
Sydra tiba di rumah dengan wajah pucat dan tubuh basah berkeringat. Sebelum masuk ke dalam rumahnya Sydra
berusaha mengatur nafasnya agar lebih teratur. Namun saat itu sebuah tepukan mampir di pundaknya hingga membuat tubuh Sydra menegang.
“ Ngapain bengong di sini...?” tanya kakak Sydra sambil menahan tawa.
“ Ck, Lo ngagetin aja Kak...,” kata Sydra sambil menghela nafas lega.
“ Makanya jangan melamun. Eh, sebentar. Kok baju Lo basah banget kaya gini. Emang ada hujan lokal ya...? tanya kakak Sydra.
“ Ga ada, Lo ngeledek terus sih daritadi...,” sahut Sydra lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Kemudian Sydra masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang basah. Sambil menatap cermin Sydra mengingat kejadian yang baru saja ia alami.
“ Jadi Iyaz itu bisa ngadepin makhluk tak kasat mata ya. Wah, hebat banget dia. Kalo gitu Gue mau minta bantuan dia aja supaya hantu Gavin sama hantu Urai ga ngikutin Gue terus...,” kata Sydra dalam hati.
Sementara itu Iyaz nampak melangkah perlahan meninggalkan jalan dimana ia berkelahi dengan makhluk hitam berlendir tadi. Iyaz masih menatap kearah menghilangnya sang mahluk itu sekali lagi sebelum melangkah pergi.
Karena terus dihantui ucapan makhluk hitam berlendir itu, Iyaz memutuskan menghubungi ayahnya dan menceritakan semuanya.
“ Itu hanya gertak sambal aja Nak, ga usah terlalu dipikirkan. Kalo Kamu terlalu fokus dengan rasa bersalahmu, itu akan membuatmu lemah...,” kata Faiq.
“ Tapi Aku khawatir salah Yah...,” sahut Iyaz gusar.
“ Insya Allah yang Kamu lakukan udah bener kok. Kan Kamu membela manusia dari gangguan makhluk halus. Bagaimana pun mengganggu makhluk halus yang mengganggu manusia itu salah. Kamu jangan lemah karena ucapan hantu itu. Kamu hanya perlu menyelidiki akar masalahnya aja Nak...,” kata Faiq bijak.
“ Gitu ya Yah...,” sahut Iyaz sambil tersenyum lega.
“ Iya. Apa Kamu udah tau harus mulai dari mana...?” tanya Faiq.
“ Udah yah. Dan Aku yakin sebentar lagi Sydra bakal datang buat minta bantuan Aku...,” sahut Iyaz.
“ Ok. Hati-hati dan jangan lengah ya nak...,” pesan Faiq.
“ Siap Yah, makasih udah ngasih tau Aku. Salam buat Bunda dan semuanya ya Yah. Assalamualaikum...,” kata Iyaz di akhir kalimatnya.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Faiq sambil menatap layar ponselnya sambil tersenyum.
\=====
Sydra sengaja menemui Iyaz di rumah kost. Saat itu Iyaz belum pulang karena masih mengikuti seminar di kampusnya. Sydra hanya bertemu dengan Mirza yang kebetulan pulang lebih cepat hari itu.
“ Sebentar lagi Iyaz juga pulang. Mau tunggu di dalam atau di teras...?” tanya Mirza dengan ramah.
__ADS_1
“ Di teras aja deh...,” sahut Sydra.
“ Ok, Gue tinggal ke dalam dulu ya. Gue lagi ga enak badan nih...,” pamit Mirza setelah meletakkan minuman ringan di hadapan Sydra.
“ Ok, makasih...,” sahut Sydra yang diangguki Mirza.
Tak lama kemudian Iyaz dan Rocki pun tiba. Keduanya tak terlalu terkejut melihat kehadiran Sydra di sana. rocki pun pamit masuk ke dalam rumah setelah menjabat tangan Sydra.
“ Ada apa Syd...?” tanya Iyaz.
“ Gue perlu bantuan Lo Yaz. Bisa Kita ngobrol di tempat lain kan...?” tanya Sydra.
“ Ok. Sebentar ya Gue pamit dulu sama teman-teman...,” sahut Iyaz sambil melangkah ke dalam rumah.
Sesaat kemudian Iyaz pun mengikuti Sydra yang telah lebih dulu menunggu di luar pagar. Mereka menuju suatu tempat yang tak jauh dari pabrik furniture tempat Sydra bekerja.
“ Kok Kita ke sini...?” tanya Iyaz tak mengerti.
“ Iya, karena di sini lah semua awal kejadian terror yang Gue alamin itu terjadi...,” sahut Sydra sambil memilih masuk ke dalam sebuah rumah makan khas masakan Timur Tengah.
Setelah memesan sejumlah menu makanan dan minuman, Sydra pun mulai menceritakan apa yang terjadi.
“ Di sana Yaz, meja pojok itu...,” kata Sydra sambil menunjuk sebuah meja berwarna merah.
“ Di meja itu lah semua rencana konyol itu berawal...,” sahut Sydra.
Lalu mengalir lah cerita dari mulut Sydra.
