Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
368. Dehidrasi Parah


__ADS_3

Reno masih menangis di depan pintu saat Oce membuka pintu kamar rahasianya. Mendapati Reno yang menangis sedih membuat Oce sedikit kesal.


“ Kenapa Kamu menangis di sini Reno...?” tanya Oce.


“ Kenapa Mami tega ngelakuin itu...?” tanya Reno.


“ Ngelakuin apa...?” tanya Oce pura-pura tak tahu.


“ Ngelakuin apa, menumbalkan Qiana lah. Apalagi emangnya...,” sahut Reno kesal.


Oce nampak menghela nafas panjang. Ia menatap Reno dengan tatapan lelah. Dalam hati Oce merasa kecewa karena Reno tak menghargai pengorbanannya. Padahal apa yang telah ia lakukan juga untuk kebaikan Reno.


“ Qiana, Qiana terus. Kenapa kepalamu hanya berisi Qiana. Apa Qianamu itu bisa membuatmu bahagia...?” tanya Oce kesal.


“ Bisa. Aku bahagia saat melihatnya dan bicara dengannya. Walau saat ini Aku hanya bisa melihatnya dari jauh...,” sahut Reno hingga membuat Oce bertambah marah.


“ Ok. Lalu apa yang telah Qianamu itu lakukan...?” tanya Oce.


“ Apa maksud Mami...?” Tanya Reno tak mengerti.


“ Bandingkan apa yang telah Aku lakukan untukmu dengan apa yang telah Qiana lakukan untukmu !. Apa dia


merawatmu saat Kamu sakit, apa dia menemanimu saat Kau kesepian, apa dia menghiburmu saat Kau bersedih. Aku yang melakukan semuanya. Apa, apa yang telah gadis itu lakukan hingga Kau begitu memujanya...?!” tanya Oce dengan suara lantang.


“ Tapi dia menghargaiku sebagai seorang pria dewasa. Memperlakukan Aku layaknya manusia normal, bukan seperti Mami yang hanya bisa mengaturku harus melakukan ini dan itu. Aku muak melakukannya...!” sahut Reno tak kalah lantang.


“ Yang Qiana lakukan adalah pekerjaannya. Dan itu dia lakukan kepada semua orang, bukan hanya Kamu. Dia


mendapatkan uang dari pekerjaannya itu, lalu dimana istimewanya gadis itu...,” kata Oce gusar.


Reno tersentak kaget dan menatap Oce dengan tatapan tak suka. Ia marah saat Oce mengejek Qiana seolah gadis itu melakukan pekerjaan hina.


“ Jangan hina Qiana Mami. Aku bisa membuatmu menyesal nanti...,” kata Reno dengan suara bergetar.


Oce terkejut dan tak menyangka Reno akan semarah ini. Oce hapal betul apa yang akan dilakukan Reno saat sedang marah. Tak ingin meladeni kemarahan Reno, Oce pun memilih keluar menuju teras depan rumah untuk menghirup udara segar.

__ADS_1


Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Reno untuk masuk ke dalam kamar rahasia sang mami. Selama ini Reno tak pernah masuk ke kamar rahasia Oce tanpa didampingi Oce. Namun kali ini Reno sengaja memberanikan diri masuk ke sana hanya untuk menggagalkan misi Oce yang ingin menumbalkan Qiana.


Reno bergegas masuk ke dalam kamar rahasia Oce lalu mengunci pintu. Kemudian ia mengedarkan pandangannya sambil melangkah pelan mengelilingi ruangan itu. Satu per satu benda diamati oleh Reno namun ia tak juga menemukan jejak prosesi penumbalan Qiana. Reno hampir putus asa.


Sementara itu Oce masuk ke dalam rumah setelah emosinya mereda. Saat masuk ke dalam rumah ia tak mendapati Reno di tempat semula. Mengira jika Reno ada di kamarnya, Oce pun melangkah menuju ke kamarnya sendiri untuk istirahat.


“ Katanya udah dewasa dan normal. Tapi tiap abis ribut pasti ngambek kaya anak kecil. Kamar dikunci, ga mau


makan, ga mau minum, apalagi mandi. Dasar babon, gede badan tapi otak setengah...,” gerutu Oce sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Tak lama kemudian kantuk pun menyerang hingga membuat Oce tertidur pulas. Tanpa Oce sadari, kamar rahasia


tempat ia melakukan ritual sesatnya selama ini tengah bergolak karena ulah Reno.


\=====


Ummi Qiana masih menangis meski pun telah berusaha ditenangkan oleh suaminya. Di hadapan mereka kini terlihat seorang dokter dan seorang perawat sedang bekerja keras membantu menyadarkan Qiana. Sedangkan Izar dan Faiq nampak duduk menunggu di luar kamar Qiana.


