misi kita belum sepenuhnya berjalan..... Sekarang kau harus fokus dengan pekerjaanmu, dan biarkan anak buahmu yabg mencarinya.... Rana tidak akan pergi jauh, dia tidak akan bisa terus bersembunyi, dia sudah tidak memiliki apapun lagi, dia mau kembali ke rumahnya juga tidak bisa, kau sudah menyewakannya, dan jika dia menginginkan rumah itu darimana dia akan dapatkan uang? Dan kalaupun dia berhasil kembali ke rumah itu, bukankah itu hal yang bagus karena kita akan mudah menangkapnya??? Benarkan???"
"Ya kau benar, kenapa aku tidak terpikirkan tentang hal itu...!" Ujar Vino.
Angel tersenyum. "Kau terlalu kalut dan dilingkupi ketakutan yang tidak beralasan... Sudahlah lupakan si bodoh itu, kita pasti akan menemukannya, bagaimana kalau sekarang kita bersenang-senang... Beberapa hari ini kau erlalu fokus memikirkan si bodoh itu dan kau lupa untuk berbahagia denganku...!"
Vino tersenyum kemudian menarik Angel agar diatasnya. Dengan lembut Vino mencium bibir Angel dan Angel bergerak dengan lembut di atas Vino. Jemari Vino menyentuh pelan, menyentuh lembut bagian belakang Angel, membuat perempuan itu terkesiap. Lalu dengan lembut tetapi cekatan, Vino menurunkan gaun tidur Angel, begitu pelan gerakannya, seolah ingin menyiksa dirinya sendiri, seperti seorang lelaki yang membuka hadiahnya dengan penuh antisipasi dan kemudian mengintip dengan hati-hati.
Kulit Angel yang lembut terlihat sedikit demi sedikit, Vino melepasnya sampai ke pinggangnya dan menatap kekasihnya dengan penuh antisipasi. Angel selalu sempurna, perempuan cantik itu tengkurap dengan baju terbuka, menampakkan kulitnya dan begitu luar biasa. Vino membantu Angel menurunkan gaun tidurnya hingga sepinggang, kemudian sambil menciumi leher Angel dan memainkan lidahnya dengan lembut.
Napas Angel makin tersenggal ketika Vino enyentuh kedua bukitnya sambil lalu, mengusap bulatannya dengan gerakan seolah tak sengaja, sehingga membuatnya itu mengeras, seakan ingin disentuh lagi. Angel meracau merasakan sensasi hangat yang mulai membakarnya di miliknya. Vino masih menciumi lehernya, lalu bibir yang membara itu naik, mencium bibir Angel dan berbisik di sana.
"Di mana kau ingin aku menyentuhmu sayang? Katakan padaku."
Suara Vino menjadi serak.
"Vino." Angel meracau lalu memejamkan mata ketika Vino menggulingkannya dan kini Angel ada dibawah Vino.
Kemudiam lelaki itu menunduk dan mengecup bagian atas si kembar, kemudian, bibir Vino lewat sambil menghembuskan napas panasnya sambil lalu di atas miliknya, membuat bulatannya mengencang dengan kerasnya.
"Sayang.." suara Angel makin keras ketika Vino mengulangi perbuatannya berkali-kali. Lelaki itu mengecupi seluruh bagian kembar miliknya tetapi mengabaikan bulatamnya yang mendamba. Yang dilakukan Vino hanyalah menghembuskan napasnya sambil lalu, menggoda Angel, menyiksa Angel.
"Kau ingin aku menyentuhmu di situ sayang?" Vino berbisik di sela-sela kecupannya. Menikmati ketika jemari Angel tanpa sadar menyentuh rambutnya, mencoba mengarahkan bulatan Angel ke bibirnya.
"Iya Sayang... iya..." Angel meracau seolah kesulitan bernapas.
Bulaannya begitu tegak dan panas, karena godaan-godaan Vino, dia ingin lebih.. dia ingin bibir Vino yang hangat mencium bulatan berwarna pink miliknya, menyesapnya dengan lembut.. dia ingin sekali.
