Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
244. Takut


__ADS_3

Rusdi terbangun saat sinar matahari menerpa wajah dan sekujur tubuhnya. Rusdi mengerjapkan matanya sesaat


untuk membiasakan diri dengan lingkungan di sekitarnya. Setelahnya Rusdi membuka mata lebar-lebar karena terkejut dengan kondisi tubuhnya.


Saat itu Rusdi tengah berada di bibir jurang. Jika ia salah bergerak saja maka tubuhnya akan meluncur jatuh ke dalam jurang dan menghantam batuan curam di bawah sana. Bisa dibayangkan bagaimana wujud Rusdi saat mencapai dasar jurang nanti setelah membentur batuan di bawah sana.


Dengan hati-hati Rusdi menggeser tubuhnya agar menjauh dari bibir jurang. Setelah susah payah bergeser Rusdi pun berusaha bangkit dan duduk. Kemudian Rusdi menatap ke sekelilingnya dengan tatapan asing. Ia tak mengenali tempat dimana ia berada. Saat ia mencoba mengingat mengapa ia bisa berada di tempat itu, Rusdi pun mengusap wajahnya dengan kasar.


“ Jadi Gue di sini dari semalam gara-gara dikejar hantu kepala. Tapi kenapa jumlahnya banyak benget ya. Seinget Gue belom sampe sepuluh orang yang Gue tumbalin, tapi kenapa yang ngejar Gue banyaknya sampe puluhan gitu. Hiiiyy...,” gumam Rusdi sambil bergisik.


“ Sreeekkk..., sreeekkk..., sreeekkk...,”


Rusdi menoleh kearah sumber suara karena khawatir itu adalah hantu kepala tanpa badan yang mengejarnya semalam. Rusdi tak melihat apa pun dan kembali fokus pada luka-luka di kaki, tangan dan sekujur tubuhnya. Rusdi pun meringis menahan sakit. Apalagi saat ia melihat luka di lutut dan tangannya yang mengeluarkan banyak darah.


Tiba-tiba ponsel di saku jaket Rusdi berdering dan mengejutkan Rusdi. Dengan tangan gemetar Rusdi mencoba meraih ponselnya itu. Rusdi menatap layar ponselnya dan tersenyum saat mendapati nama ‘Istriku’ di layar ponselnya itu.


“ Ya Ma...,” sapa Rusdi tanpa mengucap salam.


“ Dimana sih Pa, kok ga pulang-pulang. Katanya mau pulang...?” tanya istri Rusdi.


“ Iya, maaf Ma. Aku masih ada urusan di luar. Ntar kalo urusanku udah selesai, Aku pasti pulang kok...,” sahut Rusdi meyakinkan istrinya.


“ Yang bener ya Pa...,” kata istri Rusdi hingga membuat Rusdi mengerutkan keningnya karena tahu jika istrinya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


“ Kamu nangis ya Ma, kenapa...?” tanya Rusdi.


“ Ga nangis kok, cuma kesel aja. Kamu ga pulang, duit juga ga nyampe. Padahal Anak-anak kan perlu buat beli buku dan bayar ini itu. Maklum lah udah mau naik-naikan kelas pasti banyak pengeluaran Pa. Mama pusing, makanya nangis...,” sahut istri Rusdi.


Padahal saat itu di rumah Rusdi tengah dikepung oleh sejumlah polisi berpakaian seragam. Para polisi langsung mendatangai rumah Rusdi untuk meringkus Rusdi. Awalnya istri Rusdi tak terima jika suaminya dicap sebagai penyebab hilang dan terbunuhnya beberapa pemuda desa. Tapi saat pihak kepolisian memberi pejelasan jika istri Rusdi mau bekerja sama, maka ia masih bisa menghirup udara bebas dan membesarkan ketiga anaknya dengan baik.

__ADS_1


Mendengar ucapan sang polisi membuat istri Rusdi setuju. Bagaimana pun ia tak ingin ketiga anaknya besar tanpa pengawasannya. Dan ia juga tak mau terseret dalam masalah yang tak ia ketahui ujung pangkalnya itu. Lalu saat polisi memintanya menghubungi Rusdi, ia pun setuju.


“ Sekarang Kamu dimana Pa...?” tanya istri Rusdi.


“ Kamu ga perlu tau Ma. Yang penting nanti Aku pulang kok...,” sahut Rusdi.


“ Oh, mulai main api Kamu ya Pa. Jangan bilang Kamu ada di rumah simpananmu itu ya...!” kata istri Rusdi lantang.


Mendengar ucapan istri Rusdi membuat beberapa polisi yang ada bersamanya tersenyum karena tahu jika itu bukan akting melain ungkapan hati terdalam sang istri yang tengah cemburu pada suaminya.


