Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
315. Burna Juga Pergi


__ADS_3

Faiq dan Izar nampak menghela nafas panjang usai melihat masa lalu Burna. Keduanya melihat arwah Burna yang


menangis karena merasa sendirian dan tak memiliki siapa pun. Sedangkan di belakangnya arwah Scholer beserta istri dan dua anak tirinya terus mengikuti Burna karena ingin membalas dendam.


“ Kami akan membantumu pergi Burna, tapi itu jika Kamu mau dan ga keberatan...,” kata Faiq.


“ Aku mau, Aku udah capek di sini...,” sahut Burna.


“ Bagus. Bersiap lah karena sebentar lagi Kamu akan pergi meninggalkan semuanya termasuk orang yang Kamu sayangi yaitu Ibumu dan Mikaila...,” kata Faiq.


Arwah Burna nampak menoleh kearah Mikaila yang terbaring di tempat tidur. Wajahnya nampak tak rela karena selama ini Burna merasa nyaman berteman dengan Mikaila.


“ Apa Aku ga bisa berteman dan jadi pendamping Mikaila selamanya...?” tanya arwah Burna penuh harap.


“ Harusnya bisa andai Kamu ga diikuti mereka...,” sahut Faiq sambil menunjuk kearah arwah Scholer dan keluarganya.


“ Abaikan saja mereka...,” kata arwah Burna ketus.


“ Ga bisa. Karena kehadiran mereka yang ingin membalas dendam padamu justru bisa membahayakan Mikaila...,” sahut Faiq tegas.


“ Jadi Aku harus gimana supaya mereka mau pergi dan ga ngikutin Aku lagi...?” tanya arwah Burna putus asa.


“ Kami akan membantumu pergi, namun resikonya Kamu ga akan bisa ketemu lagi sama Mika juga Ibumu...,” sahut Faiq.


Arwah Burna nampak merenung sejenak kemudian tersenyum dan itu membuat Izar dan Faiq ikut tersenyum. sikap keduanya membuat Inna dan Iffa khawatir dan saling pandang.


“ Kenapa mereka Kak...?” tanya Iffa.


“ Mana Kutau, mungkin lagi ngobrol sama hantu yang ngikutin Mika selama ini...,” sahut Inna asal.


“ Oh gitu...,” kata Iffa.


“ Sssttt..., ga usah liat mereka. Kita lanjutin dzikir aja...,” ajak Inna yang diangguki Iffa.


Kemudian Iffa dan Inna kembali melanjutkan dzikir mereka. Sedangkan Faiq nampak berhadapan dengan arwah Scholer dan keluarganya yang terus mengekori arwah Burna.


“ Apa maumu...?” tanya Faiq.


“ Membalas dendamku dan anakku...,” sahut istri Scholer.


“ Kenapa harus membalas dendam,  bukan kah selamai ini Kalian juga jahat sama Jesline...?” tanya Faiq tak suka.

__ADS_1


“ Apa maksudmu. Aku menyayanginya seperti anak kandungku sendiri. Tapi dia yang ga bisa menerima Aku dan kedua anakku. Dia memusuhi Kami dan membuat ulah terus menerus tiap hari...,” sahut istri Scholer.


“ Oh ya. Tapi Kalian juga mengatakan hal buruk tentang Jesline kepada Ayahnya setiap hari hingga membuat Tuan Scholer membenci anak kandungnya itu dan menghukumnya tanpa sebab hanya karena pusing mendengar keluhan Kalian...,” sindir Faiq.


Scholer nampak terkejut mendengar ucapan Faiq. Ia menatap Faiq sejenak. Sesaat kemudian dia menatap Burna yang berdiri di belakang Faiq seolah meminta perlindungan karena takut jika sang ayah akan menyakitinya. Pemandangan itu membuat Scholer sedih. Ia merasa bodoh karena telah mengecewakan anaknya untuk kesekian kalinya.


“ Tapi tindakannya membakar rumah beserta isinya tak bisa dimaafkan...,” gumam Scholer hingga membuat arwah Burna terkejut.


“ Aku juga ga setuju dengan apa yang dia lakukan. Tapi sadarlah jika Kau juga punya andil besar dalam kejadian itu. Karena Kau yang tidak bisa membagi kasih sayang dengan adil pada keluarga barumu dan Jesline yang  darah dagingmu itu...,” sahut Faiq ketus.


Kebimbangan nampak menghias wajah Scholer. Di satu sisi ia sadar kesalahannya, namun sisi lainnya hasutan sang istri membuat Scholer goyah.


“ Sudah jangan banyak bicara. Kita harus selesaikan urusan Kita Scholer. Dia yang bikin Kita dan dua anakku mati sia-sia...,” kata arwah istri Scholer geram.


“ Jika Kalian berniat mengganggu Jesline, Kalian harus berhadapan dengan Kami...!” kata Izar lantang sambil bangkit dari duduknya.


Kini Faiq dan Izar berdiri berhadapan dengan arwah Scholer, istri dan dua anak tirinya itu. aura jahat yang mengelilingi mereka membuat udara dalam kamar terasa panas. Mikaila, Inna dan Iffa terlihat gelisah namun tak bisa berbuat apa-apa.


