Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
221. Jalan Belakang


__ADS_3

Usai acara lamaran yang semi formal itu dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan makan siang. Saat itu lah Pandu minta Hanako mengikutinya keluar rumah.


“ Aku mau ngomong penting sama Kamu Sha...,” kata Pandu.


“ Iya Mas...,” sahut Hanako lalu mengikuti langkah Pandu.


Tiba di teras rumah Pandu membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Hanako. Keduanya saling menatap sejenak lalu tersenyum.


“ Apa dokumen untuk mengurus pernikahan Kita udah Kamu siapin Sha...?” tanya Pandu.


“ Udah Mas...,” sahut Hanako.


“ Alhamdulillah..., Aku seneng dengernya. Makasih ya Sha...,” kata Pandu.


“ Sama-sama Mas. Emang Kamu ditugasin kemana Mas...?” tanya Hanako.


“ Insya Allah ke Maluku Sha...,” Sahut Pandu enggan.


“ Kok keliatannya Kamu ga semangat gitu, kenapa...?” Tanya Hanako.


“ Aku ga tau sampe berapa lama bertugas di sana Sha. Makanya Aku berat ninggalin Jakarta...,” sahut Pandu.


“ Berat ninggalin Jakarta atau berat ninggalin Aku Mas...?” gurau Hanako.


“ Kamu tau aja, jadi malu Aku...,” sahut Pandu salah tingkah hingga membuat Hanako tertawa.


“ Kamu tenang aja Mas. Insya Allah Aku bakal nunggu Kamu. Tapi Kamu janji bakal jaga diri Kamu baik-baik di sana ya. Jaga sholat, jangan tinggalin dzikir, jangan lupa makan, tetap semangat dan tetap berkabar...,” pinta Hanako sambil menatap Pandu lekat.


“ Insya Allah siap Sayang...!” sahut Pandu lantang dengan sikap sempurna ala tentara sambil tersenyum penuh arti.


“ Apa sih Kamu...,” sahut Hanako dengan wajah merona.


Pandu pun tertawa melihat calon istrinya tersipu malu saat ia memanggilnya Sayang.


“ Aku harus berangkat sekarang Sha, gapapa kan...?” tanya Pandu sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“ Iya Mas, hati-hati ya...,” sahut Hanako dengan mata berkaca-kaca.


Pandu mengangguk lalu mengusap kepala Hanako dengan sayang hingga membuat Hanako tersenyum.

__ADS_1


\=====


Pandu dan team berangkat ke Maluku saat sore hari. Tugas Pandu mengendarai pesawat yang membawa rombongan tentara dan perbekalan mereka. Saat melihat rekannya berpamitan dengan keluarga mereka di bandara Halim Perdana Kusuma, Pandu nampak tersenyum kecut.


Ia melihat bagaimana rekan-rekannya itu memeluk anak dan istri mereka dengan erat sebelum masuk ke dalam pesawat. Ada air mata yang mengiringi kepergian mereka dan itu membuat Pandu teringat pada calon istrinya.


“ Sebentar lagi Aku juga bakal ngerasain hal yang sama kaya mereka. Diantar dan dijemput keluarga di bandara pasti menyenangkan rasanya...,” gumam Pandu sambil memejamkan mata.


Saat semua anggota team masuk ke dalam pesawat, Pandu pun mulai beraksi. Ia mengemudikan pesawat dengan sigap dan membawa pesawat membelah langit sore yang berwarna jingga keemasan. Perasaan Pandu sama indahnya dengan langit sore kala itu karena ia tahu ada sebuah doa lagi yang terlantun untuknya dari seseorang yang sangat ia cintai yaitu Hanako.


\=====


Ini hari ke tujuh sejak kepergian Pandu bertugas ke Maluku. Hanako mendapat informasi dari orangtua Pandu, yang notabene adalah calon mertuanya, jika tempat Pandu bertugas adalah daerah pelosok. Sulit mendapat signal ponsel di sana hingga Pandu pun sulit memberi kabar pada Hanako. Meski pun demikian Hanako tetap bersabar menanti sang pujaan hati kembali.


“ Infonya dari kesatuan Nak. Hanya anggota keluarga yang diberitahu...,” kata ibu Pandu.


“ Iya Bu Saya mengerti, makasih ya Bu...,” sahut Hanako.


“ Sama-sama Nak. Kamu kan calon Istri Pandu, jadi sudah seharusnya Kamu tau juga soal kondisi Pandu biar ga was-was...,” kata ibu Pandu di akhir kalimatnya.


Hanako masih di posisi semula sambil menatap layar ponselnya. Di sana terpampang foto Pandu dan dirinya saat acara lamaran keluarga. Hanako nampak tersenyum sambil menyentuh foto Pandu dengan ujung jarinya.


“ Semoga Allah selalu melindungimu dan Kamu kembali ke rumah dengan selamat Mas. Aamiin...,” gumam Hanako sambil mengusap wajahnya.


\=====


Tugas Pandu dan team sebenarnya adalah melindungi warga sipil dari terror yang dilakukan oleh orang-orang bersenjata yang diduga sebagai pemberontak. Namun mereka yang terbiasa membaur dengan warga pun turun tangan membantu warga yang sedang perlu bantuan.


