Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
190. Luka Sydra


__ADS_3

Sydra siuman setelah hampir empat jam pingsan. Tenaga medis di klinik hampir merekomendasikan Sydra ke Rumah Sakit karena ia tak kunjung siuman. Yang pertama kali diucapkan Sydra saat siuman adalah tentang hantu yang tentu saja mengejutkan semua orang.


“ Hantu..., Gavin..., hantu Gaviiinnn...,” kata Sydra lirih sambil memijit keningnya.


“ Hantu, emangnya Pak Sydra liat hantu dimana...?” tanya perawat di klinik.


“ Di gudang. Dia..., Gavin...,” sahut Sydra.


“ Maksud Pak Sydra, hantu yang Pak Sydra liat itu hantunya Gavin...? Tanya sang perawat hati-hati.


“ Betul Sus...,” sahut Sydra sambil mengangguk.


Sang perawat nampak terkejut dan tak tahu harus merespon bagaimana lagi. Sebab hari itu Sydra adalah pasien ke lima yang mengaku ditemui hantu Gavin.


“ Kenapa hari ini banyak yang pingsan dan rata-rata karena liat hantu ya Suster...,” kata dokter Anisa yang bertugas di klinik itu.


“ Saya juga ga ngerti dok...,” sahut sang perawat bernama Aisyah.


“ Coba Kamu cari tau ke dalam pabrik sana Sus. Mungkin ada yang bisa jelasin apa yang terjadi sebenarnya...,” pinta dokter Anisa.


“ Baik dok...,” sahut suster Aisyah lalu bergegas keluar dari klinik untuk mencari informasi.


Suster Aisyah menghampiri pos security dan bertanya banyak hal. Security yang bertugas pun dengan senang hati menjawab semua petanyaan suster Aisyah.


“ Assalamualaikum...,” sapa suster Aisyah.


“ Wa alaikumsalam, eh Suster Aisyah. Ada apa Sus...?” tanya security bernama Akbar.


“ Begini Pak Akbar. Hari ini banyak karyawan pabrik yang pingsan dan dibawa ke klinik. Tapi kebanyakan dari mereka ngakunya pingsan gara-gara melihat hantu Gavin. Dokter Anisa minta supaya Saya cari informasi. Kalo boleh tau, emang siapa sih Gavin...?” tanya suster Aisyah.


“ Oh itu, emang Suster belum denger ya...?” tanya Akbar.


“ Denger apa ya Pak...?” tanya suster Aisyah tak mengerti.


“ Gavin itu karyawan pabrik juga tapi dia udah meninggal dua hari yang lalu. Dan katanya penyebab meninggalnya Gavin karena bunuh diri...,” sahut Akbar.


“ Inna lillahi wainna ilaihi rojiuun. Yang bener Pak...?” tanya suster Aisyah sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


“ Betul Sus. Oh iya, sekedar info tambahan aja buat Suster. Sebenernya ada dua orang yang meninggal di hari yang sama kaya Gavin. Namanya Urai, dia juga meninggal karena gantung diri persis kaya Gavin...,” kata Akbar.


“ Ya Allah, kok bisa barengan gitu sih...,” sahut suster Aisyah tak percaya.


“ Ga tau Sus. Kalo Urai kan emang lagi depresi gara-gara mantan kekasihnya dijodohin dengan pria lain, apalagi sebentar lagi mantannya itu bakal nikah. Jadi wajar lah kalo Urai patah hati. Tapi kalo Gavin, ga ada yang pernah liat Gavin sedih. Jadi para karyawan penasaran apa penyebab Gavin milih jalan pintas untuk mengakhiri  hidupnya...,” kata Akbar.


“ Oh jadi gitu ya. Pantesan aja mereka gangguin para karyawan. Mungkin ada yang bikin mereka ga tenang dan penasaran...?” tanya suster Aisyah.


“ Wah kalo itu Saya ga tau Sus, kan Saya bukan cenayang...,” gurau Akbar hingga membuat suster Aisyah tersenyum.


“ Makasih infonya ya Pak, maaf udah ganggu...,” kata suster Aisyah sambil tersenyum.


“ Sama-sama Suster...,” sahut Akbar balas tersenyum.


Kemudian suster Aisyah kembali ke klinik dan menyampaikan informasi yang diperolehnya kepada dokter Anisa.


“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun..., kasian banget sih mereka...,” kata dokter Anisa usai mendengar cerita suster Aisyah.


“ Jadi Kita harus gimana dok...?” tanya suster Aisyah cemas.


“ Iya saya tau dok. Terus kenapa dokter nyuruh Saya nyari informasi tadi...?” tanya suster Aisyah tak mengerti.


