Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
219. Hukuman Atau Ujian


__ADS_3

Maya sedang menunggu suaminya kembali. Sejak pamit siang tadi Yori tak juga kembali dan itu membuat Maya cemas. Bu RT dan warga lainnya pun ikut cemas karena iba melihat kondisi Maya yang lemah itu.


“ Sebaiknya Kamu tinggal di rumah Saya dulu ya May...,” kata bu RT.


“ Tapi Saya ga enak Bu. Gapapa Saya tinggal di musholla aja dulu...,” sahut Maya.


“ Jangan May, bahaya. Udah ga usah banyak mikir. Ntar biar Suami Saya yang jelasin sama Suami Kamu kalo dia marah...,” kata bu RT sambil menggamit tangan Maya.


Maya pun mengangguk setuju. Dan sejak hari itu Maya tinggal di rumah Ketua RT.


Namun penantian Maya terasa sia-sia karena Yori tak pernah kembali. Dan selama masa penantiannya itu Maya selalu mimpi buruk. Ia bermimpi Yori mendatanginya dalam keadaan leher yang penuh luka dan darah. Dalam mimpinya itu Maya melihat Yori pergi ke sebuah hutan. Sebelum menghilang ke dalam hutan Yori menoleh kearah Maya dan mengatakan sesuatu.


“ Maafkan Aku Maya. Jangan menungguku lagi karena Aku ga akan kembali. Jangan menangis lagi ya karena Kamu berhak bahagia...,” kata Yori sambil tersenyum.


Maya mencoba mengejar Yori, namun Yori mencegahnya. Maya bertambah panik saat wajah Yori berubah menghitam dan lehernya meneteskan darah. Lalu tangan Yori menjambak rambutnya sendiri hingga kepalanya terlepas dari badannya. Maya menjerit histeris saat melihat tubuh Yori yang tanpa kepala itu masuk ke dalam hutan sambil menenteng kepalanya sendiri di tangannya.


Maya terbangun dari tidurnya saat bu RT membangunkannya.


“ Kenapa teriak-teriak May, Kamu mimpi buruk ya...?” tanya bu RT.


“ Iya Bu. Saya ngeliat Bang Yori pergi sambil nenteng kepalanya sendiri Bu. Apa artinya ini Bu, apa Bang Yori udah meninggal...?” tanya Maya sambil menangis.


“ Ya Allah Maya, itu kan cuma mimpi...,” kata bu RT sambil mengusap punggung Maya.


“ Tapi mimpi itu ga hanya sekali Bu. Saya takut kalo mimpi itu jadi nyata Bu...,” rintih Maya hingga membuat Ketua RT dan istrinya nampak saling menatap bingung.


“ Kita konsultasikan sama Ustadz besok ya May. Kami juga ga paham tentang mimpi...,” kata ketua RT yang diangguki Maya.


Keesokan harinya mereka bertiga menemui ustadz Hafiz di musholla. Kebetulan saat itu Pandu baru saja selesai menunaikan sholat berjamaah di musholla itu. Saat hendak keluar dari musholla tak sengaja ia mendengar percakapan mereka bertiga dengan sang ustadz.


“ Itu pertanda yang dikirim Allah untukmu Maya. Maaf Saya harus jujur. Maafkan semua kesalahan  Yori dan ikhlaskan dia...,” kata ustadz Hafiz.


“ Apa yang terjadi sama Suami Saya Pak Ustadz...?” tanya Maya dengan suara bergetar.


“ Yori sudah pergi jauh dan ga akan kembali lagi, dia sudah meninggal dunia May...,” sahut ustadz Hafiz hingga membuat Maya terkejut lalu menangis dan jatuh pingsan.


Warga yang masih ada di musholla pun sigap membantu lalu membawa Maya ke Rumah Sakit terdekat.

__ADS_1


Saat siuman Maya kembali menangis hingga membuat ketua RT dan istrinya iba. Melihat kondisi Maya membuat mereka tak sanggup menyampaikan berita buruk yang baru saja mereka terima dari dokter yang menangani Maya tadi. Tenyata Maya divonis mengidap penyakit kanker payudara stadium satu.


Saat mendengar diagnosa dokter itu Maya pun nampak shock. Ia merasa hukuman dari Allah untuknya datang bertubi-tubi.


“ Sabar May, minta sama Allah supaya Kamu disembuhkan...,” kata bu RT.


“ Apa Allah masih mau mengabulkan doaku Bu. Aku ini manusia yang hina, makanya Allah menghukumku beruntun. Anakku mati di depan mataku, Suamiku hilang dan sekarang Allah masih memberiku sakit kanker payudara. Aku pasti banyak dosa makanya Allah ngasih Aku ujian seberat ini. Iya kan Bu...,” kata Maya di sela isak tangisnya.


“ Jangan suudzon sama Allah May. Justru Allah mengujimu dengan sakit ini agar Kamu bertobat. Sakit itu bisa menggugurkan dosa-dosamu asal Kamu bersabar menghadapinya May...,” kata ustadz Hafiz dari ambang pintu hingga mengejutkan Maya dan bu RT.


“ Pak Ustadz...,” panggil Maya lirih.