Hari itu Sydra dan beberapa temannya sesama karyawan pabrik, termasuk Gavin dan Urai, berkumpul merencanakan sebuah surprise untuk salah satu teman mereka yang berulang tahun yaitu Harlan. Harlan sudah pasti tak dilibatkan dalam rapat itu.
Mereka merencanakan dengan matang untuk memberi kejutan setelah sebelumnya mengerjai Harlan terlebih dulu.
“ Harus beda dari yang biasanya. Kalo bisa kejadian ini bikin dia shock dan ga bisa lupa sampe kapan pun...,” kata Sydra.
“ Yang biasa aja lah, kasian kalo dia sampe shock kaya gitu...,” sahut karyawan lain.
“ Gapapa lah, dia pasti ngerti dan bisa maafin Kita setelah tau Kita cuma ngerjain dia...,” kata Gavin.
“ Gue ga setuju. Ga enak lah kalo surprisenya malah bikin dia malu nanti...,” tolak Urai.
“ Tenang aja Rai, ini cuma sebentar kok...,” kata Sydra meyakinkan.
“ Terserah Lo pada deh, pokoknya Gue ga mau tanggung jawab kalo sampe terjadi sesuatu nanti...,” sahut Urai.
__ADS_1
Kemudian terjadi lah kesepakatan diantara mereka. Setelah jam istirahat berakhir, mereka pun kembali ke pabrik.
Saat menjelang jam pulang kerja, Sydra dan teman-temannya melancarkan aksinya. Mereka sengaja meletakkan dompet milik Sydra di tas Harlan kemudian Sydra mulai berteriak panik mencari dompetnya.
Karena orang yang terakhir masuk ke dalam gudang adalah Harlan, sudah pasti semua mata tertuju padanya. Harlan yang tahu menahu soal itu pun terlihat santai dan tak menyadari tatapan curiga para karyawan pabrik yang mengarah padanya. Hingga Sydra datang ke divisi pemotongan kayu untuk menemui Harlan.
Harlan yang saat itu sedang memilah kayu yang akan digunakan sebagai dasar pembuatan kursi pun terkejut saat pundaknya ditepuk dengan kasar oleh Sydra. Apalagi Sydra juga mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut sekaligus malu.
“ Hei, Lan. Lo taro dimana dompet Gue...?!” tanya Sydra lantang.
“ Dompet apa maksud Lo Syd...?” tanya Harlan tak mengerti.
“ Ga usah alasan deh Lo. Cepet balikin dompet Gue...!” Kata Sydra kasar.
“ Sumpah Gue ga ngerti maksud Lo Syd. Dompet apa yang Lo omongin, kaya gimana bentuknya, warnanya apa, isinya apa juga Gue ga tau karena Gue emang ga pernah ngeliat dompet Lo...,” sahut Harlan gusar.
Mendengar perdebatan antara Sydra dan Harlan membuat para karyawan yang tengah bersiap pulang pun menoleh lalu mendatangi keduanya. Tampaknya mereka percaya ucapan Sydra dan mulai menuduh Harlan sebagai pencuri.
“ Ga nyangka ada pencuri di pabrik ini...,” kata salah seorang karyawan sinis.
“ Wooii..., maling. Balikin dong dompetnya Sydra...!” kata karyawan lain dengan lantang.
“ Gue ga ngambil apa pun ya, jadi Gue bukan maling...!” sahut Harlan tak terima.
Namun ucapan Harlan terbantahkan dengan ditemukannya dompet milik Sydra di locker Harlan.
“ Ini buktinya...!” kata salah seorang karyawan sambil memperlihatkan dompet milik Sydra yang baru saja ditemukan di locker Harlan.
“ Tapi Gue ga tau kalo ada dompet itu di locker Gue. Kalian pasti sengaja memfitnah Gue, iya kan...?!” kata Harlan dengan wajah merah padam menahan malu.
“ Dasar maling...,” kata beberapa karyawan.
“ Huu..., maling. Ngaku aja kalo ngambil, kan ga jadi panjang urusannya...!” seru beberapa karyawan hingga membuat tubuh Harlan gemetar saking marahnya.
Keributan itu membuat beberapa supervisor ikut mendekat karena ingin melerai. Namun sesaat kemudian Harlan melarikan diri dari sana diiringi sorakan para karyawan yang mengatainya ‘maling’ berulang kali. Harlan terus lari tanpa memberi kesempatan teman lainnya yang mempersiapkan kejutan memperlihatkan kue dan hadiah untuknya.
Melihat Harlan kabur membuat Sydra, Gavin dan Urai pun panik karena itu di luar perkiraan mereka. Hingga beberapa karyawan yang ikut dalam aksi kejutan itu mengejar Harlan yang berlari dengan cepat.
“ Harlan tunggu !. Jangan lari Lan !. Mereka lagi ngasih surprise ulang tahun buat Lo...!” kata Gavin lantang.
Mendengar ucapan Gavin membuat Harlan yang tengah berlari pun berhenti lalu menoleh kearah mereka. Naasnya lagi bersamaan dengan itu sebuah truk kontainer yang mengangkut furniture dari pabrik pun melintas dan langsung menabrak tubuh Harlan hingga terpental sejauh lima meter.
Jeritan histeris pun mengiringi tubuh Harlan yang terlempar hingga jatuh terkapar bersimbah darah di halaman pabrik.
__ADS_1
\=====