
"Jadi kau tidak masalah jika aku memaafkannya???" Tanya Rana.
"Tidak.. Itu adalah hak mu, hanya saja seperti yang ku katakan padamu tadi, hati-hati dalam berbicara dengan Vino jangan sampai ucapanmu membuat dia jadi berpikir lain yang justru akan merepotkanmu dan juga kita...!"
Rana tersenyum, dan menganggukkan kepala nya. Dia merasa senang dan lega sekali Vitto memberi nya ijin untuk memaafkan Vino. Rana sendiri sejak awal sudah ikhlas dengan apa yang terjadi antara dia dan Vino, tidak mau menyalahkan siapapun baik dirinya sendiri ataupun Vino, karena pernikahannya dengan Vino adalah keputusan yang di ambilnya sendiri. Dan apa saja yang terjadi setelah pernikahannya menjadi demikian adalah konsekuensi yang harus di tanggungnya sendiri. Hanya saja dia mungkin tidak akan pernah bisa melupakan semua itu, sesuatu yang banyak memberinya pelajaran hidup, dan juga membuka matanya bahwa sesuatu yang awalnya baik juga tidak selamanya akan berakhir baik. Rana juga mulai bisa belajar mengenali seseorang yang benar-benar tulus hatinya dan tidak hanya baik dalam berucap atau bersikap di awal.
Sekarang Vino sudah menuai apa yang di tanamnya, bagaimana ketika dia mencintai seseorang dengan begitu tulus dan memberikan segala yang di minta oleh orang itu tanpa berpikir banyak kemudian orang yang di cintai itu justru membohongi dan mempermainkan cinta serta ketulusannya, adalah hal yang sangat menyedihkan sekali. Vino sekarang pasti sangat sedih dan marah, kecewa dan di penuhi penyesalan. Hal yang sama juga pernah di rasakan oleh Rana dulu, dimana dia bohongi oleh Vino, di jebak dan cintanya tidak berbalas karena Vino ternyarta tidak pernah mencintainya sama sekali. Hancur dan sakit hati sekali, apalagi Vino juga memperlakukannya dengan buruk bahkan ingatan Rana tentang pencintaan Vino dan Angel juga masih terngiang jelas di pikirannya.
Trauma sudah pasti di rasakannya, takut juga ada tetapi Vino sangat jauh berbeda dengan Vitto. Rana bisa melihat ketulusan yang di miliki oleh Vitto itu adalah nyata. Tuhan seolah sengaja mengirim Vitto untuk membantunya melepaskan segala kesakitan yang pernah di rasakannya. Menjalani sesuatu dengan pengharapan yang baik, dan Vitto selalu ada untuknya ketika dia membutuhkan sesuatu. Vitto begitu sabar menunggu dia benar-benar bisa melepaskan dan melupakan cinta Vino. Sekarang bahkan Vitto bisa menggantikan Vino di hatinya.
__ADS_1
***
Sementara itu, Vino meminta Angel agar pulang karena dia ingin beristirahat. Angel tadi sempat menilak dan ingin menemani Vino tetapi Vino tahu bahwa dia nanti harus kembali ke rumah sakit, dan Angel tidak boleh tahu. Selain itu, Vino juga merasa tidak nyaman jika harus lama-lama bersama Angel, mungkin itu hal yang sama juga seperti dulu ketika dia bersama Rana. Ada perasaan enggan dan juga geli tetapi dia harus bertahan dan berpura-pura merasa nyaman. Mengetahui segala kebusukkan Angel, membuat Vino merasa jijik pada dirinya sendiri. Bahkan tadi Angel juga merayu nya seperti biasa yang selalu berakhir dengan percintaan panas di antara mereka. Sayangnya Vino menolak dan enggan melakukannya dengan alasan dia sedang sakit kepala lalu ingin beristirahat saja.