Dan Vino melakukannya. Bibirnya dengan lembut mengatup di bulatan si kembar, lalu lidahnya bergerak menggoda di dalam, begitu hangat, memainkannya dengan usapan-usapan lembut di dalam mulutnya. Sensasi rasanya membuat Angel lemas, kedua jemarinya mencengkeram rambut Vino, membuatnya acak-acakan, lelaki itu sekarang sudah di atanya sepenuhnya, tubuhnya yang tinggi besar melingkupi Angel. Vino bertumpu pada kedua siku dan lututnya, dan menenggelamkan kepalanya di keindahan milik Angel. lelaki itu memuja si kembar milik Angel, memainkan dengan lidahnya, dan menyesap bulatanna perlahan, membuat Angel meracau gelisah atas sensasi yang dirasakannya.
Setelah puas. Vino mengangkat kepalanya dan mengecup ujung hidung Angel yang tersenggal, napas mereka berkabut oleh keinginan yang pekat. Ketika Vinl menggeserkan tubuhnya, Angel merasakan milik Vino sudah mengeras di sana, menyentuhnya, begitu keras dan siap.
"Kau begitu indah Sayang" bibir Vino turun ke leher Angel, mengecupnya dengan lembut, lalu turun menelusuri Angel, memberi hadiah kecupan lembut ke kedua bulatan di kembar. Lelaki itu membungkuk dan mengecupi perut Angel, membuat perempuan itu merasakan sensasi panas menjalari perutnya, menuju miliknya yang ada di bawah.
Kemudian lelaki itu menarik turun satin putih yang membungkus milik Angel. "Kau selalu membuatku tidak bisa menolak jika kau menginginkanku, kauemang selalu luar biasa...!" Gumam Vino.
__ADS_1
Kata-kata Vino membuat Angel gemetar penuh keinginan, dan terus gemetar ketika Vino menurunkan satin putihnya melalui sebelah kakinya dan melepaskannya. Membiarkannya masih menggulung di kakinya yang lain. Vink menggerakkan jemarinya dengan lembut, dan dengan gerakan lembut, meraba kaki Angel dari atas sampai bawah, mengirimkan sinyal-sinyal dorongan yang bagaikan sengatan listerik di sana. Ketika sampai di kaki Angel, Vino melepaskan seluruhnya dari Angel, lalu menatap keseluruhan Angel yang polos di bawahnya, dan siap dimiliki olehnya.
Kepala Vino pening oleh keinginan luar biasa dan antisipasi ketika dia menggerakkan jemarinya lagi, pelan mengalun dari lutut Angel dan naik ke pahanya. Sampai kemudian menyentuh milik perempuan itu. Hanya sepersekian detik, menyentuh di sana. Dan Angel terkesiap, berjingkat kaget oleh sengatan aneh yang menyengatnya seketika.
Vino tersenyum. Karena Angel sangat sensitf dan selalu siap olehnya. Jemarinya menyentuh milik Angel, memainkannya lembut dengan usapan ahli, membuat Angel setengah bangun, bingung atas sensasi yang mengalir deras di dirinya, sekaligus takut.
"Sayang...!!!"
"Sssshh.... Tenanglah sayang." Vino menghela Angel agar berbaring lagi, menikmati. "Aku akan memberimu surga dunia dari seluruh dirikuu, dari jemariku, dari bibirku..." Lelaki itu mendunduk, lalu mengecup milik Angel dengan lembut. Membuat perempuan itu menggeliat, mencoba merapatkan kakiknha. Kaget atas apa yang sudab dilakuka oleh Vino, itu luar biasa sekali.
"Vino sayang.. jangan di situ... astaga....Vino..."
"Sekarang, biarkan aku memberimu kenikmatan.." Lidah Vino mulai menelusup, menemukan titik paling sensitif di milik Angel dan memainkannya dengan ahli. Lidah Vino hangat sehangat bibirnya yang bermain dengan ahli, dengan penuh pemujaan.
Angel terbaring di sana dengan mata berkabut, dengan napas tersenggal dan terasa melayang akibat sensasi luar biasa nikmat yang menyelimuti tubuhnya, bersumber pada v nya. Gerakan bibir dan lidah Vino begitu ahlinya, membuat Angel berkali-kali mengerang ketika lelaki itu dengan sengaja menggerakkan lidahnya memutar, menggoda titik pusat miliknyanya. Membuat Angel seakan dibawa ke sebuah tepi pencapaian yang tsudah dia tunggu. Angel memejamkan matanya. Dia sudah hampir sampai ke tepi itu. Digigitnya bibirnya, merasakan sensasi hangat melandanya dan menggetarkannya.... Hendak membawanya ke suatu tempat yang tidak berbatas Napasnya tersengal, jantungnya berdetak cepat, matanya terpejam menyerap kenikmatan itu. Tetapi kemudian, Vino berhenti.
