
Sementara itu di Jakarta.
Saat Iyaz terluka terkena serangan kek Bokor saat itu lah jantung Faiq berdetak lebih cepat. Faiq tahu jika telah terjadi sesustu yang buruk. Pikirannya langsung melayang pada kedua buah hatinya yang saat ini berada dalam asuhan ustadz Hamzah.
Faiq ingat jika ustadz Hamzah telah menghubunginya dan mengatakan akan mengajak Iyaz dan Izar berkunjung ke kampung sebelah yang sedang diserang hama ulat bulu hari ini. Ustadz Hamzah meminta Faiq ikut serta jika Faiq punya waktu luang. Karena Faiq terbentur pekerjaan yang harus ia selesaikan, maka Faiq berjanji akan menyusul saat pekerjaannya selesai. Dan sekarang Faiq merasa menyesal karena mengesampingkan permintaan ustadz Hamzah.
Tiba-tiba ponsel Faiq berdering . Saat Faiq meraih ponselnya ia melihat nama My lovely di layar ponselnya. Faiq tersenyum karena tahu Shera lah yang menghubunginya.
“ Assalamualaikum, kenapa Sayang...,” sapa Faiq.
“ Wa alaikumsalam..., Ayah...,” sahut Shera dengan suara tercekat.
Mendengar suara wanita yang sangat ia cintai berbeda dari biasanya membuat Faiq mengerutkan keningnya. Faiq pun menegakkan tubuhnya agar bisa lebih fokus mendengar suara istri cantiknya itu.
“ Sayang, ada apa...?” tanya Faiq hati-hati.
“ Aku, Aku keinget Anak-anak Yah. Aku mimpi buruk. Aku...,” ucapan Shera terputus karena ia tak sanggup menyampaikan mimpi yang ia alami saat tidur siang tadi.
Faiq terkejut mendengar jawaban Shera. Keyakinannya makin kuat saat mendengar kegelisahan istrinya.
“ Bunda tenang aja ya. Sekarang Ayah mau ke sana. Karena langsung dari kantor jadi Ayah ga bisa jemput Bunda. Gapapa kan...?” tanya Faiq.
“ Iya, Ayah duluan aja. Nanti Aku nyusul...,” sahut Shera cepat.
“ Minta tolong anterin sama Heru aja Bun...,” kata Faiq sambil merapikan meja kerjanya.
“ Ga usah Yah, Aku pake taxi online aja. Ga enak ngerepotin Heru terus...,” sahut Shera.
“ Ok. Kita ketemu di sana ya, hati-hati Bun. I love You...,” kata Faiq.
“ I love You too Ayah...,” sahut Shera di akhir kalimatnya.
Faiq bergegas meraih tas ransel yang selalu ia bawa dari atas meja kerjanya lalu keluar dari ruang kerjanya. Dayang yang melayang mengikuti Faiq pun tak berkata apa-apa karena tahu apa yang akan Faiq lakukan.
“ Mau kemana Lo Iq...?” tanya Hendro yang baru saja keluar dari toilet.
“ Gue ada urusan sebentar. Tolong Lo lanjutin ngedit berita yang tadi ya Hen. Ada di meja Gue...,” sahut Faiq sambil berlalu.
“ Ok, hati-hati Iq. Ga usah ngebut...!” kata Hendro lantang.
Faiq hanya melambaikan tangannya sambil berlari kecil menuju tempat parkir.
__ADS_1
“ Kita ga bakal pake motor atau mobil Iq. Kelamaan...,” kata Dayang saat mereka tiba di tempat parkir.
“ Kamu betul. Jadi Kita terpaksa lakuin ini sekarang...,” sahut Faiq sambil mengamati sekelilingnya.
Setelah memastikan tak ada orang lain yang memperhatikan gerak-gerik mereka, Faiq pun memejamkan matanya. Dayang tersenyum lalu memegang kedua pundak Faiq dari belakang. Dalam sekejap tubuh Faiq lenyap dan
menyebrang langsung ke tempat yang ingin ia datangi yaitu pesantren tempat kedua anaknya menimba ilmu.
“ Kita udah sampe...,” bisik Dayang.
Faiq membuka matanya dan takjub melihat dirinya sudah ada di depan pesantren. Namun pandangan Faiq terpaku pada sosok hantu Amsir yang juga tengah berdiri menatapnya di gerbang pesantren.
“ Amsir...,” sapa Faiq dengan suara tercekat karena tak enak hati dengan Amsir yang menyaksikan dirinya bersama Dayang.
Faiq ingat jika ia pernah menolak saat Amsir berkeras ingin mendampinginya dulu. Tapi sekarang ia justru datang bersama pendamping ghaibnya yaitu Dayang. Faiq mendekat kearah Amsir yang terlihat menatap kearah lain dengan tatapan kecewa.
“ Amsir, maaf...,” kata Faiq.
“ Jangan bahas itu sekarang Iq. Ada yang lebih penting daripada urusan Kita. Iyaz terluka karena serangan salah sasaran dukun yang menguasai kampung sebelah. Aku ga bisa membantu karena Aku ga bisa pergi jauh...,” kata hantu Amsir.
