
Setelah berhasil mengorek keterangan dari Jono yang mantan anak buah tuan Scoot itu, pihak kepolisian pun membuka kembali kasus penculikan Desiree yang masih misteri itu. Bahkan Darta ditunjuk memimpin penyelidikan oleh atasannya. Meski pun Jono tidak ditahan saat ini, namun ia berada dalam pengawasan polisi.
Hasman terkejut saat karyawannya menyampaikan jika ada dua orang polisi yang berpakaian sipil datang ke kantornya dan ingin bertemu dengannya. Saat melihat Darta, yang pertama kali terlintas di kepala Hasman adalah ingatan saat ia diinterogasi tentang menghilangnya Desiree belasan tahun lalu.
“ Selamat siang Pak Hasman...,” sapa Darta yang temani Fauzan saat itu.
“ Selamat siang, mari silakan duduk. Tapi maaf, ada apa Bapak berdua ke sini...?” tanya Hasman to the point.
“ Kami mau memberi tahu jika kasus menghilangnya Nona Desiree telah dibuka kembali. Kami ingin agar Pak Hasman bersedia bekerja sama dengan Kami, agar bisa segera menuntaskan kasus ini. Kami ingin ke depannya ga akan ada lagi orang yang ga bersalah yang terseret dalam masalah ini atau bahkan harus mendekam dipenjara...,” sahut Darta.
“ Maksudnya gimana ya Pak. Memangnya ada orang yang ga bersalah yang terseret dalam masalah ini...?” tanya Hasman pura-pura tak tahu.
“ Ada...,” sahut Darta.
“ Siapa...?” tanya Hasman.
“ Almarhumah Bu Siti. Beliau dituduh merekayasa penculikan terhadap Nona Desiree karena dianggap berpotensi punya dendam atau sakit hati pada keluarga Tuan Scoot. Saya rasa Anda sudah tau tentang ini sejak lama...,” sahut Darta sambil menatap Hasman lekat.
“ Mmm..., Saya memang tau itu. Tapi darimana Bapak tau kalo Bu Siti udah meninggal dunia. Bukannya kabar yang beredar adalah Bu Siti kabur karena takut terseret dalam masalah ini...?” tanya Hasman penasaran.
“ Apa Anda percaya kalo Saya bilang Bu Siti lah yang cerita langsung...?” tanya Darta ragu namun diangguki dengan cepat oleh Hasman.
“ Saya percaya...,” sahut Hasman mantap hingga membuat Darta tersenyum.
“ Baiklah, tolong kerjasamanya. Beritahu Kami informasi sekecil apa pun itu...,” pinta Darta sambil menyodorkan kartu namanya.
“ Baik Pak. Saya akan hubungi Bapak nanti...,” sahut Hasman sambil membaca kartu nama Darta dengan seksama.
Setelahnya Darta dan Fauzan pergi meninggalkan kantor Hasman untuk lanjut ke tempat berikutnya bersama beberapa anggota polisi berpakaian sipil yang sedang menunggu di depan kantor Hasman.
__ADS_1
\=====
Sedangkan di sebuah rumah mewah terlihat sepasang suami istri yang sedang menikmati sarapan pagi mereka dalam keheningan. Mereka adalah Hendrik dan istrinya yang bernama Susan.
Suasana seperti ini lazim terjadi pada pasangan ini karena hubungan keduanya memang tak lagi harmonis sejak beberapa tahun belakangan. Mereka bertahan dalam rumah tangga yang tak sehat itu hanya karena mereka tak mau kehilangan gelar sebagai pasangan pejabat yang paling harmonis di kota itu.
Hendrik memang menjabat sebagai walikota sedangkan istrinya adalah seorang dosen di sebuah universitas ternama di kota itu. Keduanya terkenal sibuk sehingga saat mereka bisa tampil bersamaan di depan publik, masyarakat melihatnya sebagai pasangan yang kompak dan saling mencintai.
“ Aku harus pergi keluar kota untuk ngeliat pabrik...,” kata Hendrik membuka percakapan.
“ Hmm...,” sahut Susan.
“ Kamu mau ikut atau...,” ucapan Hendrik terputus karena Susan memotong dengan cepat.
“ Ga usah basa basi. Sampe kapan Kita harus pura-pura kaya gini...?” tanya Susan sambil menatap tajam kearah suaminya.
