Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
36. Tentang Dante


__ADS_3

Para polisi masih mematung di tengah ruangan usai mendengar penjelasan Parmi. Hingga suara ponsel salah satu


anggota polisi itu berdering dan mengejutkan semua polisi. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka menggeledah rumah Dante. Sedang polisi yang ponselnya berdering pun terlihat menerima panggilan telephon itu dengan sikap hormat pertanda jika yang menghubunginya adalah atasannya.


“ Siap Pak...,” sahut sang polisi lalu mengakhiri percakapannya.


Tak lama kemudian AKP. Heru datang sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah Dante. Tatapannya terhenti pada pintu berwarna dan bermotif aneh.


“ Apa isi ruangan itu...?” tanya Heru.


“ Belum tau Pak. Ruangannya terkunci dan kata asisten rumah tangga yang bernama Mbok Parmi ruangan itu


memang selalu terkunci. Kami belum berhasil membukanya. Karena selain kuncinya dibawa sama Pak Dante, kayanya ada benda berat yang nahan pintu itu dari dalam Pak...,” sahut salah seorang polisi.


“ Minggir Kalian, biar Saya yang buka...,” kata Heru sambil memasang kuda-kuda.


Kedua anak buah Heru pun memenepi untuk memberi jalan pada atasan mereka itu. Diiringi lantunan dzikir di dalam hati, Heru pun berhasil mendobrak pintu itu dalam sekali tendangan. Dua anak buah Heru nampak terkagum-kagum dengan kemampuan Heru.


“ Kok bisa, padahal Gue yakin banget kalo ada sesuatu yang nahan dari dalam tadi...,” kata mereka dalam hati.


Begitu pintu berhasil dibuka, tercium bau lumpur yang pekat bercampur bau anyir darah. Seketika bau yang


menyeruak itu membuat perut kedua polisi yang ada di depan pintu itu menjadi mual. Mereka bergegas lari keluar dan muntah hebat di sana.


Dari ambang pintu Heru melihat kamar yang berantakan. Di lantai kamar terlihat dua tampah terbuat dari anyaman


bambu. Salah satunya berisi sesajen berupa bunga tujuh rupa yang telah mengering. Sedangkan tampah satunya berisi kelapa, singkong dan apel yang juga terlihat mulai mengering. Heru mengerti jika itu adalah ruangan tempat Dante melakukan ritual sesatnya.


Kemudian Heru meminta anak buahnya yang lain untuk masuk dan menggeledah ruangan itu. Sambil menunggu laporan anak buahnya Heru menghubungi Faiq dan menceritakan temuannya itu. Beberapa saat kemudian anak buah Heru melapor jika mereka tak menemukan bukti kejahatan yang mereka cari di ruangan itu.


\=====


Sementara itu di sebuah penginapan yang jauh dari kota Jakarta tampak Dante sedang duduk sambil menikmati


secangkir kopi. Ia telah mendapat kabar jika rumahnya digrebek polisi.


Saat itu Dante sedang menunggu seseorang. Sesekali kepalanya menoleh kearah pintu berharap orang yang ia


tunggu segera datang. Tiba-tiba ponsel Dante berdering, dan nama Mbah Suroso yang tertera di sana. Dante nampak tersenyum lalu menerima panggilan telephon itu.


“ Iya, udah sampe mana Mbah...?” tanya Dante cepat.


“ Maaf Dante, Aku ga bisa pergi...,” sahut Mbah Suroso.


“ Lho, gimana si Mbah. Terus Saya gimana kalo Mbah ga datang. Jangan main-main sama Saya ya Mbah. Saya udah kasih uang banyak buat Mbah, kok giliran Saya terdesak kaya gini Mbah malah ga mau bantu...?!” kata Dante dengan nada suara tinggi.


“ Kamu berani mengungkit pemberianmu yang tak seberapa itu Dante. Apa Kau ingat siapa yang udah bantuin Kamu hingga Kamu bisa kaya raya dan sukses kaya sekarang. Pemberianmu itu tak seberapa jika dibandingkan jasaku Dante...!” sahut Mbah Suroso marah.


“ Maaf Mbah, bukan maksud Saya mengungkit pemberian Saya untuk Mbah. Saya lagi bingung Mbah, Saya dikejar-kejar Polisi. Saya harus gimana kalo Mbah ga bantuin Saya...?” keluh Dante.

__ADS_1


Tak ada jawaban. Rupanya mbah Suroso telah memutuskan sambungan telephon secara sepihak. Tentu saja hal itu membuat Dante murka. Ia mengamuk di dalam kamar itu dan menghancurkan benda apa pun yang ada di dekatnya. Suara gaduh dari kamar Dante menakutkan pengunjung lain hingga membuat pengurus penginapan datang dan mengetuk pintu kamarnya.


