
Usai menunaikan sholat Subuh berjamaah di masjid, Faiq dan keluarganya pun kembali ke rumah kost. Tak lama
kemudian Ratih, Qiana dan abinya datang menyusul. Sedangkan Memed nampak duduk terpaku menatap rumah sahabatnya yang kini memang terlihat tak beraturan bentuk dan warnanya itu.
“ Ternyata rumah ini memang aneh. Bentuknya berantakan, warnanya ga terkonsep. Pantesan ga punya nilai jual walau pun letaknya di lokasi yang strategis...,” gumam Memed sambil menggelengkan kepalanya.
“ Andai laku terjual, itu pun hanya tanah tanpa bangunan di atasnya...,” kata Izar hingga membuat Memed tersenyum kecut.
Sekarang Memed tak lagi berambisi menjual rumah itu. Ia hanya ingin agar rumah itu tak lagi dipenuhi hantu.
“ Jadi apa yang bisa Kita lakukan supaya rumah ini ga lagi jadi sarang hantu Pak...?” tanya Memed sambil menatap Faiq.
“ Hancurkan...!” sahut Faiq lantang dan tegas.
“ Tapi...,” ucapan Memed terputus saat melihat sorot mata tajam Faiq yang mengarah padanya.
“ Hanya itu satu-satunya cara. Setelah rumah itu hancur, buang seluruh puingnya. Setelahnya tanah siap dibangun kembali. Tapi sebelumnya adakan pengajian untuk bersyukur dan memohon perlindungan Allah dari segala mara bahaya...,” kata Faiq cepat.
Memed termangu sejenak kemudian tersenyum karena ternyata ia masih bisa membangun ulang rumah sahabatnya itu. Bahkan Memed berniat mengembalikan rumah dan tanah itu kepada keluarga Rohan.
“ Kalo gitu Saya akan bangun ulang rumah ini dari nol bisa kan Pak...?” tanya Memed.
“ Insya Allah bisa...,” sahut Faiq.
“ Apa Kamu punya uang untuk membangun rumah ini lagi...?” tanya Fatur tanpa bermaksud meremehkan Memed.
“ Kalo bangun rumah yang gedenya kaya gini lagi Saya ga sanggup Pak. Tapi kalo bangun rumah sederhana aja sih insya Allah Saya sanggup...,” sahut Memed sambil tersenyum.
“ Terus rumahnya mau dikontrakin lagi...?” tanya abi Qiana penasaran.
__ADS_1
“ Ga Pak. Saya mau kembaliin rumah dan tanah ini sama anak dan istrinya Rohan. Karena mereka lebih berhak daripada Saya. Kecuali mereka udah menyerahkan ke Saya baru Saya bisa terima. Mungkin aja mereka ga pernah tau kalo Rohan masih punya tanah dan rumah di sini. Saya merasa jadi orang jahat kalo ga bisa bantu mereka andai mereka benar-benar membutuhkan uang setelah kepergian Rohan...,” sahut Memed dengan mata berkaca-kaca.
“ Niat baik harus disegerakan. Jangan ditunda lagi...,” kata Fatur sambil menepuk pundak Memed yang diangguki Memed.
Kini semuaa mata menatap kearah bangunan rumah kost warna warni itu dengan berbagai macam perasaan yang berkecamuk. Ternyata rumah yang terlihat mencolok itu menyimpan kisah kelam di balik pembangunannya.
“ Mmm..., apa arwah Rohan ga akan datang dan mengganggu lagi nanti Pak...?” tanya Memed hati-hati.
“ Insya Allah dia ga akan kembali karena semuanya ikut terbuang bersama puing rumah yang Kamu buang nanti. Entah kemana arwahnya akan berlabuh, hanya Allah yang tau...,” sahut Fatur.
“ Kalo gitu Saya akan segera membongkar rumah ini dan membangun yang baru. Kalo semua urusan di sini udah selesai, Saya bisa balik ke kampung dan kumpul sama keluarga di sana. Ternyata jadi petani lebih menyenangkan, lebih tenang dan ga perlu takut hantu karena bekerjanya ada di alam terbuka...,” kata Memed antusias.
Semua yang mendengar ucapan Memed pun tertawa. Mereka mendukung keputusan Memed itu. Setelah memastikan kondisi Memed baik-baik saja, semua pun bergegas meninggalkan rumah itu.
