Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
307. Melahirkan


__ADS_3

Hanako memasuki ruangan bersalin ditemani Pandu. Sedangkan Farah dan Efliya menunggu di luar ruang bersalin


bersama Erik dan Heru.


“ Wah, udah bukaan sembilan ya Bu Hanako. Kita tunggu sebentar lagi sampe bukaan lengkap yaa...,” kata dokter


Mita dengan ramah.


“ Berapa lama lagi dok...?” tanya Hanako.


“ Ga lama kok, semangat ya...,” sahut dokter Mita yang diangguki Hanako.


Pandu yang mendampingi Hanako pun nampak tersenyum sambil sesekali mengecup kepala Hanako dengan sayang. Pandu nampak terharu melihat perjuangan Hanako menjelang kelahiran bayinya. Jika biasanya Hanako akan merengek saat diberi vitamin atau suplemen, tapi sejak di perjalanan tadi Hanako menerima semua pemberian sang oma dengan senang hati. Nampaknya Hanako sadar jika melahirkan membutuhkan tenaga yang besar hingga perlu didorong dengan vitamin dan suplemen agar ia kuat mengejan nanti.


Ketegangan nampak menyelimuti Hanako dan Pandu saat dokter menyatakan jika bukaan jalan lahir telah lengkap.


Hanako nampak bersiap untuk mengejan sedangkan Pandu mendampinginya sambil terus berdzikir.


“ Nah udah lengkap, sekarang siap-siap mengejan. Hitungan ketiga ya. Satu..., dua..., tiga..., ya dorong Bu Hanako...,” kata dokter Mita memberi aba-aba.


Hanako nampak mengikuti arahan dokter Mita. Setelah beberapa kali mengejan, Hanako pun berhasil melahirkan bayi pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki.


“ Alhamdulillah..., jagoannya udah lahir Bu Hanako. Selamat ya...,” kata dokter Mita sambil tersenyum.


“ Alhamdulillah..., makasih dok...,” sahut Hanako dan Pandu bersamaan.


Pandu menciumi wajah Hanako sambil mengucapkan terima kasih berulang kali. Hanako pun tersenyum sambil menitikkan air mata bahagia. Rasa sakit yang ia rasakan selama beberapa jam pun  sirna saat mendengar tangisan sang bayi.


Seorang perawat mendekat lalu menyerahkan bayi yang dilahirkan Hanako tadi kepada Pandu untuk diadzankan. Pandu menerima dengan senang hati lalu mulai mejalani tugas dan kewajibannya itu. Lagi-lagi Hanako menitikkan air mata saat melihat Pandu mengadzankan anak mereka di telinga kanannya dan membacakan iqomat di telinga kiri sang bayi. Setelahnya sang bayi kembali diserahkan kepada perawat untuk dibersihkan.


Sementara itu di luar ruang bersalin empat orang yang tengah menanti dengan cemas pun nampak tertawa bahagia. Suara tangis bayi Hanako terdengar jelas dan membuat keempatnya mengucap hamdalah secara bersamaan.


“ Alhamdulillah...,” kata Erik, Farah, Efliya dan Heru bersamaan sambil tersenyum bahagia.


“ Kita udah jadi Nenek dan Kakek ya Yah...,” kata Efliya sambil menitikkan air mata.


“ Iya Bun...,” sahut Heru sambil memeluk Efliya erat.


“ Alhamdulillah sekarang Kita jadi Kakek dan Nenek buyut ya Pa...,” kata Farah sambil tersenyum.


“ Iya Ma. Udah tambah tua ya Kita...,” sahut Erik sambil menepuk punggung Farah dengan lembut.


“ Iya, gapapa tua yang penting kan sehat Pa...,” kata Farah sambil menepuk punggung tangan suaminya.

__ADS_1


“ Aamiin..., Mama benar...,” sahut Erik sambil tersenyum.


Setengah jam kemudian pintu ruang bersalin terbuka. Pandu pun keluar dari ruang bersalin bersama dokter dan perawat sambil mendorong brankar yang berisi Hanako dan bayinya. Mereka menuju ke ruang rawat inap yang telah disiapkan untuk Hanako dan bayinya.


“ Itu mereka...,” kata Efliya dengan wajah berbinar.


“ Iya, Mama ga sabar mau gendong bayinya...,” kata Farah.


“ Aku dulu dong Ma, kan ini Cucu Aku...,” sahut Efliya sambil melirik sang mama.


“ Ga bisa, pokoknya Mama dulu yang gendong...,” kata Farah galak.


“ Apaan sih Mama, Aku dulu yang gendong...,” sahut Efliya tak mau kalah.


Erik nampak menggelengkan kepalanya menyaksikan anak dan istrinya berdebat tentang siapa yang lebih dulu menggendong bayi Hanako. Sedangkan Heru nampak tak enak hati. Sesaat kemudian Heru mengatakan sesuatu yang membuat Efliya harus mengalah meski dengan perasaan kesal.