“ Gapapa, biar ga ketinggalan berita aja...,” sahut dokter Anisa sambil berlalu.


Suster Aisyah nampak menganga tak percaya mendengar jawaban dokter Anisa itu.


Namun tanpa sepengetahuan suster Aisyah, senyum puas nampak menghiasi wajah dokter Anisa.


\=====


Sydra sedang duduk di depan jendela rumahnya sambil mengingat kejadian di pabrik yang menyebabkan ia pingsan selama empat jam. Sydra ingat bagaimana ucapan hantu Gavin dan ancamannya yang nampak ingin membunuhnya. Sydra meraba lehernya perlahan seolah ada luka di sana.


“ Untung dia ga berhasil nyekik Gue kemarin...,” gumam Sydra


sambil tersenyum kecut.


Tiba-tiba Sydra mengerutkan keningnya karena merasa ada cairan yang merembes keluar dari lehernya. Saat ia mengamati cairan yang melekat di telapak tangannya Sydra pun terkejut karena cairan yang membasahi lehernya itu mirip dengan darah. Warnanya kemerahan dan Sydra juga merasa perih di saat yang sama.

__ADS_1


“ Darah..., ini darah. Tapi kenapa bisa ada darah di leher Gue...?” gumam Sydra panik.


Kemudian Sydra bangkit dari duduknya lalu melangkah cepat menuju cermin besar yang ada di kamarnya. Sydra menjerit tertahan saat mendapati luka melingkar yang menyerupai ikatan tali di lehernya.


“ Ini apa..., kok mirip kaya luka orang yang mau gantung diri...,” gumam Sydra sambil mengamati luka di lehernya.


Sydra kembali dibuat terkejut saat melihat pantulan dirinya di cermin itu bukan lagi satu tapi ada tiga. Satu berada tepat di depan cermin dan yang dua lagi berada agak jauh di belakangnya. dan saat Sydra menajamkan penglihatannya ia melihat jika pantulannya ‘yang lain’ itu adalah sosok hantu Gavin dan Urai.


Sydra pun membalikkan tubuhnya untuk melihat ke belakang. Tak ada siapa pun di sana namun Sydra tahu jika apa yang dilihatnya tadi adalah nyata. Tak ingin ambil resiko, Sydra pun melangkah cepat keluar dari kamar hingga tak sengaja ia menabrak sang ayah yang baru saja tiba dari kantor.


“ Astaghfirullah aladziim..., Sydra. Ngagetin aja sih Kamu...!” kata ayah Sydra sambil menatap marah kearah sang anak.


“ Maaf Yah, maaf...,” sahut Sydra sambil menoleh ke kamarnya.


Melihat wajah sang anak yang nampak ketakutan itu membuat ayah Sydra bingung. Apalagi ia juga melihat Sydra memegangi lehernya. Dari sela jari tangan Sydra sang ayah bisa melihat luka kemerahan di leher Sydra dan itu membuatnya terkejut.


“ Lehermu, kenapa lehermu...?” tanya ayah Sydra sambil menarik tangan Sydra hingga pegangan Sydra pada lehernya terlepas.


“ Aku ga tau Yah...,” sahut Sydra.


“ Tapi luka ini kok mirip...,” ucapan ayah Sydra terputus saat ia melihat wajah Sydra kian memucat.


Tiba-tiba Sydra jatuh tersungkur di lantai. Beruntung sang ayah sigap menahan tubuh Sydra hingga kepalanya tak membentur lantai. Ayah Sydra pun berteriak memanggil istri dan kedua anaknya yang lain. dalam sekejap tiga orang yang dipanggilnya pun mendatanginya dan langsung membantu menggotong tubuh Sydra.


Saat mereka akan membawa Sydra ke kamar, ayah Sydra mencegahnya. Itu membuat keluarganya bingung.


“ Kenapa Yah, di kamar kan Sydra bisa istirahat lebih baik...,” kata kakak Sydra.


“ Gapapa, tapi kayanya ada sesuatu di kamar Sydra yang bikin dia takut tadi...,” sahut ayah Sydra.


“ Masa sih Yah...?” tanya kakak Sydra.


“ Iya, Ayah ga sengaja nabrak Sydra yang lari keluar dari kamarnya tadi. Daripada dia histeris pas siuman nanti, lebih baik letakkan di ruang tengah aja...,” sahut ayah Sydra.


Mendengar jawaban sang ayah membuat kedua saudara Sydra saling menatap bingung. Namun teguran sang ibu menyadarkan mereka hingga akhirnya mereka membawa tubuh Sydra ke ruang tengah dan membaringkannya di atas karpet.


\=====

__ADS_1


__ADS_2