Lelaki itu menghentikan ciumannya di milik Angel, , membuat Angel membuka matanya memprotes. Tetapi senyum Vino begitu manis dan penuh rahasia, membuat Angel selalu bergetar karena sensasi yang ditularkan Vino.
"Jangan. Kau harus menungguku. Kita akan mencapai puncak itu bersama-sama"
Lelaki itu menegakkan tubuh dan bertumpu pada lututnya yang memamerkan dada bidangnya dengan kulit putih yang halus.Bagaikan sati yang halus, dan hangat, membungkus otot-otot tubuhnya yang kekar dan keras. Membuat Angel selalu merasakan dorongan luar biasa untuk menyentuhnya.
Lelaki itu lalu setengah berdiri menanggalkan semuanya. Seluruh pakaiannya akhirnya terlempar ke lantai. Dan sekarang Angel menatap seorang lelaki yang berlutut di atasnya, dengan tubuh yang luar biasa indahnya, dan milik Vino yang telah mengeras dan siap untuknya. Vino begitu indah dan lelaki itu adalah kekasihnya.
Vino tersenyum lembut, lalu meraih jemari Angel dan mengecupnya.
"Maukah kau menyentuhku?"
Angel menganggukkan kepalanya, dan lelaki itu membawa jemari Angel ke miliknya yang keras dan siap untuknya. Angel menyentuh kekerasan yang sehalus satin itu dan mengusapnya.. Membuat Vino mengeluarkan racauan sedikit keras. Mendengar itu, Angel semakin mempercepat gerakannya.
"ya seperti itu" Gumam Vino tertahan, "Teruskan sayang, terus gerakkan jemarimu dengan lebih cepat...!"
Jemari mungil Angel membelai kembali milik Vino membuat lelaki itu harus menggertakkan giginya, menahan racauannya. Angel begitu kagum, karena milik Vino besar, keras dan terasa begitu halus juga lembut. Angel mengeksplorasi milik Vino, dia sudah sejak lama mengenalinya dan selalu merindukannya. Sampai kemudian Vino menggenggam tangan Angel dan menahan jemarinya.
"Cukup. Kurasa aku akan meledak kalau kau meneruskannya."
Dengan penuh keinginan lelaki itu kembali mengatur posisi sehingga bisa pas. Sang lelaki berpadu dengan perempuannya.
"Buka sayang." Vino setengah membantu Angel membuka kakinya dan membiarkan milik Vino mendesak di antara kaki Angel, mendesak masuk dan bersatu. Lelaki itu menggerakkan tubuhnya dengan lembut, mengirimkan getaran listrik yang membuat angel semakin membara.
"Kau selalu basah dan siap untukku" Vino menyentuh Angel dengan miliknya, merasakan betapa Angel sudah begitu hangat dibawahnya, "Kau milikku dan hanya akan menjadi milikku sayang"
Lelaki itu bertumpu kepada kedua sikunya, dan mendorongkan dirinya. Menekan Angel dengan begitu ahli. Menekankan dirinya dalam-dalam dan menahan dirinya untuk tidak langsung bergerak, mengangkat kepalanya dan mengecup pipi Angel lembut.
Dengan lembut Vino mulai menggerakkan tubuhnya. Setiap Vino bergerak, Angel sellaun menikmati gelenyar luar biasa yang terkirim dari miliknya ke sekujur badannya. Membuatnya meracau, sambil berpegangan pada tubuh Vino.
Tubuh mereka berdua berkeringat, di atas tempat tidur berseprei putih yang sekarang sudah acak-acakan itu. Vino bergerak di dalam milik Angel, semula lembut dan hati-hati. Dan Angel merespon dengan napas terangah dan erangan pelan, Vino ergerak dengan ljar biasa, membawa mereka menuju puncak masing-masing.
Kenikmatan itu begitu intens dan luar biasa, sehingga membuat tubuh mereka lemas. Vino kemudian tengkurap diatas Angel menahan dengan siku dan lututnya supaya tidak membebankan beratnya di tubuh kekasihnya, kepalanya menunduk di sebelah leher Angel. Napas mereka berdua tersenggal. Kepalanya masih dipenuhi kabut kenikmatan itu. Luar biasa rasanya menyatu dengan orang yang dicintai. Pencapaian punvaknya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Vino membuka matanya dan mengecup telinga mungil Angel yang ada di depannya,
"Apakah aku memuaskanmu?"
