
Jasad Sandria dimakamkan keesokan harinya. Mama Sandria tak bisa menghadiri acara pemakaman putrinya itu karena harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit.
Faiq dan keluarganya pun ikut hadir untuk menyaksikan proses pemakaman Sandria. Suasana duka begitu kental saat papa Sandria menangis menyaksikan jasad Sandria dimasukkan ke dalam liang lahat. Bahkan papa Sandria hampir tersungkur masuk ke dalam liang lahat jika kerabatnya tak sigap menahan tubuhnya itu.
Setelah pemakaman selesai, papa Sandria pun kembali ke Rumah Sakit. Faiq dan keluarganya menyusul tak lama kemudian. Bukan tanpa alasan Faiq melakukan itu. Ia ingin agar orangtua Sandria tahu apa yang Sandria katakan di akhir hayatnya.
Di dalam ruangan terlihat Mama Sandria baru saja siuman dan kembali menangis. Papa Sandria pun seolah tak punya perbendaharaan kata lagi untuk menghibur istrinya karena dia sendiri dalam keadaan terpuruk dan butuh dihibur.
“ Assalamualaikum...,” sapa Faiq sambil membuka pintu.
“ Wa alaikumsalam, oh Pak Faiq. Mari silakan masuk...,” sahut papa Sandria sambil mengusap wajahnya yang basah dengan air mata dengan punggung tangannya.
“ Ada hal yang harus Kami sampaikan mengenai Sandria jika Bapak dan Ibu berkenan mendengarnya...,” kata Faiq to the point.
Mama Sandria menghentikan tangisnya lalu menatap suaminya yang juga tengah menatapnya. Setelahnya papa Sandria mengangguk pertanda setuju dengan apa yang akan disampaikan oleh Faiq dan keluarganya.
Faiq memanggil keluarganya dan mereka pun duduk berhadapan. Kemudian Faiq meminta Iyaz menceritakan semua yang dikatakan almarhumah Sandria padanya. Mendengar penuturan Iyaz membuat kedua orangtua Sandria menggelengkan kepalanya. Mereka tak percaya dengan apa yang dikatakan Iyaz.
“ Ga mungkin. Sandria ga mungkin tega mencelakai Adiknya. Sandria itu sayang banget sama Vino. Kamu jangan bohong ya...!” kata mama Sandria lantang.
“ Saya emang ga punya bukti saat Sandria mengatakan hal itu Tante. Karena saat itu Sandria baru saja mengalami
kecelakaan. Tapi saat Sandria dirawat di ruangan itu, Saya sempat merekam pembicaraan Kami...,” sahut Iyaz sambil memperdengarkan rekaman suara percakapannya dengan almarhumah Sandria yang ia rekam menggunakan ponsel.
Kedua orangtua Sandria nampak menangis mendengarkan isi percakapan Iyaz dan Sandria. Mereka nampak meyesali sikap pilih kasih yang mereka tanamkan pada Sandria dan Vino. Karena terlalu sedih mereka melewatkan sesuatu yang diucapkan Sandria.
“ Tapi ada hikmah sekaligus kabar baik di balik kejadian ini Om...,” kata Iyaz sambil menatap kedua orangtua Sandria bergantian.
“ Kabar baik apa...?” tanya papa Sandria tak mengerti. Ia berpikir mana mungkin ada kabar baik setelah kehilangan kedua anaknya.
__ADS_1
“ Sandria bilang, di perut Tante ada calon Adiknya. Sekarang Tante sedang hamil dan Sandria ga mau mengalami hal yang sama seperti saat Vino lahir dulu. Dinomorduakan dan dicampakkan seperti sampah...,” sahut Iyaz ketus sambil melangkah keluar dari ruangan itu.
Mendengar kalimat terakhir Iyaz membuat kedua orangtua Sandria tersentak lalu menundukkan wajahnya karena malu. Izar dan Hanako mengikuti Iyaz yang keluar dari ruangan. Sedangkan Faiq, Shera, Erik dan Farah masih bertahan di sana.
“ Saya memang bukan siapa-siapa. Tapi Saya hanya ingin Kalian menyadari kesalahan Kalian. Sandria adalah korban keegoisan Kalian. Dia juga ga mau dilahirkan dalam kondisi susah. Bukan inginnya lahir ke dunia ini saat Kalian belum menikah. Kalian yang salah karena melakukan perbuatan yang dilarang agama. Lalu kenapa Kalian menghukum Sandria. Kalian malu membawanya keluar untuk bertemu kerabat, famili dan teman Kalian hanya karena ga mau mereka semua tau jika Sandria lahir saat pernikahan Kalian baru berjalan tiga bulan. Kalian membebankan sanksi moral itu pada Sandria yang jelas ga tau apa-apa. Bahkan dengan teganya kalian mengklaim Vino di depan Sandria dan semua orang sebagai anak sulung. Lalu apa arti Sandria untuk Kalian ?. Dia juga Anak kandung Kalian, darah Kalian ada di dalam tubuhnya...,” kata Faiq panjang lebar.
