Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
228. Kembali


__ADS_3

Setelah bersalaman dengan Faiq dan keluarganya Paulus pun mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah. Saat itu Mirva tengah ditemani tiga orang wanita dan sang dukun. Melihat kehadiran orang-orang yang dilihat dalam penerawangannya sang dukun tersenyum. Ia berdiri menyambut Faiq dan keluarganya lalu menyalami mereka satu per satu.


“ Kakek ini yang nyuruh Saya minta bantuan sama Bapak dan keluarga...,” kata Paulus menjelaskan.


“ Saya tau, terima kasih Kek...,” sahut Faiq sambil tersenyum kearah sang dukun.


“ Sama-sama. Sekarang udah ada Kalian di sini, udah waktunya Saya pergi...,” kata sang dukun lalu keluar dari rumah Paulus sambil tersenyum.


Faiq dan Fatur saling menatap sambil tersenyum. Keduanya salut melihat sikap ksatria yang ditunjukkan sang dukun. Kemudian mereka kembali menatap Mirva yang tiba-tiba duduk sambil menggeram marah. Ketiga wanita yang ada bersamanya pun nampak ketakutan dan bergeser menjauhi Mirva.


“ Ibu-ibu tetap di sini bantuin Kami ya...,” pinta Faiq.


“ Tapi Saya takut Pak. Semalam aja enam laki-laki ga sanggup megangin Mirva yang ngamuk, apalagi perempuan kaya Kami...,” sahut tetangga Paulus.


“ Ibu ga usah megangin Mirva, tapi tetap di ruangan ini untuk bantu dzikir...,” kata Faiq menjelaskan.


“ Oh, kalo cuma itu Kami bisa...,” sahut ketiga wanita itu sambil tersenyum.


“ Baik, Kita mulai sekarang ya...,” kata Faiq yang diangguki ketiga wanita itu.


Kemudian Faiq dan keluarganya pun memulai proses ruqyah setelah sebelumnya mengenakan sarung tangan. Nyali iblis dalam tubuh Mirva nampak menciut saat berhadapan dengan Faiq, Fatur, Iyaz dan Izar. Sedangkan Heru dan Pandu nampak duduk sambil berdzikir dan membaca surah Al Qur’an yang mereka hapal.


Reaksi yang ditunjukkan Mirva sungguh di luar dugaan. Mirva merubah posisi duduknya lalu berjongkok. Setelahnya ia melompat menerjang Iyaz dan Izar. Dengan sigap keduanya berkelit menghindari Mirva. Gerakan cepat Mirva membuat Paulus dan ketiga tetangganya nampak terkejut.


Setelah gagal menyerang Iyaz dan Izar, Mirva membalikkan tubuhnya dan memperlihatkan wajahnya yang terlihat berbeda dari wajah aslinya. Wajah bak singa dengan rambut kusut dan taring mencuat di kedua sisi bibirnya membuat penampilan Mirva sangat menyeramkan. Ditambah suara menggeram dan sikap tubuh yang sama persis seperti hewan buas itu membuat ketiga wanita yang ada dalam ruangan itu makin ketakutan. Ketiganya berdzikir dengan keras saat Mirva menoleh kearah mereka. Merasa terganggu dengan apa yang dilakukan ketiga wanita itu, Mirva pun menyerang ketiga wanita itu. Namun gerakan Mirva tertahan karena Iyaz, Izar, Heru dan Pandu berdiri menghadang di depan ketiga wanita itu.


Mirva meraung marah karena gagal mendapatkan mangsanya. Namun Mirva menghentikan raungannya saat ia melihat Pandu ada diantara keempat pria yang menghadangnya. Nampaknya jiwa Mirva yang mencintai Pandu mulai bimbang. Namun itu hanya sesaat. Karena iblis dalam tubuh Mirva kembali menguasai tubuhnya. Bahkan iblis dalam tubuh Mirva membawa Mirva memanjat dinding, hal yang mustahil dilakukan Mirva dalam kondisi normal. Paulus hampir pingsan dibuatnya namun Fatur berhasil menyemangati Paulus agar tetap sadar dan melihat semuanya.


“ Kuat Pak, jangan lemah. Mirva butuh Ayahnya...!” kata Fatur lantang hingga menyadarkan Paulus.


“ Astaghfirullah aladziim. Iya, iya Pak. Saya kuat, Saya mau bantuin Anak Saya...,” sahut Paulus.


