Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
332. Ketemu Lagi


__ADS_3

Di dalam mobil Faiq terus menanyai Ratih yang terlihat mulai tenang itu.


“ Dimana alamat rumah temanmu yang bisa Kita datangi...?” tanya Faiq.


“ Di daerah Kali Bata Om...,” sahut Ratih sambil menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari tangannya.


“ Ok, kalo udah deket tunjukin jalannya ya...,” pinta Izar.


“ Iya Mas, makasih...,” sahut Ratih yang diangguki Izar.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman teman Ratih. Setengah jam kemudian mereka tiba di depan sebuah rumah. Namun sayangnya rumah terlihat gelap.


“ Keliatannya ga ada orang di dalam rumah. Mungkin mereka lagi pergi. Emangnya Kamu ga nelephon dulu tadi...?” tanya Izar.


“ Gimana mau nelephon, kan Hp Saya ga kebawa waktu Saya kabur tadi...,” sahut Ratih gusar.


“ Terus Kita mau nunggu aja di sini, ga mungkin lah...,” kata Izar mulai kesal.


Mendengar ucapan Izar yang mulai kesal Faiq pun segera melerai karena ia merasa kasihan pada Ratih yang tak punya sanak famili di Jakarta.


“ Kamu punya teman yang lain kan, Kita ke sana aja ya...,” bujuk Faiq.


“ Iya Om. Di daerah Tanjung Barat rumahnya...,” sahut Ratih tak enak hati.


“ Ok, Kita ke sana. Ayo Zar...,” kata Faiq sambil menepuk punggung Izar sedikit keras untuk menegur sikapnya yang tak ramah itu.


“ Iya Yah...,” sahut Izar dengan suara lirih lalu mulai melajukan mobil menuju alamat yang dimaksud Ratih tadi.


Perjalanan berjalan lancar dan mereka pun tiba di depan sebuah rumah yang lagi-lagi nampak tertutup dan gelap. Kemarahan Izar hampir meledak namun saat melihat sebuah Taxi berhenti di depan rumah kemarahannya pun mereda. Seorang wanita turun dari Taxi dan melangkah cepat menuju pintu rumah. Melihat wanita itu membuat Ratih tersenyum lalu bergegas membuka kaca mobil.


“ Qiana...!” panggil Ratih dengan lantang hingga membuat wanita itu menoleh lalu tersenyum.

__ADS_1


“ Ratih, itu Kamu...?” tanya Qiana ragu sambil melangkah mendekati mobil yang ditumpangi Ratih.


Mendengar suara Qiana membuat Izar menoleh. Ia tersenyum diam-diam saat melihat gadis itu. Sedangkan Ratih bergegas membuka pintu mobil lalu menghambur memeluk Qiana.


“ Aku takut Qiana, tolong Aku...,” kata Ratih sambil menangis.


“ Insya Allah Aku bakal nolongin Kamu kalo bisa. Tapi ada apa sebenernya, siapa mereka...?” tanya Qiana...?” sambil melirik kearah dua orang pria yang duduk di bagian depan mobil.


“ Ehm, maaf ya. Bisa Kita bicara sebentar...?” tanya Faiq santun.


Melihat penampilan Faiq yang terlihat berwibawa dan tak menggambarkan orang jahat, Qiana pun mengangguk lalu mengajak mereka masuk ke area rumahnya. Kemudian Qiana mempersilakan mereka duduk di teras rumahnya.


“ Maaf sebelumnya, tapi Kita ngobrolnya di sini aja ya Pak, soalnya Orangtua Saya lagi ga di rumah...,” kata Qiana dengan santun.


“ Gapapa, Kami mengerti kok. Iya kan Zar...?” tanya Faiq sambil menoleh kearah Izar yang berjalan persis di belakangnya.


“ Iya Yah...,” sahut Izar.


Melihat kehadiran Izar, Qiana pun terkejut sekaligus bingung.


“ Kamu kenal sama Mas ini Qi...?” tanya Ratih.


“ Iya, Pak Izar ini dari perusahaan yang jadi klien Bank tempat Aku kerja...,” sahut Qiana.


“ Oh gitu...,” kata Ratih sambil mengangguk.


“ Jadi ada apa ini sebenernya...?” tanya Qiana lagi sambil menatap ketiga tamunya bergantian.


“ Aku kabur dari kost an Qi...,” sahut Ratih cepat.


“ Kabur, emangnya kenapa...?” tanya Qiana.