Di depan sana Faiq dan Izar tengah berhadapan dengan istri Scholer dan dua anaknya, sedangkan Scholer nampak mematung mengamati pertempuran itu. Faiq yang sudah menyiapkan air ruqyah pun langsung memercikkan air itu kearah tiga arwah yang marah itu dengan cepat. Jerit kesakitan pun terdengar saat air itu mengenai tubuh mereka.


Scholer yang mendapati istri dan kedua anak tirinya kesakitan pun nampak bergerak maju untuk membantu. Tapi sayangnya ia juga harus ikut merasa kesakitan karena terkena percikan iar ruqyah. Kini mereka berempat mematung di tempat seolah ada tali ghaib yang mengikat mereka.


“ Kita hanya akan membantu Jesline Nak. Scholer dan keluarganya cukup dijauhkan saja dari Mikaila agar tak mengganggunya lagi...,” kata Faiq setengah bersbisik.


“ Siap Yah...,” sahut Izar cepat.


Setelah berhasil mengikat Scholer dan keluarganya, Faiq dan Izar segera mendoakan Burna agar gadis cilik itu bisa kembali ke haribaan Allah dengan cepat. Burna yang tengah berpamitan pada Mikaila pun terlihat tersenyum saat sebuah cahaya putih datang menjemputnya.


“ Aku pamit Mikaila, terima kasih karena udah mau jadi temanku. Aku menyayangimu. Bersyukurlah Kamu karena masih memiliki Ibu dan Tante yang menyayangimu karena Aku ga pernah dapatkan itu. Gapapa tak punya Ayah daripada punya Ayah tapi serasa jadi anak yatim seperti Aku...,” kata arwah Burna.


“ Mau kemana Burna, Aku kan belum pernah melihatmu...,” sahut Mikaila sambil mengulurkan tangannya.


“ Ga perlu melihatku Mika, karena Aku ada di dalam dirimu sekarang...,” kata Burna.


“ Apa maksudmu...?” tanya Mikaila tak mengerti.


“ Matamu itu adalah mata Ibuku, darah dagingku juga. Ia mendonorkan matanya untukmu sebelum meninggal dunia...,” sahut arwah Burna sedih.


Ucapan arwah Burna membuat Mikaila dan arwah Scholer sedih. Mereka nampak terdiam dengan pikiran masing-masing.


“ Sekarang Aku pergi ya Mikaila, jaga dirimu baik-baik...,” kata arwah Burna.

__ADS_1


“ Pergi lah Burna, Aku juga menyayangimu...,” sahut Mikaila sambil tersenyum.


Cahaya putih yang menjemput Burna nampak menyelimuti tubuhnya. Burna terlihat tersenyum sambil memejamkan matanya karena merasa damai, sebuah perasaan yang dicarinya selama ini. Cahaya putih itu perlahan membawa arwah Burna naik ke atas menembus plafond menuju ke angkasa. Sebelum benar-benar hilang, Burna nampak menatap Faiq dan Izar.


“ Terima kasih Opa Faiq dan Om Izar...,” kata arwah Burna sambil tersenyum.


“ Sama-sama Jesline...,” sahut Faiq dan Izar bersamaan sambil melambaikan tangannya diikuti Mikaila.


Arwah Scholer nampak kecewa karena Burna tak menyapanya sama sekali dan itu membuat Faiq kesal.


“ Jangan kecewa saat dia tak menyapamu karena dia juga sering kecewa saat Kau mengabaikannya...,” kata Faiq.


“ Betul, sekarang pergi lah karena tak ada tempat untukmu dan mereka di sini...,” kata Izar.


“ Bisa kah Kalian membantu mengantarku seperti Kalian mengantar Jesline tadi...?” tanya arwah Scholer.


“ Maaf Kami ga bisa. Ada urusan yang masih harus Kau selesaikan dan itu yang membuatmu terhalang untuk pergi...,” sahut Faiq.


“ Urusan apa...?” tanya arwah Scholer.


“ Aku ga tau. Coba Kau ingat-ingat lagi. Sekarang pergi lah atau Aku akan membuat Kalian semakin tersiksa...,” kata Faiq setengah mengancam.


“ Baik lah...,” sahut arwah Scholer pasrah.


Sesaat kemudian arwah Scholer dan keluarga barunya itu melesat cepat menembus dinding untuk mencari tempat lain yang bisa mereka singgahi.


Setelah semua arwah di dalam ruangan itu berhasil diusir keluar, Faiq dan Izar pun pamit undur diri. Iffa, Inna dan Mikaila berkali-kali mengucapkan terima kasih hingga membuat keduanya tak enak hati.


“ Sudah cukup, jangan berterima kasih sama Kami. Terima kasih lah sama Allah yang udah menggerakkan Kami hingga bisa datang ke sini dan membantu Mikaila...,” kata Faiq.


“ Iya, maaf...,” sahaut Iffa sambil tersenyum malu.


“ Apa Om Izar dan Opa Faiq mau ga nemenin Aku pas perban di mataku ini dibuka...?” tanya Mikaila.


“ Insya Allah Om dan Opa akan datang lagi besok. Sekarang udah malam, lebih baik Mika istirahat ya...,” sahut Izar.


“ Iya Om...,” kata Mikaila antusias.


Faiq dan Izar meninggalkan kamar rawat inap Mikaila lalu masuk ke ruang rawat inap Hanako untuk menemui Hanako dan bayinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2