
Hari itu Iyaz berpapasan dengan Sydra di depan masjid. Rupanya kini Sydra rajin sholat berjamaah sesuai nasehat dari pak Maher. Sydra menyapa Iyaz lebih dulu dan Iyaz tersenyum menyambutnya.
“ Iyaz...,” panggil Sydra dari gerbang masjid.
“ Sydra, Alhamdulillah akhirnya keliatan juga di masjid...,” kata Iyaz sambil tersenyum.
“ Bisa aja Lo. Sejak Gue ikut sholat berjamaah di masjid hantu temen-temen Gue itu ga pernah gangguin Gue lagi Yaz...,” sahut Sydra bangga.
“ Jadi Lo sholat berjamaah di masjid gara-gara itu...?” tanya Iyaz sambil mengerutkan keningnya.
“ Bukan lah, yang pasti Gue sholat karena takut sama Allah. Tapi ternyata banyak efek baik yang Gue rasain, ya salah satunya yang Gue sebutin tadi Yaz...,” sahut Sydra cepat hingga membuat Iyaz tersenyum.
Keduanya pun masuk ke dalam masjid dan menunaikan sholat Ashar berjamaah. Setelahnya Sydra dan Iyaz melanjutkan perbincangan mereka di teras masjid. Dari perbincangan itu Iyaz mencoba mencari informasi tentan Gavin dan Urai.
“ Mereka temen Gue Yaz. Gue kaget waktu denger mereka meninggal dengan cara mengenaskan kaya gitu. Gue ga percaya kalo mereka bunuh diri. Walau Kami emang ga deket tapi Gue yakin mereka ga mungkin punya pikiran sependek itu...,” kata Sydra dengan suara bergetar.
“ Tapi kayanya Lo lumayan kenal sama mereka...,” kata Iyaz.
“ Ya iya lah Yaz. Kami kan tetanggaan, tumbuh dan besar bareng, main juga bareng. Tapi pas udah besar Kami jarang ketemu karena beda sekolah. Nah ketemu lagi pas kerja di pabrik furniture itu. Kenapa bisa kerja di
tempat yang sama ya karena saat pabrik baru buka kami ngelamar bareng. Meski pun di divisi yang berbeda tapi kadang Kami ketemu juga. Sebelum meninggal Gavin juga ngajakin temen-temen buat kumpul di rumahnya. Ternyata Kami emang kumpul di rumahnya tapi buat nganterin jenasahnya ke pemakaman...,” kata Sydra sambil mengusap matanya yang basah.
“ Apa Lo inget pernah ngelakuin sesuatu bareng-bareng sama mereka sebelum mereka meninggal dunia...?” tanya Iyaz.
“ Banyak yang Kami lakuin Yaz, Gue ga bisa sebutin satu per satu saking banyaknya...,” sahut Sydra.
Iyaz mengangguk walau yakin jika Sydra menyembunyikan sesuatu darinya. Namun Iyaz tak ingin memaksa Sydra menceritakan semuanya jika Sydra tak mau.
Setelah berbincang sejenak di teras masjid mereka pun memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Mereka berpisah di gerbang masjid. Iyaz mengambil jalan ke sebelah kanan sedangkan Sydra mengambil jalan kearah kiri karena rumah mereka memang tak searah.
Sebelum melanjutkan langkahnya Iyaz sempat terkejut saat melihat penampakan hantu seorang pria yang berdiri di tepi jalan yang dilalui Sydra. Hantu pria itu nampak menatap penuh dendam kearah Sydra. Iyaz mengabaikan hal itu dan memilih melanjutkan langkahnya karena merasa Sydra memang menyembunyikan sesuatu yang tak ingin diketahui oleh orang lain.
“ Kan dia ga mau jujur tadi itu artinya dia ga mau Gue ikut campur urusannya. Jadi, lebih baik Gue ga ikut campur...,” gumam Iyaz sambil melangkah perlahan menyusuri jalan menuju kost.
Namun naluri Iyaz mengatakan jika Sydra berada dalam bahaya dan itu membuatnya ragu untuk melangkah pulang. Akhirnya Iyaz membalikkan tubuhnya dan menyusul Sydra.
__ADS_1
Sementara itu Sydra melangkah santai menuju ke rumahnya. Perjalanan ke rumah Sydra harus melewati kebun apel milik salah seorang warga. Kebun apel itu dibatasi pagar besi di sepanjang sisinya hingga warga masih bisa menikmati rimbunnya pohon apel dari kejauhan.
Saat itu jalan di sepanjang sisi kebun apel itu nampak lengang karena para penjaga kebun juga sedang beristirahat untuk menunaikan sholat Ashar. Suasana sepi di jalan itu membuat Sydra sedikit gentar. Namun Sydra memberanikan diri melangkah karena yakin jika hantu tak akan memperlihatkan diri saat hari masih terang benderang seperti saat ini.
“ Sreeekkk..., sreeekkk..., sreeekkk...,”
Sydra menoleh mencari asal suara yang baru saja didengarnya itu. Sydra mengerutkan keningnya karena tak melihat apa pun di sekitarnya. Lalu Sydra kembali melanjutkan perjalanannya.
“ Sreeekkk..., sreeekkk, sreeekkk...,” suara itu kembali terdengar dan kali ini lebih dekat lagi seolah berada tepat di belakang Sydra.
Mendengar suara itu Sydra kembali berhenti sambil mengamati ke sekelilingnya. Tiba-tiba bulu kuduk Sydra meremang dan itu membuatnya takut. Apalagi ada bau busuk yang menyeruak hingga membuatnya makin takut. Bau busuk yang mengganggu indra penciuman Sydra makin mendekat dan membuat Sydra mual.
