Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
204. Menuntut Balas


__ADS_3

Iyaz dan Izar melompat dari arah berlawanan lalu mengepung Jamin sedemikian rupa hingga Jamin tak berkutik. Lalu dengan sekali hentakan Iyaz berhasil merebut golok dari tangan Jamin dan melemparnya kearah pohon besar hingga menancap di batang pohon itu.


“ Sia*an, kembalikan golokku...!” kata Jamin marah sambil berusaha mengejar goloknya.


Namun langkah Jamin terhenti saat Izar menjegal langkahnya hingga pria itu tersungkur jatuh ke tanah. Setelahnya Izar meringkus pria itu dan memaksanya berdiri.


Melihat Jamin berhasil dikalahkan oleh Iyaz dan Izar membuat warga yang diam-diam bersembunyi menyaksikan pertempuran itu pun keluar dari persembunyian mereka lalu melangkah mendekati Iyaz, Izar dan Jamin.


Faiq pun maju untuk memberi penjelasan kepada warga yang ia kira akan mengepung anak kembarnya itu.


“ Sabar Bapak-bapak, jangan salah paham. Ini ga seperti yang Kalian kira. Anak-anak Saya hanya mengamankan orang ini aja kok...!” kata Faiq lantang sambil merentangkan tangannya menghalangi warga yang akan mendekati Iyaz dan Izar.


Sementara itu Jamin terlihat tersenyum senang karena mengira warga datang untuk menolongnya. Namun Jamin harus menelan kecewa saat mendengar ucapan warga.


“ Kami mengerti Pak. Kami udah liat gimana Anak-anak Bapak mengalahkan Pak jamin tadi. Justru Kami mau berterima kasih karena Kalian udah berhasil mengalahkan dia...,” sahut salah satu warga sambil menatap kesal kearah Jamin.


“ Betul Pak. Selama ini Kami ingin menangkap Pak Jamin tapi Kami takut karena dia punya ilmu hitam...,” kata warga lainnya.


“ Iya Pak. Sudah lama Kami curiga jika kematian keluarga Kami ada sangkut pautnya sama Pak Jamin karena dia selalu nyuruh Kami datang ke sini tiap kali keluarga Kami sakit. Anehnya setelah dibawa ke sini sakitnya makin parah dan meninggal. Kami punya bukti tapi Kami ga sanggup melawan karena takut dia akan menyakiti Kami atau keluarga Kami yang lainnya...,” kata salah satu warga yang disambut sorak sorai warga lainnya.


Mendengar ucapan warga membuat Jamin jengkel lalu mulai memaki mereka. Dan itu membuat warga bertambah kesal lalu menghadiahi Jamin dengan bogem mentah. Jamin menjerit saat merasakan tubuhnya oleng ke sana dan kemari disertai rasa sakit akibat pukulan warga yang mendarat di wajah dan tubuhnya.


Sedangkan Iyaz dan Izar mundur teratur untuk memberi kesempatan pada warga melampiaskan rasa kesalnya itu.


Dari jarak yang tak terlalu jauh keduanya bisa menyaksikan Jamin menjadi bulan-bulanan warga.


“ Ga nyangka ya Zar kalo warga sebenernya udah tau siapa dalang dari kematian tak wajar yang terjadi di kampung ini...,” kata Iyaz.


“ Iya Yaz. Liat kan gimana marahnya mereka. Aku sebenernya belum puas menghajarnya tapi apa boleh buat. Aku harus mau berbagi sama mereka kan...,” kata Izar.


“ Kamu tuh ya...,” sahut Iyaz sambil menepuk punggung kembarannya itu dengan gemas hingga membuat Izar meringis.


Tiba-tiba suara mendengung terdengar memenuhi tempat itu hingga membuat warga bingung dan menghentikan aksi mereka yang tengah memukuli Jamin. Mereka menadahkan kepala untuk melihat apa yang menimbulkan


suara berdengung tadi. Warga tak melihat apa pun di langit sana, namun tidak dengan Faiq dan keluarganya.


Mereka melihat arwah korban kebengisan Jamin nampak melesat ke berbagai arah di angkasa dengan cepat hingga menimbulkan suara mendengung seperti suara ribuan lebah. Kelebatan warna hitam itu memenuhi langit malam hingga keadaan makin mencekam dan membuat bulu kuduk meremang.

__ADS_1


“ Suara apaan itu ya...?” tanya warga sambil menatap ke langit.


“ Iya, ga ada apa-apa di langit tapi suaranya deket banget kayanya...,” sahut warga lainnya.


Tiba-tiba suara mendengung itu berhenti. Mendadak Jamin yang terkapar di tanah dengan tubuh babak belur itu


nampak menggeliat kesakitan sambil menjerit sekencang-kencangnya hingga mengejutkan semua orang.


Warga pun mengalihkan tatapan mereka dari langit kearah Jamin. Mereka terkejut melihat sesuatu terjadi di luar nalar manusia. Tubuh Jamin nampak tercabik-cabik, seperti dicakar oleh sesuatu hingga menimbulkan luka menganga dan berdarah.


Sedangkan Faiq dan keluarganya melihat jelas apa yang sedang dialami oleh Jamin. Rupanya para arwah yang masih ada di sana nampak marah dan kini tengah menghukum Jamin. Mereka mencabik-cabik tubuh Jamin dengan kuku jari tangan dan gigi mereka hingga melukai wajah dan sekujur tubuh Jamin. Bersamaan dengan itu pasukan kera yang tak kasat mata pun nampak hadir di sana dan ikut melukai Jamin dengan gigi dan kuku mereka.


