Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
347. Curhatan Usep


__ADS_3

Usep tiba di proyek dengan perasaan bahagia yang terpancar melalui senyumnya yang terus mengembang itu. Seharian bekerja Usep terlihat semangat dan gembira hingga membuat suasana lapangan menjadi lebih berwarna. Para pekerja pun ikut senang karena itu artinya Usep akan memaklumi kesalahan yang dilakukan anak buahnya saat bekerja.


“ Bos lagi happy nih, makanya Lo ga kena semprot sama dia...,” kata seorang tukang batu pada temannya.


“ Iya. Alhamulillah ga dimarahin tadi. Padahal biasanya langsung dipotong gaji buat gantiin kerugian...,” sahut sang tukang sambil tersenyum kecut.


“ Tapi Pak Usep ngelakuin itu ada baiknya juga biar Kita fokus sama kerjaan Kita...,” kata salah satu tukang mengingatkan.


“ Iya. Aturannya unik tapi bikin Kita semua jadi fokus dan bertanggung jawab sama kerjaan Kita...,” sahut sang tukang batu.


“ Betul. Lagian jarang kan Kita dikenain denda buat ganti rugi karena Kita jadi hati-hati bekerja dan ga sembrono...,” kata tukang besi yang kebetulan melintas.


Semua tukang dan pekerja pun mengangguk tanda setuju. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang


tertunda saat melihat Usep berjalan kearah mereka.


“ Apa bahannya ada yang kurang...?” tanya Usep.


“ Ga ada Pak. Cuma lagi ngambil gergaji  yang dipinjem sama si Mono...,” sahut tukang besi.


“ Lho emang kenapa gergaji keramiknya No, rusak ya...?” tanya Usep cemas.


“ Ga Bos. Lagi dipake sama Ocit kan di sana. Saya pinjem sebentar aja buat ngerapiin ujung keramik yang mau


dipasang di dekat kitchen set...,” sahut Mono sambil memperlihatkan keramik yang telah dipotong kepada Usep.


“ Oh gitu. Ya udah lanjutin kerjanya. Jangan ngobrol mulu, ntar kerjaan ga beres-beres. Gimana nasib Anak Istri Kalian kalo ditinggal kelamaan...,” kata Usep sambil berlalu.


“ Siap Pak...!” sahut para tukang dan pekerja bersamaan hingga membuat Usep tersenyum.


Usep pun melangkah ke bangunan lain sambil sesekali melihat ponselnya untuk mengecek notifikasi yang masuk.


Nampaknya Usep menunggu pesan dari sang istri namun sayangnya Tinah tak mengirim pesan apa pun hari itu. Usep menghela nafas kecewa namun berusaha meredamnya.


Tak lama kemudian sebuat truk pengangkut bahan bangunan memasuki kawasan proyek. Usep pun menghampiri truk pembawa split itu. Setelah memastikan jumlah barang sesuai jumlah pesanan, Usep pun menandatangani nota pembelian.


Setelah truk keluar dari kawasan proyek, masuk lah sebuah alat berat beko ke dalam kawasan proyek. Usep pun

__ADS_1


mengarahkan supir beko untuk membawa kendaraannya ke pojok supaya tak mengganggu aktifitas pekerja bangunan.


Kesibukan Usep tak lepas dari pengawasan Iyaz dan Izar yang baru saja tiba di proyek itu. Iyaz dan Izar baru


bisa berkunjung lagi setelah menyelesaikan pekerjaan mereka di kantor. Itu artinya sudah hampir sepuluh hari mereka tak bertemu Usep sejak hari penggalian tanah itu.


Salah seorang pekerja yang melihat kehadiran Iyaz dan Izar pun mendekati Usep.


“ Maaf Pak. Ada Pak Iyaz sama Pak Izar di bedeng...,” kata sang pekerja bernama Supri.


“ Oh ya, udah lama...?” tanya Usep.


“ Udah lima belas menitan Pak...,” sahut Supri sambil berjalan kearah gudang.


“ Ok, makasih ya Pri...!” kata Usep lantang sambil bergegas melangkah menuju bedeng.


“ Sama-sama Pak...!” sahut Supri sambil tersenyum.


Usep pun nampak berjalan cepat kearah Iyaz dan Izar. Wajahnya yang sumringah membuat Iyaz dan Izar saling menatap cemas.


“ Kite terlambat Yaz...,” kata Izar lirih namun masih bisa didengar oleh Iyaz.


Keduanya pun bersiap menyambut Usep yang mendekat kearah mereka.


“ Assalamualaikum Pak Usep...,” sapa Izar sambil tersenyum lebar.


