Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
83. Hantu Possesif


__ADS_3

Hanako terbangun saat adzan Subuh berkumandang di kejauhan. Ia mengucek matanya lalu menatap ke sekelilingnya karena ingat ada sosok hantu pria yang mengikutinya semalam.


“ Cari Aku...?” tanya hantu pria berbaju serba hitam itu.


“ Ya. Keluar lah, jangan ikuti Aku...,” pinta Hanako.


“ Kalo Aku ga mau...?” tantang hantu pria itu.


“ Aku hanya mengingatkan. Aku jamin Kamu ga akan nyaman berada di dekatku...,” kata Hanako sambil melangkah menuju kamar mandi.


" Aku penasaran apa yang akan terjadi jika Aku mengikutimu...," gumam hantu pria berbaju hitam itu.


Hantu pria itu tersenyum lalu melayang mengekori Hanako yang melangkah menuju ke kamar mandi. Namun saat Hanako masuk ke kamar mandi dan menutup pintu, tubuh hantu pria itu terpental seolah menabrak dinding tak kasat mata yang terbuat dari api.


Hantu pria itu tampak mengibaskan pakaiannya yang berasap seolah baru saja membentur dinding api. Kemudian hantu itu menoleh kearah Hanako yang baru saja keluar dari kamar mandi usai berwudhu. Ia kembali mengekori Hanako dan berdiri tepat di sampingnya saat Hanako menunaikan sholat Subuh.


Tubuh hantu itu kembali terpental bahkan lebih jauh hingga keluar kamar saat Hanako mengucap takbiratul ihram sambil mengangkat kedua telapak tangannya. Hantu itu menggeram marah dan kembali merangsek maju mendekati Hanako yang tengah khusu beribadah.


Sama seperti tadi, tubuh hantu itu kembali terlempar seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menghalaunya agar menjauhi Hanako. Akhirnya hantu itu memilih bertahan di luar sambil menunggu Hanako menyelesaikan sholatnya.


Setelah melihat Hanako melipat perlengkapan sholat miliknya, hantu pria itu kembali mendekati Hanako.


“ Apa yang Kamu lakukan, kenapa Aku berkali-kali jatuh tadi...?” tanya hantu pria itu penasaran.


“ Aku kan udah bilang jangan ikuti aku, tapi Kamu ngeyel...,” sahut Hanako cuek.


“ Bukan itu yang mau kudengar. Aku tanya apa yang Kamu lakukan hingga Aku berkali-kali jatuh tadi...?” tanya hantu pria itu lagi.


“ Kamu beneran mau tau...? tanya Hanako.


“ Iya...,” sahut hantu pria itu hingga membuat Hanako tersenyum.


“ Waktu mau masuk kamar mandi Aku baca doa dulu tadi. Aku mohon kepada Allah agar melindungiku dari gangguan setan perempuan dan laki-laki.  Nah, Kamu kan hantu laki-laki, jadi karena doa itu lah Allah melindungi


Aku dari pandangan mata jahatmu itu. Lagian mau apa Kamu ngikutin Aku sampe ke kamar mandi segala. Pasti Kamu punya niat buruk kan sama Aku...?” tuduh Hanako.


“ Jangan asal ngomong Kamu...,” sahut hantu pria itu.

__ADS_1


“ Aku ga asal ngomong. Kalo Kamu emang laki-laki yang baik, ga bakalan Kamu tinggal di kamar perempuan kaya gini. Untungnya Aku udah biasa ganti baju di kamar mandi, jadi Kamu ga akan pernah bisa ngeliat Aku dalam keadaan telan**ng...,” kata Hanako ketus.


Hantu pria itu tersentak kaget. Ia salah menilai Hanako. Ia pikir Hanako akan sama dengan wanita lainnya. Meski pun Hanako membiarkannya mengikutinya, tapi Hanako tak membiarkan dia melihat Hanako dalam keadaan tanpa pakaian atau saat Hanako melakukan aktifitas pribadinya.


“ Jadi Aku terlempar jauh karena bacaan sholatmu tadi...? tanya hantu pria itu.


“ Iya...,” sahut Hanako.


“ Maafkan Aku, setelah semua terungkap Aku akan pergi. Dan selama itu Aku ga akan masuk lagi ke dalam


kamarmu...,” kata hantu pria itu.