Angel masih berusaha menormalkan napasnya. Apakah Vinl memuaskannya? Tentu saja. Itj selalu terjadi ketika mereka bersatu. Kalau benar ledakan luar biasa yang dirasakannya dan menerbangkannya ke tingkat ke tujuh adalah sesuatu yang orang-orang sebut sebagai puncak tertinggi ketika beraatu, berarti Vinl telah memberikan puncak yang paling nikmat kepadanya. Angel memang tidak pernah punya perbandingan. Tetapi dia yang begitu terpuaskan tahu.
"Ya, tentyu saja sayang..!"
Lelaki itu tersenyum mesra dan mengecup Angel lagi. Lalu mengangkat kepalanya, dan menarik tubuhnya yang masih tenggelam di dalam milik Angel dengan hati-hati. Dan merwktidur bersama dan saling bewpelukan
*****
Keesokan harinya, Rana terbangun dan dia menyadari bahwa saat ini dia berada di apartemen milik Vitto. Sebuah ketukan di pintu lamar mengalihkan Ranaa dari lamunanya. Seorang perempuan setangah baya masuk dan menyapanya ramah. Dia mengenalkan dirinya sebagai art yang akan membantu Rana dalam beberapa hari ke depan. Rana tersenyum lalu memperkenalkan diri . Dengan ramah perempuan itu membantu Rana ke kamar mandi. Rana hanya akan mengelap tubuhnya dengan air dan sabun saja, dan tidak akan mandi jadi dia menyuruh Art itu agar keluar saja karen adia bisaa melakukannya sendiri.
Setelah memberrssihkaaaan ddiri dan sudah bersiap deengan berganti pakaiaan, Rana mendorong kursi rodanya keluar kamar dan mendapati vitto suddah ada di kursi makan sedang sibuk degan ponselnya. Melihat ada Rana, Vitto tersenyum dan langsung berdiri membantu Rana. "Kenapa kau kesini sendirian, harusnya kauemanggilku...! Sarapan sudah siap jadi kita sarapan bersama...!"
Vitto mendorong kursi roda Rana lalu menyiapkan piring dan mengambilkan Rana nasi goreng yang ada di mangkuk. Setelah itu Vitto kembali duduk ke kursinya. "Bagaimana tidurmu???" Tanya Vitto pada Rana.
"Nyenyak sekali.... Ditambah dengan efek obat jadi aku lebih baik...!" Jawab Rana.
Vitto tersenyum. "Syukurlah, aku harap kau betah disini...! Setelah kau pulih nanti kau bisa memasak dan melakukan apapun yang kau inginkan disini, oh iya aku ada hadiah untukmu...!"
Vitto mengeluarkan sebuah kotak dan memberikannya pada Rana.
"Apa ini???" Tanya Rana.
"Hadiah kecil untukmu, ku harap kau menyukainya...!" Rana kemudian membukanya dan ternyata itu adalah sebuah ponsel. Rana tersenyum. "Kenapa kau memberiku ponsel ini??" Tanya Rana lagi.
"Agar kau bisa dengan mudah menghubungiku, kau sangat memerlukan itu kan??? Aku membelinya untukmu..!!"
"kau kenapa melakukan semua ini Vitto... Aku tidak begitu perlu dengan ini...!"
"Kau memerlukannya, agar ketikaa aku diluar dan kau butuh sesuatu kau bisa langsung menghubungiku.... Jangan menolaak dan gunakan ponsel itu dengn baik....!"
Rana tersenyum. "Thanks ya....!" Ucapnya .
"Iya sama-sama, ayo habiskan sarapanmu...!"
Vitto dan Rana sarapan bersama dan mereka juga mengobrol lagi. Vitto sangat senang melihat Rana tersenyum laagi, karena itu adalah hal yang sangat ingin dilihatnya. Vitto berharap Rana merasa betah tinggal disini dan dia juga aka punyaa teman mengobrol yang asik..
"oohhhh iiyaa kau bilang kauu ingin bertemu sahabatmu, dimana dia tinggal??? Aku akan menyuruh orang mengeceknya dulu..."
