
Suasana kamar rawat inap Mikaila pun menjadi hening. Hanya suara dzikir yang menggema di dalam ruangan. Setelah berwudhu, Iffa dan Inna ikut berdzikir bersama Izar dan Faiq. Namun keduanya memilih duduk agak jauh dari Mikaila karena takut.
Setelah menunggu beberapa saat hantu Burna pun hadir di tengah-tengah mereka. Ia melayang mendekati Faiq dengan tatapan sedih. Sedangkan di belakang hantu Burna terlihat makhluk hitam yang tadi mengelilingi Mikaila nampak berdiri berbaris seolah tengah mengawasi Burna.
Faiq tersenyum menyambut hantu Burna lalu mengulurkan tangannya. Sedangkan Izar nampak sibuk berdzikir. Saat menyentuh hantu Burna kisah masa lalu Burna pun terlihat jelas.
Burna adalah gadis cilik berusia enam tahun, sama persis dengan usia Mikaila saat pertama kali bertemu dengannya. Burna merupakan gadis yang cantik karena memiliki darah keturunan campuran Indonesia dan Belanda. Ibunya bernama Tika berasal dari Indonesia sedangkan ayahnya bernama Scholer berasal dari Belanda. Karena itu tak heran jika Burna memiliki bola mata berwarna biru, rambut pirang sebahu, dan kulit pucat khas orang Belanda.
Keluarga Burna tinggal di sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari pabrik tempat sang ayah bekerja. Pekerjaan ayah Burna sebagai pengawas pabrik memang sangat menyita waktu hingga Burna sangat jarang berinteraksi dengan sang ayah. Meski pun begitu Burna sangat menyayangi ayahnya.
Suatu hari terjadi pertengkaran hebat antara kedua orangtua Burna. Rupanya sang ayah berselingkuh dan menghamili pacarnya itu. Ibu Burna pun murka dan pergi meninggalkan rumah dengan membawa Burna. Ibu Burna membawa sang anak mengunjungi kedua orangtuanya yang notabene adalah kakek dan nenek Burna.
Kepergian Tika dengan membawa anak semata wayang mereka membuat Scholer merasa kehilangan. Apalagi kemudian Scholer tahu jika pacarnya bukan lah wanita baik-baik. Pacar Scholer ternyata hamil karena berhubungan dengan banyak pria yang juga rekan sejawat Scholer. Oleh karena itu Scholer memilih mundur dan tak mau bertanggung jawab.
Scholer menyusul Tika dan Burna di rumah sang mertua. Namun saat tiba di sana ternyata Scholer terlambat. Tika
telah menikah dengan pria lain. Bahkan Tika tengah mengandung anak suami barunya itu. Scholer menyesali semuanya namun sia-sia. Ia hanya bisa berharap Tika mengijinkannya membawa Burna pulang ke rumahnya dan membesarkan Burna dengan tangannya sendiri.
Tika pun mengijinkan Scholer membawa Burna asal kelak ia diijinkan bertemu dengan Burna. Tika memutuskan menyerahkan Burna pada Scholer karena saat itu Tika sedang dalam kondisi yang tak memungkinkan untuk mengasuh Burna. Rupanya suami Tika tak nyaman melihat Burna yang 'bule' itu ada di dalam rumah mereka karena selalu mengingatkannya pada sosok Scholer ayah Burna.
“ Anak itu membuatku ga nyaman Tika. Fisiknya itu yang bikin orang tau jika Aku bukan Suami pertamamu. Aku ga
suka orang membandingkan Aku dengan mantan Suamimu yang bule itu. Sekarang Kau Istriku, maka lupakan semua hal yang mengingatkanmu dengan masa lalumu itu...,” kata suami Tika dua hari yang lalu.
“ Apa itu artinya Aku harus membuang Anakku Mas. Kau bilang akan menerima Aku dan anakku tapi belum setahun menikah Kamu udah mengingkarinya Mas...,” sahut Tika kecewa.
“ Aku pikir bisa menerima dia untuk tinggal bersama Kita, tapi ternyata sulit menjalaninya Tika. Lagipula Aku ga
__ADS_1
sanggup berbagi kasih sayang dengan anak yang bukan anak kandungku. Maafkan Aku Tika, Aku hanya ingin jujur kalo Aku ga suka sama dia dan tolong jauhkan dia dari hidupku. Aku khawatir akan memukulnya jika Aku khilaf nanti...,” kata suami Tika sambil berlalu.
Tika memeluk Burna sekali lagi sebelum melepasnya pergi bersama mantan suaminya. Burna kecil yang mengerti
jika kehadirannya tak diinginkan oleh ayah tirinya itu pun hanya bisa pasrah. Ia melangkah meninggalkan sang ibu dan tak pernah menoleh lagi.
Hari-hari Burna pun berjalan sebagaimana mestinya. Burna tinggal di rumah dekat pabrik bersama ayah dan
pengasuhnya yang bernama Jumirah. Burna mencoba menikmati hidupnya dengan ceria meski pun tanpa kasih sayang sang ibu.
