
260. Penculikan Hanako
Polisi datang dan melakukan penyelidikan. Namun hal mengejutkan pun didengar Yadi dan Rozik. Polisi
mengatakan jika apa yang mereka dengar hanya halusinasi karena polisi tak menemukan apa pun di sana. Polisi yakin karena saat itu mereka juga membawa anjing pelacak yang mahir mengendus jasad manusia dalam jarak belasan meter.
“ Ga semua orang percaya sama hal mistis kaya gini Pak...,” kata ketua RT sambil melepas kepergian polisi.
“ Jadi Kita harus gimana Pak...?” tanya Yadi.
“ Kita adain doa bersama aja Pak RT. Mudah-mudahan bisa membuat arwah yang penasaran itu tenang...,” saran Rozik.
“ Iya Saya setuju. Insya Allah Kita adain besok malam. Tolong Mas Rozik dan Mas Yadi kasih tau yang lain, nanti Saya yang menghubungi Pak Haji Salim untuk memimpin doa...,” kata ketua RT.
“ Baik Pak...,” sahut Yadi dan Rozik bersamaan.
\=====
Keesokan harinya warga di sekitar rumah Vena menggelar doa bersama. Pandu, Iyaz dan Izar pun turut hadir dalam acara itu. Di sana mereka bertemu Surya yang lebih dulu tiba di lokasi acara.
“ Apa mereka ga tau kalo jasad Istri Saya tertimbun di sana Mas. Masa anjing pelacak aja ga bisa nemuin...?” tanya Surya gusar.
“ Ini ga sesimple seperti yang Pak Surya kira. Arwah Bu Tina dan suaminya Bu Vena udah tenang sejak Kita
mengantarnya tempo hari. Mereka mengerti jika jasad mereka ga bisa dikebumikan dengan layak mengingat ada hal ghaib di balik kejadian ini. Tentang hantu yang ditemui warga, itu bukan arwah Bu Tina atau Suaminya Bu Vena...,” kata Iyaz menjelaskan.
“ Alhamdulillah kalo itu bukan Istri Saya...,” sahut Surya sambil menghela nafas lega hingga membuat Iyaz tersenyum.
Acara doa bersama berlangsung khidmat. Iyaz dan Izar nampak mengamati sekelilingnya dan melihat sosok siluman yang mirip Vena ada di balik puing rumahnya. Keduanya saling menatap dan mengangguk. Saat acara doa bersama berakhir, Iyaz dan Izar pun segera mendekati runtuhan rumah Vena. Di sana mereka melihat sosok siluman yang mirip Vena sedang sembunyi sambil menatap nanar kearah si kembar.
“ Kalian telah mengacaukan semuanya. Maka Kalian harus membayarnya dengan nyawa...!” kata siluman itu.
“ Kau yang harus berhenti dan melepaskan raga yang Kau pinjam itu lalu kembali lah kepada Allah...!” kata Izar lantang.
Siluman itu tertawa lalu menyerang Iyaz dan Izar dengan gerakan yang sangat cepat. Iyaz dan Izar berhasil menghindar hingga membuat siluman itu makin marah. Setelah beberapa saat saling menyerang, siluman itu nampak mundur lalu tersenyum penuh makna.
“ Kalian bisa menang kali ini. Tapi Aku tau Kalian ga akan kuat jika salah satu dari Kalian menjadi tawananku...,” kata siluman itu dengan suara yang lebih menyerupai gumaman.
__ADS_1
Iyaz dan Izar saling menatap kemudian tersenyum. Mereka menduga jika siluman itu hanya menggertak. Tiba-tiba siluman itu melompat tinggi melewati tubuh Iyaz dan Izar lalu melesat cepat kearah rumah Pandu. Iyaz dan Izar terkejut bukan main saat menyadari siluman itu mengincar Hanako yang tengah sendiri di rumah karena Pandu masih terlihat berbincang dengan warga di lokasi acara doa bersama.
“ Cici...!” kata Iyaz dan Izar bersamaan.
Keduanya segera berlari cepat menuju rumah Pandu untuk menolong Hanako. Pandu yang melihat si kembar berlari cepat menuju arah rumahnya pun segera menyusul.
Saat tiba di depan rumah Pandu melihat Iyaz dan Izar tengah berkelahi melawan sesuatu berwujud bayangan hitam. Pandu merangsek maju untuk mencari istrinya. Ia terkejut saat melihat Hanako terbaring di atas karpet dengan posisi meringkuk.
Melihat Pandu akan mendekati Hanako, siluman itu nampak menyeringai. Dengan cepat ia menghalangi Pandu. Gerakannya yang cepat menimbulkan angin yang cukup keras hingga membuat tubuh Pandu terjengkang ke belakang. Secepat kilat makhluk itu meraih tubuh Hanako dan membawanya pergi melintas dimensi.
“ Cici, Sayang...!” panggil Iyaz, Izar dan Pandu bersamaan.