“ Kamu jangan nuduh lagi Ma. Iya iya Aku kasih tau, tapi ga usah ribut lagi ya. Malu sama Anak-anak...,” kata Rusdi.


“ Iya...,” sahut istri Rusdi tak sabar.


“ Aku lagi di daerah Bogor Ma...,” sahut Rusdi.


Setelah mendengar jawaban Rusdi para polisi pun bergerak cepat mengejar Rusdi. Istri Rusdi hanya bisa memeluk ketiga buah hatinya dan berharap jika sang suami bisa kembali ke pelukannya dalam keadaan hidup.


\=====


Beberapa warga akhirnya melapor pada polisi tentang temuan mereka berupa motor yang ditinggalkan pemiliknya di jalan desa. Warga khawatir jika motor itu adalah milik penjahat yang sedang diburu polisi.


“ Ini memang milik penjahat yang sedang Kami cari Pak, makasih atas informasinya...,” kata seorang polisi sambil menstarter motor itu lalu mengendarainya dan membawanya pergi ke kantor polisi.


“ Sama-sama Pak...,” sahut warga bersamaan.


“ Untung Kita cepet lapor, kalo ga kan bisa-bisa Kita dituduh terlibat. Apalagi kalo di dalam bagasi motornya ada narkoba. Duh, ga kebayang deh berapa lama hukumannya nanti...,” kata salah seorang warga yang diangguki warga lainnya.


Sebagian anggota polisi masih berusaha mencari keberadaan Rusdi. Dari jejak kaki yang tertinggal terlihat mengarah ke punggung bukit. Tanpa membuang waktu mereka segera menuju ke sana.

__ADS_1


Saat tiba di sana polisi menemukan sosok tubuh Rusdi tergeletak pingsan. Rupanya akibat luka yang dideritanya membuat Rusdi kehabisan tenaga dan mengalami dehidrasi. Tubuhnya sangat lemah. Saat digotong oleh para polisi Rusdi siuman dan meracau tak jelas.


“ Kepala itu..., usir kepala itu. Jangan biarkan dia ikut..., jangan...,” kata Rusdi sambil menggelengkan kepalanya.


Rusdi terus meracau namun para polisi tak menghiraukan ucapannya itu. Polisi langsung membawa Rusdi ke Rumah Sakit untuk menjalani perawatan. Setelah ditangani dokter, kondisi Rusdi pun berangsur membaik. Rusdi ditempatkan di kamar khusus di bawah pengawasan pihak kepolisian.


Dalam tidurnya Rusdi melihat sosok Boril dan Jaya yang datang mendekat kearahnya. Rusdi nampak gelisah dan berusaha menjauh.


“ Kenapa Pak, kenapa Bapak tega melakukan ini sama Kami...?” tanya Jaya dan Boril bergantian.


“ Pergi !, jangan mendekat. Pergi...!” kata Rusdi lantang sambil mengibaskan telapak tangannya.


Jeritan Rusdi terdengar hingga ke telinga para polisi yang berjaga di depan pintu. Tapi seperti biasa, para polisi itu mengabaikan jeritan Rusdi sama seperti tahanan lain.


“ Kenapa tahanan itu jadi mirip orang gila ya setelah tertangkap. Padahal sebelumnya dia bisa kejam menyuruh anak buahnya membunuh...,” kata seorang polisi.


“ Biasa itu mah. Cari perhatian biar Kita iba...,” sahut rekan sesama polisi.


“ Tapi dari jeritannya kayanya dia ketakutan gitu...,” kata polisi lainnya.


“ Pasti ketakutan lah. Kalo dipenjara kan dia ga bisa bebas ngapa-ngapain lagi...,” sahut polisi lainnya.


“ Maksud Gue, jeritannya tuh kaya orang yang ngeliat hantu atau setan gitu...,” kata polisi itu menjelaskan.


“ Biarin aja. Udah wajar kalo dia diganggu sama hantu orang-orang yang dia bunuh itu. Kalo dia bisa bebas dari


hukuman dunia, masih ada hukuman Allah yang bakal langsung dia terima di dunia ini. Kita liat aja nanti..,” sahut salah seorang polisi sambil kembali menyandarkan tubuhnya.


Sementara di dalam kamar Rusdi masih menggeram dan merintih. Sakit dan takut menjadi satu membuatnya tak bisa istirahat. Apalagi kepala Boril dan Jaya terus menungguinya sambil menatap lekat kearahnya. Dua kepala itu berdiam di ujung kaki Rusdi dengan penampilan yang membuat siapa pun tak sanggup menatapnya. Dua kepala itu bergulir ke kanan dan ke kiri meninggalkan noda merah berbau busuk di atas sprei putih milik Rumah Sakit itu hingga membuat Rusdi makin tersiksa dalam rasa mual dan ketakutan.

__ADS_1


\=====


__ADS_2