__ADS_1


“ Mmm..., ada hantu di kost an Aku Qi...,” sahut Ratih gusar sambil meremas ujung piyama yang dipakainya.


Mendengar jawaban Ratih membuat Qiana nyaris tertawa. Tapi melihat kondisi Ratih yang kacau Qiana pun akhirnya mencoba percaya.


“ Hantu apa...?” tanya Qiana hati-hati.


“ Sebenernya sejak datang pertama kali di rumah itu Aku udah ngerasa ada yang aneh. Tapi karena Aku lelah nyari kost an yang murah dan dekekt dari kantor, makanya Aku langsung setuju aja waktu pengurus rumah kost nawarin tempat itu...,” sahut Ratih.


“ Aneh apanya...?” tanya Qiana.


“ Ya aneh. Kan rumah itu warna warni ga jelas gitu mirip sekolah TK. Lumayan besar dan rame, cuma Aku merasa selalu sepi kaya di kuburan padahal banyak penghuninya di sana. Selain itu Aku merasa ada yang ngamatin Aku...,” sahut Ratih.


“ Mungkin aja ada CCTV yang dipasang sembunyi-sembunyi untuk memantau kegiatan anak kost...,” kata Qiana.


“ Ga mungkin. Aku tau betul kalo ga ada kamera pengawas atau sejenisnya kok di rumah itu. Soalnya pemilik rumah itu kan tinggal di luar kota dan menyerahkan kepengurusan rumah kost sama Pak Memed. Nah, kalo ada apa-apa Kami tinggal laporan aja sama Pak Memed. Dia juga cuma datang dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Makanya Aku yakin bukan dia yang ngawasin Aku. Ada sesuatu tapi ga tau apaan...,” sahut Ratih.


“ Kenapa Kamu ga keluar dan cari kost an lain...?” sela Izar tak sabar.


“ Saya mau tapi ga bisa Mas...,” sahut Ratih sambil mengacak rambutnya.


“ Maksudnya gimana sih...?” tanya Qiana tak mengerti.


“ Selalu ada kekuatan ghaib yang nahan Aku untuk tetap di sana. Tiap kali Aku mulai mengemas pakaian selalu ada suara aneh di belakang kepalaku yang mengancam akan mencelakai Aku. Andai Aku nekad, maka pintu kamarku terkunci dengan sendirinya hingga Aku ga bisa keluar dari sana. Kalo Aku bilang ga akan pergi dari kost itu, maka pintu kamarku yang tadi terkunci akan terbuka sendiri. Aku udah ceritain sama teman kost Aku soal ini, tapi mereka ga percaya. Mereka malah nuduh Aku bohong dan cari sensasi aja...,” sahut Ratih.


“ Ya Allah, serem banget sih. Terus gimana caranya Kamu bisa kabur tadi...?” tanya Qiana.


“ Aku sama penghuni kost lain lagi bikin pesta kecil-kecilan untuk ngerayain ulang tahun Pak Memed. Acaranya dimulai sore pas Pak Memed datang untuk ngecek keadaan rumah kost. Ga tau gimana, kok acaranya malah lanjut sampe malam. Mungkin karena di rumah itu jarang diadain pesta ditambah Pak Memed juga nraktir penghuni kost dan beli makanan banyak banget tadi. Nah di tengah acara, Aku ngeliat sosok hantu di pojok ruangan lagi berdiri ngeliatin Aku. Semula Aku ga nyangka kalo itu hantu. Tapi pas dia tersenyum, Aku malah takut karena senyumnya terlalu lebar untuk ukuran manusia biasa, ditambah lagi ukuran tubuhnya terus bertambah tinggi sampe nyentuh plafond...,” kata Ratih sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Melihat kondisi Ratih yang memprihatinkan membuat Qiana iba lalu memeluknya erat. Ratih pun menangis terisak meyalurkan rasa takutnya kepada Qiana.


“ Aku berusaha menghindar saat hantu itu berjalan kearahku. Anehnya teman kostku ga ada yang ngeliat hantu itu. Bayangin Qi, Aku ketakutan sendiri di tengah keramaian. Karena panik Aku jalan keluar dan terus lari saat kuliat gerbang kost terbuka. Aku terus lari berharap makhluk itu ga ngejar Aku. Saking paniknya Aku sampe ga pake alas kaki dan Hpku ketinggalan...,” kata Ratih di sela isaknya.

__ADS_1


Faiq, Izar dan Qiana nampak larut dalam keheningan sambil menunggu tangis Ratih mereda.


\=====


__ADS_2