Suasana hening sejenak. Kedua orangtua Sandria nampak menundukkan wajahnya dalam-dalam seolah sedang
mengenang sikap mereka selama ini terhadap Sandria. Bahkan di hari terakhir Sandria mereka masih meminta Sandria menjauh dan tak mau mengakui Sandria sebagai anak kandung mereka di depan rekan bisnis mereka. Itu lah saat dimana Iyaz berjumpa dengan Sandria untuk pertama kalinya.
“ Ke depannya, perlakukan Anak-anak Kalian dengan adil. Mereka adalah amanah Allah yang harus Kalian jaga dan
pertanggung jawabkan nanti di akherat. Maafkan jika Saya terlalu banyak bicara. Permisi, Assalamualaikum...,” kata Faiq sambil menggandeng tangan Shera dan mengajaknya keluar dari ruangan itu diikuti Erik dan Farah.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut kedua orangtua Sandria dengan suara bergetar dan wajah bersimbah air mata.
\=====
apa yang baru saja mereka alami. Bukan. Tapi Izar dan Hanako justru sedang berusaha menghibur Iyaz lebih tepatnya.
“ Ayo Anak-anak, Kita lanjut ke lokasi berikutnya...!” ajak Erik semangat.
“ Aku malas Opa. Aku ga ikut ya...,” sahut Iyaz.
“ Ga boleh, semua harus ikut...!” kata Farah galak sambil membulatkan matanya kearah Iyaz.
Iyaz nampak bergidik lalu sembunyi di balik tubuh Izar.
“ Isshh, ngapain ngumpet di belakang Aku sih. Kamu kan tau kalo tatapan Oma tuh kaya sinar X yang bisa menembus logam dan kaca. Percuma Kamu ngumpet di situ...,” kata Izar kesal.
__ADS_1
Ucapan Izar membuat semua orang tertawa. Bahkan Hanako sampai harus memegangi perutnya saking tak kuasa menahan tawa. Sedangkan Farah yang tak terima dengan ucapan Izar pun langsung melayangkan pukulan di tubuh Izar hingga membuat Izar mengaduh kesakitan.
“ Aduuh, sakit Oma. Ampuunn...,” kata Izar sambil berusaha berkelit.
“ Rasain. Pake ngatain tatapan Oma setajam sinar X segala. Kalo gitu rasain pukulan Oma nih. Gimana rasanya, setajam pisau atau sekeras batu...?!” tanya Farah sambil terus mengejar Izar yang lari dan sembunyi diantara mobil-mobil yang terparkir itu.
Melihat kembarannya dikejar oleh sang oma membuat Iyaz pun tak kuasa menahan tawa. Kemudian dia dan Hanako ikut membantu sang Oma mengejar Izar.
“ Kok Kalian malah bantuin Oma sih...?” protes Izar.
“ Biarin, kan Kamu yang udah bikin Oma kesal...,” sahut Hanako.
“ Nih dia orangnya Oma...!” kata Iyaz lantang setelah berhasil meringkus Iyaz.
Izar pun menyerah karena kelelahan dan harus menerima hukuman dari sang oma. Deretan kalimat panjang pun terucap dari mulut Farah namun tak satu pun yang diingat oleh Izar. Itu membuat Farah makin kesal.
“ Ngerti ga...?!” tanya Farah galak.
“ Iya Oma...,” sahut Izar sambil menganggukkan kepalanya.
“ Jangan ngangguk-ngangguk kaya burung pelatuk gitu Kamu ya. Intinya Kamu ngerti ga apa hukuman yang harus Kamu jalanin...?” tanya Farah sambil berusaha menahan tawa.
“ Iya iya, ngerti Oma Sayang...,” sahut Izar.
“ Udah yuk, Kita cari tempat lain aja buat ngingetin Izar Ma...,” kata Erik sambil merangkul pundak Farah dan membawanya masuk ke dalam mobil. Saat melewati Izar, Erik mengedipkan matanya seolah memberi kode kepada Izar agar segera masuk ke dalam mobil.
Faiq dan Shera yang menjadi penonton setia sejak tadi pun nampak tertawa puas melihat tingkah absurd keluarganya itu. setelah memastikan semua masuk ke dalam mobil, Faiq pun melajukan mobil menuju tempat wisata berikutnya.
Meski pun kejadian Sandria sempat membuat warna tersendiri dalam liburan mereka kali ini, namun tak menghalangi semangat Faiq dan keluarganya untuk menjelajahi keindahan pulau Lombok.
__ADS_1
Bersambung