Hal sederhana yang dilakukan oleh Pandu dan team misalnya menghalau binatang buas seperti kali ini, membantu membangun jembatan penghubung di atas sungai yang dikerjakan secara swadaya, membantu memperbaiki saluran irigasi  dan masih banyak lagi.


Karena seringnya berinteraksi dengan warga membuat hubungan Pandu dan team menjadi sangat dekat dengan warga sekitar. Bahkan warga tak segan menawarkan anak gadisnya untuk dinikahi oleh para tentara yang masih berusia muda itu.


“ Apa Pak Pandu itu single...?” tanya salah seorang warga bernama Paulus yang merupakan penduduk asli Maluku.


“ Iya Pak, kenapa memangnya...?” sahut teman satu team Pandu yang bernama Wira.


“ Saya mau jodohkan Pak Pandu dengan anak perempuan Saya yang bernama Mirva...,” sahut Paulus sambil tersenyum.


“ Mmm..., Saya ga yakin Pak Pandu mau. Sebab selama ini dia agak tertutup kalo soal pasangan. Prinsipnya menikah sekali seumur hidup. Itu sebabnya dia masih sendiri tanpa pasangan karena dia sedikit pemilih...,” kata Wira tak enak hati.

__ADS_1


“ Saya tau, makanya Saya merasa dia cocok dengan Anak Saya...,” sahut Paulus sambil berlalu.


Wira yang tak ingin disalahkan oleh Pandu pun menceritakan pembicaraannya dengan Paulus tadi. Bisa ditebak bagaimana reaksi Pandu. Ia nampak terkejut dan menggelengkan kepalanya seolah menolak perjodohan itu.


“ Harusnya Lo tanya Gue dulu Wir...,” kata Pandu menyesalkan.


“ Emang Gue salah ngomong...?” tanya Wira.


“ Iya. Sebelum berangkat tugas Gue baru aja ngelamar calon Istri Gue. Siang melamar, sore Gue jalan ke sini...,” sahut Pandu.


“ Maaf, Gue ga tau. Gue kirain Lo masih single karena selama ini kan Lo ga memperlihatkan kalo lagi deket sama cewek...,” kata Wira tak enak hati.


“ Gue emang ga pacaran Wir. Gue niat langsung nikahin dia setelah selesai tugas di sini nanti...,” sahut Pandu.


“ Maaf ya Bro, terus gimana nih...?” tanya Wira.


“ Biar Gue jawab langsung aja nanti. Pak Paulus pasti ngerti...,” kata Pandu yang diangguki Wira.


Saat Paulus menyampaikan maksudnya, Pandu pun menjawab dengan hati-hati.


“ Maaf kan Saya Pak. Saat ini Saya sudah  bertunangan dan sebentar lagi Kami akan menikah...,” kata Pandu santun.


“ Wah Saya terlambat dong...,” gurau Paulus sambil tersenyum kecut.


Paulus memang kecewa. Ia pun pulang dengan langkah gontai karena gagal memiliki menantu sehebat Pandu.


Namun berbeda dengan sang ayah yang terlihat berlapang dada menerima kenyataan jika Pandu akan menikah, anak perempuan Paulus yang bernama Mirva justru kesal dibuatnya. Gadis itu terlihat shock dan marah mendengar ucapan Pandu. Ternyata Mirva diam-diam menyukai Pandu dan ingin menjalin hubungan dengan Pandu.


“ Jadi dia menolakku...,” gumam Mirva sambil tersenyum kecut lalu melangkah ke kamar dan menutup pintu.


Kemudian Mirva mengeluarkan sebuah benda berbentuk boneka dari dalam lemari pakaian. Benda yang terbuat dari ijuk itu berukuran sekepalan tangan orang dewasa, berwarna hitam dan dipenuhi jarum dan peniti di sekujur tubuhnya.


“ Jika Kau menolakku, maka tak ada satu wanita pun yang boleh memilikimu Pandu...,” kata Mirva sambil tersenyum sinis.


Kemudian Mirva mulai membaca mantra yang entah dipelajarinya dimana atau dari siapa. Rupanya selama ini Mirva selalu melakukan apa yang diinginkannya yaitu mengirimkan santet pada rivalnya atau pria yang ia cintai dengan maksud agar sang pria tak bisa menikah selain dengannya.


“ Semoga mimpi indah pandu. Setelah ini Kau ga akan bisa pergi kemana-mana karena jiwamu ada bersamaku...,” gumam Mirva sambil tertawa.


Di saat yang sama Pandu merasa suhu tubuhnya memanas. Pandu juga merasa perutnya sakit bukan kepalang. Hal itu terjadi saat Mirva menarik tali yang mengikat perut boneka ijuk itu dengan keras. Tiap kali Mirva menarik tali itu maka saat itu lah Pandu menggeram menahan sakit.

__ADS_1


Wajah Pandu pun memucat, tubuh terasa sakit dan kepanasan padahal saat itu semua sedang kedinginan sambil merapetkan jaket masing-masing. Sebelum jatuh pingsan Pandu menjerit hingga mengejutkan rekan-rekannya.


\=====


__ADS_2