
Melihat Qiana mengakhiri pembicaraan dengan kesal membuat kedua orangtuanya saling menatap bingung.
“ Ada apa Qi...?” tanya ummi Qiana hati-hati.
“ Itu Mi, si Izar minta Aku buat ngusir Ratih pergi dari sini kalo Kita ga mau diganggu lagi sama jin yang mencintai Ratih. Kita ga mungkin ngusir Ratih kan Mi, kasian Ratih. Yang bikin Aku tambah kesel tuh dia seolah-olah orang yang paling ngerti sama urusan ini. Nyebelin banget...,” sahut Qiana sambil mendengus kesal.
“ Tapi dia emang ngerti tentang hal ghaib kan Qi...,” kata abi Qiana mengingatkan.
“ Iya, tapi ga usah kaya gitu juga dong ngomongnya. Aku tau dia itu benci sama Aku, tapi bisa kan bedain masalah pribadi sama yang lain...,” sahut Qiana hingga membuat kedua orangtuanya mengerutkan keningnya.
“ Siapa yang benci Kamu Qiana...?” tanya sang abi.
“ Izar Bi, siapa lagi emangnya...,” sahut Qiana cepat.
“ Izar anaknya Pak Faiq yang bantuin Kamu dan Ratih tempo hari itu...?” tanya abi Qiana tak percaya.
“ Iya Bi. Dia benci Aku sejak jaman kuliah dulu. Dia itu kan Kakak kelasku. Tapi ga tau kenapa tiba-tiba dia musuhin Aku, padahal Aku ga kenal sama dia sama sekali...,” sahut Qiana.
“ Tapi sejak dia menunjukkan sikap permusuhannya itu justru Kamu jadi kenal sama dia kan Qi...,” kata sang ummi sambil tersenyum menggoda.
“ Ummi apaan sih. Aku terpaksa inget supaya ga harus bersinggungan sama dia dimana pun dan kapan pun...,” sahut Qiana membela diri.
“ Tapi nyatanya Kalian beberapa kali ketemu dan terhubung lagi...,” kata sang abi santai sambil berlalu.
Ucapan sang abi membuat Qiana bertambah kesal namun membuat sang ummi tertawa lepas.
\=====
Izar memutuskan datang ke rumah Qiana ditemani sang ayah. Saat tiba di sana keadaan rumah Qiana terlihat sepi dan itu membuat keduanya cemas.
Faiq dan Izar bergantian mengetuk pintu namun tak juga mendapat respon. Setelah lima menit berlalu, pintu pun terbuka dan terlihat wajah ummi Qiana di balik pintu.
“ Assalamualaikum Bu...,” sapa Faiq dan Izar bersamaan.
“ Wa alaikumsalam, untung Pak Faiq datang. Tolong Anak dan Suami Saya Pak...,” kata ummi Qiana.
__ADS_1
“ Kenapa mereka Bu...?” tanya Faiq penasaran.
Ummi Qiana menceritakan apa yang dilihatnya tadi. Lalu sikap aneh Ratih yang berlari keluar seperti orang kesurupan.
“ Sekarang Qiana dan Abinya ngejar Ratih ga tau kemana. Saya aja ga berani keluar karena takut kalo Kalian ini hanya hantu yang menyamar jadi manusia yang mengganggu Saya karena tau Saya lagi sendirian di rumah...,” kata ummi Qiana.
Mendengar penjelasan ummi Qiana membuat Faiq dan Izar saling menatap. Keduanya tahu kemana harus menyusul Qiana dan abinya.
“ Kami permisi dulu Bu, Assalamualaikum...,” kata Faiq sambil bergegas lari menuju mobil mengikuti Izar yang telah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
“ Wa alaikumsalam, hati-hati Pak...!” sahut ummi Qiana yang disambut lambaian tangan Faiq dari dalam mobil.
Izar mengemudi dengan kecepatan tinggi. Faiq yang duduk di sampingnya melihat wajah sang anak yang berbeda dari biasanya, terlihat kecemasan dan rasa bersalah membayang di wajahnya.
Mereka tiba di rumah kost lama Ratih. Saat itu suasana di sekitar rumah kost nampak sepi, rupanya para pekerja bangunan telah selesai merenovasi rumah itu.
Faiq dan Izar masuk ke dalam rumah karena gerbang rumah terlihat terbuka. Tiba di halaman rumah mereka melihat abi Qiana tengah melerai Ratih dan Qiana yang nampak saling menyerang. Dan di detik terakhir Qiana terdesak karena Ratih berhasil mencekik lehernya dengan kuat.
“ Lepaskan Qiana Nak, dia hanya ingin membantumu. Abi mohon jangan sakiti dia...,” pinta abi Qiana.
“ Dia telah menggangguku maka dia harus mati...,” sahut suara asing dalan tubuh Ratih hingga membuat abi Qiana terkejut.
balik jendela terlihat para penghuni kost yang semuanya wanita itu tampak mengamati dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetar.
Faiq langsung menepuk pundak abi Qiana dan memintanya melepaskan Qiana karena itu akan membuatnya makin
tersiksa. Abi Qiana mengangguk lalu menyingkir, sedangkan Faiq dan Izar langsung menyerang jin dalam tubuh Ratih dengan air ruqyah yang mereka siapkan.
