
Pembicaraan Faiq dan keluarganya dengan nek Niken masih berlanjut. Namun kini mereka memilih ngobrol di gazebo di belakang penginapan sambil menikmati sinar matahari pagi. Nek Niken juga langsung bisa menebak jika Izar pernah menari dengan Inar belum lama ini.
“ Maksud Nenek, penari yang nari sama Aku malam itu adalah Inar...?” tanya Izar tak percaya.
“ Betul...,” sahut nek Niken cepat.
“ Mana mungkin Nek. Penari itu masih terlihat sangat muda. Ehm, maaf sebelumnya. Kan Nenek bilang Nenek seumuran sama Inar itu, harusnya penampilannya ga jauh beda dong sama Nenek...,” kata Izar tak enak hati.
“ Iya Nenek tau, tapi kan Inar menggunakan ilmu hitam yang bikin aura kecantikannya ga memudar bahkan malah bertambah seiring usianya yang juga bertambah...,” sahut nek Niken santai.
“ Masuk akal juga sih Nak. Soalnya waktu itu Opa juga curiga sama penampilannya. Kayanya udah berumur gitu tapi kok masih keliatan muda dan cantik...,” kata Erik menambahkan.
“ Kalo Kalian ijinkan Aku mau ikut ketemu sama Inar saat Kalian menemuinya nanti...,” pinta nek Niken.
“ Boleh Nek. Kami akan ke sana siang ini...,” sahut Faiq cepat hingga membuat nek Niken tersenyum.
“ Apa ga terlalu berbahaya Yah...?”
tanya Shera cemas.
“ Insya Allah gapapa Bun. Ntar Bunda temenin Mama aja di penginapan, jangan kemana-mana dan tunggu sampe Kami kembali...,” kata Faiq.
“ Ok, tapi hati-hati Kalian semua...,” sahut Shera yang diangguki Faiq.
“ Apa ada yang harus Kami persiapkan untuk menghadapi si Inar itu Nek...?” tanya Hanako.
“ Ga ada Nak. Kekuatan Kalian udah lebih dari cukup untuk melawan Inar. Apalagi Aku akan ikut bersama Kalian. Inar punya kelemahan dan hanya Aku yang tau apa kelemahannya itu. Aku harap dia mau bertobat sebelum maut menjemputnya...,” sahut nek Niken gusar.
\=====
Faiq membawa keluarganya ke sanggar tari yang didatangi Izar dan Erik kemarin malam. Nek Niken pun ikut serta dan duduk di kursi tengah bersama Hanako. Sedangkan Iyaz dan Izar duduk di kursi belakang.
“ Kita parkir di luar aja supaya ga terlalu menarik perhatian Nak...,” kata Erik.
“ Iya Pa...,” sahut Faiq.
Sesaat kemudian mereka masuk ke dalam sanggar yang memang terbuka untuk umum itu. Saat melewati pintu gerbang sanggar sudah terdengar suara gamelan yang membuat jantung nek Niken berdetak cepat karena teringat dengan masa lalunya saat ia masih menjadi penari.
__ADS_1
“ Apa Nenek ingat suara gamelan ini...?” tanya Hanako setengah berbisik.
“ Iya Cu. Walau Nenek udah ga pernah menari lagi sejak Nenek kabur dari kampung tapi Nenek yakin masih bisa menari dengan baik...,” sahut nek Niken sambil tersenyum.
Kedatangan Faiq dan rombongan disambut oleh seorang laki-laki yang merupakan pelatih tari yang saat itu sedang melatih anggota sanggar menari.
“ Selamat pagi, maaf mengganggu. Apa Kami bisa bertemu degan pemilik sanggar ini...?” tanya Faiq.
“ Pagi, memangnya Bapak ini siapa...?” tanya sang pelatih tari.
“ Kami bukan siapa-siapa tapi Kami mengantar teman lama Beliau...,” sahut Faiq sambil menunjuk nek Niken yang sedang asyik mengamati bangunan sanggar.
Sang pelatih tari nampak menatap nek Niken sejenak lalu mengangguk. Kemudian ia mempersilakan Faiq dan
rombongannya duduk di teras rumah yang berhadapan dengan panggung tempat mereka berlatih menari. Sedangkan salah satu pemain musik gamelan masuk ke dalam rumah untuk memanggil Inar.
Tak lama kemudian Inar keluar dari dalam rumah mewahnya. Inar nampak tersenyum saat melihat kedatangan lzar. Seperti remaja yang jatuh cinta, Inar melangkah menghampiri Izar sambil tersenyum genit. Nampaknya Inar belum menyadari kehadiran yang lain di sana karena kedua matanya hanya fokus menatap Izar.