Ucapan Paulus membuat ketiga wanita yang bersamanya terkejut lalu tersenyum. Mereka tahu jika Paulus melupakan kalimat suci itu sejak kematian istrinya. Paulus yang mualaf itu menganggap jika Allah telah menzholiminya dengan mengambil istri yang ia cintai itu. Paulus ‘ngambek’ dan tak lagi melakukan ibadah seperti layaknya seorang muslim setelah pemakaman istrinya. Mirva remaja pun harus kehilangan figur seorang ayah karena Paulus lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan untuk melupakan rasa kecewanya.


Ucapan istighfar Paulus ternyata membuat iblis dalam tubuh Mirva marah lalu menerjang Paulus hingga Paulus terjengkang ke lantai dengan suara berdebum. Mirva berhasil mendudukkan diri di atas tubuh ayahnya dan siap mencekik Paulus.


Faiq dan Fatur bergerak cepat menangkap kedua tangan Mirva yang terulur kerah leher Paulus. Sedangkan Iyaz dan Izar lebih sigap lagi. Keduanya menarik tubuh Mirva agar menjauh dari Paulus. Mirva nampak enggan melepaskan Paulus karena ia masih menarik ujung kemeja Paulus. Iyaz dan Izar pun terpaksa memukul lengan Mirva agar mau melepaskan kemeja Paulus yang mulai terkoyak.


Saat tarikan tangan Mirva terlepas, Paulus pun menjauh dengan wajah pucat karena tak sanggup membayangkan kulit tubuhnya lah yang terkoyak tadi.


“ Kok Mirva jadi buas gitu ya Bu...,” kata salah seorang tetangga Paulus.


“ Iya, mirip banget sama singa...,” sahut wanita di sampingnya.

__ADS_1


“ Tapi singa kan ga mahir memanjat Bu...,” kata wanita pertama tadi.


“ Namanya juga singa jadi-jadian Bu, yang ga bisa pun jadi bisa...,” sahut wanita itu.


“ Sssttt..., udah jangan dibahas. Lebih baik dzikir aja. Apa Kalian mau diserang sama Mirva...?” tanya wanita di samping mereka hingga membuat kedua tetangga Paulus itu bungkam karena takut.


Setelah drama tarik menarik yang lumayan menyita energi itu, akhirnya Faiq dan Fatur pun merangsek maju untuk menghentikan kebuasan makhluk dalam tubuh Mirva.


Faiq melemparkan daging ayam yang ia lihat di meja tadi kearah Mirva, setelah melumurinya dengan bubuk kayu kamper yang telah diruqyah. Mirva menangkapnya lalu melahapnya dengan cepat. Saat itu lah Faiq, Fatur, Iyaz dan Izar membuat lingkaran mengelilingi Mirva lalu menyerang Mirva bersamaan hingga membuat iblis dalam tubuh Mirva kewalahan. Apalagi daging ayam yang dimakannya tadi membuat mulut dan tenggorokannya terasa panas seperti terbakar. Mirva menjerit dan tak bisa menguasai diri. Saat itu lah Faiq mengulurkan sebotol air mineral kearah Mirva.


“ Mau minum, ambil ini...,” kata Faiq.


Tanpa pikir panjang Mirva meraih botol air itu dan meneguk isinya hingga tandas. Bisa ditebak bagaimana reaksi Mirva selanjutnya. Mirva melolong sambil bergulingan di lantai. Fatur pun menyiram tubuh Mirva dengan air ruqyah yang dibawanya hingga membuat Mirva tak berdaya.


Mirva menjerit sekali lagi lalu jatuh pingsan. Sesaat kemudian iblis dalam tubuh Mirva pun keluar dari raga Mirva dalam keadaan mengenaskan karena sekujur tubuhnya penuh dengan luka.


“ Pergi dan jangan kembali lagi...!” kata Faiq lantang sambil menaburkan bubuk kamper kearah makhluk itu.


Makhluk halus berwujud singa itu mengerang kesakitan. Bubuk kamper itu kembali melukainya karena meletup saat menyentuh kulitnya. Tak tahan menanggung sakit, singa itu pun mengangguk lemah lalu melesat pergi meninggalkan rumah Paulus.


“ Alhamdulillah...,” kata Faiq, Fatur dan si kembar bersamaan.


Ucapan hamdalah itu membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu senang dan tersenyum.


“ Alhamdulillah, iya Pak...,” sahut  Faiq.


“ Tapi kenapa Mirva ga bergerak...?” tanya Paulus cemas.


“ Mirva gapapa Pak, hanya kelelahan. Biarkan dia tidur sebentar...,” sahut Faiq.


“ Oh gitu, syukurlah...,” kata Paulus sambil mengusap wajahnya yang berkeringat.