“ Kalo punya waktu tolong mampir dan liatin rumah ini ya Pak. Mungkin ada yang masih harus Saya perbaiki nanti...,” pinta Memed dengan tulus.
Setelah saling berjabat tangan mereka pun memisahkan diri dan masuk ke dalam mobil masing-masing. Memed pun melepas kepergian mereka dengan senyum mengembang.
“ Mereka orang-orang baik. Semoga Aku masih bisa ketemu lagi sama mereka nanti. Ya Allah tolong lindungi mereka dan bahagiakan mereka selalu. Aamiin...,” doa Memed dengan tulus sambil mengusap wajahnya.
Kemudian Memed membalikkan tubuhnya menuju motor yang terparkir di halaman rumah. Ia pun meninggalkan rumah itu setelah menutup pintu gerbangnya rapat-rapat.
\=====
Iyaz melajukan mobil setelah Fatur duduk di dalam mobil dan meninggalkan tempat itu lebih dulu. sedangkan Faiq dan Izar mengantarkan Ratih, Qiana dan abinya kembali ke rumah mereka lebih dulu.
Di dalam mobil terjadi pembicaraan antara Faiq dengan abi Qiana. Sedangkan Izar, Qiana dan Ratih memilih menjadi pendengar yang baik.
“ Apa hantu pemilik rumah ga akan datang dan menuntut haknya nanti Pak Faiq...?” tanya abi Qiana karena masih penasaran.
__ADS_1
“ Insya Allah ga akan datang lagi Pak. Apalagi rumah yang akan dibangun Pak Memed nanti berbeda dengan rumahnya dulu. Ditambah akan diadakan pengajian untuk menetralisir tanah dan bangunan dari aura negatif yang pernah ada di sana...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah, Saya ikut seneng dengernya Pak. Saya jadi tenang karena Ratih ga akan diganggu sama jin penghuni rumah kost itu lagi...,” kata abi Qiana sambil melirik kearah Ratih yang ikut tersenyum mendengar ucapan abi Qiana.
“ Gimana perasaanmu sekarang Ratih...?” tanya Faiq.
“ Alhamdulillah Saya merasa jauh lebih baik Pak. Cuma lemes aja mungkin karena Saya belum makan dari kemaren...,” sahut Ratih malu-malu hingga membuat Faiq dan abi Qiana tertawa.
“ Itu juga salah satu efek dari kerasukan makhluk halus Nak. Rasa lelah dan capek itu akan membuatmu mengantuk. Ga usah dilawan. Tidur yang cukup dan makan makanan yang bergisi insya Allah bisa membuatmu cepat pulih...,” kata Faiq.
“ Iya Pak, makasih...,” sahut Ratih sambil tersenyum.
“ Sama-sama...,” sahut Faiq.
Dalam hati Ratih merasa bahagia mendapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Ia juga senang saat Faiq dan
Shera memberi perhatian padanya. Ia sedikit berharap bisa mendekati kedua orangtua Izar itu untuk kemudian meraih hati Izar. Membayangkan hal itu membuat Ratih tersenyum diam-diam sambil menatap Izar yang tengah mengemudi di depannya.
Sedangkan Qiana yang duduk diapit Ratih dan abinya itu nampak tertidur pulas. Ia tak menyadari sepasang mata tengah mengintainya dari pantulan kaca spion.
“ Bisa-bisanya tidur di saat orang lagi ngebahas peristiwa besar yang hampir merenggut nyawa temannya itu. Dasar cewek aneh...,” gumam Izar sambil menggelengkan kepalanya.
Ratih yang melihat Izar tengah mencuri pandang kearah sahabatnya itu sedikit kecewa. Namun saat ingat bagaimana interaksi keduanya yang bagaikan kucing dan tikus yang tak pernah akur itu membuat Ratih tersenyum. Ia optimis lambat laun bisa meraih hati Izar dan memilikinya.
Ratih memang tertarik pada Izar sejak pertama kali melihatnya. Namun Ratih harus menahan diri karena mengira
Izar dan Qiana adalah sepasang kekasih. Bagimana pun Ratih tak mau menyakiti hati Qiana yang telah menolongnya. Tapi saat mengetahui hubungan Qiana dan Izar selalu diwarnai pertengkaran membuat Ratih yakin untuk masuk diantara mereka.
\=====
__ADS_1