“ Senangnya melihatmu kembali. Aku tau Kamu pasti akan datang seperti yang lainnya dulu...,” kata Inar sambil
tangannya terulur untuk menyentuh wajah Izar.
bingung. Selama ini tak ada seorang pria pun yang menolak sentuhannya, tapi mengapa remaja laki-laki ini begitu berbeda. Ia berani menghindari tatapan Inar bahkan menjauhinya seolah sengaja menjaga jarak darinya. Walau sedikit kesal namun Inar tersenyum karena dirinya merasa makin tertantang.
Saat Inar hendak merangsek maju untuk mengejar Izar, suara nek Niken menyapanya hingga membuat Inar menoleh.
“ Apa kabar Inar...?” tanya nek Niken dengan suara yang dalam.
“ Anda siapa...?” tanya Inar sambil menatap Niken.
“ Apa Kamu lupa sama teman lamamu ini Inar. Aku Niken, rivalmu dalam mendapat cinta Kang Harsa...,” sahut nek
Niken dengan senyum mengejek.
Duaarrr !.
Seperti mendengar petir di siang panas terik, begitu lah perasaan Inar mendengar jawaban tamunya itu. Inar
__ADS_1
membulatkan matanya untuk memastikan jika wanita tua di hadapannya itu adalah Niken, teman sekaligus rivalnya dulu.
“ Nik..., Niken...,” kata Inar dengan suara bergetar.
Seolah sadar jika saat itu mereka sedang ada di teras rumahnya, Inar pun meminta para penari berhenti berlatih.
“ Kalian pergi lah dulu. Hari ini latihan libur. Malam ini juga ga ada pentas, karena Saya ada urusan penting...!” kata Inar tegas yang diangguki muridnya.
“ Baik Bu, Kami permisi dulu...,” kata salah seorang diantara mereka lalu bergegas mengajak semua temannya untuk pergi dari sana.
Setelah murid-muridnya pergi Inar baru mengedarkan pandangannya dan menyadari jika bukan hanya Izar dan Niken saja tamu yang berkunjung. Saat matanya membentur sosok Faiq, lutut Inar terasa bergetar da lemas seketika. Inar merasa tatapan mata Faiq menyimpan kekuatan besar yang mampu meluluh lantakkan pertahanannya.
“ Kalian siapa, mau apa berkunjung dengan cara seperti ini...?” tanya Inar tak suka.
“ Aku adalah Ayahnya. Aku datang untuk minta Kamu berhenti mengejarnya. Karena selain dia masih terlalu muda dia juga hanya pantas jadi Cucumu. Cari laki-laki lain yang bisa mengimbangimu tapi jangan Anak dan keluargaku...!” sahut Faiq sambil merangkul pundak Izar.
Inar tersentak mendengar kalimat yang diucapkan Faiq. Ia tak menyangka jika kedok aslinya terbongkar padahal
mereka baru saja bertemu. Inar tersenyum maklum karena yakin jika Niken lah orang yang telah menceritakan jati dirinya yang sesungguhnya. Karena selama ini tak ada satu orang pun yang bisa menduga berapa usianya.
“ Kalo Aku ga mau, gimana...?” tanya Inar lembut namun itu jelas adalah tantangan untuk Faiq.
“ Aku ga akan tinggal diam karena Aku akan membuatmu mundur dengan sakit dan malu...,” sahut Faiq tegas.
“ Ha ha ha..., mundur dengan sakit dan malu. Hmmm..., menarik. Aku jadi penasaran pengen tau seperti apa rasanya mundur dengan sakit dan malu. Karena selama ini ga ada yang bisa membuatku seperti itu...,” kata Inar sambil tertawa.
“ Jangan sombong Inar !. Sudah waktunya Kamu berhenti, bertobat lah selagi masih ada waktu...!” kata nek Niken kesal.
Inar hanya mencibir seolah sedang meremehkan kehadiran tamu-tamunya itu. Dengan santai Inar membalikkan tubuhnya seolah hendak kembali ke dalam rumah, namun rupanya itu hanya trik Inar untuk mengelabui semua orang. Saat itu lah Inar meraih serbuk yang ia letakkan di balik pinggangnya lalu membalikkan tubuhnya dan melempar serbuk itu kearah Izar. Semua menjerit tertahan karena yakin jika serbuk itu bukan lah serbuk sembarangan. Warna kemerahan serbuk itu seolah menegaskan apa yang terkandung di dalamnya.
Beruntung Izar berhasil melindungi wajahnya dari serangan serbuk itu dengan menyilangkan kedua lengannya di depan wajah. Serbuk itu hanya mengenai lengan Izar dan membuat Izar meringis.
“ Kamu gapapa Zar...?!” tanya Hanako dan Iyaz bersamaan sambil mendekati Izar.
“ Alhamdulillah, Aku gapapa kok. Cuma kena sedikit tapi perih banget...,” sahut Izar sambil meniup lengannya
yang terluka.
__ADS_1
Mendengar jawaban anaknya membuat darah Faiq mendidih. Ia menatap Inar dengan tajam lalu bergerak menghampiri Inar yang nampak berdiri sambil bersedekap dengan senyum mengejek.
\=====