Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
136. Namanya Banas


__ADS_3

Sifa nampak memaksa Tiara berjalan mengikutinya. Jika dilihat dari jauh tindakan Sifa seolah sedang menyeret Tiara, namun Tiara nampak tak keberatan. Saat mereka tiba di parkiran kampus, Sifa pun membalikkan tubuhnya dan menatap Tiara dengan lekat.


“ Sekarang Lo paham kan maksud Gue...?” tanya Sifa.


“ Apa...?” tanya Tiara tak mengerti.


“ Ya Allah Tiara. Lo tuh barusan dianggap gila karena ngomong sendiri dan marah-marah ga jelas sama cowok yang di taman itu. Masa ga ngerti juga sih...,” kata Sifa kesal.


“ Oh itu. Iya, Gue juga bingung. Tapi Gue ga maksud marahin cowok itu atau siapa pun itu. Gue ga ngeliat siapa pun di sana kecuali cowok di mimpi Gue itu. Gue marahin tuh cowok karena datang dan mau nyium Gue Sif. Tapi kok anehnya mereka ga ngeliat cowok itu ya Sif...,” sahut Tiara bingung.


“ Tuh kan. Gue udah bilang ada yang aneh sama mimpi Lo itu. Sebaiknya Kita cari orang pinter buat bantuin Lo ya Ti. Gue khawatir kalo dibiarin bisa bahaya buat Lo dan orang-orang di sekeliling Lo...,” kata Sifa.


“ Orang pinter, maksud Lo dukun Sif. Gue ga mau ya, Gue takut...,” sahut Tiara.


“ Bukan dukun. Mungkin Ustadz atau ulama yang ngerti hal mistis kaya gini Ti...,” kata Sifa.


“ Ok, Gue setuju. Tapi tolong cepetan ya Sif. Kok Gue jadi takut ya sekarang. Apalagi cowok itu mulai nongol di kehidupan nyata Gue kaya tadi...,” pinta Tiara.


“ Bukannya tadi ada yang bilang kalo cowok itu ga perlu diusir karena baik dan ga mengganggu ya...,” sindir Sifa.


“ Iya iya, Gue salah. Maaf. Tapi please, jangan tinggalin Gue ya Sif. Cuma Lo teman yang Gue punya dan Gue percaya...,” pinta Tiara sambil memegangi tangan Sifa.


Sifa tersentak kaget mendengar ucapan Tiara, apalagi saat melihat kondisi Tiara jauh berbeda dengan saat ia tinggalkan tadi. Tiara terlihat ketakutan dan bingung hingga membuat Sifa iba.


“ Ok...,” sahut Sifa mantap dan Tiara pun tersenyum.


\=====


Malam itu Tiara kembali bermimpi bertemu dengan pria itu. Dalam mimpinya kali ini sikap pria sangat jauh berbeda. Tiara pun merasa tak nyaman saat pria itu kembali mendekatinya.


“ Kenapa Kamu selalu menggangguku...?” tanya Tiara.

__ADS_1


“ Aku ga mengganggumu...,” sahut pria itu.


“ Apa namanya kalo sering datang dan mengusikku seperti ini...?” tanya Tiara.


“ Aku kangen Kamu Tiara...,” sahut pria itu sambil menatap Tiara dengan lembut.


“ Kangen, bagaimana mungkin. Kita ga saling kenal. Kau tau namaku tapi Aku ga tau apa pun tentang Kamu...,” kata Tiara gusar.


“ Namaku Banas. Aku adalah kekasihmu, calon suamimu...,” sahut Banas.


“ Calon Suami. Aku belum mau menikah, Aku masih mau kuliah dan mewujudkan mimpi kedua orangtuaku...,” kata Tiara panik.


“ Gapapa. Kamu masih bisa kuliah dan berkarir. Tapi menikah lah denganku Tiara, aku mencintaimu...,” sahut Banas sambil mendekati Tiara.


“ Jangan dekat, jangan dekat...!” kata Tiara lantang dengan kedua tangan memukul angin.


“ Tiara bangun, Kamu kenapa Nak...?” tanya Yamini sambil menepuk pipi Tiara.


“ Ibu...,” panggil Tiara lirih.


“ Iya. Kamu kenapa, mimpi buruk ya. Sampe teriak-teriak kaya gitu. Mimpi apa...?” tanya Yamini.


Tiara bangkit dari tidurnya sambil menatap ke sekelilingnya. Kemudian tatapan Tiara membentur wajah Yamini yang juga tengah menatapnya.


“ Aku kok di sini Bu, bukannya tadi Aku tidur di kamar ya...?” tanya Tiara.