Dante menghentikan aksinya. Ia memberitahu pelayan peginapan jika semuanya baik-baik saja dan ia berjanji akan mengganti semua kerusakan yang dibuatnya.


Sedangkan di tempat lain terlihat Mbah Suroso tengah tertawa bahagia saat mengetahui Dante terpuruk. Nampaknya Mbah Suroso punya sedikit dendam pada Dante.


Mbah Suroso mengenal Dante saat ada pembangunan sebuah madrasah di desanya. Saat itu Dante hanya seorang kuli bangunan biasa yang kerap dimarahi oleh mandor bangunan karena lamban dan tak cekatan.


“ Dasar pemalas, ngapain Kamu santai di sini. Kalo ga ada yang bisa dibantu di sini, Kamu bisa liat siapa lagi yang perlu bantuan. Bukannya malah asyik nongkrong sambil ngerokok kaya Bos. Saya bayar Kamu buat kerja bukannya santai kaya gini. Gaji minta sama tapi kerja ga mau capek. Kalo Kamu ga bisa ikut aturan Saya, lebih baik Kamu keluar aja. Saya bisa cari orang lain yang lebih baik dari Kamu...!” kata mandor bernama Rasidi itu kesal.


“ Jangan Pak, Saya masih butuh kerjaan ini karena Saya punya Anak dan Istri Pak. Maafin Saya, Saya janji ga akan kaya tadi lagi...,” sahut Dante sambil menundukkan kepalanya.


“ Baik, Saya kasih Kamu kesempatan sekali lagi. Tapi kalo Saya masih liat Kamu kaya gini, bukan hanya Kamu harus keluar dari proyek ini tapi gajimu juga ga akan Saya bayar...,” ancam Rasidi sambil berlalu.


Dante menatap punggung Rasidi dengan tatapan penuh kebencian dan hal itu dilihat oleh Mbah Suroso yang


kebetulan melintas.


“ Kalo ga mepet banget juga ga bakalan Aku mau kerja di tempat kaya gini. Mandornya cerewet, pelit, suka ngancam. Awas kalo Aku kaya nanti. Bakal Aku injak-injak harga dirinya di depan orang banyak sampe dia ga punya muka lagi...,” gerutu Dante yang didengar oleh Mbah Suroso.


“ Kalo Kamu mau, Aku bisa bantu membalas dendam sekaligus bikin Kamu kaya...,” kata Mbah Suroso yang berdiri di belakang Dante.


Dante menoleh dan melihat sosok pria tua berpakaian serba hitam sedang menatapnya dengan tajam.


“ Gimana caranya...?” tanya Dante antusias.


Dante menatap kesal kearah Mbah Suroso yang berjalan menjauh itu. Baginya, Mbah Suroso bukan memberi jalan


keluar tapi malah membuatnya makin lelah. Bagaimana tidak. Hanya ada satu sungai di desa itu dan letaknya sangat jauh dari lokasi tempatnya berada sekarang. Dan itu artinya ia akan kelelahan saat tiba di sungai itu karena harus menempuh perjalanan menuju sungai dengan berjalan kaki.


“ Dasar orangtua ga waras...,” maki Dante dalam hati lalu melanjutkan pekerjaannya.


Namun rupanya Mbah Suroso memang ingin menjerat Dante. Ia terus menerror Dante dengan bisikan-bisikan ghaib yang sengaja ia kirimkan hingga membuat Dante tak nyaman dan menuruti permintaan Mbah Suroso.


Saat keduanya bertemu di pinggir sungai, Mbah Suroso langsung mengatakan bagaimana cara Dante bisa mewujudkan keinginannya itu. Tanpa pikir panjang Dante langsung mengiyakan apa yang diucapkan Mbah Suroso.


“ Terus apa yang harus Saya lakuin Mbah...?” tanya Dante.


“ Sekarang Kamu bertapa di gua itu. Jangan buka mata walau ada suara aneh yang Kamu dengar atau bau yang bakal menusuk hidung. Bertahan lah. Kalo udah selesai Saya akan datang menjemput...,” sahut Mbah Suroso.


“ Gua, ga ada gua di sungai ini Mbah...,” kata Dante.


“ Ada, itu di belakangmu. Masuk dan duduk lalu tutup matamu...!” perintah Mbah Suroso.


Dante menuruti perintah Mbah Suroso meski dalam benaknya ia masih mencoba mengingat jika tak ada gua di


sepanjang sungai itu. Dante yakin karena ia lahir dan besar di desa itu. Selain itu ia dan temannya kerap bermain di sungai itu dulu hingga ia hapal di luar kepala bagaimana kondisi sungai itu. Tapi Dante terdiam saat melihat sebuah gua berukuran kecil ada di depan matanya. Kemudian Dante duduk bersila sambil memejamkan matanya.