“ Bau apaan sih nih...,” gumam Sydra sambil menutup hidungnya.
Sydra kembali menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu Sydra terdiam saat melihat siluet seseorang tengah berdiri di belakangnya. Sosok hitam itu lah yang menimbulkan bau. Mengira jika itu adalah pengemis atau orang gila yang biasa berkeliaran di jalan Sydra pun membalikkan tubuhnya karena bermaksud mengusirnya.
“ Jadi itu ulah Lo yang..., ucapan Sydra terputus saat mendapati sosok hitam di depannya itu bukan lah manusia melainkan hantu.
“ Kenapa berhenti...?” tanya sosok hitam dengan sekujur tubuh berlendir itu dengan suara berat.
berlendir itu menatap Sydra dengan tajam sambil menyeringai. Yang menjijikkan adalah daging dan kulit wajahnya meleleh saat ia tersenyum dan itu membuat Sydra takut bukan kepalang.
Hantu hitam berlendir itu makin mendekatkan wajahnya kearah Sydra seolah ingin memperlihatkan kulit dan daging wajahnya yang membusuk itu tanggal sedikit demi sedikit.
“ Ka..., Kau...,” kata Sydra gugup.
“ Iya..., ini Aku...,” sahut makhluk itu sambil mendekat kearah Sydra.
“ Ja..., ngan..., ma..., afkan Aku. Maaf...,” kata Sydra dengan suara bergetar.
“ Maaf...?” tanya makhluk itu sambil memiringkan kepalanya seolah ia merasa asing dan baru pertama kali mendengar kata maaf .
“ I..., iya. Ma..., af...,” sahut Sydra.
Makhluk hitam berlendir itu menggeleng lalu menjerit keras tepat di hadapan Sydra. Mulut makhluk itu terbuka sangat lebar saat menjerit hingga rasanya mampu menelan kepala Sydra yang ada tepat di depannya. Suara jeritan makhluk itu melengkin hingga memekakkan telinga Sydra. Ditambah embun yang menguar membuat Sydra memejamkan matanya karena tak sanggup melihat penampilan makhluk itu saat menjerit tadi.
__ADS_1
Suara jeritan makhluk itu juga terdengar oleh Iyaz yang nampak mempercepat langkahnya karena khawatir dengan keselamatan Sydra.
Kemudian makhluk hitam berlendir itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya kearah Sydra yang berdiri mematung. Sydra tak kuasa menggerakkan tubuhnya dan hanya bisa pasrah di hadapan makhluk hitam berlendir itu.
Sydra merasa nafasnya makin sulit saat kedua tangan makhluk itu perlahan mempererat cekikan di lehernya.
Sedangkan makhluk itu nampak menikmati moment itu sambil tersenyum puas. Ketika nafasnya akan berakhir sedikit lagi, Sydra mendengar sebuah suara disertai angin sejuk menerpa tubuhnya hingga membuatnya terpelanting jatuh ke tanah.
“ Hentikan...!” kata Iyaz sambil menyerang dengan kekuatan penuh kearah makhluk hitam berlendir itu.
Makhluk itu menggeram marah saat mangsanya berhasil lepas. Sedangkan Sydra terbatuk-batuk sambil berusaha menajamkan penglihatannya yang kabur usai dicekik tadi. Sydra terkejut saat melihat orang yang telah menyelamatkannya adalah Iyaz, si pemuda rantau yang sempat diremehkannya tadi.
“ Iyaz...,” gumam Sydra sambil memegangi lehernya yang terasa sakit.
Di depan sana Iyaz dan makhluk hitam itu berdiri berhadapan. Sydra nampak takjub karena Iyaz mampu menghadapi makhluk itu dengan berani. Makhluk itu menggeram dengan suara beratnya seperti banteng terluka.
“ Kenapa menggangguku...?!” tanya makhluk itu marah.
“ Cukup, sudah cukup. Jangan dilanjutkan lagi. Kasian dia...,” kata Iyaz.
“ Kasian, tapi dia dan teman-temannya ga kasian sama Aku...!” sahut makhluk hitam berlendir itu gusar.
“ Maafkan dia, pulanglah...,” kata Iyaz lagi.
Makhluk itu menjerit marah lalu merangsek maju menyerang Iyaz. Perkelahian pun tak dapat dielakkan. Akibat perkelahian Iyaz dengan makhluk hitam berlendir itu menimbulkan angin besar yang menggoyangkan pohon-pohon apel dan menerbangkan butiran tanah hingga membuat mata perih. Sydra menjauh sambil memejamkan matanya karena tak sanggup melihat apa yang terjadi di depannya.
Tiba-tiba Iyaz melompat lalu memukul telak hingga makhluk itu terjengkang ke tanah. Makhluk hitam berlendir itu menjerit marah.
“ Kau akan menyesal Anak muda. Dia tak sebaik yang Kau kira...!” kata makhluk itu sebelum menghilang.
Iyaz terkejut namun berusaha tenang. Setelah makhluk itu lenyap Iyaz melangkah menghampiri Sydra.
“ Pulang lah dan jangan katakan apa pun pada siapa pun...,” kata Iyaz tegas sambil menatap tajam kearah Sydra.
Sydra pun menuruti ucapan Iyaz. Ia belari cepat meninggalkan Iyaz yang masih berdiri di sana sambil merenungi ucapan makhluk hitam berlendir itu.
__ADS_1
Bersambung