__ADS_1
"Temanku itu bernama Jeany dia memiliki restoran di dekat kantor Vino, restoran Chinese food"
"Oke... aku akan mengirim orangku kesana dan memastikaannya, kau jangan dulu berhubungan dengan orang lain selaain aku, aku takut Vino tahu pergerakan mu dari orang lain"
"Iya aku tahu...!""
Vitto tersenyum. "Kau tunggu saja nanti aku akan mengabarimu jika ada informasi tentang sahabatmu itu...."
Rana mengangguk dia menatap Vitto dengan senyuman. dan sekali lagi Rana mengagumi kebaikan dari Vitto. Rana berharap Vitto akan menjadi teman yang baik untuknya dan tidak menyakitinya seperti Vino.
Vitto juga tersenyum dan diam-diam mencuri pandang ke arah Rana yang sedang menyantap nasi goreng. Rana terlihat sangat manis ketika tersenyum. Dan Vitto akan memastikan senyum Nah itu tidak akan pernah hilang dari wajahnya. Dia akan berusaha dengan keras untuk mengembalikan senyum Rana dan tidak akan membiarkan perempuan itu tersakiti lagi.
adiknya itu memang sungguh kejam,, menyiksa seorang perempuan yang tidak berdosa hanya untuk melakukan balas dendam yang tidak ada artinya dan tidak berguna sama sekali. Vino terlalu berlebihan dalam mengungkapkan kasih sayangnya terhadap Vania dan melupakan Sisi kemanusiaannya. Bukannya mendoakan Vania, Vino justru melakukan hal yang sangat keji terhadap seseorang yang tidak bersalah. padahal Rana adala orang yang sangatlah baik. dan seharusnya Vino sangat bersyukur bisa menikah dengan Rana.
Vitto sangat bisa melihat dimata Rana bawah perempuan itu sangatlah mencintai vino adiknya. Sebenarnya hal yang membuat Vitto sedih adalah kenyataan bahwa Rana mencintai Vino dan mereka menikah. Padahal sejak pertemuannya dengan Rana di pesta yang ada di rumah Vino, itu sebenarnya sudah jatuh hati kepada Rana tetapi saat itu dia tidak tahu siapa Rana dan di mana dia tinggal dan siapa namanya. Vitto tidak tahu apakah nanti Rana akan kembali kepada Vino lagi ataukah bagaimana dia tidak tahu tetapi untuk saat ini Vitto hanya ingin menjaga Rana memastikan keamanan perempuan itu.
Jika saja Rana tidak menikah dengan Vino, mungkin Vitto akan berusaha untuk mendapatkan hati perempuan itu. Vitto melihat bahwa Rana adalah perempuan yang luar biasa, kesederhanaannya juga kebaikan hatinya, bisa dengan cepat merebut hatinya. Dan kalaupun nanti Rana berpisah dengan Vino, Vitto memiliki keraguan bahwa perempuan itu akan dengan mudah mau membuka hati untuk laki-laki lain. Trauma yang dialami Rana begitu berat sehingga perempuan itu akan mengalami kesulitan mengahadpi hari-harinya nanti. Trauma itu tentu tidak akan mudah untuk dihilangkan bahkan akan membekas selamanya di hati Rana.
"Aku ingin cepat sembuh dan aku bisa melakukan aktivitas kesukaanku lagi seperti dulu" Gumam Rana.
Vitto meltakkan sendoknya dan menatap Rana. Vitto tersenyum.
Memangnya Apa yang ingin kau lakukan tanya Vitto pada Rana. Rana kemudian menjawab bahwa dia ingin kembali memasak membuat kue sama seperti dulu lagi. Vitto itu tersenyum kemudian ia mengatakan kepada Rana bahwa nanti ketika Rana sembuh ia akan membeli bahan untuk membuat kue dan meminta Rana untuk mengajarinya karena dia juga ingin bisa membuat kue.
Rana tertawa tetapi ia berjanji akan mengajari Vitto membuat kue yang paling enak.
"Kue apa yang ingin kau buat Vitto??" tanya Rana.
"aku sangat menyukai cheese cake buatan Papa tetapi di sini tidak ada cheese cake yang seenak buatan Papa sayangnya ketika aku di Perancis Papa tidak bisa membuatkanku itu lagi, dia mengajariku dan memberitahu takarannya tetapi aku gagal membuatnya... konyol sekali dan aku sangat malu hahah...!" Vitto tertawa begitu juga dengan Rana. "Kue apa yang menjadi idola di bakerymu???" Tanya Vitto.