Tanpa Dante sadari, ia berada di dalam gua itu selama tiga hari tiga malam. Di malam ke tiga Dante mendengar

__ADS_1


suara bergemerisik rumput yang diinjak seolah ada sesuatu yang berjalan mendekat kearahnya. Lalu disambung dengan suara seperti benturan di dinding gua. Dante tetap memejamkan matanya dengan memasang sikap waspada karena khawatir sesuatu atau seseorang akan menyerangnya.  Tak lama kemudian aroma tak sedap menguar di dalam ruangan gua yang kecil itu hingga membuat Dante harus menahan nafas karena tak tahan dengan baunya.


Yang terjadi sesungguhnya adalah seekor babi hutan berukuran besar masuk ke dalam gua setelah Mbah Suroso


melakukan ritual di luar gua. Babi hutan berukuran besar, berbulu hitam, dengan taring mencuat di ujung mulutnya nampak menyeringai saat melihat Dante duduk di dalam gua itu. Babi hutan itu menggesekkan tubuhnya pada dinding gua seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya dan suara itu lah yang didengar oleh Dante. Kemudian babi hutan itu membuang kotoran di atas tampah yang dialasi daun pisang dan bau itu lah yang menguar dalam gua tadi.


Setelah selesai membuang kotoran, babi hutan itu lenyap begitu saja. Mbah Suroso nampak tersenyum puas saat


melihat Dante mematuhi perintahnya untuk tetap memejamkan mata hingga ritual itu berakhir.


Mbah Suroso menepuk pundak Dante pertanda jika ritual telah selesai. Kemudian ia menyodorkan tampah berisi


kotoran babi itu ke depan Dante.


“ Ritualnya sudah selesai dan Kamu berhasil. Sekarang makan lah, Kamu pasti lapar setelah tiga hari tiga malam ga makan apa-apa...,” kata Mbah Suroso.


Tanpa banyak komentar Dante langsung melahap kotoran babi itu dengan cepat. Yang ada di penglihatan Dante


saat itu adalah Mbah Suroso menyodorkan satu tampah berisi nasi putih, ayam bekakak dan tumis kangkung. Dante memakan ‘hidangan’ itu hingga tandas. Setelah itu Dante diminta mandi di sungai.


Saat keluar dari sungai Dante tak menjumpai mbah Suroso di sana. Namun ada secarik kertas berisi catatan tentang petunjuk lanjutan untuknya. Dalam catatan itu tertulis jika Dante harus menyiapkan satu kamar untuk ritual dan malam Sabtu Kliwon sebagai waktu penyerahan tumbal. Dante mengangguk tanda mengerti dan bergegas pulang ke rumah.


Saat tiba di rumah Dante melihat anak istrinya sedang tertawa bahagia sambil makan. Yang mengejutkan, mereka


sedang makan makanan yang harganya tak terjangkau oleh gaji Dante yang pas-pasan itu.


“ Bapak sini, Kita makan rendang daging lho. Enak...,” kata anak Dante.


“ Kok bisa makan rendang daging, uangnya darimana Bu...?” tanya Dante pada istrinya.


“ Ga beli Pak. Waktu buka pintu tadi ada tas besar di teras rumah. Pas ibu buka ga taunya isinya nasi sama lauk


pauk. Ada uangnya juga lho Pak, nih liat...,” sahut istri Dante sambil memperlihatkan dua gepok uang ratusan ribu rupiah.


Dante tersenyum karena tahu jika apa yang dinikmati oleh keluarganya itu adalah pemberian sosok ghaib sembahan mbah Suroso. Kemudian Dante ikut bergabung dengan keluarganya menikmati makanan itu. Dalam hati Dante yakin jika ia akan segera kaya dan membalaskan dendamnya pada Rasidi seperti apa yang diucapkan mbah Suroso.


Sejak saat itu Dante mulai berubah. Ia tak lagi kerja sebagai kuli bangunan. Ia memilih menjadi penambang pasir dan batu kali. Dante merekrut beberapa tetangga untuk membantunya menambang batu kali dan pasir di pinggiran sungai. Setelah terkumpul Dante menjualnya ke kota. Dalam sekejap Dante menjadi kaya raya berkat usahanya yang mendapat bantuan ghaib itu.


Namun rupanya sikap Dante pun berubah pada mbah Suroso. Dante hanya beberapa kali memberi uang pada mbah Suroso sebagai ungkapan terima kasihnya. Ia bahkan tak mengundang mbah Suroso saat meresmikan perusahaannya. Dante hanya mengundang orang lain dan saingan bisnisnya untuk hadir dalam acara besarnya itu hingga membuat mbah Suroso sakit hati.


“ Dasar orang ga tau diri. Udah kaya malah lupa sama orang yang membantunya. Liat aja, saat jatuh nanti Aku ga


akan mau membantumu...,” gumam mbah Sursoso.


Dan niat mbah Suroso pun ia wujudkan saat ini, saat Dante membutuhkan bantuannya ia mengabaikannya begitu


saja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2