“ Itu yang mau Ibu tanyain. Tumben Kamu tidur di sini...,” sahut Yamini.


“ Aku ga tau Bu...,” sahut Tiara gusar.


“ Masih malam nih, balik lagi ke kamar sana. Jangan lupa doa sebelum tidur ya...,” kata Yamini sambil melangkah ke kamar.

__ADS_1


“ Iya Bu...,” sahut Tiara lalu kembali ke kamarnya.


Tiara menatap tempat tidurnya dengan perasaan takut. Ia khawatir jika ia tidur di atas tempat tidur itu Banas akan datang dan mengganggunya lagi. Karenanya Tiara memutuskan menggelar tikar dan tidur di lantai. Ternyata berhasil. Malam itu Tiara bisa melanjutkan tidurnya dengan tenang tanpa diganggu oleh kedatangan Banas.


Malam-malam berikutnya Tiara pun melakukan hal yang sama yaitu tidur di lantai beralaskan tikar. Namun rupanya


malam itu hujan turun dengan lebat hingga membuat lantai menjadi lebih dingin dari biasanya. Tanpa sadar Tiara pindah ke atas tempat tidur dengan mata setengah terpejam lalu berbaring nyaman di sana.


Namun saat tengah malam Tiara merasa ada sesuatu yang merayapi kulit tubuhnya. Sesuatu yang terasa dingin dan kasar. Tiara mengerutkan keningnya karena mengira jika sesuatu yang merayapi bagian tubuhnya itu hanya selimut yang tertiup angin. Semula Tiara tak terganggu, tapi lambat laun Tiara mulai merasa terganggu karena sesuatu itu mulai meremas tubuhnya dan membuatnya kesakitan.


“ Apaan sih ini...,” gumam Tiara sambil menyentuh sesuatu yang merayapi tubuhnya untuk menghentikannya.


Tiara membulatkan matanya saat tangannya menyentuh sesuatu berupa tangan besar, kasar dan dingin. Dengan sigap Tiara bangkit lalu melompat dari atas tempat tidur. Ia meraih saklar lampu lalu menyalakan lampu dan menatap nanar kearah tempat tidur dengan nafas tersengal-sengal. Namun tak ada siapa pun di sana.


“ Itu tadi apa...,” gumam Tiara dengan suara bergetar sambil mencengkram selimutnya erat-erat.


Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam disertai angin melintas di hadapannya hingga membuat Tiara memejamkan


matanya karena takut. Tiara memberanikan diri mengintip dan terkejut saat melihat pantulan dirinya di cermin. Di dalam cermin Tiara melihat pantulan dirinya bersama sesosok makhluk hitam besar berkepala botak tengah berdiri berhadapan padahal saat itu tak ada siapa pun bersamanya.


Tiara ingin menjerit namun tak kuasa. Apalagi saat makhluk besar itu menundukkan wajahnya hingga sejajar


dengan wajahnya lalu menoleh kearah cermin sambil menyeringai lebar seolah sedang tertawa mengejeknya. Tiara dapat melihat wajah menyeramkan itu dengan jelas hingga membuatnya gemetar ketakutan lalu kembali memejamkan matanya.


“ Aku datang Sayang. Aku datang...,” bisik makhluk itu tepat di depan wajah Tiara.


Hembusan nafas makhluk itu terasa panas dan berbau pesing seperti toilet kotor hingga membuat Tiara hampir muntah dibuatnya. Tiara tak bergeming dan tetap memejamkan matanya dan berharap semua ini segera berakhir. Makhluk hitam berkepala botak itu nampak mengamati wajah Tiara dengan seksama seolah ingin meyakinkan jika Tiara adalah orang yang dia cari.


Lalu makhluk itu mengulurkan tangannya yang besar, kasar dan dingin itu ke wajah Tiara membuat tubuh tiara bergetar hebat. Kemudian makhluk itu mengusap wajah Tiara dengan lembut sambil tersenyum hingga membuat Tiara menangis saking takutnya. Dan saat tangan makhluk hitam itu menyentuh pinggangnya, menarik tubuhnya lalu memeluknya erat, hilang sudah kekuatan Tiara. Ia pun jatuh pingsan dalam pelukan makhluk hitam itu.


Tiara tak yang tahu apa yang makhluk itu lakukan selanjutnya. Yang Tiara tahu tubuhnya seolah remuk redam saat ia membuka matanya. Tiara mendapati tubuhnya terbaring di tempat tidur dengan pakaian yang berantakan dan Tiara pun menangis karena sadar dirinya telah dilecehkan oleh makhluk itu.

__ADS_1


\=====


__ADS_2