"Banyak sekali, dan aku akan membuatkanmu sesuatu yang menjadi kesukaan banyak orang di bakeryku...."
"Oh ya??? Benarkah itu, oke oke kau harus ceoat sembuh agar bisa membuatkanku kue seperti itu hahahaha...!"
"Aku bisa membuatkannya sekarang, tergantung apakah ada bahannya atau tidak disini...!" Ucap Rana.
Vitto menggeleng kemudian dia meminta Rana agar menulis bahannya dan dia akan berangkat belanja saat ini juga sehingga dia bisa segera menikmati kue buatan Rana. Sudah lama sekali dia tidak mencoba kue buatan orang tersekatnya, dan itu pasti akan menyenangkan sekali.
"Kau harus membuatkannya atau mengajariku aku juga ingin bisasak sebenarnya, jangan hanyaasak mie instan saja, itu biasa aku lakukan saat di gunung, selain itu aku tidak bisa hahah..." Tawa Vityo kembali menggema.
Rana hanya bisa menggeleng karena Vityo ternyata adalah orang yang ramah dan banyak senyum serta tertawa. "Baiklah aku akanengajarimu, kapan kau mau aku ajari"
"Jika sekarang bisa kenapa aku harus menunghu besok... Hahah!" Vitto tertawa lagi.
Rana kemudian meminta Vitto agar mencatat semua bahan di ponselnya saja dan kelaki itu bisa membelinya. Rana sendiri merasa senang sekali jika dia bisa kembali melakukan hal yang sangat disukainya, itu juga akan membantunya melupakam segala beban yang ada di pundaknya. Kesakitan yang diti ggalkan Vino membuatmya mengalami trauma berat sekali dan Rana ingin melupakan itu dengan menyibukkan diri.
Vitto mengambil ponselnya dan mengetik satu persatu bahan yang diucaokan Rana. Setelah selesai Vitto bergegas keluar apartemen untuk berbelanja meninggalka Rana yang hanya tersenyum mihat lelaku itu begitu antusias.
Entah kenapa Rana merasa sangat nyaman sekali berada di dekat Vitto, lelaki itu murah senyum dan banyak tertawa. Rana yakin bahwa Vitto akan menjadi teman yang baik untuknya selain Jeany. Rana sangat merindukan Jeany saat ini, tetapi dia harusmenahan diri sampai situasi membaik. Dan berharap Jeany mau memaafkannya. Rana masih belum tahu jika sampai sekarang Jeany masih menjalani perawatan intensif diluar negeri setelah kecelakaan yang dialaminya akibat ulah Vino.
Kondisi Jeany masih belum membaik hingga saat ini. Terlalu parah sehingga butuh perawatan yang intensif juga akan butuh waktu lama untuk pulih. Orang tua Jeany sudah mencoba menghubungi Rana dan ingin memberitahu keadaan Jeany tetapi Rana sama sekali tidak bisa dihubungi. Mereka tahu bahwa Jeany sangat dekat dengan Rana, dan mereka juga yakin jika Jeany akan kuat bertahan jika Rana ada didekatnya, sayangnya usaha mereka gagal dan tidak bisa terhubung dengan Rana yang tiba-tiba menghilang bahkan sampai saat ini Rana tidak pernah menghubungiereka untuk sekedar menayakan kaba
****
sementara itu, Vino baru membuka matanya dan Angel memeluknya diaamlingnya, mereka tidak mengenakan apapun dibalik selimut setelah penyatuan panas mereka semalam. Menentuh kulit lembut Angel membuat Vino menegang dan dia menginkan Angel lagi. Pagi ini harus diawalri dengan lenyatuan lagi agar moodnya membaik dan tidak terus memikirkan Rana.
Vino mengecup dahi Angel membuat perwmpuan itu langsung berkerut dan perlahan membuka matanya.
Angel tersenyum melihat Vino menatapnya. "Aku ingin mengawali pagiku denganmu, aku yakin kau selalu siap... Rasakanlah disana dia sudah menegang dan siap untikmu..." Vino memeluk Angel.
Sedangkan Angel merasakan apa yang menyentuh dirienya. Hangat, keras dan lembut. Jemari Angel langsung meraih milik Vino, mengusapnya lembut, bergera naik turun membuat Vino mejamkan matanya merasakan kelembutan akibat gerakan Angel.