“ Ya Allah...,” sahut Faiq sambil mengusap wajahnya dengan gusar.
“ Baik, makasih Sir...,” sahut Faiq lalu kembali mendekati Dayang.
Kemudian Dayang kembali membawa Faiq melintas waktu dan tiba di lokasi dimana tubuh Iyaz terbaring lemah. Faiq langsung menghambur mendekati kedua anaknya. Dengan sigap ia meraih tubuh Iyaz yang terbaring di karpet
musholla dengan mata terpejam itu ke dalam pelukannya. Sedangkan Wahyu yang berada di samping Iyaz dan Izar pun nampak terkejut karena tak mengetahui kedatangan Faiq yang tiba-tiba itu.
“ Ayah...,” panggil Izar antusias.
“ Iya Nak. Ayah datang untuk Kalian...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah..., tapi Iyaz luka kena pukulan Kakek berbaju hitam itu Yah...,” lapor Izar sambil menunjuk kearah luar musholla.
“ Ayah tau, sekarang tolong bantu Ayah berdzikir ya...,” sahut Faiq cepat yang diangguki Izar.
Faiq menatap wajah Iyaz yang terpejam lalu mengecup keningnya dengan sayang. Setelahnya Faiq menempelkan telapak tangannya ke dada Iyaz sambil membaca ayat Al Qur’an. Bacaan Faiq menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya termasuk Iyaz, Izar dan Wahyu. Bahkan Wahyu ternganga saking takjubnya mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an yang dibaca Faiq.
Sesaat kemudian kedua mata Iyaz terbuka. Iyaz tersenyum saat melihat ayahnya ada di sana bersamanya.
“ Ayah...,” panggil Iyaz lirih.
__ADS_1
“ Iya Nak. Ayah di sini...,” sahut Faiq tersenyum sambil mengusap pipi Iyaz dengan lembut.
Tiba-tiba Iyaz merasa mual dan sesak di dadanya. Ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dan Iyaz pun berusaha bangkit. Faiq membantu Iyaz dan langsung membalikkan posisi tubuh Iyaz hingga tertelungkup. Lalu Faiq mengusap punggung Iyaz beberapa kali sambil berdzikir.
“ Keluarkan sekarang...!” kata Faiq sambil menepuk punggung Iyaz dengan satu tepukan yang keras.
Iyaz pun memuntahkan darah berwarna kehitaman dan berbau busuk. Urat-urat di wajah Iyaz pun nampak menyembul keluar seolah menandakan jika ia merasa sangat kesakitan saat harus memuntahkan darah hitam itu.
Izar yang berada di samping Faiq nampak menitikkan air mata karena tak kuasa melihat penderitaan saudara kembarnya itu. Wahyu pun merangkul pundak Izar untuk menguatkannya.
“ Insya Allah semua akan baik-baik aja. Iyaz kan kuat, dia pasti bisa melewatinya...,” bisik Wahyu.
“ Iya Kak. Iyaz itu hebat, dia pasti bisa ngelewatin semuanya...,” sahut Izar sambil mengusap matanya yang basah.
Setelah beberapa kali memuntahkan darah kehitaman berbau busuk itu, Iyaz nampak semakin lemah. Kemudian Faiq menyodorkan air mineral yang selalu ia bawa kearah Iyaz dan membantu meminumkannya. Iyaz meneguk air itu dengan cepat karena merasa hawa panas yang menyerang dadanya memudar saat air itu melewati tenggorokannya.
Setelah menghabiskan air ruqyah yang diberikan ayahnya, Iyaz pun tersenyum. Kemudian Iyaz membenamkan dirinya ke dalam pelukan sang ayah. Faiq tersenyum dan menyambut pelukan Iyaz sambil menciumi kepalanya berulang kali.
“ Alhamdulillah Kamu selamat Nak. Maaf Ayah telat...,” kata Faiq lirih.
“ Alhamdulillah, gapapa Yah...,” sahut Iyaz sambil tersenyum dalam pelukan ayahnya. Tiba-tiba Iyaz teringat pada kembarannya. Ia mencari dengan matanya dan melihat Izar sedang menatap kearahnya dengan wajah bersimbah
air mata.
“ Izar sini...,” panggil Iyaz sambil melambaikan tangannya hingga membuat Faiq dan Wahyu tersenyum.
Izar langsung mendekat lalu memeluk ayah dan kembarannya itu dengan erat.
“ Iyaz jangan kaya gitu lagi ya. Aku takut...,” kata Izar dengan suara bergetar.
“ Iya maaf. Izar nangis ya...,” ledek Iyaz.
“ Siapa yang nangis, ini kan air wudhu...,” sangkal Izar malu-malu.
“ Oh gitu. Aku kok baru tau kalo air wudhu cuma ngebasahin mata sama hidung aja...,” goda Iyaz.
“ Apaan sih Kamu, ga lucu tau...,” sahut Izar kesal sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukan ayahnya.
Iyaz, Faiq dan Wahyu pun tertawa melihat Izar yang salah tingkah karena ketahuan menangis. Sedangkan Izar tersenyum diam-diam karena bahagia melihat Iyaz berhasil selamat dari maut.
\=====
__ADS_1