
Di sebuah rumah terlihat dokter Anisa tengah memeluk gaun pengantin miliknya sambil tertawa. Ia baru saja mendapat kabar tentang kematian Sydra akibat kecelakaan. Anisa merasa senang karena dalang dari kekisruhan yang terjadi dalam hidupnya kini telah meninggal dunia.
Dokter Anisa terus menari bersama gaun putih yang harusnya ia kenakan saat menikahi Harlan itu sambil tertawa puas. Ia berputar-putar seolah sedang menari bersama pujaan hatinya.
“ Apa kamu terlibat dengan kematian Sydra Nak...?!” tanya ayah dokter Anisa lantang.
Bukan tanpa alasan ayah dokter Anisa bertanya seperti itu. Ia ingat bagaimana sepak terjang sang anak yang melakukan hal di luar nalar untuk memenuhi ambisinya membalaskan dendam Harlan.
Mendengar pertanyaan sang ayah membuat dokter Anisa menghentikan tariannya lalu menatap sang ayah dengan
tatapan sendu.
“ Kenapa Ayah ngomong kaya gitu...?” tanya dokter Anisa.
“ Jawab saja, iya atau tidak...,” kata sang ayah gusar.
“ Tidak !. Aku memang membencinya dan ingin dia mati. Tapi sayangnya Aku ga punya keberanian untuk membunuhnya Ayah...,” sahut dokter Anisa hingga membuat sang ayah menghela nafas lega.
“ Alhamdulillah, syukur lah. Ayah senang karena Allah masih melindungimu Nak...,” kata ayah dokter Anisa lalu meraih tubuh anak gadisnya itu ke dalam pelukannya.
Keduanya saling memeluk dan tangis dokter Anisa pun pecah dalam pelukan sang ayah. Ia terisak menceritakan rasa sakitnya dan sang ayah hanya mampu mengusap punggung sang anak dengan mata berkaca-kaca untuk menenangkannya.
“ Bukan kah dia layak mati Ayah. Apa Aku ga boleh bahagia melihat pengacau hidupku itu mati...,” kata dokter Anisa di sela isak tangisnya.
“ Sudah Nak, semua sudah usai. Lupakan semua dan buka lah lembaran baru. Jangan seperti ini terus, Ayah ga sanggup melihatmu terus berduka menangisi Harlan. Sudah ya Nak, tolong lah. Kasihani lah orangtuamu ini Sayang...,” pinta ayah dokter Anisa dengan suara bergetar hingga membuat dokter Anisa tersentak kaget karena sang ayah tak pernah seperti ini sebelumnya.
“ Ayah...,” panggil dokter Anisa lirih.
“ Bisa kan Nak...?” tanya sang ayah yang diangguki Anisa.
“ Iya Ayah. Aku akan berhenti menangisi Harlan dan insya Allah Aku akan melupakan semuanya...,” sahut dokter Anisa mantap.
“ Bagus. Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Kita akan hijrah jauh dari sini untuk memulai semuanya dari awal. Bagaimana Nak...?” tanya sang ayah.
“ Aku setuju...,” kata ibu Anisa tiba-tiba hingga mengejutkan ayah dan anak yang tengah berpelukan itu.
__ADS_1
“ Aku juga...,” sahut dokter Anisa sambil tersenyum.
Mendengar jawaban sang anak membuat kedua orangtua dokter Anisa tersenyum lalu memeluk sang anak dan menciumi kepala serta wajahnya bertubi-tubi.
Setelahnya mereka saling mengurai pelukan sambil tertawa. Kemudian dokter Anisa mencium gaun pengantinnya sekali lagi.
“ Aku akan membakar gaun ini karena tiap kali melihatnya akan membuatku sedih. Apa boleh...?” tanya dokter Anisa sambil menatap kedua orangtuanya bergantian.
“ Boleh, tentu saja boleh. Walau sebenarnya Kamu masih bisa memberikan gaun itu pada orang lain. mungkin akan lebih bermanfaat...,” sahut sang ibu.
“ Tapi Aku ga rela gaun impianku dan Harlan dipake orang lain Bu...,” rengek dokter Anisa.
“ Ambil hikmahnya Nak. Anggap aja Kalian ga berjodoh. Tapi sedekahkan gaun itu supaya pengorbananmu dan air matamu selama ini ga sia-sia. Selain itu Kamu bakal dapat pahala juga kan...,” kata sang ibu bijak dan diangguki sang ayah.
Dokter Anisa nampak merenung sejenak kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“ Baik lah. Aku akan berikan gaun ini pada orang lain karena Aku juga mau pahala yang Ibu bilang itu...,” sahut dokter Anisa dengan wajah berbinar.
Kini suasana suram di dalam keluarga itu benar-benar pergi bersamaan dengan perginya kesedihan Anisa. Dan mereka pun bersiap menyambut hidup baru mereka di tempat yang baru dengan optimis. Mereka yakin keputusan hijrah adalah keputusan terbaik supaya dokter Anisa bisa move on dari masa lalu dan hidup lebih baik nanti.