Hingga suatu hari Scholer membawa ibu dan saudara baru untuk Burna. Rupanya Scholer menikah lagi dengan seorang janda dua anak dan mengajaknya tinggal di rumah itu. Bisa ditebak bagaimana sikap ibu tiri Burna. Ia hanya akan menyayangi Burna jika Scholer di rumah dan selebihnya Burna selalu disiksa dan dijadikan pelayan. Bahkan Jumirah pun dipecat tanpa pesangon yang layak.
Berkali-kali Burna mengadukan perlakuan ibu dan saudara tirinya pada sang ayah, tapi Scholer tak percaya. Bahkan Scholer ikut menghukum Burna seperti saat itu. Dengan kejam ia mengunci Burna di dalam rumah sedangkan ia dan keluarga barunya pergi berwisata ke suatu tempat. Burna hanya bisa menatap kepergian sang ayah dengan tatapan marah dan kecewa.
Selama dua hari Burna dibiarkan terkunci tanpa makanan dan minuman hingga Burna nyaris mati. Saat Scholer dan keluarganya pulang Burna sengaja sembunyi di kamarnya. Bukannya mencari tahu kondisi Burna, Scholer justru masuk ke kamar untuk istirahat karena saat itu malam telah larut.
Burna keluar dari kamarnya lalu meraih jirigen berisi minyak tanah dari dapur dan menyiramkannya di depan pintu kamar sang ayah juga saudara tirinya. Burna juga menyiramkan minyak tanah itu di jendela bagian luar. Setelahnya Burna membakar gulungan kertas dan menyulutkannya di depan pintu dan jendela yang telah disirami dengan minyak tanah. Dalam sekejap api membesar dan membuat panik. Burna keluar dari dalam rumah sambil tertawa puas.
Dari halaman rumahnya Burna bisa menyaksikan Scholer dan istrinya berlarian di dalam kamar dan berusaha menyelamatkan diri. Burna juga melihat dua saudara tirinya yang menangis karena ketakutan melihat api. Scholer dan istrinya berusaha membuka pintu namun gagal.
Melihat Burna berdiri mengamati di luar rumah Scholer pun sadar jika kebakaran itu adalah ulah Burna. Berkali-kali
Scholer memanggil Burna melalui jendela yang terbakar sambil memohon agar anaknya itu mau menyelamatkannya. Tapi Burna hanya menggeleng dan itu membuat Scholer marah.
“ Apa yang Kau lakukan Jesline, Kau mau membunuh Papa hah...?!” kata Scholer memanggil nama asli Burna dengan lantang dari balik jendela.
“ Kau bilang apa Papa...?” tanya Burna pura-pura tak mendengar.
__ADS_1
“ Tolong selamatkan Kami, Papa janji akan menuruti semua kemauanmu nanti...!” kata Scholer.
“ Aku ga percaya. Kau juga bilang begitu saat membawaku pergi dari rumah Ibuku, tapi buktinya Kau menyia-nyiakan Aku Papa. Kau juga tak percaya padaku...!” sahut Burna marah.
“ Maafkan Aku Jesline. Aku akan perbaiki semuanya...,” janji Scholer namun Burna tetap menggeleng.
Jerit ketakutan disertai tangis menggema di malam yang sunyi itu namun Burna nampak tenang menikmati semuanya. Tiba-tiba Burna terkejut saat melihat sosok Jumirah ada di dalam kobaran api. Ia memanggil nama sang pengasuh berulang-ulang dan menyuruhnya keluar naun Jumirah tak mendengarnya.
Rupanya malam itu Jumirah sengaja datang untuk melihat kondisi Burna. Jumirah merasa jika sesuatu yang buruk
akan terjadi pada Burna. Saat melihat rumah yang terbakar Jumirah panik dan langsung menerobos masuk untuk menyelamatkan Burna.
Melihat pengasuhnya tenggelam dalam kobaran api membuat Burna panik dan langsung menerobos masuk ke dalam rumah yang telah terbakar itu. Jumirah nampak tersenyum melihat Burna baik-baik saja.
“ Fire itu api, house itu rumah, run itu lari...,” kata Jumirah lirih sambil memeluk Burna seolah sedang mengajarinya kosa kata Bahasa Inggris seperti yang sering ia lakukan saat mengasuh Burna.
“ Burn itu membakar dan itu jadi namaku sekarang karena Aku yang membakar rumah ini Bi...,” kata Burna sambil menangis.
“ Run..., lari...,” kata Jumirah sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Burna menangis melihat pengasuhnya meninggal dunia di depan matanya. Saat menoleh ke kanan dan ke kiri Burna mendapati api telah mengepung tempat itu. Burna pun tak bisa menyelamatkan diri hingga ia pun mati terbakar dalam posisi tengah memeluk Jumirah.
Warga yang berdatangan tak mampu berbuat apa-apa karena api telah melahap bangunan rumah beserta isinya.
Diantara para warga yang berkerumun terlihat arwah Burna berdiri sambil menatap bangunan yang terbakar itu dengan tatapan kosong.
Bersambung
__ADS_1