Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
146. Keluarga Marwah


__ADS_3

Setelah membuat janji dengan hantu Marwah, Iyaz  pun mencoba mencari informasi tentang Marwah. Pertama-tama Iyaz pergi ke perpustakaan untuk mencari buku besar tahunan milik universitas. Di buku besar tahunan terpampang foto Marwah, sama persis dengan hantu Marwah yang mendatanginya beberapa hari yang lalu.


Alamat rumah kedua orangtua Marwah pun tertera di sana. Setelah menyalin info penting tentang Marwah, Iyaz pun bergegas meletakkan buku besar tahunan kampus itu di tempat semula.


“ Siapa yang Kamu cari...?” tanya petugas perpustakaan saat melihat Iyaz meletakkan buku besar itu.


“ Teman...,” sahut Iyaz cepat.


“ Teman yang udah meninggal dunia karena dibunuh dan kasusnya menggemparkan kampus ini belasan tahun yang silam...?” tanya petugas perspustakaan penuh selidik.


“ Darimana Anda tau kalo orang yang Saya cari itu udah meninggal...?” tanya Iyaz sambil menatap lekat petugas perpustakaan itu.


Pria berusia empat puluh tahunan itu tertawa lalu menunjuk ke sudut ruangan dimana hantu Marwah tengah berdiri mengawasi mereka.


“ Dari dia...,” kata pria bernama Osman itu sambil menatap hantu Marwah hingga membuat Iyaz menghela nafas panjang.


“ Jadi Anda juga bisa ngeliat dia...?” tanya Iyaz.


“ Iya...,” sahut Osman.


“ Saya dimintai tolong sama Marwah buat mengungkap misteri pembunuhannya sekaligus  memenjarakan pelakunya...,” kata Iyaz jujur.


“ Aku tau, dan Aku bisa bantu Kamu kalo diperlukan...,” sahut Osman.


“ Sungguh...?” tanya Iyaz antusias.


“ Iya...,” sahut Osman sambil mengulum senyum melihat tingkah Iyaz.


“ Ok, kalo gitu Saya ga akan sungkan lagi. Sekarang Saya masih ada kelas. Insya Allah Kita bahas ini nanti setelah pulang kuliah...,” kata Iyaz.


“ Baik. Saya ada di sini sampe jam empat sore...,” sahut Osman yang diangguki Iyaz.


\=====


Setelah jam kuliah usai, Iyaz menemui Osman di perpustakaan. Banyak informasi tambahan yang bisa Iyaz peroleh mengenai Marwah.

__ADS_1


“ Keliatannya Pak Osman kenal dekat sama Marwah ya...?” tanya Iyaz.


“ Saya dan Marwah memang dekat. Jujur Saya memang mencintainya dan beberapa kali mengungkapkan perasaan padanya. Tapi Marwah menolak...,” sahut Osman sambil tersenyum kecut.


“ Mungkin dia udah punya kekasih...,” kata Iyaz asal.


“ Ga ada, Marwah itu ga pernah pacaran. Waktunya selalu habis untuk belajar. Marwah menolak Saya bukan karena dia ga menyukai Saya. Marwah hanya ga mau kalo Saya bakal ninggalin dia nanti kalo tau gimana keluarganya...,” sahut Osman.


“ Emang keluarganya kenapa...?” tanya Iyaz tak mengerti.


“ Orangtua Marwah tinggal di kota lain, kota tempat Marwah lahir dan besar. Di sini Marwah hanya sendiri dan tinggal di rumah kost ga jauh dari kampus Kita. Ayahnya buruh pabrik dan Ibunya asisten rumah tangga. Sebenarnya Marwah juga kerja sampingan sebagai penjaga toko kain, tapi gajinya selalu habis untuk memenuhi tuntutan Ibunya...,” kata Osman.


“ Bukannya Ibunya Marwah kerja. Terus dikemanain gajinya...?” tanya Iyaz bingung.


“ Marwah ga tau, dia berpikir kalo uang yang diminta Ibunya itu digunakan untuk membiayai keperluan dua adiknya, makanya Marwah ga keberatan sama sekali. Tapi waktu Marwah meninggal dan media memberitakan tentang keluarganya, dikatakan kalo kedua adik Marwah juga kerja untuk memenuhi kebutuhan mereka masing-masing. Jadi uang yang diminta Ibu Marwah belum jelas lari kemana...,” kata Osman.


“ Apa Bapak ga keberatan kalo Kita ke rumah Marwah...?” tanya Iyaz hati-hati.


“ Boleh. Kapan Kita ke sana...?” tanya Osman antusias.