Saat air mengenai tubuhnya Ratih menjerit hingga cekikannya pada leher Qiana terurai. Abi Qiana bergegas memeluk Qiana yang terhuyung ke belakang lalu membawanya menjauh dari Ratih, Faiq dan Izar.
Jeritan Ratih makin memekakkan telinga dan membuat semua wanita penghuni rumah kost menutup telinga mereka. Dari sela telapak tangan mereka terlihat darah segar mengalir keluar dari lubang telinga masing-masing dan itu membuat mereka panik. Mereka berhamburan keluar rumah hingga membuat konsentrasi Izar dan Faiq sedikit terganggu. Beruntung Qiana dan abinya berhasil menenangkan mereka dan mengajak mereka menjauh dari arena pertempuran Faiq, Izar dan Ratih.
Suara jeritan mereka membuat Memed yang baru tiba pun terkejut. Ia turun dari motor dan langsung menghampiri
penghuni kost yang berkumpul di teras rumah. Melihat kehadiran Memed membuat jin dalam tubuh Ratih nampak murka dan melesat menyerang Memed yang berdiri membelakangi mereka. Tubuh Memed yang menjadi sasaran serangan Ratih pun terluka di bagian punggung dan belakang kepala hingga membuat semua wanita penghuni kost menjerit.
__ADS_1
Memed jatuh ke lantai dengan tubuh bersimbah darah. Ia menatap Ratih yang kerasukan itu dengan tatapan bingung.
“ Kenapa Aku...?” tanya Memed dengan suara lirih.
“ Karena Kau mengijinkannya pergi dariku...!” sahut suara jin dalam tubuh Ratih dengan lantang.
Memed menggelengkan kepalanya dan itu membuat jin dalam tubuh Ratih bertambah murka. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Faiq dan Izar untuk meringkus Ratih dengan mengembangkan sorban yang dibawa Faiq lalu melilitkannya di tubuh Ratih, mengikatnya dengan kuat hingga membuat Ratih terkunci.
Setelahnya Faiq dan Izar membuat gerakan seperti mencabik-cabik dengan kedua tangan mereka. Jeritan melengking pun keluar dari mulut Ratih seolah dirinya lah yang tersakiti. Air mata juga membasahi wajah pucat Ratih. Dan dari balik sorban yang melilit tubuh Ratih terlihat darah yang merembes keluar berwarna merah pekat disertai bau busuk hingga membuat semua orang menutup hidung.
Setelahnya tubuh Ratih pun ambruk mencium lantai dengan pakaian yang basah. Jeritan sekali lagi keluar dari mulut Ratih lalu tubuhnya diam tak bergerak. Bersamaan dengan itu asap hitam keluar dari tubuh Ratih. Kemudian asap hitam itu membentuk sosok makhluk berwujud pria kurus setinggi pohon kelapa yang menyeringai kesakitan.
Para wanita penghuni kost nampak terkejut dan menganga ketakutan melihat wujud makhluk yang merasuki tubuh Ratih. Kini mereka menyesal karena tak mempercayai Ratih yang telah ‘mewanti-wanti’ agar mereka berhati-hati di dalam rumah itu.
Sedetik kemudian mereka kembali dikejutkan dengan hancurnya makhluk itu seperti terkena bom dan hanya menyisakan abu berwarna hitam yang jatuh perlahan ke lantai lalu hilang tertiup angin. Setelahnya mereka berhamburan mendekati Ratih yang terbaring bersimbah darah.
“ Kamu gapapa kan Ratih. Maaf kalo Kami ga percaya sama Kamu. Maaf ya...,” kata Fifi mewakili teman-temannya.
“ Ratih..., Ratih...,” panggil teman-teman Fifi sambil mengguncang tubuh Ratih.
“ Hentikan, Kalian menyakiti Ratih. Menjauh darinya, biar dia bisa bernafas...!” kata Qiana galak hingga mengejutkan semua orang.
Para wanita itu menyingkir sedangkan Qiana mendekati Ratih. Ia berusaha membuka ikatan sorban yang melilit tubuh Ratih yang nampak mulai siuman itu. Ratih pun membuka matanya lalu tersenyum melihat Qiana. Keduanya pun saling memeluk dengan erat hingga membuat semua orang tersenyum bahagia.
Sedangkan Abi Qiana berusaha membantu Memed bangun dan berniat membawanya ke Rumah Sakit saat sebuah suara siulan dan ledakan terdengar dari dalam rumah kost khusus wanita itu.
Semuanya saling menatap bingung. Bagaimana ada suara siulan di dalam rumah sedangkan semua penghuninya tengah berkumpul di halaman rumah.
“ Dia datang Ayah...,” kata Izar setengah berbisik.
“ Betul Nak. Bersiap lah untuk pertempuran yang lebih besar lagi...,” sahut Faiq sambil menatap tajam ke dalam rumah.
“ Siap Ayah...,” sahut Izar tegas.
Tatapan semua orang tertuju ke dalam rumah kost. Mereka nampak bergidik saat suara siulan kembali terdengar
__ADS_1
seolah memberi isyarat akan hadirnya ‘sesuatu’ yang besar.
Bersambung