
Hubungan Qiana dan Izar pun berjalan lancar. Qiana benar-benar memberi kesempatan pada Izar untuk ‘mengejarnya’ dan itu membuat Qiana lupa akan janjinya pada Ratih. Meski pun hubungan Qiana dan Izar belum bisa dikatakan layaknya hubungan sepasang kekasih, namun keduanya mulai saling membuka hati.
Izar pun sering menghubungi Qiana, mengajaknya bicara banyak hal dan sesekali membuat janji untuk bertemu layaknya sahabat. Karena pada dasarnya mereka memiliki rasa saling tertarik, maka tak sulit bagi mereka untuk memupuk perasaan yang mereka miliki. Jika awalnya mereka berdua memutuskan untuk berteman, namun seiring berjalannya waktu mereka pun mulai berani memperlihatkan rasa sayang yang mereka miliki. Hal itu tercermin dari sikap dan tutur kata mereka.
“ Aku ga jadi jemput Kamu ya Qi, ada kerjaan tambahan nih yang baru dateng...,” kata Izar dari seberang
telephon.
“ Iya gapapa. Aku bisa naik ojol aja nanti...,” sahut Qiana santai.
“ Ok. Hati-hati ya Qi. Jangan terlalu deket atau sok akrab juga...,” kata Izar.
“ Iya...,” sahut Qiana sambil menggigit bibir.
“ Kalo udah sampe rumah kabarin Aku ya...,” pinta Izar.
“ Kok ngabarin Kamu, untuk apa...?” tanya Qiana tak mengerti.
“ Ck, masa gitu aja masih nanya. Ya biar Aku tau kalo Kamu sampe di rumah tepat waktu Qi. Apalagi emangnya...,” sahut Izar sambil berdecak sebal.
Mendengar suara Izar yang galak itu membuat Qiana tertawa sedangkan Izar nampak tersenyum senang.
“ Lagian kan harusnya Aku yang ngenterin Kamu pulang. Makanya Aku mau mastiin Kamu selamat sampe rumah...,” kata Izar melanjutkan ucapannya.
“ Iya iya. Ntar Aku telephon Kamu kalo udah sampe rumah...,” sahut Qiana hingga membuat Izar tersenyum puas.
“ Ok, Aku tunggu ya Qi...,” kata Izar di akhir kalimatnya.
Qiana nampak tersenyum sambil menatap ponselnya. Sikap Qiana membuat Desi dan Nita ikut tersenyum. Qiana memang telah menceritakan hubungannya dengan Izar yang membaik itu kepada dua temannya. Nita dan Desi ikut bahagia dan mendukung hubungan Izar dan Qiana.
“ Sejak baikan sama Mas Izar Kamu jadi sering ketawa dan lebih ceria Qi ...,” kata Desi usil.
“ Masa sih. Perasaan Aku emang begini dari dulu...,” sahut Qiana.
“ Ya ga lah. Kamu emang ramah saat menghadapi nasabah. Tapi langsung berubah jadi singa kalo di balik layar...,” kata Desi.
“ Betul...,” sahut Nita cepat sebelum ditanya Desi.
“ Abis gimana dong. Aku ga bisa ngontrol perasaanku sendiri kalo lagi berhadapan sama dia...,” kata Qiana jujur hingga membuat Nita dan Desi tersenyum.
“ Jadi Kalian udah jadian ya...?” tanya Nita.
__ADS_1
“ Kami ga jadian kok. Kami hanya dekat karena dia yang minta supaya Aku ngasih kesempatan yang sama kaya cowok lainnya...,” sahut Qiana.
“ Tapi ternyata Kamu juga membuka hatimu untuk dia kan...?” tanya Desi sambil tersenyum penuh makna.
“ Iya sih...,” sahut Qiana malu-malu hingga membuat Desi dan nIta tertawa.
“ Terus gimana sama temen Kamu yang lagi berusaha deketin Mas Izar juga Qi...?” tanya Nita.
Pertanyaan Nita membuat Qiana tersentak kaget. Ia ingat jika telah membuat janji untuk mendukung Ratih dalam
usahanya mendekati Izar.
“ Astaghfirullah aladziim.., Aku lupa. Gimana nih...?” tanya Qiana panik.
Desi dan Nita saling menatap bingung melihat sikap Qiana. Keduanya pun terlihat sedikit kesal.
“ Ya ga gimana-gimana. Jalanin aja hubungan Kalian seperti air mengalir. Gitu aja kok repot...,” kata Desi santai.