Hendrik tak mengerti mengapa ia menjadi ‘lemah’ saat ia berhadapan dengan istrinya. Ia sudah mencoba berobat kemana-mana agar bisa kembali menjalani tugasnya sebagai suami di atas tempat tidur. Namun selama ini tak pernah membuahkan hasil. Semua dokter dan therapys yang ia datangi selalu mengatakan hal yang sama, Hendrik sehat dan dinyatakan siap memuaskan bahkan membuahi pasangannya.
“ Sebaiknya Bapak mencari orang pintar untuk mengatasi keluhan Bapak...,” kata seorang therapys yang memeriksa kondisi Hendrik.
“ Apa Saya diguna-guna orang yang ga suka sama Saya...?” tanya Hendrik.
“ Mmm, mungkin. Karena semuanya baik-baik aja kok...,” sahut sang therapys.
Hendrik langsung memerintahkan anak buahnya mencari ‘orang pintar’ yang dimaksud. Dan ia berharap agar Susan bisa bersabar menantinya sembuh. Namun kesabaran Susan sudah sampai pada titik akhir. Apalagi Susan juga mulai dekat dengan seorang pria yang juga rekan seprofesinya dan belum lama bercerai dari istrinya.
“ Sabar lah sebentar lagi Susan...,” pinta Hendrik sambil menggenggam tangan Susan.
“ Sampe kapan. Kalo Aku bisa bersabar pun percuma karena rasa itu udah hilang Hendrik...,” kata Susan.
__ADS_1
“ Apa maksudmu...?” tanya Hendrik.
“ Aku jatuh cinta pada pria lain dan Kami akan menikah...,” sahut Susan cepat sambil melepaskan genggaman Hendrik.
“ Kamu ga boleh lakuin itu Susan, Kamu Istriku. Sampe kapan pun Aku ga bakal lepasin Kamu...!” kata Hendrik marah.
“ Aku ga peduli karena secepatnya Aku bakal gugat cerai. Bukti-bukti udah cukup buat Aku bawa ke pengadilan. Aku yakin Hakim bakal mengabulkan keinginanku nanti jika tau apa yang kualami selama ini...,” sahut Susan dingin lalu melangkah meninggalkan Hendrik sendiri di ruang makan.
Hendrik mengamuk mendengar ucapan Susan. Hendrik merasa ketakutan. Bukan hanya takut kehilangan gelar sebagai pasangan harmonis, tapi Hendrik tak mau kehilangan wanita yang ia cintai itu. Hendrik terduduk di lantai sambil menutupi wajahnya yang kalut. Ia tak menyangka jika pernikahannya akan segera berakhir dan itu karena dirinya.
Hendrik bangkit lalu pergi ke ruang kerjanya. Di sana ia menumpahkan kekesalannya dengan minum minuman keras. Ia merasa sedikit lebih baik saat mabuk karena bisa melupakan masalahnya untuk sejenak.
Andai Hendrik mau sedikit jujur. Ia mengalami kelemahan itu sejak ia melakukan pemer**saan pada Desiree, tunangannya sendiri sehari sebelum pernikahan mereka diresmikan. Dulu Desiree menjerit dan menangis saat Hendrik terus memaksakan dirinya. Saat itu sumpah serapah keluar dari mulut Desiree.
“ Aku bersumpah ini adalah hari terakhirmu bisa melakukan ini. Karena ga akan ada lagi hari lain lagi setelah ini untukmu Hendrik...!” jerit Desiree dengan wajah berderai air mata di bawah kungkungan Hendrik.
“ Teruslah bicara, karena Aku tak akan berhenti...,” sahut Hendrik sambil menyeringai.
Setelah melakukan pemer**saan ke sekian kalinya malam itu, Hendrik pun berhenti lalu keluar dari kamar meninggalkan Desiree yang menangis. Tak pernah ia duga jika Desiree akan mengakhiri hidupnya menggunakan pecahan gelas.
Keesokan harinya Hendrik kembali ke kamar untuk menjemput Desiree guna melakukan upacara pernikahan. Ia terkejut melihat tubuh Desiree yang tanpa busana itu tergeletak di lantai kamar dengan darah yang membanjiri tubuhnya. Saat mendekat untuk mengecek kondisi Desiree, Hendrik terlihat panik karena menjumpai tunangannya itu telah meninggal dunia.
Karena tak mau menanggung malu, Hendrik memerintahkan Jono membawa jasad Desiree jauh dari rumahnya. Kemudian Hendrik tetap pergi ke rumah tuan Scoot dan berpura-pura tak tahu tentang menghilangnya Desiree.
Sejak saat itu lah tanpa Hendrik sadari ia telah kehilangan kemampuannya membahagiakan pasangannya di atas
tempat tidur karena termakan sumpah Desiree.
\=====
__ADS_1