“ Wa alaikumsalam Mas Izar, Mas Iyaz. Maaf Saya ga tau kalo Bapak berdua dateng ke sini. Saya lagi ngarahin supir beko biar markirin bekonya di sebelah sana aja...,” kata Usep sambil menjabat tangan Izar dan Iyaz bergantian.


“ Iya gapapa. Gimana kabarnya Pak Usep, sehat kan...?” tanya Iyaz basa basi.


“ Alhamdulillah sehat dong Mas. Bugar banget malah. Liat kan...,” sahut Usep sambil membuat gerakan mengangkat kedua tangannya dengan bebas.


Melihat tingkah Usep membuat Iyaz dan Izar tertawa. Kemudian ketiganya mulai membahas pekerjaan di proyek itu.


“ Ada kendala ga Pak...?” tanya Izar sambil mengamati bangunan di hadapannya.


“ Alhamdulillah sampe saat ini semua aman dan lancar Mas...,” sahut Usep antusias.

__ADS_1


“ Bagus lah. Kalo Pak Usep, apa ada masalah dengan Istri...?” tanya Iyaz yang terdengar seperti gurauan di


telinga Usep.


“ Ga ada Mas. Kami baik-baik aja. Malah semalam Istri Saya memberi servis yang sangat memuaskan...,” sahut Usep setengah berbisik hingga membuat Iyaz dan Izar saling menatap penuh makna.


Melihat kedua orang di hadapannya terkejut, Usep pun tertawa. Selama ini Usep, Iyaz dan Izar memang kerap bicara masalah pribadi tanpa sungkan. Usia Usep yang hanya terpaut lima tahun lebih tua dari Iyaz dan Izar membuat pembicaraan mereka ‘nyambung’. Dan itu membuat ketiganya menjadi akrab layaknya teman lama.


“ Emang biasanya servis Istrinya Pak Usep ga memuaskan...?” tanya Izar lugu.


Mendengar pertanyaan Izar yang belum menikah itu membuat Usep dan Iyaz tertawa. Izar nampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena malu telah bertanya sesuatu yang tak ia pahami.


“ Bukan gitu Mas. Servis Istri Saya selalu memuaskan. Hanya semalam itu beda banget. Saya aja sampe kewalahan ngimbanginnya. Tapi Saya seneng banget karena Istri Saya semangat ngelakuinnya. Itu artinya dia juga puas. Buat Saya kepuasan Istri adalah segalanya Mas...,” sahut Usep tanpa malu.


Iyaz dan Izar saling menatap sambil mengangguk. Mereka melihat Usep yang tersenyum sambil memejamkan mata


pertanda apa yang ia ceritakan tadi adalah kenyataan. Izar pun mengamati Usep dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya berhenti saat melihat cincin bermata batu hijau melingkar manis di jari Usep.


“ Itu batu topaz yang tempo hari ditemuin di lobang galian pondasi kan Pak...?” tanya Izar.


“ Iya Mas. Gimana, bagus kan...?” tanya Usep.


“ Bagus...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Apa Istri Pak Usep pake cincin batu kaya gini juga...?” tanya Iyaz.


“ Iya dong Mas. Saya sama Istri bikin cincin couple pake batu ini. Model dan bentuknya sama persis, bedanya


cuma di bahan bakunya aja. Saya pake perak kalo Istri Saya pake emas...,” sahut Usep senang sambil mengamati cincin yang dipakainya.


“ Gitu ya. Kalo boleh tau, apa ada perubahan dalam diri Pak Usep selama make cincin itu...?” tanya Izar.


“ Saya sih ngerasanya seneng Mas. Karena tiap kali liat cincin ini, Saya ingat cincin Istri Saya. Otomatis Saya juga inget sama Istri Saya. Inget lagi jamannya susah di awal pernikahan Kami. Inget kesabarannya dan kesetiaannya yang mau terus mendampingi Saya ngelewatin semua cobaan hidup yang ga mudah ini...,” sahut Usep dengan mata berkaca-kaca.


“ Kayanya Pak Usep cinta banget nih sama Istrinya...,” goda Iyaz.


“ Banget Mas. Walau setelah pernikahan lima belas tahun ini Kami belum dikasih momongan, terus  sekarang badannya jadi melar dan gendut. Tapi Saya tetap sayang sama dia. Malah Saya tambah gemes ngeliat bok*ng dan pipi chubynya itu Mas...,” sahut Usep sambil tertawa.

__ADS_1


Izar dan Iyaz pun ikut tertawa melihat ekspresi Usep saat menceritakan perubahan fisik istrinya itu.


\=====


__ADS_2