"terus sayang.... jangan berhwnti...! Hhmmmppp...."
Angel tersenyum menatap Vino, dan lelaki tu membalas senyum nya, lalu dengan lembut menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Angel lembut. Angel membalas kecupan itu. Membiarkan Vino merasakan kelembutan bibirnya. Lelaki itu lalu melepas ciumannya dan mereka bertatapan. Senyum Vino tidak akan pernah Angel upakan, senyum itu begitu lembut, begitu penuh haru, dan entah kenapa membuat dada Angel sesak oleh suatu perasaan yang tidak dapat digambarkannya.
Jemari Angel twrus bergerak dibawah sana dan jemari satunya menyentuh pipi Vino lelaki itu menempelkan pipinya di sana dan memejamkan matanya, jarinya meraih tangan Angel dan mengarahkannya ke bibirnya. Vino lalu mengecup telapak tangan Angel dengan lembut. Mereka bertatapan dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh satu sama lain, dan kemudian bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman lembut.
Kali ini ada yang berbeda. Kali ini ada rasa sayang dalam ciuman ini. Ada perasaan lembut yang mengembang dalam pagutan bibir mereka. Vino melahal bibir Angel, mencecap seluruh rasa bibirnya, seakan tidak pernah puas. Tangannya menyentuh pinggul Angel dan dengan gerakan ahli .
"Naik ke atasku, sayang." Suara Vino bagaikan perintah mistis yang membuat tubuh Angel dibanjiri oleh dorongan yang aneh. Dengan hati-hati Angel naik ke pangkuan Vino. Lelaki itu membimbingnya untuk menyatukan tubuh mereka perlahan, mereka berdua menghela napas pendek-pendek, begitupun angel.
Tangan Vino yang kuat merangkum pinggulnya dengan lembut dan membimbingnya untuk bergerak, "Bergeraklah sayang, puaskan dirimu dengan tubuhku..." bisik Vino parau.
Dan Angel bergerak, senang mendapati bahwa setiap gerakannya membuat Vino menggeram penuh gairah. Dia bergerak dengan sensual, didorong oleh gairah alaminya sebagai seorang perempuan, dengan bantuan Vino.
Mereka becinta sambil berhadapan, dengan posisi setengah duduk. Percintaan itu begitu intens karena mereka bisa menatap mata masing-masing. Melihat betapa nikmatnya gerakan mereka bagi satu sama lain. Ketika tubuh angel lelah, Vino menopangnya, meletakkan kepala Angel di pundaknya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
Dengan gerakan mulus, Vino mendorong tubuh Angel berbaring di karpet yang lembut tanpa melepaskan tubuh mereka yang bertaut penuh gairah. Ditindihnya Angel dengan pelan tetapi sensual,
diciumnya bibir Angel lembut. Tubuhnya bergerak dan menggoda Angel untuk mengikutinya terjun ke jurang kenikmatan yang dalam.
"Lingkarkan kakimu di pinggangku." Bisik Vino serak, "Rasakan aku lebih dalam... ah sayang, kau mencengkeramku dengan begitu kuat...."
Lelaki itu mendorong masuk semakin dalam, menggoda Ang ketika melakukan gerakan seakan ingin melepaskan diri, tetapi kemudian mendorong lagi makin dalam. Mereka larut dalam pusaran gairah, sampai kemudian Angel melambung tinggi ketika mencapai puncaknyaa. pencapaian yang luar biasa, sambil mendongakkan kepala menatap langit-langit kamar dalam pelukan kekasihnha yang luar biasa tampan. Vino menyusul puncaknnya, dengan erangan tertahan dan semburan hangat di dalam sana.
Dengan lembut Vino menarik diri, lalu menempatkan dirinya dengan nyaman di sebelah Angel dan menarik tubuh Angel terbaring di lengannya, memeluknya lembut dari belakang. Kepala Angel ada di lekukan lengan dan lehernya. Vino menundukkan kepalanya, dan membisikkan napas panasnya pelan, di telinga Angel.
"Aku mencintaimu Angel sayang..." Suara Vino serak dan penuh perasaan. "Aku mencintaimu."
__ADS_1
"Aku juga"
Mereka berdua kemudian berpelukan dan melanjutkan lagi sesi percintaan mereka di kamar mandi seolah tidak ada habisnya.