
Rana dan Vitto menunggu makanan pesanan mereka datang. Sebenarnya Vitto tadi nya ingin menahan Rana di dalam villa saja, dan memesan makanan disana tetapi Rana meminta makan di restoran sekaligus ingin jalan-jalan menikmati suasana di luar villa. Dan Rana ingin jalan-jalan di pantai. Lalu sore harinya baru berenang di laut dan juga di kolam renang villa mereka.
"Bagaimana??? Apa kau jadi membawa Papa pulang ke rumah???" Tanya Rana pada Vitto.
"Entahlah... Sepertinya tidak jadi... Vino datang ke acara pernikahan kita yang arti nya dia masih ada keinginan untuk memberikan doa pada kita meskipun dia gengsi... Hehehe tetapi jika saat kita pulang lalu mengajak Papa pindah, Vino akan marah lagi... Ya, sebenarnya jika dia tidak datang ke pernikahan kita, dia pasti akan tetap marah jika kita membawa Papa tetapi tentu aku memiliki alasan bahwa kondisi hubungan nya dengan Papa serta kemarahannya karena Papa selama ini menyembunyikan segala nya dari dia, hal itu yang membuatku harus membawa Papa pergi dari rumah... "
"Tetapi kau pasti masih melihat kemarahan Vino pada Papa kemarin kan??? Dia masih tidak mau berbicara dengannya padahal Papa sedang menanyakan tentang masalah dia di bawa polisi bersama Arindah...???"
Vitto mengangguk. "Ya... Jelas sekali aku bisa melihatnya... Tetapi kita coba lihat dulu saat kita nanti kembali, ada perubahan atau tidak dengan sikapnya pada Papa, setelah itu aku akan mencoba mengambil keputusan bahwa Papa akan stay disana atau kita akan membawa nya pulang.. " Ujar Vitto.
Rana tersenyum. "Lakukan apa yang menurutmu baik, dan alangkah lebih baiknya tidak menimbulkan konflik di antara kalian berdua, aku rasa ketegangan selama ini sudah cukup... Terkadang aku merasa sangat bersalah karena semua terjadi karena aku datang di keluarga kalian... "
"Issshhh... Kau ini... Kenapa sering sekali mengatakan hal itu.. Bukankah sudah sering aku bilang bahwa jangan kau menyalahkan dirimu, semua yang terjadi sudah jadi rencana Tuhan... Vino melakukan kesalahan jadi dia pantas untuk dapat hukuman atas perbuatannya, bukan salahmu jika ada masalah tentang aku dengan Vino... Sudahlah.... Semuanya akan membaik.... Aku akan bekerja keras membuat Vino bisa dekat dengan Arindah.."
Rana terkekeh. "Apa kau yakin bisa membuat mereka dekat???"
"Kau meragukanku??? Hahaha aku juga tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak, aku hanya berharap Vino bisa melupakan masalalu nya dan membuka hati nya... Meskipun dia sangat menyebalkan, sebagai seorang kakak aku tetap ingin melihat kebahagiaan adikku... Dia sudah terlalu hancur karena Angel..."
Rana tersenyum, memegang jemari Vitto. "Aku tahu kau sangat menyayangi nya meskipun dia sangatlah menyebalkan... Kau adalah kakak terbaik untuknya... "
Sementara itu di tempat lain...
Vino keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam sebuah restoran. Dia ada janji dengan Arindah untuk makan siang bersama. Tadi pagi Vino menghubungi Arindah dan mengajak perempuan itu untuk makan siang sambil membicarakan mengenai masalah yang terjadi kemarin. Kebetulan hari ini jadwal Arindah di rumah sakit adalah jam 2, sehingga Arindah bisa datang untuk bertemu dan makan siang bersama Vino.
__ADS_1
Sejak semalam Vino berpikir keras tentang apa yang terjadi kemarin. Segala nya sudah Vino pikirkan dengan baik. Dan dia akan membahasnya dengan Arindah. Hari ini Vino juga sudah mengirim bodyguard untuk Arindah dan juga Naufal. Semalam Vino langsung menghubungi Randy dan Randy langsung menyiapkannya.
Vino duduk dan seorang waitress datang memberikan buku menu. Vino memesan minuman lebih dulu sambil menunggu kedatangan Arindah, baru setelah itu memesan makanan.