Setelah Qiana berhasil lolos dari dimensi ghaib dengan bimbingan Izar, gadis itu belum siuman hingga sekarang.


Faiq memutuskan memanggil dokter untuk membantu mengecek kondisi kesehatan Qiana.


kondisi Qiana.


“ Anak Ibu mengalami dehidrasi parah hingga dia pingsan. Luka di tangan dan kakinya ga terlalu parah. Ibu bisa


mengompresnya lalu mengoleskan salep ini untuk mengurangi bengkak dan lebamnya...,” sahut sang dokter.


“ Alhamdulillah. Tapi kenapa dia belum sadar juga dok...?” tanya ummi Qiana.


“ Setelah cairan infusnya habis insya Allah Mbak Qiana akan siuman Bu. Saat ini biar dia istirahat dulu ya...,” sahut sang dokter dengan sabar.


“ Berapa lama dia harus diinfus dok...?” tanya ummi Qiana lagi.


“ Sampe kondisinya memungkinkan untuk makan dan minum. Jadi bisa dua atau tiga botol infus yang harus diberikan untuk membantu memulihkan kondisinya...,” sahut sang dokter.

__ADS_1


“ Ayo Mi, Kita keluar dulu. Biarin Qiana istirahat untuk memulihkan kondisinya...,” bujuk abi Qiana pada istrinya.


“ Tapi Bi...,” ucapan ummi Qiana terputus karena sang dokter memotong cepat.


“ Bapak benar. Sebaiknya tinggalkan Mbak Qiana sendiri karena dia butuh ketenangan agar bisa segera pulih. Ibu ga perlu khawatir karena ada perawat yang akan menjaganya...,” kata sang dokter.


“ Baik dok...,” sahut ummi Qiana lirih.


Kedua orangtua Qiana pun beranjak meninggalkan kamar Qiana. Langkah mereka terhenti saat sang dokter mengatakan sesuatu.


“ Oh iya. Sebaiknya Ibu juga tidur sebentar untuk memulihkan kondisi Ibu. Kalo Ibu sakit, siapa yang akan mengurus Mbak Qiana nanti...?” tanya sang dokter sambil tersenyum.


“ Baik dok, makasih. Saya bakal tidur sekarang...,” sahut ummi Qiana dengan patuh.


Abi Qiana tersenyum mendengar jawaban istrinya. Sejak tadi ia berkali-kali meminta sang istri untuk tidur tapi selalu diabaikan. Saat dokter yang memintanya tidur, sang istri langsung mengiyakan tanpa protes. Abi Qiana mengantar sang istri masuk ke dalam kamar.


“ Hebatnya ucapan dokter sampe bisa bikin Istriku ini nurut tanpa protes...,” sindir abi Qiana sambil tersenyum.


“ Maaf Bi. Sekarang Ummi bisa tidur karena Qiana ada di tangan yang tepat...,” sahut ummi Qiana sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“ Sejak tadi dia udah ada di tangan yang tepat Mi. Jangan lupakan jasa Pak Faiq dan Mas Izar. Mereka udah berhasil membawa Qiana keluar dari perangkap ghaib. Ingat Mi, ga sembarang orang bisa masuk ke dimensi ghaib dan menyelamatkan Qiana tepat waktu. Abi ga bisa bayangin kalo mereka terlambat sedikit aja, mungkin Kita ga akan bisa ketemu Qiana lagi Mi...,” kata abi Qiana sambil menatap tajam kearah istrinya.


Ummi Qiana tampak salah tingkah karena ucapan suaminya tepat mengenai jantungnya. Rupanya abi Qiana juga


melihat sikap tak bersahabat istrinya pada Faiq dan Izar. Sang istri justru terlihat menyalahkan mereka akan musibah yang menimpa Qiana.


Ummi Qiana segera bangkit lalu meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan sang suami dengan khidmat.


“ Maafin Ummi ya Bi. Ummi emang keterlaluan. Maaf...,” kata ummi Qiana lirih.


“ Minta maaf sama Pak Faiq dan Mas Izar Mi, bukan sama Abi...,” sahut abi Qiana ketus.


“ Iya iya. Ummi bakal minta maaf sama mereka sekarang...,” kata ummi Qiana sambil menurunkan kakinya dari tempat tidur.


“ Ga usah sekarang, ntar aja. Sekarang Ummi tidur biar Abi nemenin mereka di luar...,” sahut abi Qiana sambil beranjak keluar kamar.

__ADS_1


“ Iya Bi...,” sahut ummi Qiana sambil menatap suaminya yang menghilang di balik pintu.


\=====


__ADS_2