Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
100. Kejutan Hanako


__ADS_3

Saat pintu terbuka terlihat sosok hantu Tania sedang berdiri melayang dengan mengenakan  seragam mini market tempatnya bekerja dulu. Wajahnya pucat, tubuh kurus, rambut berantakan, sorot mata kosong dan sisa muntahan darah tampak keluar dari mulutnya, merah juga berbau busuk. Tangannya terulur ke depan seolah meminta bantuan.


Itu lah yang menyebabkan Wina menjerit lalu pingsan. Kondisi hantu Tania sama persis dengan kondisi terakhir saat Wina menemukannya sekarat di kamar kost.


“ Tania...,” panggil Bobi dan Madani dengan suara bergetar.


Hantu Tania melayang perlahan mendekati Madani dan Bobi sambil menyeringai. Tubuh Bobi dan Madani menegang saat wajah hantu Tania mendekat kearah mereka dan berhenti tepat di depan wajah mereka. Hantu Tania mengamati Bobi dan Madani dari jarak sedekat itu hingga membuat tubuh Madani gemetar ketekutan. Anehnya hantu Tania lenyap saat sorot matanya membentur Hanako yang mematung di tempatnya dan tengah menatapnya tajam.


" Lo liat kan Bob. Hantu Tania langsung pergi pas ngeliat Hanako. Gue rasa Hanako punya ilmu yang bikin hantu Tania segan sama dia dan ga mau gangguin dia...," kata Madani setengah berbisik.


" Jangan bercanda Dan...," sahut Bobi kesal.


" Gue ga bercanda Bob...," bantah Madani dan bersiap membuka mulutnya lagi.


" Stop. Sekarang lebih baik Kita pindahin si Wina ke tempat yang aman. Kasian kalo kelamaan di lantai kaya gitu...," kata Bobi tegas hingga membuat Madani terdiam.


Kemudian Bobi dan Madani bergegas mengangkat tubuh Wina ke atas meja dan membaringkannya di sana. Sedangkan Hanako mendekati tempat menghilangnya hantu Tania seolah mencari petunjuk. Melihat sikap Hanako membuat Bobi menggelengkan kepalanya.


“ Hana, cari apaan Kamu...?” tanya Bobi.


“ Eh, ga nyari apa-apa Kak...,” sahut Hanako cepat.


“ Kalo gitu ke sini, Kamu yang bantuin nyadarin Wina ya...,” kata Bobi.


" Kenapa bukan Lo aja sih Bob. Nyuruh melulu daritadi...," gerutu Madani namun Bobi hanya melengos dan mengabaikan ucapan Madani.


“ Gapapa Bang, lagian kan Gue cewek jadi lebih aman buat Wina...,” sahut Hanako sambil tersenyum lalu menghampiri Wina yang masih terpejam itu.


Hanako menepuk pipi Wina dengan lembut sambil memanggil namanya berulang kali. Tak lama kemudian Wina siuman dan langsung menangis sambil memeluk Hanako yang terkejut tapi tetap berusaha menenangkan Wina.


“ Itu dia Hanako, itu Tania. Dia datang kan, dia datang...,” kata Wina di sela isak tangisnya.


“ Iya Gue tau. Udah tenang ya Win, dia udah pergi kok...,” sahut Hanako.


“ Dia pergi cuma sebentar Hana, besok dia bakal datang lagi kaya tadi. Aku takut Hanako, takuutt...,” keluh Wina sambil mempererat pelukannya pada Hanako.

__ADS_1


Hanako mengusap punggung Wina dengan lembut untuk menenangkannya. Hanako tahu jika kalimat hiburan yang ia ucapkan tak akan mampu meredakan tangis Wina. Karenanya Hanako memilih diam dan membiarkan Wina meluapkan perasaannya saat itu. Bobi dan Madani pun nampak bingung melihat Wina yang masih histeris.


“ Kayanya Kita harus ngelakuin sesuatu Dan...,” kata Bobi.


“ Sesuatu apa Bob...?” tanya Madani.


“ Kita perlu bantuan seseorang untuk menetralisir tempat ini...,” sahut Bobi.


“ Jadi Kita harus nyari dukun dong Bob, susah tuh. Gue ga punya kenalan dukun lho Bob...,” sahut Madani sambil menggaruk kepalanya.


“ Jangan cari dukun Bang !. Saya punya Om yang ngerti sama hal kaya gini. Kalo boleh biar Saya minta bantuan sama Om Saya aja ya...,” kata Hanako.


Mendengar ucapan Hanako membuat Madani dan Bobi saling menatap lalu mengangguk.