Vino menunggu Arindah, sekitar 15 menit sampai akhirnya perempuan itu datang. Arindah masuk dan memutar pandangannya ke berbagai arah sampai akhirnya dia menemukan Vino sedang duduk sendiri. Arindah langsung menghampiri lelaki itu.
"Hai Vin....!" Sapa Arindah.
"Hai Ndah.... Duduklah....!" Titah Vino.
Arindah menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Vino. "Lama ya??? Sorry macet...!"
Vino tersenyum. "Aku sudah menduga nya, itu sudah biasa terjadi... Oh iya kau mau pesan apa??? Kebetulan aku juga belum memesan makanan karena menunggumu...!" Vino memanggil lagi waitress untuk mencatat makanan yang akan di pesannya dengan Arindah.
"Bagaimana??? Bodyguard nya sudah datang kan???" Tanya Vino.
"Iya sudah, tadi pagi... Dan yang perempuan, sekarang sedang menunggu di luar... Vino...??? Bisakah kau memberitahu mereka agar tidak memakai baju hitam-hitam??? Rasanya agak berlebihan, dan bisakah mereka memakai pakaian biasa saja seperti orang pada umumnya agar aku merasa nyaman saja..."
. Vino terkekeh. "Kalau begitu kau bisa langsung meminta pada mereka sendiri. Katakan kalau kau ingin mereka berpenampilan biasa saja, nanti mereka pasti mengerti... " Ucap Vino.
"Baiklah kalau begitu...." Gumam Arindah. "Vino.. Mengenai yang kemarin sepertinya tidak perlu kita lanjutkan ya??? Bodyguard sudah cukup untuk berjaga di rumah dan yang mengikutiku... Mereka sepertinya bisa menjagaku dan Naufal dengan baik... " Ucap Arindah.
"Lalu bagaimana dengan janji mengundang Reino??? Apa kau sudah memikirkannya dengan baik???" Tanya Vino.
__ADS_1
"Itulah Vin...??? Kenapa sih kemarin kau harus mengatakan itu??? Aku sama sekali tidak berani memikirkan hal itu, karena aku sangat bingung... Tidak bisakah kau mencari ide yang lain???"
Vino menggelengkan kepala nya. "Tidak ada Ndah... Jika kita membohongi Reino, aku khawatir dia akan bertindak lebih jauh lagi padamu, ya memang aku sudah memberimu bodyguard, tetapi bodyguard hanya bisa membantumu semisal Reino ingin mengganggumu atau Naufal, tetapi mereka tentu tidak akan bisa berbuat apa-apa jika itu sudah ke permasalahan pribadi seperti ingin mengambil hak asuh atau hal semacam itu... "
"Ya aku tahu... Tetapi jika kita menikah, apa guna nya Vin??? Reino justru akan melakukan ancamannya untuk merebut Naufal dariku... Kemungkinan itu justru akan benar-benar di lakukan oleh Reino.. Menikah tidak akan membantu apapun Vin... " Ujar Arindah.
Vino terdiam untuk sesaat kemudian menatap Arindah. "Dengan menikah, aku bisa leluasa membantu mengatasi segala masalahmu.. Maksudku adalah, ketika kita terikat dalam pernikahan, aku punya hak sepenuhnya atas dirimu.. " Vino belum menyelesaikan ucapannya tetapi langsung dihadapkan dengan ekspresi Arindah yang terlihat marah mendengar ucapan nya mengenai memiliki hak sepenuhnya atas dirinya.
Vino terkekeh. "Sorry sorry... Kau jangan tersinggung dulu, maksudku memiliki hak sepenuhnya atas dirimu itu adalah aku punya tanggung jawab untuk menjaga mu dan keluargamu, tanggung jawab yang murni sebagai suami, bukan lagi sebagai seorang teman.. Kedudukan suami tentu lebih tinggi kan??? Karena langsung di akui secara hukum dan agama... Aku bisa membantumu sepenuhnya, dan tidak akan ada masalah yang akan di buat Reino seperti masalah yang dia tiduhkan kepada kita kemarin saat di hotel...."
Arindah menatap Vino dalam diam.
