
Runtuhan rumah Vena memang tinggal puing. Sebagian bangunan yang tersisa pun menyusul runtuh satu per satu tanpa sisa. Hingga yang ada kini hanya hamparan puing. Vena tak pernah kembali untuk sekedar melihat kondisi rumah atau mengambil barang lain miliknya yang diduga masih tertinggal di sana.
Alya pun memilih pindah ke rumah lainnya yang merupakan rumah masa kecilnya saat kedua orangtuanya masih hidup. Di sana ia tinggal bersama asisten rumah tangga yang setia. Sedangkan Atmo sesekali datang untuk merapikan taman di halaman rumah sesuai permintaan Alya.
Keadaan sekitar rumah Vena pasca runtuhnya rumah mewah itu terasa berbeda. Warga sering melihat penampakan makhluk halus di sekitar puing rumah. Semula warga mengabaikan hal itu. Namun saat terdengar suara jeritan minta tolong yang menyayat hati dari puing rumah, membuat warga panik dan segera menghubungi pihak kepolisian karena warga tak ingin disalahkan jika melanggar garis polisi yang dipasang mengelilingi rumah Vena.
Malam itu para pria tengah berbincang di warung mie sambil menikmati mie goreng, kopi dan gorengan. Sesekali tawa menggema di dalam warung yang terletak tak jauh dari rumah Surya. Dari tempat itu mereka bisa melihat kearah rumah Vena yang kini hanya tinggal puing itu.
“ Eh, Kalian tau ga kalo bekas rumah si Vena itu jadi serem sekarang...?” tanya seorang pria bernama Rozik.
“ Kalo itu mah udah lama Bro. Tuh rumah emang aneh, termasuk penghuninya...,” sahut pria lain bernama Yadi.
“ Aneh gimana sih...?” tanya pemilik warung tak mengerti.
“ Ya aneh, karena si Vena itu kan hanya mau nyapa orang tertentu aja. Kaya pilih-pilih gitu. Nah anehnya lagi,
orang-orang yang dia sapa itu sekarang malah ga keliatan lagi di sini. Ga tau kemana, kaya istrinya si Surya itu. Sering keliatan ngobrol tapi tau-tau ngilang ga tau kemana. Surya aja bingung nyari Istrinya kemana...,” sahut Yadi sambil meneguk kopinya.
“ Jangan ngomong gitu lah Yad. Saya sering kok disapa sama Bu Vena itu. Apa ntar Saya juga bakal ilang kaya Istrinya Pak Surya itu...?” tanya pemilik warung sambil bergidik.
Mendengar ucapan pemilik warung membuat semua orang tertawa. Sadar jika dirinya dikerjai, pemilik warung pun
ikut tertawa.
Tiba-tiba terdengar jeritan minta tolong. Terdengar jelas dan dekat. Para pria yang sedang tertawa itu pun refleks menghentikan tawa mereka sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari sumber suara.
“ Kalian denger ga...?” tanya Yadi.
“ Iya...,” sahut semua pria di dalam warung bersamaan.
“ Kayanya suaranya deket dan jelas banget, tapi darimana asalnya...?” tanya pemilik warung.
Tiba-tiba mereka menatap kearah runtuhan rumah Vena. Di sana mereka melihat bayangan hitam berwujud manusia yang berdiri di atas puing rumah sambil melambaikan tangan.
“ Tolooonnngg..., tolooonnggg...!” jerit bayangan hitam itu.
“ Itu orang atau hantu sih...?” tanya Yadi sambil menajamkan penglihatannya.
“ Kayanya orang Yad. Yuk Kita samperin...,” ajak Rozik.
__ADS_1
“ Ayo...,” sahut Yadi antusias.
“ Eh, Kalian mau kemana. Jangan gegabah ya...,” kata yang lain mengingatkan.
Yadi dan Rozik hanya tersenyum. Mereka melangkah menuju puing rumah Vena untuk ‘membantu’ seseorang yang tadi menjerit minta tolong itu. Sedangkan yang lain memilih menunggu di warung mie sambil mengamati pergerakan Yadi dan Rozik.
Saat tiba di sana Yadi dan Rozik saling menatap bingung karena tak menjumpai orang yang tadi melambaikan tangannya. Mereka pun mengaktifkan senter pada ponsel masing-masing untuk menerangi sekitar puing.
“ Gue ke sebelah sini, Lo ke sana ya Zik...,” kata Yadi lalu melangkah ke bagian kiri rumah Vena.