Hanako lenyap bersama siluman itu meninggalkan suasana lengang di dalam rumah. Pandu memanggil-manggil nama istrinya dengan panik sambil berlarian ke sana kemari. Iyaz dan Izar pun nampak mematung dengan persendian tubuh serasa hilang menyaksikan Hanako dibawa pergi oleh siluman itu.
“ Sayang...!, Kamu dimana. Eisha, Sayang...!” panggil Pandu dengan suara lantang.
“ Cukup Mas. Kita harus lapor sama Ayah. Cuma Ayah sama Opa yang bisa bantu Kita...,” kata Izar tegas.
“ Jadi Kita harus gimana sekarang...?” tanya Pandu panik.
Tanpa membuang waktu ketiganya bergegas pergi mengendarai motor. Mereka melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Beruntung saat tiba di rumah mereka masih bertemu Faiq yang berniat keluar rumah untuk menemui Fatur.
“ Assalamualaikum Ayah...!” sapa Iyaz dan Izar bersamaan,
“ Wa alaikumsalam. Kalian ga usah panik. Sekarang Kita ke rumah Opa Fatur...,” kata Faiq yang memang telah menerima kabar menghilangnya Hanako dari Dayang.
Mereka pun berganti kendaraan dari motor dengan mobil untuk memudahkan perjalanan. Izar lah yang mengemudi dan kendaraan pun melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya di malam itu.
Faiq melihat wajah Pandu yang tampak panik dan khawatir. Faiq pun menenangkan Pandu sambil mengusap punggungnya dengan lembut.
“ Kamu tenang ya Nak. Terus lah berdzikir dan berdoa agar Cici baik-baik saja...,” kata Faiq.
“ Iya Pa. Apa Eisha gapapa di sana Pa...?” tanya Pandu dengan suara parau.
“ Insya Allah Cici gapapa. Apa Kamu lupa kalo Cici itu wanita yang kuat. Mereka ga akan bisa menyakiti Cici
karena Cici punya kekuatan khusus...,” sahut Faiq.
__ADS_1
Pandu mengangguk lalu memejamkan matanya sambil terus berdzikir. Pandu tak pernah menyangka jika hidupnya akan ‘berwarna’ setelah mengenal Hanako dan menikahinya. Bahkan warna itu kini membuat Pandu harus menahan nafas karena rasa cemas akan kondisi sang istri.
“ Ya Allah, tolong lindungi Istriku. Jaga dia dan kembalikan dia padaku dalam keadaan selamat tak kurang apa pun. Aamiin yaa Robbal’alamiin...,” batin Pandu berulang-ulang sambil mengusap wajahnya.
Sementara itu Iyaz dan Izar nampak terdiam dan tak bicara apa pun selama dalam perjalanan. Keduanya merasa bersalah karena telah meremehkan siluman itu hingga siluman itu berhasil menculik Hanako. Faiq yang melihat kedua jagoannya bersedih pun mengerti dan mencoba menasehati mereka.
“ Jangan terlalu sedih. Fokus dan jaga dzikir Kalian. Ternyata saat Ayah mempertemukan Kalian dengan siluman itu sudah tiba...,” kata Faiq.
“ Apa maksud Ayah...?” tanya Izar.
“ Dulu saat Kalian masih berumur lima belas bulan, ada siluman buaya yang ingin mengajak Kalian pergi ke alamnya. Siluman itu ingin Kalian membantunya tapi Ayah melarang karena Kalian masih terlalu kecil saat itu. Ayah janji sama siluman itu akan mengantar Kalian ke sana jika waktunya tiba. Sayangnya Kita keduluan sama siluman yang menculik Cici...,” kata Faiq menjelaskan hingga membuat Iyaz, Izar dan Pandu terkejut.
“ Jadi ini memang udah seharusnya terjadi Yah...?” tanya Izar.
“ Iya. Dan kini saatnya Ayah ngantar Kalian untuk menjemput Cici sekaligus menuntaskan janji Ayah dulu...,” sahut Faiq.
Iyaz dan Izar saling menatap kemudian tersenyum.
“ Kami siap Yah...,” kata Iyaz yang diangguki Izar.
“ Bagus...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
Pandu pun ikut tersenyum mendengar pembicaraan tiga pria dewasa yang saat itu ada bersamanya. Pandu berharap ketiganya berhasil menyelamatkan Hanako dalam keadaan hidup dan sehat seperti semula.
Mereka tiba di depan rumah Fatur yang juga tengah berdiri di teras rumah dengan gelisah. Sama seperti Faiq, Fatur pun mendapat firasat akan raibnya Hanako dari rumah akibat diculik oleh siluman.
Fatur langsung mendekat ke mobil, membuka pintunya dan masuk ke dalam mobil.
“ Kalian datang juga. Sekarang Kita harus cepat. Kita pergi ke pantai dimana Kalian melihat siluman buaya itu dulu...,” kata Faiq sambil menutup pintu mobil.
“ Siap Opa...!” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
Tak lama kemudian mobil pun meluncur cepat menuju Jogjakarta tempat Faiq membuat janji dengan siluman buaya
dulu.
\=====
__ADS_1