
Pagi-pagi sekali Hanako terlihat sibuk di dapur. Ia pun sudah terlihat rapi. Mengenakan setelan out fit yang terlihat cocok di tubuhnya. Berupa celana kulot berbahan denim warna biru terang, dalaman dan hijab pashmina berwarna senada, ditambah cardigan warna hitam membuat penampilan Hanako sangat mencuri perhatian.
“ Mau kemana sih Kak pagi-pagi gini udah heboh aja...?” tanya Efliya yang baru keluar dari kamar.
“ Masa Bunda lupa sih. Aku kan udah bilang mau ikut Papa jenguk si kembar di pesantren...,” sahut Hanako dengan wajah memelas karena khawatir sang bunda melarangnya pergi.
“ Astaghfirullah, maaf Bunda lupa. Emangnya pergi jam berapa sih...?” tanya Efliya.
“ Sebentar lagi Bun. Papa sama Mama udah di jalan kok...,” sahut Hanako sambil memasukkan salad buah yang
dibuatnya ke dalam tas.
“ Kamu bawa apa untuk Iyaz sama Izar...?” tanya Efliya lagi.
“ Salad buah made in Cici dong Bun...,” sahut Hanako bangga sambil menepuk tasnya.
“ Emangnya mereka mau. Bukannya mereka ga suka buah ya...?” tanya Heru tiba-tiba.
“ Harus mau. Kalo ga mau ya Aku paksa supaya mau...,” sahut Hanako yakin.
“ Ck, Kamu nih udah besar tapi masih suka maksain kehendak. Ga baik lho Kak...,” kata Heru mengingatkan.
“ Gapapa Yah. Seru lho ngebayangin mereka makan sesuatu yang ga mereka suka...,” sahut Hanako sambil tertawa.
“ Dasar Anak jail. Suka banget bikin ribut...,” kata Heru sambil menggelengkan kepalanya.
“ Aku mau ikut Kakak ya Bun...,” kata Haikal tiba-tiba sambil mengucek matanya.
“ Eh, Haikal udah bangun. Mau ikut Kakak ya, gimana Kak...?” tanya Efliya sambil meraih Haikal ke dalam gendongannya.
“ Aku sih gapapa Bun. Tapi nanti Haikal bete ga di sana. Kan ga ada arena permainan buat Anak balita di sana...,” sahut Hanako.
“ Iya Bun, kasian Haikal. Kalo ga mepet sebenarnya Ayah juga mau sih jenguk si kembar, tapi Ayah juga lagi ada tugas makanya ga bisa ikut sekarang. Insya Allah pas jenguk lagi bulan depan Ayah ikut deh. Lagian kan Haikal juga baru aja sembuh...,” kata Heru mengingatkan Efliya.
“ Iya, Ayah benar. Gini aja, Haikal ikut Bunda belanja ke mini market depan aja ya. Nanti Kita main mobilan di sana...,” bujuk Efliya.
“ Ga mau, bosen. Aku maunya pelgi baleng Kakak...,” rengek Haikal sambil melirik kearah Hanako.
“ Tapi Kakak ga mau pelgi baleng Haikal...,” ledek Hanako sambil menirukan ucapan cadel adiknya.
“ Ihh, Kakak jahat. Bialin aja, kalo ga mau pelgi baleng Aku nanti di sana ketemu sama Nenek glandong sama hantu lho. Hiiyy...,” kata Haikal dengan mimik lucu.
“ Masa sih, atuuttt...,” sahut Hanako sambil tertawa.
“ Kakaaakkk...,” kata Haikal gemas lalu turun dari gendongan Efliya dan segera mengejar Hanako yang lari kearah ruang tamu.
__ADS_1
Heru dan Efliya nampak tertawa melihat tingkah Hanako dan adiknya. Tak lama kemudian bel berbunyi pertanda Faiq dan Shera datang menjemput.
“ Assalamualaikum...,” sapa Faiq dan Shera bersamaan.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Heru dan keluarganya.
“ Udah siap Ci...?” tanya Faiq.
“ Udah Pa...,” sahut Hanako cepat.
“ Papa, Kakak nakal. Ga usah diajak ya...,” kata Haikal sambil memegangi kaki Faiq.
“ Emangnya Kakak ngapain Haikal kok dibilang nakal...?” tanya Faiq sambil meraih tubuh Haikal kemudian menggendongnya.
“ Kakak ga mau ajak Aku liat Abang Iyaz sama Abang Izal...,” sahut Haikal sedih.
“ Emang Haikal mau ketemu sama Abang...?” tanya Shera sambil mencubit gemas pipi Haikal.
“ Iya...,” sahut Haikal dengan mimik lucu.
“ Tapi kata Bunda demamnya Haikal baru aja turun. Jadi Haikal masih harus istirahat di rumah supaya cepat sembuh. Insya Allah lain kali Kita pergi bareng-bareng ya...,” bujuk Shera yang diangguki Haikal.
“ Mama janji yaa...,” kata Haikal sambil mengacungkan jari kelingkingnya kearah Shera.