“ Ok...,” sahut Rozik sambil melangkah ke bagian kanan rumah Vena.
Tiba-tiba Yadi terkejut saat cahaya senter menyentuh sosok manusia yang berjongkok di balik puing. Sosok wanita berambut panjang dengan kulit hitam yang menebal dan berlipat. Kedua matanya yang menyorot tajam seperti mata hewan itu nampak menatap tak suka kearah Yadi hingga membuat tubuh Yadi terasa membeku di tempat.
Yadi menjerit tertahan saat makhluk itu menyeringai dan melompat kearahnya.
“ Hwaaa...!” jerit Yadi sambil menghalangi wajahnya dengan kedua lengannya.
Jeritan Yadi membuat Rozik terkejut lalu bergegas mendekat kearah Yadi. Rozik juga sempat melihat kelebatan bayangan hitam melintas di atas kepala Yadi lalu menghilang entah kemana.
“ Kenapa Yad...?” tanya Rozik.
“ Udah pergi tadi...,” kata Rozik.
“ Kemana...?” tanya Yadi sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
“ Ga tau. Gimana, mau lanjut ga...?” tanya Rozik.
“ Lanjut lah, nanggung banget udah sampe sini...,” sahut Yadi cepat.
“ Yakin, Lo ga takut...?” tanya Rozik.
“ Jujur Gue takut Zik. Tapi Gue penasaran banget, gimana dong...,” sahut Yadi bingung.
“ Ya udah Kita lanjutin, Gue juga penasaran siapa yang tadi teriak minta tolong...,” kata Rozik sambil tersenyum.
“ Tapi Kita sama-sama aja ya Zik. Gue takut kejadian kaya tadi terulang lagi...,” pinta Yadi.
“ Kan tadi Lo yang ngatur suruh ke sana dan ke sini...,” kata Rozik sambil mencibir.
__ADS_1
“ Iya iya, tapi sekarang ga usah misah ya. Kita sama-sama aja, ok...?” tanya Yadi sambil mencekal tangan Rozik.
“ Ok. Udah lepasin sih tangan Gue, kaya homreng aja megangin tangan Gue mulu. Cinta Lo ya sama Gue...?” gurau Rozik untuk mencairkan suasana.
“ Sia*an Lo...,” sahut Yadi sambil menepis tangan Rozik dengan kasar.
Melihat sikap Yadi membuat Rozik tertawa. Kemudian keduanya melanjutkan langkah mereka dan berhenti saat mendengar jeritan minta tolong dari balik runtuhan rumah.
“ Toloonngg..., toloonngg Sayaaa...,” kata suara itu lirih hingga mengejutkan Yadi dan Rozik.
“ Kayanya ada di balik puing itu Yad...,” kata Rozik.
“ Wah kalo gitu mas susah Zik. Kita ga bisa nolongin tanpa alat berat. Lagian Gue ga mau ya disalahin sama Polisi gara-gara melanggar police line...,” sahut Yadi.
“ Kita laporin ke Pak RT aja, ntar biar Pak RT yang lapor ke polisi...,” usul Rozik.
“ Iya...,” sahut Yadi lalu segera mendial nomor telephon sang ketua RT.
Kemudian Yadi melaporkan temuannya dan Rozik. Rupanya sang ketua RT ingin membuktikan laporan warganya itu dan berniat mendatangi tempat itu.
“ Baik Pak, Saya sama Rozik masih di lokasi. Kami tunggu ya Pak, makasih...,” kata Yadi di akhir kalimatnya.
“ Kenapa Yad...?” tanya Rozik.
“ Pak RT ga percaya sama laporan Gue. Dia mau ngecek ke sini langsung. Ya udah, Kita tunggu aja di sini...,” sahut Yadi sambil mengarahkan senternya ke seluruh bagian rumah.
Tak lama kemudian ketua RT datang. Saat itu lah kembali terdengar jeritan minta tolong dari balik puing rumah.
" Toloonngg..., toloonngg Saya...," kata suara tanpa wujud yang mendirikan bulu kuduk.
“ Tuh kan, Bapak denger ga...?” tanya Yadi.
“ Iya...,” sahut ketua RT.
“ Kasian kalo ada orang yang masih tertimbun di sana Pak...,” kata Rozik.
Ketua Rt pun mengangguk lalu melapor pada polisi via telephon. Laporan ketua RT direspon baik oleh polisi dan mereka pun bergegas meluncur ke runtuhan rumah Vena.
\=====
__ADS_1