“ Iya Qi. Lagian kan sejak awal temen Kamu juga tau kalo Mas Izar itu punya banyak penggemar. Keliatannya dia
juga siap kalo harus bersaing sama cewek lain untuk mendapatkan perhatiannya. Justru dulu Kamu yang keliatan ga siap kalo Mas Izar jadian sama cewek lain...,” kata Nita.
“ Aku ga kaya gitu ya Nit...,” bantah Qiana.
“ Mungkin Kamu ga sadar aja ngelakuinnya. Alam bawah sadar Kamu menuntun Kamu mengakui perasaan Kamu tapi pikiran Kamu justru mengingatkan untuk nolak dia. Jadi gitu deh, mirip orang ga punya pendirian. Plin plan...,” kata Nita sambil mencibir.
Ucapan Nita membuat Qiana membulatkan matanya karena terkejut sedangkan Desi nampak tertawa puas. Sesaat kemudian Qiana pun ikut tertawa karena menertawakan kebodohannya dulu.
Seolah memiliki ikatan batin yang kuat, tak lama kemudian ponsel Qiana berdering. Qiana nampak ragu menerima
panggilan itu saat melihat nama di layar ponselnya.
“ Kenapa ga diangkat...?” tanya Desi heran.
“ Ini Ratih...,” sahut Qiana dengan suara lirih.
“ Ya diangkat dong Non. Kali aja ada yang penting yang mau dibahas sama dia...,” kata Desi.
“ Qiana jadi merasa bersalah karena udah melakukan kesalahan. Bukannya mendukung Ratih untuk mendapatkan
perhatian Mas Izar, eh justru malah dia yang tertarik sama Mas Izar...,” sindir Nita sambil tersenyum.
__ADS_1
“ Ssstt..., jangan ngomong gitu Nit. Mas Izar bukan pacarnya Ratih kan. Jadi Kamu ga perlu merasa bersalah kaya gitu Qi...,” hibur Desi sambil memeluk Qiana erat.
“ Iya sih tapi...,” ucapan Qiana terputus.
“ Hak sepenuhnya ada di tangan Mas Izar dong Qi. Terserah dia mau pilih siapa. Bisa Nita, Aku, Ratih atau Kamu.
iya kan...?” tanya Desi yang diangguki Nita.
Qiana tersenyum kemudian memutuskan menerima panggilan Ratih.
“ Assalamualaikum Tih...,” sapa Qiana.
“ Wa alaikumsalam Qi. Kamu masih di kantor ya...?” tanya Ratih.
“ Masih. Kenapa Tih...?” tanya Qiana.
“ Aku lagi otw ke rumah Kamu nih Qi. Mau ketemu Ummi sama Abi. Aku kangen Qi...,” sahut Ratih dari seberang telephon.
“ Oh gitu. Ya udah Kamu langsung aja, Kita ketemu di rumah nanti ya...,” kata Qiana sambil tersenyum.
“ Ok...,” sahut Ratih di akhir kalimatnya.
Qiana meletakkan ponselnya di atas meja sambil tersenyum. Dalam hati ia bertekad akan menceritakan kepada Ratih tentang kedekatannya dengan Izar saat mereka bertemu nanti. Qiana berharap Ratih tak akan marah dan memusuhinya setelah mengetahui semuanya.
“ Aku bakal jujur sama Ratih nanti...,” kata Qiana sambil menatap Nita dan Desi bergantian.
“ Itu bagus Qi. Aku yakin persahabatan Kalian ga akan rusak kalo Kamu jujur...,” sahut Nita.
“ Asal Ratih juga mau menerima kenyataan...,” sindir Nita tak yakin.
“ Harusnya sih bisa. Kan Kalian udah punya komitmen bakal mengutamakan persahabatan Kalian dibandingkan ribut gara-gara cowok...,” kata Desi mengingatkan.
“ Iya. Semoga aja Ratih bisa berbesar hati menerimanya...,” sahut Qiana penuh harap.
“ Andai nanti Ratih minta Kamu menjauhi Mas Izar gimana Qi...?” tanya Nita.
“ Boleh ga sih kalo Aku serakah kali ini...,” sahut Qiana lirih.
“ Maksudmu...?” tanya Nita penasaran.
“ Aku ingin Ratih tetap jadi sahabatku dan Mas Izar tetap dekat denganku seperti sekarang...,” sahut Qiana gusar.
__ADS_1
Jawaban Qiana membuat Nita dan Desi saling menatap bingung. Keduanya berharap Qiana bisa melewati semuanya dengan baik nanti.
\=====