Darah pun muncrat kemana-mana. Warga yang menyaksikan tubuh Jamin terluka tanpa sebab pun mundur karena tak ingin mengalami hal serupa.


Jamin menggeliat kesakitan tiap kali kulitnya terkoyak dan berdarah. Luka yang dialami Jamin bukan hanya di permukaan kulit saja tapi juga mengoyak sebagian daging di tubuh dan wajah Jamin. Bisa dibayangkan bagaimana rasa sakit yang dialami Jamin.


“ Apa yang terjadi, kenapa Pak Jamin kaya gitu...?” tanya warga bingung.


“ Apa Kalian percaya kalo Saya bilang itu ulah kera siluman...?” tanya Faiq hati-hati.


“ Saya percaya...!” sahut beberapa warga lantang hingga mengejutkan warga lainnya.


“ Jadi selama ini Pak Jamin telah menjadikan keluarga Kalian tumbal dari pesugihan yang dianutnya. Karena ga bisa memberi tumbal sesuai waktu yang disepakati, maka begini lah akibatnya...,” kata Fatur menjelaskan.


“ Ya Allah..., Astaghfirullah aladziim...,” kata warga bersamaan.


“ Jadi bener dugaan Kami selama ini...,” kata warga sambil menggelengkan kepalanya.


“ Jangan-jangan ledakan tadi siang hanya siasat untuk mengalihkan perhatian karena sebenernya dia berniat


menumbalkan warga...,” kata  salah satu warga.


“ Kayanya sih gitu. Ga nyangka ya Pak jamin sejahat itu...,” sahut warga.


Kemudian semua beralih menatap tubuh Jamin yang terlihat mengenaskan. Dalam sekejap tubuh Jamin dipenuhi luka menganga seperti bekas cakaran dan gigitan binatang buas. Jamin pun sekarat namun warga seolah tak peduli. Tak ada seorang pun yang mendekat untuk sekedar memberinya bentuan.


Melihat hal itu membuat Faiq dan keluarganya iba. Sisi kemanusiaan dalam diri mereka pun timbul. Lalu Faiq dan

__ADS_1


keluarganya mendekat kearah Jamin yang nampak kepayahan itu.


“ Maaf, Kami ga bisa membantumu. Ini pilihan hidup yang harus Kau jalani. Terima lah agar sakit ini tak terlalu menyiksamu...,” bisik Faiq di telinga Jamin.


Jamin nampak menganggukkan kepalanya lalu memejamkan matanya. Perlahan arwah Jamin pun pergi meninggalkan raganya. Warga yang sadar jika Jamin meninggal pun melepas kepergian Jamin dengan sikap yang berbeda.


Sedangkan Faiq dan keluarganya menyaksikan bagaimana ruh Jamin diseret paksa oleh pasukan kera hitam yang


sejak tadi menunggunya. Jeritan memilukan terdengar saat para kera siluman itu terus melukai tubuh Jamin tanpa ampun. Hanako pun terpaksa memejamkan matanya karena tak sanggup melihat pemandangan mengerikan itu.


“ Bagaimana dengan jasad Pak Jamin Pak...?” tanya salah seorang warga tiba-tiba.


“ Urus dan makamkan saja seperti seharusnya Pak...,” sahut Faiq.


“ Walau pun Kita semua tau kalo Pak Jamin udah melakukan pesugihan...?” tanya warga.


“ Biar lah itu jadi urusan dia dengan Allah. Kewajiban Kita sebagai muslim adalah mengurus dan memakamkan jenasahnya sesuai aturan agama. Jangan sampai Allah murka karena Kita lalai mengurus jenasahnya...,” sahut Faiq.


“ Baik lah. Terima kasih karena Bapak dan keluarga telah membantu Kami bebas dari kejahatan Pak Jamin...,” kata warga lalu mereka menjabat tangan Faiq, Fatur, Iyaz dan Izar bergantian.


“ Sama-sama Pak...,” sahut Faiq dan Fatur bersamaan.


“ Sekarang Kami harus pulang dan mengurus jasad Pak Jamin sesuai yang Bapak katakan tadi...,” kata salah seorang warga yang diangguki Faiq dan keluarganya.


Kemudian warga pun menggotong jasad Jamin dan membawanya pulang untuk diurus sebagaimana mestinya. Sedangkan Faiq dan keluarganya masih bertahan di sana beberapa saat karena mereka berniat mengantar para arwah korban kebengisan Jamin ke tempat seharusnya. Lalu mereka mulai membaca ayat Al Qur’an dan berdzikir.


“ Terima kasih...,” kata para arwah sambil tersenyum lalu melesat pergi menembus pekatnya langit malam.


“ Sama-sama...,” sahut Faiq dan keluarganya sambil tersenyum.


“ Alhamdulillah...,” kata Iyaz, Izar dan Hanako bersamaan saat melihat kelebatan bayangan para arwah itu pergi satu per satu hingga tak ada yang tersisa.


“ Udah hampir Subuh nih, balik yuk...,” ajak Hanako sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


“ Ok...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan sambil mengikuti Hanako.


Faiq dan Fatur pun tersenyum melihat tingkah ketiganya lalu ikut masuk ke dalam mobil. Sesaat kemudian mobil pun melesat cepat meninggalkan tempat itu diiringi kumandan adzan Subuh di kejauhan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2