“ Insya Allah lusa...,” sahut Iyaz cepat.


“ Gitu ya. Mungkin akan sedikit sulit, tapi Saya harap Kita nemu petunjuk di sana...,” kata Iyaz yang diangguki Osman.


\=====


Perjalanan menuju rumah orangtua Marwah berjalan lancar. Meski pun harus menempuh waktu dua jam, tapi Iyaz nampak tenang. Bahkan nampaknya Iyaz juga menikmati pemandangan alam yang tersaji selama perjalanan.


Tak sulit mencari alamat rumah orangtua Marwah karena mereka tinggal di kota kecil yang lumayan padat. Saat tiba di depan rumah orangtua Marwah terdengar suara seorang wanita yang sedang memarahi anaknya. Tak lama kemudian pintu terbuka dan memperlihatkan adegan yang mengejutkan dimana sang anak berteriak memaki wanita di dalam rumah.


“ Iya, iya. Aku pergi. Jangan Kau pikir hanya Kau yang menyesal melahirkanku ke dunia ini. Aku juga menyesal lahir dari rahimmu...!” kata pria itu lantang sambil membanting pintu rumah.


Osman dan Iyaz saling menatap lalu menyingkir untuk memberi jalan pada pria yang baru keluar dari rumah itu. Kasak kusuk pun terdengar di depan rumah saat pria itu melintas.


“ Kasian banget ya si Salman. Sejak Marwah meninggal dia kaya ga punya pegangan lagi. Ayahnya sibuk kerja, Ibunya juga selalu menuntut. Mana galak banget lagi...,” kata warga yang berdiri di depan rumah sambil menatap kepergian Salman.

__ADS_1


“ Iya, mana ada orangtua yang kaya gitu. Nyuruh Anak kecil kerja keras tapi hasilnya diambil semua ga tau untuk apa. Padahal dia sendiri punya gaji dari pekerjaannya itu. Dasar wanita gila...,” sahut warga lainnya dengan mimik kesal.


“ Semua ga akan kaya gini kalo aja Pak Gusman mau tegas sama Istrinya itu. Dari dulu Pak Gusman itu lemah kalo berhadapan sama Istrinya. Entah karena terlalu cinta atau karena dia udah habis akal buat mendidik istrinya itu...,” kata warga prihatin.


“ Gimana Pak, apa Kita batalkan aja niat Kita...?” tanya Iyaz.


“ Kita lanjutin aja, udah nanggung Nak. Lagi pula Saya malah penasaran sama kehidupan keluarga Marwah...,” sahut Osman.


“ Ok...,” kata Iyaz sambil melangkah mengikuti Osman.


Kemudian Osman mengetuk pintu beberapa kali. Di ketukan yang ketiga pintu pun terbuka dan menampilkan sosok wanita berusia lima puluh tahunan yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu.


“ Assalamualaikum..., apa benar ini rumah Pak Gusman...?” tanya Osman.


“ Wa alaikumsalam. Betul, tapi Pak Gusman baru kembali sore nanti...,” sahut ibu Marwah.


“ Apa Kami boleh nunggu di sini ?, ada hal penting yang harus Kami bicarakan...,” kata Osman setengah memaksa.


Ibu Marwah nampak mengamati kedua tamunya. Setelah yakin jika dua pria di hadapannya bukan orang jahat, ibu Marwah pun mengangguk lalu mempersilakan Osman dan Iyaz untuk masuk ke dalam rumahnya.


“ Baik, silakan masuk...,” kata ibu Marwah sambil membuka pintu lebar-lebar.


“ Terima kasih...,” sahut Osman dan Iyaz bersamaan yang diangguki ibu Marwah.


“ Saya buatkan minum dulu...,” kata ibu Marwah sambil berlalu.


Osman dan Iyaz pun masuk lalu duduk di kursi tamu. Mereka mengamati semua foto yang terpampang di dinding dengan seksama. Foto-foto yang memperlihatkan kebahagiaan palsu keluarga Marwah hingga membuat Iyaz berdecak sebal.


“ Kenapa nak...?” tanya Osman.


“ Gapapa Pak. Saya kesal disuguhi kepalsuan kaya gini...,” sahut Iyaz sambil membuang tatapannya kearah luar.


“ Sabar, kendalikan emosimu...,” bisik Osman.


“ Iya Pak, maaf...,” sahut Iyaz salah tingkah.

__ADS_1


Tak lama kemudian ibu Marwah keluar dengan nampan berisi minuman hangat untuk tamunya. Di belakang sang ibu terlihat hantu Marwah tengah mengekorinya kemana pun ia pergi.


\=====


__ADS_2