"Meskipun permasalahan di hotel sudah selesai, tetapi hal itu bisa membuat Reino menggunakan alasan yang sama lagi untuk merebut Naufal, kau pasti bisa membayangkan hal apa yang akan terjadi jika Reino mempermasalahkan itu saat menggugat hak asuh Naufal di persidangan... Kau akan di anggap tidak pantas mengasuh Naufal lagi karena Reino akan menuduhmu dan aku memiliki hubungan tanpa ikatan, dan itu di lakukan di depan Naufal... Walaupun kenyataannya tidak benar, tetapi seseorang bisa melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya.." Lanjut Vino lagi.
Mata Arindah mulai berkaca-kaca. Yang di katakan oleh Vino memang benar, masalah di hotel beberapa waktu yang lalu bisa jadi masalah yang besar untuknya jika Reino membahas hal itu . Dan Arindah bisa dalam masalah besar dalam hak asuh Naufal nanti nya. Air mata Arindah akhirnya tumpah juga. "Tapi aku tidak bisa menikah denganmu Vin??? Bagaimana bisa kita menikah??? Kau pasti tahu aku sudah gagal dalam pernikahanku yang pertama padahal aku dan Reino dulu saling mencintai, pengkhianatan itu menghancurkan segala nya... Lalu pernikahan ini??? Kita tidak saling mencintai??? Dan juga di lakukan untuk alasan menghindari ulah Reino, aku tidak bisa membayangkan pernikahan macam apa itu Vin??? Membayangkannya saja membuatku benar-benar takut..."
"Aku sangat mengerti ketakutanmu, dan aku juga menyadari bahwa pernikahanku sebelumnya juga hancur dan karena ulahku yang tidak bisa menerima kebaikan dan ketulusan mantan istriku... Semalam aku memikirkan segala nya, kebaikan nya juga keburukan nya... Kebaikannya aku ingin memastikan mu dan Naufal terhindar dari Reino, keburukannya adalah kita akan sama-sama menjalani sesuatu yang mungkin kita tidak menginginkannya karena kita tidak saling mencintai, tetapi ketika kedua nya di timbang, maka kebaikannya akan lebih berat dan memiliki nilai yang lebih bagus..." Ujar Vino.
Arindah menyeka air mata nya. Semua kebingungan nya kembali bergumul di kepala nya. Membayangkan semua nya terasa begitu berat dan pasti akan sulit sekali. Dia memang pernah mencintai Vino tetapi itu sudah lama sekali dan cintanya sudah hilang. Lalu bagaiaman dia bisa menjadi istri Vino? Menjadi istri juga memiliki tanggung jawab besar, merawat, menjaga dan menyenangkan suami. Bagian yang menyenangkan itu yang membuat Arindah takut. Mereka tidak saling mencintai, lalu bagaimana bisa menyenangkan ketika melakukannya.
Vino memandangi Arindah, yang terlihat bingung, takut. Vino bisa merasakan nya. Arindah tidak mencintai nya, begitu juga dengan dirinya, dia tidak pernah mencintai Arindah. Pernikahan itu pasti akan menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Tetapi entah kenapa Vino memiliki feeling bahwa dia harus memastikan Arindah dan Naufal aman dari gangguannya Reino, dan satu-satunya cara adalah menjadikan Arindah sebagai istri.
Vino meraih jemari Arindah, dan memegang nya sambil menatap wajah perempuan itu. "Aku tahu Ndah, ketakutan, dan kekhawatiran yang kau rasakan, tetapi pernikahan ini aku rasa jadi jalan yang terbaik... Jika kau takut akan bagaimana pernikahan ini berjalan nanti, aku pastikan semua nya akan baik-baik saja.. Jika yang kau takutkan adalah hubungan kita setelah menikah, please jangan takut, aku janji akan memastikan kenyamananmu, aku akan siapkan kamar khusus untukmu sendiri, kita tidak akan satu kamar, jadi kau punya privasi, di rumahku banyak sekali kamar yang bisa kau gunakan, aku juga tidak akan memaksakan kehendakku kepadamu, aku tidak akan menuntut tanggung jawabmu sebagai istriku, jika semua itu yang kau takutkan, jadi please jangan mengkhawatirkan apapun... Atau begini saja, kau bisa mengajukan syarat kepadaku tentang apapun yang kau inginkan dan tidak inginkan dalam pernikahanku itu, aku akan menyetujuinya selama kau merasa nyaman... Yang terpenting sekarang kau setuju menikah denganku... Bagaimana???" Tanya Vino.
__ADS_1