“ Ternyata Kamu ini punya banyak rahasia ya Han. Tempo hari Ayahmu yang Polisi itu jemput Kamu, sekarang Om Kamu ngerti urusan perhantuan. Besok-besok kejutan apa lagi yang Kamu punya Han...?” tanya Madani sambil menggelengkan kepalanya.


“ Ssstt, jangan ngomong gitu Dan. Ga enak didengernya...,” kata Bobi mengingatkan.


“ Bercanda Bob...,” sahut Madani sambil nyengir.


“ Ok Hanako, Kamu boleh minta bantuan sama Om Kamu itu ya. Nanti Saya yang hubungi Pak Gofar dan nyeritain


“ Insya Allah siap Bang...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


\=====


Hanako menghubungi Faiq melalui ponselnya untuk meminta bantuan. Bukan karena Hanako tak sanggup menyelesaikan masalah penampakan hantu Tania, tapi karena Hanako tak ingin rekan kerjanya mengetahui kelebihan yang ia miliki.


" Tapi Papa jangan bilang sama mereka kalo Aku juga bisa berinteraksi sama maklhluk halus ya...," pinta Hanako.


" Lho kenapa emangnya...?" tanya Faiq pura-pura tak mengerti.


" Ga nyaman aja Pa. Mereka tuh usil orangnya, suka ngebully gitu lah. Yah walau ga mempan sama Aku tapi Aku tetap ga nyaman aja. Apalagi yang namanya Madani itu. Kalo tau Aku bisa berinteraksi sama makhluk halus, yang ada dia bakal nanyain sama Aku terus soal hantu. Aku malas ngeladeninnya Pa...," sahut Hanako.


" Oh, jadi Anak Papa ini lagi ditaksir cowok dan sadar kalo lagi dimodusin sama yang namanya Madani itu ya...?" goda Faiq.

__ADS_1


" Apaan sih Papa. Aku kan udah bilang ga mau ribet soal cowok. Ntar aja nunggu waktu yang pas...," sahut Hanako.


" Iya iya, Papa ngerti kok Nak...," kata Faiq akhirnya hingga membuat Hanako tersenyum.


" Makasih Papa...," sahut Hanako di akhir kalimatnya.


" Sama-sama Nak...," kata Faiq sambil tersenyum.


Sedangkan Gofar selaku pemilik toko langsung setuju saat Bobi menghubunginya dan minta ijin untuk menetralisir toko buku itu.


“ Siapa yang bakal bantuin Kita netralisir toko Bob...?” tanya Gofar.


“ Omnya Hanako Pak. Kata Hanako Omnya itu biasa nanganin hal kaya gini. Mudah-mudahan ada hasilnya dan hantu Tania ga ganggu lagi. Kasian Wina Pak. Dia sampe pingsan waktu liat penampakan hantu Tania kemarin...,” sahut Bobi.


“ Gitu ya. Kasih tau Saya kapan waktunya ya Bob. Saya juga mau hadir saat proses netralisir itu berlangsung


nanti...,” pesan Gofar.


“ Baik Pak...,” sahut Bobi cepat.


\=====


Faiq mendatangi toko buku sesuai waktu yang telah disepakati. Saat itu Faiq datang diantar Heru. Bisa ditebak


bagaimana reaksi ketiga rekan kerja Hanako saat melihat Faiq pertama kali.


“ Itu kan reporter tipi dan pembaca berita di TV Sahabat kan...?” tanya Madani tak percaya.


“ Iya...,” sahut Hanako santai.


“ Tuh kan Gue bilang juga apa. Si Hanako ini punya banyak kejutan buat Kita. Ini belum seberapa deh kayanya. Gimana kalo Kita udah kerja bareng sampe puluhan tahun. Iya kan Han...?” tanya Madani tapi diabaikan oleh Hanako.


“ Lebay Lo Bang. Bukannya kemarin Lo bilang kalo Hanako ini cuma sebentar aja kerja di sini. Jadi mana mungkin bisa barengan kerja sampe puluhan tahun segala, apalagi bareng sama Lo...,” kata Wina sambil mencibir.


“ Ck, itu kan perumpamaan Winaaa...,” sahut Madani kesal hingga membuat Wina tertawa mendengarnya.

__ADS_1


Di depan sana Faiq dan Heru sedang berbincang dengan Gofar dan Bobi. Mereka nampak serius membahas penampakan hantu Tania. Kemudian Hanako, Madani dan Wina pun ikut bergabung dengan mereka.


\=====


__ADS_2