“ Bahagia lah karena Allah masih memberimu kesempatan untuk bertobat Nak. Ingat lah apa yang telah Kamu dan Yori lakukan. Kalian telah menyekutukan Allah karena meminta pada selain Nya. Yori salah, Kamu juga salah. Harusnya sebagai Istri Kamu mengingatkan Yori yang salah langkah itu dan bukan malah mendukungnya. Menyesal tak ada gunanya. Sekarang jalani hidupmu dan manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang Allah berikan ini untuk menebus semua dosamu. Manusia hanya bisa berusaha dan Allah yang menentukan. Berusaha lah terus agar Allah mengampunimu Maya...,” kata ustadz Hafiz bijak.


Mendengar ucapan ustadz Hafiz membuat Maya sadar jika selama ini ia telah tersesat terlalu jauh. Maya pun mengangguk lalu menghapus air matanya.


“ Baik lah Pak Ustadz, Saya akan terima takdir Saya ini dengan lapang dada. Terima kasih udah ngingetin Saya ya Pak Ustadz...,” kata Maya dengan tulus.


“ Sama-sama Nak...,” sahut ustadz Hafiz sambil tersenyum.


\=====


“ Kamu tau dari siapa kalo Yori meninggal Ci...?” tanya Izar.


“ Dari Mas Pandu...,” sahut Hanako.


“ Jadi Kamu udah nerima Mas Pandu nih Ci...,” goda Izar.


“ Gitu deh...,” sahut Hanako malu-malu hingga membuat Iyaz dan Izar tersenyum.


“ Yori meninggal untuk memenuhi janji yang dia buat dulu saat ia akan mengasuh tuyul itu Ci. Dan apa yang diliat Maya dalam mimpinya itu adalah kenyataan. ..,” kata Iyaz.


“ Iya Yaz. Kasian Maya...,” sahut Hanako.


“ Kok kasian sih Ci, emangnya Maya kenapa...?” tanya Izar.


“ Maya harus nerima kenyataan kalo dia mengidap kanker payudara stadium satu. Mungkin itu karena dia mengabaikan hak Anaknya yang seharusnya ia kasih ASI malah dikasih susu formula. Sedangkan dua tuyul itu malah bisa menikmati ASI yang harusnya jadi milik Anaknya. sungguh ironis...,” sahut Hanako.

__ADS_1


“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Tapi sebenernya yang diminum sama dua tuyul itu darahnya Maya kan. Ya walau hakekatnya ASI juga darah, tapi ini lebih ekstrim. Tuyul itu menyusu lebih banyak dan lebih lama. Kebayang kan gimana efeknya buat Maya...,” kata Izar.


“ Betul Zar, pasti dia kekurangan darah tiap harinya...,” sahut Iyaz sambil bergidik.


“ Tapi Aku salut sama Maya. Setelah menyaksikan kematian Anaknya di depan matanya, kehilangan Suaminya yang katanya juga meninggal dunia, sekarang harus ngidap penyakit kanker, tapi dia masih bisa bertahan...,” kata Hanako sambil menggelengkan kepalanya.


“ Semoga dia segera bertobat dan tobatnya diterima oleh Allah...,” kata Iyaz.


“ Aamiin...,” sahut Izar dan Hanako bersamaan.


Perbincangan ketiganya terputus saat ponsel Hanako berdering. Hanako nampak tersenyum saat melihat nama Pandu di layar ponselnya itu.


“ Assalamualaikum Mas...,” sapa Hanako.


“ Wa alaikumsalam Sha. Ada kabar buruk nih Sha...,” sahut Pandu.


“ Apa Mas...?” tanya Hanako penasaran.


“ Maya meninggal dunia siang ini di Rumah Sakit dan rencananya jenasahnya bakal dimakamin di samping makam Anaknya...,” sahut Pandu.


“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun...,” kata Hanako sambil mengerjapkan matanya.


“ Jadi satu keluarga itu meninggal Sha...,” kata Pandu.


“ Begitu lah resiko kerja sama dengan iblis. Ga ada untungnya, yang ada malah buntung. Tapi kenapa Maya bisa meninggal Mas...?” tanya Hanako.


“ Katanya sih Maya ditemukan meninggal di kamar mandi. Aku ga percaya tapi itu kenyataannya. Ga nyangka akhir hidup Maya setragis itu ya Sha...,” kata Pandu.


“ Iya Mas...,” sahut Hanako.


“ Tapi biar pun kisah hidup Maya berakhir tragis, Aku harap hubungan Kita bakal terus berlanjut ya Sha...,” kata Pandu penuh harap hingga membuat wajah Hanako bersemu merah.


“ Kenapa malah ke sana ngomongnya sih Mas...?” tanya Hanako lirih.


“ Biar Kamu inget aja kalo Aku masih nunggu jawaban Kamu Sha...,” sahut Pandu sambil tersenyum.

__ADS_1


Hanako nampak salah tingkah. Diam-diam ia meraba dadanya untuk menetralisir detak jantungnya yang berdetak lebih cepat akibat ucapan Pandu tadi. Sedangkan Iyaz dan Izar sudah menyingkir keluar untuk memberi ruang pada Hanako dan Pandu bicara dari hati ke hati.


Bersambung


__ADS_2