Kematian Sydra yang di luar dugaan itu membuat Iyaz tak percaya. Ia sempat menduga jika kematian Sydra karena campur tangan sang dukun juga dokter Anisa. Namun pak Maher memberinya wejangan yang membuat Iyaz mengerti dan meralat dugaan buruknya itu.
“ Jangan suudzon Nak. Maut adalah hak mutlak Allah, ga ada yang bisa mencampuri hal itu. Jika Allah tak mengijinkan semua terjadi, Sydra pasti masih bersama Kita sekarang...,” kata pak Maher.
“ Astaghfirullah aladziim, Pak Maher benar. Ngapain Saya jadi ga terima kaya gini ya...,” sahut Iyaz sambil tersenyum malu.
“ Saya maklum, kan belakangan ini Kalian cukup dekat. Almarhum Sydra juga percaya kalo Kamu bisa membantunya. Saya lihat dia juga jadi jauh lebih religius setelah berteman denganmu...,” kata pak Maher.
“ Saya ga melakukan hal besar Pak. Kan Bapak sendiri yang bilang kalo hidayah milik Allah. Saya hanya mengingatkan Sydra aja. Saya bersyukur Sydra sudah kembali ke jalan Allah sebelum dia meninggal...,” sahut Iyaz merendah.
Mendengar jawaban pemuda di depannya membuat pak Maher tersenyum sambil menepuk pundak Iyaz dengan bangga. Kemudian mereka melanjutkan langkah mereka mengantar jenasah Sydra ke pemakaman yang tak jauh letaknya dari masjid.
Saat tiba di pemakaman beberapa teman Sydra sesama karyawan pabrik furniture pun telah tampak berdiri menanti. Iyaz dan pak Maher ikut bergabung bersama mereka sambil menunggu iringan pengantar jenasah Sydra lewat di depan mereka. Kasak kusuk dari para karyawan pabrik pun terdengar dan membuat Iyaz mau tak mau ikut mendengar pembicaraan mereka.
“ Kasian ya Sydra, akhir hidupnya tragis banget...,” kata salah seorang karyawan pabrik.
__ADS_1
“ Iya. Mungkin itu balasan buat orang yang udah merencanakan keburukan buat orang lain...,” sahut karyawan lain yang terlihat lebih senior dibandingkan beberapa karyawan yang ada bersama mereka.
“ Maksud Lo apaan sih...?” tanya seorang karyawan tak mengerti.
“ Gitu aja ga paham. Kalian inget kan sama peristiwa prank Harlan yang berujung kecelakaan itu...?” tanya sang karyawan senior.
“ Oh, yang Harlan diteriakin maling itu ya...?” tanya karyawan lain.
“ Iya. Kalian tau ga siapa dalang utama yang ngerencanain kejadian konyol itu hingga bikin Harlan malu dan depresi...?” tanya sang karyawan senior.
“ Siapa...?” tanya karyawan itu penasaran.
“ Yang ngerencanain tuh Sydra, Gavin, Urai. Beberapa karyawan lain yang terlibat hanya sebagai pelengkap aja. Nah sekarang ketiganya udah meninggal, itu artinya apa coba...?” tanya karyawan senior itu.
“ Artinya semua yang terlibat dengan fitnah dan kematian Harlan harus mati...,” sahut karyawan itu hati-hati.
“ Betul, Lo emang pinter...,” puji sang karyawan senior sambil mengacungkan jempolnya.
“ Ternyata pepatah yang bilang fitnah itu lebih kejam daripada membunuh beneran terbukti ya. Harlan mati karena ga kuat nanggung malu. Terus Gavin, Urai dan Sydra juga mati karena ulah mereka sendiri. Ini judulnya prank berujung kematian namanya...,” kata sang karyawan sambil menggelengkan kepalanya.
“ Makanya jangan sembarangan ngeprank. Namanya ngeprank kan harusnya ga sampe bikin shock apalagi sampe
bikin mati. Kalo gitu mah namanya fitnah dan itu kejam banget...,” sahut karyawan senior itu dengan ketus.
Para karyawan itu nampak menganggukkan kepalanya lalu mulai mengaminkan doa saat seorang pria mulai membacakan doa untuk jenasah Sydra yang telah selesai dimakamkan.
Saat pemakaman selesai semua orang yang mengantar jenasah Sydra pun mulai membubarkan diri satu per satu. Iyaz dan pak Maher sengaja menepi untuk memberi kesempatan para pelayat keluar lebih dulu. Setelahnya Iyaz dan pak Maher mendekat ke makam Sydra dan bersimpuh di sisi makam lalu mengirimkan doa khusus untuk almarhum Sydra.
“ Makasih Iyaz...,” kata sebuah suara yang dikenali Iyaz sebagai suara Sydra.
Iyaz menatap arwah Sydra yang tengah berdiri di dekat nisannya. Senyum nampak menghiasi wajah pucat Sydra. Kemudian Iyaz menganggukkan kepala dan balas tersenyum. Sesaat kemudian arwah Sydra melesat ke langit dengan cepat meninggalkan hembusan angin sejuk. Iyaz pun tersenyum bahagia karena bisa mengantar arwah Sydra kembali ke haribaan Allah dengan tenang.
Bersambung
# Mau nanya nih readers terlove...\, lanjuut lagi ga nih novelnya...??. #
__ADS_1