Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 338


__ADS_3

Setelah mengobroldengan pengacara serta mengajak mereka untuk makan malam bersama, Vino dan Arindah naik ke kamar mereka. Vino memeluk pundak Arindah, masih berusaha menenangkan istrinya itu yang sejak tadi terlihat kalut, sedih, takut juga khawatir. Vino memaklumi nya, karena tahu betapa Arindah sangat menyayangi dan mencintaiku Naufal, dia tidak bisa sama sekali jauh dari anaknya. Membayangkan Naufal akan hidup bersama Reino saja Arindah sangat tidak bisa, karena Arindah tidak yakin jika Reino bisa mengurus Naufal dengan baik. Sikap egois Reino masih begitu besar, sehingga Arindah sangat meragukannya.


Mereka masuk ke kamar, dan Naufal masih tertidur. Karena Vino dan Arindah sudah datang, pelayanan pun memilih keluar dari kamar itu.


"Kau mandi dulu, ganti pakaian lalu tidur.. Kau pasti lelah sekali... " Ucap Vino pada Arindah.


"Kau saja dulu, kah seharian belum mandi kan??? Hanya tadi pagi saja... Aku sebelum kau jemput sudah mandi di kamar mandi yang ada di ruanganku, aku mungkin hanya akan mencuci wajah dan juga menggosok gigi saja, dan akan berganti pakaian.. "


Vino tersenyum. "Baiklah.... Aku akan mandi... "


"Aku akan siapkan pakaianmu..." Arindah berbalik badan hendak ke ruang ganti mengambil pakaian tidur untuk Vino. Baru satu langkah maju, pergelangan tangannya sudah di pegang dan di tahan oleh Vino. Arindah kembali berbalik badan memandangi suami nya. "Ada apa??? Kau ingin sesuatu???"


Vino tersenyum dan menggelengkan kepala nya. Dia kemudian memegang kedua bahu Arindah, menatap wajah cantik istrinya yang masih terlihat sedih dan belum tenang. "Kau kenapa??? Kau masih memikirkan si brengseek itu????" Tanya Vino dan Arindah menggelengkan kepala nya saja tidak menjawab pertanyaan Vino.

__ADS_1


Vino menghela Arindah dalam pelukannya dan mencium kening istrinya itu. "Semua nya akan baik-baik saja, tidak akan ada yang bisa memisahkan mu dari Naufal, Reino tidak akan mendapatkannya, tadi pengacara sudah bilang padamu kan bahwa sangat kecil kemungkinannya Reino akan memenangkan gugatannya... Jadi please jangan gunakan pikiranmu untuk memikirkan hal yang mustahil, jangan sampai kau sakit hanya karena memikirkan itu, semua akan baik-baik saja... Sekarang kita harus fokus pada Naufal dan juga menyiapkan bukti yang bisa mendukungmu.. Aku akan selalu ada di samping dan mendukungmu... Jadi please jangan membuatku justru mengkhawatirkanmu... oke???"


"Aku hanya khawatir saja....." Gumam Arindah.


"Jangan sampai kau mengkhawatirkan nya, yang justru akan membuatmu tidak fokus pada hal lain, kau yang ada menjadi sakit, dan Reino akan merasa senang jika tahu kau sakit karena hal ini, sehingga kau akan lemah dan tidak bisa melawannya.. Itu pasti akan jadi keuntungan untuknya... Kau tidak boleh lemah, kau harus bisa membuktikan bahwa kau layak untuk menjaga dan merawat Naufal, bukan si brengseek yang tidak punya otak itu... Okay???"


Arindah menganggukkan kepala nya. "Ya, kau benar sekali... "


"Jadi sekarang kau tidak boleh gentar, tetap fokus pada semua kesibukan yang setiap hari kau jalani, di tambah satu lagi menyiapkan berbagai bukti yang nanti di butuhkan di persidangan.. Jangan khawatir kan apapun... Sekarang aku akan mandi, dan kita istirahat... " Vino melepaskan pelukannya dan sekali lagi dia mendaratkan kecupan di dahi Arindah.


Vino pergi ke kamar mandi sedangkan Arindah pergi ke ruang ganti dan menyiapkan pakaian tidur Vino.


****

__ADS_1


Vino selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dan mengernyit ketika melihat hanya ada Naufal yang ada di atas tempat tidur. Arindah tidak ada disana. Vino pun bergegas ke ruang ganti nya untuk mencari Arindah dan benar saja Arindah ada disana, tetapi perempuan itu justru ketiduran di atas sofa berbentuk lingkaran yang adalah di tengah ruangan itu. Arindah sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, dan juga di sebelahnya ada pakaian tidur milik Vino.


Ada perasaan bersalah di hati Vino, mungkin karena dia terlalu lama mandi dan Arindah menunggu nya hingga ketiduran atau mungkin Arindah yang kelelahan sehingga Arindah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Dan tertidur di sini. Vino mengambil baju tidurnya dan berganti pakaian. Dia tidak tega membangunkan istrinya dan akan mengangkatnya sampai ke tempat tidur, sehingga bisa beristirahat dengan nyaman. Vino juga harus mengerjakan beberapa pekerjaan kantornya sehingga malam ini dia harus lembur.


Vino sudah berganti pakaian, dengan hati-hati dia mengangkat Arindah membawa perempuan itu ke kmar dan membaringkan nya di sebelah Naufal. Vino tersenyum, mendapati wajah cantik Arindah saat tidur. Begitu pulas dan manis sekali. Vino mendaratkan kecupan manis di kening istrinya, lalu beranjak dan mengambil laptopnya di dalam tas kerja nya dan membawa nya ke meja kerja yang ada di kamarnya. Bisa saja dia pergi ke ruang kerja yang ada di lantai satu, tetapi Vino ingin di kamar saja sambil menunggui anak dan istrinya ya g sedang tertidur pulas.


★★


Beberapa jam kemudian.....


Di Swiss, hari sudah mulai gelap, Vitto dan Rana juga merasa sudah cukup jalan-jalan hari ini. Dan besok akan mereka lanjutkan lagi, masih di wilayah yang sama hanya saja besok mereka akan berpindah ke tempat wisata lainnya. Setelah duduk dan menikmati suasana di taman. Mereka akan pulang dan mencari makan malam. Untuk kemudian beristirahat sehingga besok bisa kembali fit lagi.


Dalam perjalanan kembali ke rumah, Roland menawarkan kepada Vitto apakah Vitto dan Rana ingin jalan-jalan menggunakan kereta untuk berkeliling melihat pemandangan sambil naik kereta. Dan Roland nanti akan mengantar sampai Stasiun dan akan menunggu di stasiun juga atau bisa menunggu di tempat yang nanti Vitto dan Rana kunjungi. Akan menjemput jika mereka sudah selesai jalan-jalan dan mengantar pulang dengan mobil, atau mengantar lagi ke stasiun jika mereka ingin pulang juga menggunakan kereta. Karena sangat di sayangkan jika datang kesini tidak mencoba berkeliling dengan kereta.

__ADS_1


Vitto pun saling melempar pandangan dengan Rana. Dan Rana mengangguk, dia tentu sangat ingin mencoba berkeliling naik kereta. Vitto pun bertanya pada Roland, Kira-kira perjalanan kemana yang cocok menggunakan kereta, dan Roland mengatakan ke Zermat. Vitto pun setuju, tetapi tentu tidak besok karena jadwal ke Zermat masih beberapa hari ke depan, dan dia masih ingin berkeliling dan melanjutkan jalan-jalan sesuai dengan jadwal yang sudah di susun. Ke Interlaken, Grindelwald, dan tempat lainnya.


***


__ADS_2