“ Itu yang terbaik...,” sahut Hanako cepat walau tak yakin hantu pria berbaju hitam itu bakal menepati janjinya.


“ Apa Kamu bersedia membantuku...?” tanya hantu pria itu hati-hati.


“ Insya Allah. Kita bicara nanti setelah Aku pulang kuliah...,” sahut Hanako dengan enggan.


“ Baik. Aku tunggu Kamu di luar...,” kata hantu pria itu.


“ Hmmm...,” sahut Hanako sambil membuka pintu kamar untuk membantu sang bunda menyiapkan sarapan pagi keluarganya di ruang makan.


“ Hei, siapa namamu...?” tanya Hanako.


“ Panggil Aku Abin...,” sahut hantu pria itu sambil berlalu.


“ Ok...,” sahut Hanako sambil menutup pintu.


\=====


Hantu pria bernama Abin itu terus mengikuti Hanako kemana pun bahkan hingga ke kampus. Walau tak mengganggu Hanako, tapi hantu Abin justru mengganggu teman-teman Hanako. Sikap possesif Abin terlihat jelas saat Hanako didekati teman prianya.


Saat melihat para pria yang mencoba mendekati Hanako, maka Abin segera bertindak. Ia akan marah lalu mengganggu mereka. Seperti yang dialami beberapa teman Hanako hari ini. Salah seorang teman Hanako yang bernama Arif merasa bahunya sakit seperti dipukul dengan benda tumpul secara tiba-tiba.


“ Aduh, apaan nih. Sakit banget kaya ada yang mukul Gue...,” kata Arif sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia juga memegangi bahunya yang terasa sakit.


“ Bukan Gue lho...,” kata teman Hanako lainnya karena tak ingin disalahkan.

__ADS_1


“ Terus siapa dong, masa hantu yang mukul Gue...,” gumam Arif sambil memijit bahunya yang terasa sakit itu.


“ Ah ngaco Lo, mana ada hantu hari gini. Hantu kan nongolnya cuma malam doang...,” sahut teman Hanako.


“ Tapi...,” ucapan Arif terpotong saat Hanako pamit.


“ Mmm..., sorry Gue ke sana dulu yaa...,” pamit Hanako sambil bergegas menjauh dari teman-temannya.


Arif dan dua teman Hanako lainnya nampak bingung melihat sikap Hanako yang sedikit berbeda hari ini.


Di dalam kelas pun Abin berulah. Ia menarik kursi yang akan diduduki Herman hanya karena baru saja menyapa Hanako. Akibatnya bisa ditebak, Herman jatuh terjengkang di lantai. Selain menimbulkan suara ribut, Herman juga harus menahan malu karena jatuh tanpa sebab dan ditertawakan teman sekelas.


Hanako yang melihat sikap usil Abin tak bisa berbuat apa-apa. Ia ingin protes pada sikap Abin tapi tak ia lakukan karena tak ingin dianggap g*la saat orang lain melihatnya bicara sendiri nanti.


“ Jangan ganggu mereka bisa kan...,” protes Hanako sambil berbisik.


“ Aku hanya melindungimu...,” sahut hantu Abin.


“ Mereka bukan orang jahat, mereka itu temanku...,” kata Hanako tak suka.


“ Bagiku sama aja...,” sahut hantu Abin sambil melayang pergi.


“ Dasar hantu aneh...,” gerutu Hanako.


“ Aku dengar Hanako...!” kata hantu Abin dari kejauhan.


Hanako melengos sambil menghentakkan kakinya. Hanako merasa kesal karena hantu Abin yang ditakuti semua mahasiswa di kampus itu justru asyik mengikutinya dan membatasi interaksinya.


Setelah seharian dikekang oleh hantu Abin, Hanako pun bertambah kesal. Kini ia berjalan kearah taman dan duduk di kursi taman seorang diri. Hanako mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Faiq.


“ Assalamualaikum Papa, bisa bantu Aku ga...?” tanya Hanako.


“ Wa alaikumsalam Nak. Insya Allah Kita obrolin nanti ya. Sekarang Papa lagi ada di luar lagi ngeliput...,” sahut Faiq.


“ Ok deh, Aku tunggu ya Pa...,” kata Hanako mengakhiri percakapannya dengan Faiq.


Hanako tersenyum karena yakin Faiq bisa membantunya lepas dari kekangan hantu Abin.

__ADS_1


\=====


__ADS_2