Ketiga tetangga Paulus pun ikut tersenyum. Mereka mendekati Mirva lalu merapikan pakaian Mirva dan menutupi tubuhnya dengan selimut.  Setelahnya mereka ke dapur untuk menyiapkan kopi dan makanan ringan. Mereka kembali ke ruang tengah dengan nampan berisi kopi dan singkong rebus.


\=====


Mirva terbangun saat menjelang Maghrib. Ia membuka mata sambil menatap ke sekelilingnya. Mirva mengerutkan keningnya karena merasa sekujur tubuhnya sangat sakit. Saat membuka mulutnya karena ingin bertanya,Mirva pun terkejut. Ia merasa mulut dan tenggorokannya panas seperti terbakar.


Paulus yang pertama kali melihat Mirva siuman pun nampak mendekat kearahnya sambil tersenyum.


“ Kamu sadar Nak. Bagaimana keadaanmu...?” tanya Paulus dengan mata berkaca-kaca.


Mirva menggelengkan kepalanya sambil menangis karena tak bisa menjawab pertanyaan ayahnya. Paulus pun menoleh kearah Faiq meminta penjelasan.

__ADS_1


“ Dua hari ke depan Mirva akan kesulitan bicara. Minumkan air yang dicampur madu untuk menetralkan rasa sakitnya ya Pak. Jangan makan pedas dulu supaya luka di tenggorokannya cepat sembuh...,” saran Faiq.


“ Baik Pak, makasih...,” sahut Paulus lega.


“ Tolong ingatkan Mirva untuk menjaga sholat fardhu ya Pak...,” kata Faiq yang diangguki Paulus.


Ucapan Faiq seolah sindiran untuk Paulus dan membuatnya malu. Sedangkan Mirva menundukkan kepalanya karena tahu sesuatu telah terjadi padanya tadi. Mirva ingat jika ia telah bekerja sama dengan iblis untuk melakukan kejahatan. Dan ia tahu suatu saat makhluk yang selama ini membantunya akan datang dan meminta imbalan. Mengingat hal itu membuat Mirva menangis karena menyesal.


Paulus pun memeluk anaknya dengan erat sambil membisikkan kalimat yang menenangkan Mirva.


“ Jangan menangis lagi Mirva. Papa ada di sini untukmu, Papa ga akan biarkan Kamu menjalani semuanya sendiri nanti. Papa akan lakukan yang terbaik agar Kamu bahagia. Kita lakukan sama-sama  ya Nak...,” bisik Paulus.


“ Mmm..., mmm...,” sahut Mirva sambil mengangguk tanda setuju.


Paulus pun tersenyum sambil mencium kepala Mirva dengan sayang. Paulus sadar dia juga punya andil dengan apa yang terjadi hari ini. Paulus berjanji akan memperbaiki semuanya. Paulus juga berniat memanggil guru agama untuk memperdalam ilmu agama dan ibadahnya yang telah lama ia abaikan.


Pemandangan Paulus yang memeluk Mirva membuat semua orang terharu. Setelah memastikan Mirva baik-baik saja, Faiq dan keluarganya pun pamit undur diri tepat saat adzan Maghrib berkumandang.


Setelah menunaikan sholat Maghrib berjamaah di musholla, Faiq dan keluarganya pun duduk di teras musholla sambil berbincang-bincang.


“ Apa Kamu ga mau nelephon Cici Nak...?” tanya Heru.


“ Aku mau Yah, tapi beberapa hari ini signal buruk...,” sahut Pandu cepat.


“ Tapi malam ini langit cerah lho Mas, mungkin signal juga lagi bagus...,” kata Izar sambil menaik turunkan alisnya menggoda Pandu.


Pandu mengangguk lalu bergeser menjauh. Ia mencoba melakukan sambungan video call dengan Hanako dan tersambung.


“ Assalamualaikum Sayang...,” sapa Pandu sambil tersenyum.


“ Wa alaikumsalam Mas...,” sahut Hanako malu-malu.


“ Aku kangen Kamu Sha...,” kata Pandu hingga membuat wajah Hanako merona.


“ Kapan pulang Mas...?” tanya Hanako mencoba mengabaikan ucapan Pandu.


“ Insya Allah secepatnya Sayang. Kenapa, udah kangen ya...?” tanya Pandu.


“ Iya lah, masa masih nanya juga...,” sahut Hanako sambil cemberut hingga membuat Pandu tertawa bahagia.


Suara tawa Pandu membuat Faiq dan keluarganya menoleh kearahnya lalu tersenyum melihat kebahagiaan Pandu dan Hanako.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2