Vino berpikir seandainya dia masih membiarkan Rana menjadi istrinya dan mengetahui kehamilan Rana, mungkin saja dia akan lebih memilih Rana daripada Angel. Itu hanya kekungkinan dan Vino sendiri juga tidak bisa yakin dengan hal itu mengingat dia memang sudah di butakan oleh cintanya pada Angel yang begitu besar. Kebutaan itulah yang membuatnya terlihat bodoh sekali. Bahkan kebutaan itu juga yang membuatnya tidak bisa melihat cinta yang di miliki Rana untukknya. Rana sudah menerima semua siksaan yang di berikannya. Bahkan setelah menerima semua itu, Rana tetap tidak melakukan hal yang membuat Vino di permalukan di depan banyak orang. Rana tidak pernah sekalipun menuntut sesuatu yang bisa jadi itu menjadi hak nya. Rana tidak pernah memanfaatkan kesempatan yang besar yang bisa saja menguntungkannya. Rana hanya memilih pergi dan menjauh tanpa banyak berucap.
Di tempat lain, Papa Vitto tersenyum melihat kebahagiaan yang saat ini ada di hadapannya yaitu Vitto dan juga Rana. Keduanya terlihat serasi. Vitto benar-benar sangat mencintai Rana, itulah yang selalu di ungkapkan oleh putra sulungnya itu. Bahkan Vitto tidak bisa mengungkaokan kebahagiaannya dengan kata-kata ketika bercerita bahwa Rana memberinya kesempatan untuk memasuki hati perempuan itu, juga bagaimana ketika Rana menerima Vitto sepenuhnya. Vitto sangat bahagia sekali dan siap menunggu Rana melahirkan untuk kemudian mengajak perempuan itu menikah dan hidup bahagia, sehingga Rana juga bisa menghapuskan seluruh kenangan buruknya saat menikah dengan Vino dulu. Membuat Rana tidak lagi berpikir bahwa pernikahan itu membuatnya trauma tetapi Rana bisa merasakan bahwa pernikahan itu adalah awal kebahagiaan yang sebenarnya.
Papa Vitto juga senang karena Rana mau memaafkan Vino dengan segala keburukan yang di tinggalkan oleh putra bungsunya itu. Rana selalu bersikap baik dan tidak pernah gegabah dalam setiap memilih tindakan yang ingin di lakukannya. Apa yang di alami Rana dulu sangatlah buruk, menyedihkan dan juga meninggalkan traumaendalam, bisa saja Rana melaporkan Vino kepada polisi tentang apa yang sudah di perbuat Vino padanya, tetapi Rana sama sekali tidak melakukan itu dan tetap membiarkan Vino berbahagia dengan kehiduoannya. Rana juga tidak pernah mengusik Vino dan Angel, dia lebih memilih menjauh serta menjalani kehidupannya dengan caranya. Lalu Vitto berusaha hadir dan menempatkan diri dengan baik untuk menjaga dan melindungi Rana sampai saat ini. Dia juga merasa bahwa bisa saja Vino menjadi terobsesi dengan Rana setelah berpisah dengan Angel nantinya lalu akan membuat hubungan kedua putranya itu menjadi buruk lagi, dia sangat tidak mau itu terjadi. Dan sebelum terjadi lebih baik dia harus berjaga-jaga dan menemukan solusi yang tepat agar Vino tidak terobsesi pada Rana dan memilih menyerah.
__ADS_1
Papa Vitto berdiri dari sofa, kemudian beralih duduk di kursi rodanya, dan menghampiri Vitto dan Rana yang sedang tersenyum bahagia satu sama lain. "Vit....!" Panggilnya.
Vitto menoleh, melepaskan pegangannya pada jemari Rana kemudian berdiri. "Iya Pa... Ada apa???" Tanya Vitto.
"Papa ingin kalian segera menikah...!"
"Menikah???" Seru Vitto dan Rana bersamaan.
Papa Vitto tersenyum dan menganggukkan kepala. "Ya, menikah... Itu akan lebih baik bukan? Selama ini kalian tidak bisa terpisah satu sama lain, kalian tinggal bersama meskipun Papa tahu kalian tidak pernah melakukan hal di luar batas pada hubungan kalian, tetapi akan lebih baik jika kalian menikah, Papa juga tidak ingin ada hal yang buruk yang merecoki hubungan kalian... Papa ingin kalian saling menjaga... Cara terbaik adalah kalian menikah...! Bagaimana???"
__ADS_1