“ Udah Bun, ngalah sedikit dong sama Mama. Biar Mama dulu yang gendong bayinya ya...,” bujuk Heru lembut.


“ Iya iya...,” sahut Efliya sambil cemberut.


“ Nah, itu baru namanya menantu hebat dan pengertian. Makasih ya Heru...,” kata Farah sambil mengacungkan jempolnya kearah Heru.


“ Sama-sama Ma...,” sahut Heru sambil tersenyum.


\=====


Kabar kelahiran putra pertama Hanako dan Pandu juga disambut gembira oleh keluarganya yang masih tinggal di penginapan. Mereka bersyukur karena Hanako dan bayinya dikabarkan selamat.


“ Alhamdulillah..., Cici dan bayinya selamat...,” kata Faiq sambil tersenyum.


“ Alhamdulillah...,” sahut semuanya bersamaan.


“ Bayinya cewek atau cowok Yah...?” tanya Shera penasaran.


“ Katanya sih Cowok Bun. Bener kata Mama kalo Cici bisa bertahan sampe Jakarta. Buktinya dia melahirkan pas udah sampe Rumah Sakit di Jakarta...,” kata Faiq sambil menggelengkan kepalanya karena salut dengan Hanako.


“ Wah, kalo gitu sekarang Aku ga bisa jailin Cici lagi dong...,” celetuk Izar.


“ Pasti ga bisa. Karena sekarang Cici punya satu bodyguard baru...,” sahut Iyaz sambil tertawa diikuti tawa lainnya.


“ Udah cukup. Sekarang Kalian balik ke kamar untuk istirahat dan berkemas. Besok abis sarapan Kita balik ke Jakarta...,” kata Faiq yang diangguki semuanya.


Kemudian mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat sekaligus berkemas supaya bisa  kembali ke Jakarta esok pagi.

__ADS_1


\=====


Hanako baru saja bangun usai tidur panjangnya yang melelahkan. Hanako terbangun kerena mendengar tangisan bayinya. Saat membuka mata ia mendapati dirinya ada di sebuah ruangan bersama suami dan bayinya juga keluarga mereka.


“ Kamu udah bangun Nak. Sekarang udah jadi Ibu, selamat yaa...,” kata Efliya lembut sambil menciumi wajah Hanako dengan sayang.


“ Iya Bun, makasih...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


Kemudian Farah mendekatinya lalu mengusap kepalanya dengan lembut sambil mendoakan keselamatan Hanako. Setelahnya Farah memeluk Hanako dengan erat sambil menitikkan air mata.


“ Cucu perempuan Oma satu-satunya sekarang udah jadi Ibu, selamat ya sayang...,” kata Farah.


“ Makasih Oma...,” sahut Hanako sambil memejamkan matanya.


“ Jadi siapa nama bayimu Kak...?” tanya Heru setelah mencium kening Hanako.


“ Mas Pandu yang siapin nama bayinya Yah...,” sahut Hanako sambil menatap sang suami yang tengah menggendong bayinya.


“ Namanya Paundra Hilal Ahmad Yah. Paundra artinya cerdas, berbakat dan kreatif. Hilal artinya bulan sabit. Ahmad artinya yang terpuji. Jadi secara keseluruhan artinya laki-laki terpuji yang cerdas, berbakat dan kreatif yang lahir saat bulan sabit menghias malam...,” sahut Pandu sambil menatap bayi dalam pelukannya itu dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang.


“ Masya Allah, nama yang bagus sekali...,” kata Erik sambil menyentuh pipi sang bayi dengan lembut.


“ Betul. Nama yang bagus dan menyenangkan untuk disebut...,” kata Farah menambahkan.


Heru dan Efliya nampak saling menatap lalu mengangguk karena setuju dengan nama yang disematkan oleh Pandu untuk cucu pertama mereka itu.


“ Gimana Sayang, Kamu suka ga sama nama itu...?” tanya Pandu yang belum mendengar respon dari Hanako.


“ Iya, Aku suka nama itu Mas...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


“ Alhamdulillah Aku lega dengernya. Kamu mau panggil Anak Kita dengan nama yang mana Sayang...?” tanya Pandu sambil meletakkan bayinya di atas pangkuan Hanako.


“ Mmm..., Paundra. Aku rasa itu cocok untuknya...,” sahut Hanako sambil mencium pipi bayinya.


“ Paundra..., Bunda setuju...,” kata Efliya antusias.


“ Ayah juga...,” sahut Heru cepat hingga membuat semua tertawa.


“ Sekarang Kita doain dulu bayinya biar Paundra jadi anak sholeh yang bermanfaat untuk agama, nusa dan bangsa...,” kata Erik.


“ Aamiin...,” sahut semuanya bersamaan.


Kemudian Erik membaca untaian doa khusus untuk Paundra yang diaminkan oleh semua yang hadir di ruangan itu. Usai doa dilantunkan Paundra pun menangis seolah mengucap terima kasih atas doa yang dilantunkan Erik untuknya.

__ADS_1


\=====


__ADS_2