“ Iya Sayang...,” sahut Shera sambil mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking mungil Haikal hingga membuat semua orang tertawa.
\=====
Perjalanan berjalan lancar. Setibanya di pesantren terlihat Iyaz dan Izar berdiri menyambut kehadiran kedua orangtuanya di pintu gerbang. Saat melihat mobil Faiq ada di deretan mobil yang tengah mengantri memasuki pesantren, Iyaz dan Izar pun berlari mendekati mobil sambil tertawa-tawa. Hal itu membuat Faiq, Shera dan Hanako ikut tertawa.
Hanako membukakan pintu mobil untuk si kembar yang langsung masuk dan duduk di dalam mobil. Lalu ketiganya
pun saling memeluk melepas rindu.
“ Apa-apaan sih Kalian ini. Kalian kan udah besar, masa bertingkah kaya Anak kecil begitu...,” protes Shera yang duduk di samping suaminya.
“ Bunda marah-marah kaya gitu, jelous yaa...,” ledek Iyaz.
“ Jelous apa sih, ga kok...,” sangkal Shera sambil melengos.
“ Masa...?” goda Izar sambil mendekatkan wajahnya kearah Shera.
“ Iiihh, dasar Anak nakal. Kalian tuh cuma kangen sama Cici aja ya, kok Bunda dicuekin...,” kata Shera kesal sambil mencubit pipi Izar gemas.
Hanako, Iyaz dan Faiq pun tertawa melihat Izar yang kesakitan saat Shera mencubitnya.
__ADS_1
“ Kita parkir di sini aja ya Bun, ga usah masuk biar ga repot nanti...,” kata Faiq.
“ Iya Yah. Bunda atau Ayah yang mau ijin ke dalam...?” tanya Shera.
“ Aku aja. Kalian tunggu di sini sebentar...,” sahut Faiq lalu keluar dari mobil.
“ Emang Kita mau kemana Bun...?” tanya Izar sambil menatap punggung sang yang memasuki area pesantren.
“ Kita mau jalan-jalan. Karena weekend biasanya macet, makanya Ayah ijin dulu biar Kalian ga kena skors saat balik terlambat nanti...,” sahut Shera.
“ Yeeeyyy, akhirnya bisa jalan-jalan juga. Udah lama ya Kita ga jalan-jalan...,” kata Izar antusias.
“ Kenapa ga ngajak Haikal sekalian tadi Ci...?” tanya Iyaz.
“ Haikal baru aja turun demamnya, jadi masih harus istirahat biar ga tambah sakit. Kalo ikut Kita yang ada dia tambah ngedrop dong...,” sahut Hanako.
“ Semoga Haikal cepat sembuh ya Ci...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Aamiin. Makasih doanya ya jelek...,” sahut Hanako sambil mengusak rambut Iyaz dan Izar bergantian.
“ Ish, apaan sih Ci. Kita udah gede masih aja diginiin...,” protes Iyaz tak suka.
“ Tau nih Cici. Malu dong kalo keliatan teman-teman...,” kata Izar menambahkan.
“ Malu sama teman atau malu sama gebetan...?” goda Hanako dengan mimik lucu hingga membuat Iyaz dan Izar terdiam karena tak tahu harus menjawab apa.
Melihat kedua sepupunya terdiam membuat Hanako tertawa penuh kemenangan. Sedangkan Faiq dan Shera hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Iyaz, Izar dan Hanako.
“ Ok deh, Aku minta maaf ya. Gimana kalo Aku minta maafnya pake ini...?” tanya Hanako sambil menyerahkan dua buah kotak plastik kepada Iyaz dan Izar hingga keduanya kembali tersenyum.
“ Apaan nih...?” tanya Izar penasaran.
“ Buka aja...,” sahut Hanako santai.
“ Salad buah Ci...?!” jerit Iyaz dan Izar bersamaan hingga Hanako terpaksa menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.
“ Itu sehat lho, kenapa emangnya...?” tanya Hanako pura-pura bingung.
Iyaz dan Izar membuang pandangan kearah lain karena merasa kesal dengan ulah Hanako yang memberi salad buah untuk mereka. Padahal Hanako tahu jika si kembar tak terlalu suka buah-buahan. Melihat reaksi kedua sepupunya membuat Hanako kecewa.
“ Mama...,” rengek Hanako seolah meminta dukungan Shera.
“ Ayo lah Anak-anak. Buah itu baik buat tubuh. Bunda yakin Kalian juga pasti ga makan buah yang disiapkan pihak pesantren kan. Jadi mumpung Cici bawa salad buah itu, Bunda mau Kalian makan itu nanti ya. Harus habis...,” kata Shera tegas.
“ Iya Bunda...,” sahut Iyaz dan Izar sambil menatap kesal kearah Hanako.
__ADS_1
Hanako nampak tersenyum puas. Sedangkan Faiq dan Shera ikut tersenyum saat menyaksikan wajah tertekan si kembar akibat ulah jahil Hanako.
\=====