Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
361. Jangan Ganggu Qiana !


__ADS_3

Pria itu terlihat beringas. Ia berhasil membalikkan keadaan hingga membuat Qiana tersandar ke dinding. Sebelum


tangannya berhasil menyentuh paha Qiana, tubuh pria itu terpelanting ke samping diiringi suara yang berdebum bersamaan dengan tubuhnya yang membentur dinding.


“ Jangan cuma berani sama cewek Bung. Lawan Gue kalo berani...!” kata Izar sambil menyerang pria itu bertubi-tubi.


Desi yang berdiri di belakang Izar langsung menghambur kearah Qiana. Ia memeluk Qiana dengan erat lalu membawanya keluar dari toilet.


“ Kamu gapapa kan Qi...?!” tanya Nita yang datang bersama seorang security.


Sang security langsung masuk dan menghentikan perkelahian antara Izar dan pria bertatto itu sedangkan Nita mendekati Desi dan Qiana.


“ Dia gapapa. Untung Pak Izar langsung nendang cowok itu sebelum berhasil menyentuh Qiana...,” sahut Desi.


“ Rok Kamu sampe sobek kaya gini Qi...,” kata Nita prihatin.


“ Ini gara-gara Aku nendang cowok brengs*k itu tadi...,” sahut Qiana kesal.


Qiana, Nita dan Desi menoleh saat melihat security dan Usep membawa pria bertatto itu keluar dari toilet. Saat


melintas di depan Qiana pria bertatto itu tersenyum kerahnya dengan wajah yang lebam dan berdarah. Qiana mendengus kesal melihat tingkah pria itu.


“ Udah bonyok gitu masih aja tebar pesona...,” gerutu Desi sambil memasang tampang muak.


“ Eh, kayanya Aku pernah ngeliat dia deh...,” kata Nita tiba-tiba hingga membuat Desi, Qiana dan Izar menoleh kearahnya.


“ Yang bener Nit...?” tanya Qiana.


“ Iya Qi. Itu bukannya nasabah yang tiap kali datang maunya ketemu sama Kamu dulu ya...,” sahut Nita ragu.


Desi dan Qiana saling menatap sejenak kemudian mengangguk.


“ Oh iya itu emang dia...!” kata Desi antusias.


“ Tapi setau Aku dulu dia ga senekad sekarang lho. Kenapa sekarang  jadi menakutkan kaya gitu sih...,” sahut Qiana sambil menggelengkan kepalanya.


Seorang karyawan rumah makan pun mendatangi mereka dan minta maaf karena tak tahu jika telah terjadi keributan di toilet wanita.


“ Sebaiknya Kalian pergi dari sini. Biar Saya yang ngurus orang itu...,” kata Izar sambil melepaskan jaketnya.


“ Iya Qi, Kita balik aja ke kantor. Sepuluh menit lagi kan jam makan selesai...,” sahut Desi yang diangguki Nita dan Qiana.


“ Pake ini untuk nutupin rok Kamu itu Qi...,” kata Izar sambil menyodorkan jaketnya kearah Qiana.


Qiana menerimanya dengan terpaksa karena dia memang membutuhkannya untuk menutupi sebagian pahanya yang tersingkap itu. Meski pun ia mengenakan hot pants, namun Qiana tak ingin menjadi perhatian orang lain di luar sana saat melihat roknya yang sobek itu.


“ Makasih Pak Izar. Saya bakal ngembaliin ini secepatnya...,” sahut Qiana yang diangguki Izar.

__ADS_1


Kemudian Qiana mengikatkan jaket itu di pinggangnya hingga berhasil menutupi bagian bawah tubuhnya dengan sempurna. Qiana tersenyum lalu melangkah mengikuti Nita dan Desi.


\=====


Qiana menceritakan kejadian menegangkan tadi kepada kedua orangtuanya yang terlihat sangat khawatir.


“ Tapi Kamu gapapa kan Qi...?” tanya sang ummi.


“ Alhamdulillah ada Pak Izar yang nolongin Mi. Jadi cowok itu ga sempet melecehkan Aku...,” sahut Qiana.


“ Harusnya dipolisiin biar kapok orangnya...,” kata abi Qiana kesal.


“ Aku juga maunya gitu Bi. Tapi karena Aku langsung balik ke kantor sama Nita dan Desi, jadi Pak Izar yang ngurusin semuanya. Aku ga tau orang itu diapain. Dipenjara atau malah dibebasin gitu aja...,” sahut Qiana sambil menggedikkan bahunya.


“ Mudah-mudahan juga cepet ketauan apa maunya orang itu nerror Kamu terus ya Qi...,” kata ummi Qiana.


“ Iya Mi...,” sahut Qiana sambil beranjak masuk ke dalam kamarnya.


Sementara itu di tempat lain terlihat seorang dukun wanita berpenampilan nyentrik nampak berdecak sebal. Ia


menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat ke udara sambil memaki mengatakan sesuatu. Rupanya ia baru saja mengetahui jika calon tumbal yang sedianya akan diserahkan padanya mendadak hilang.


“ Dasar Anak bodoh. Masa nanganin satu cewek aja ga bisa sih. Padahal udah di depan mata tapi masih bisa ilang juga...,” gerutu sang dukun.


Kemudian sang dukun nyentrik bernama Mami Oce itu pun meraih jaketnya, mengenakannya, lalu bersiap pergi.


Di perjalanan Mami Oce nampak menghubungi seseorang. Saat tiba di kantor polisi ia dipertemukan dengan pria


bertatto bernama Reno itu.


“ Reno...!” panggil mami Oce.


“ Mami...,” sahut Reno terkejut lalu menundukkan kepalanya.


“ Apa yang Kamu lakukan, kenapa bisa dibawa ke kantor Polisi...?” tanya mami Oce.


“ Anak Ibu telah menggangu seorang pengunjung rumah makan bahkan menyerang wanita itu hingga membuatnya ketakutan...,” sahut seorang polisi.


“ Siapa, Qiana maksud Bapak...?” tanya mami Oce.


“ Betul. Apa Ibu mengenalnya...?” tanya polisi.


“ Saya kenal sama cewek itu Pak. Dia kerja di Bank di dekat rumah Kami. Mungkin karena sering ngeliat Qiana


makanya Reno ngejar Qiana. Apalagi Qiana kan cantik dan ramah...,” sahut mami Oce sambil tersenyum.


“ Tapi cara anak Ibu mendekati nona Qiana membuatnya takut, apalagi Reno juga terus mengikuti sampe ke toilet...,” kata polisi hingga mengejutkan mami Oce.

__ADS_1


“ Saya minta maaf Pak...,” sahut mami Oce sambil menahan geram.


“ Baik lah. Karena Ibu bersedia menjamin, maka Kami akan membebaskan Reno. Jika kejadian ini terulang lagi


dengan terpaksa Kami akan memenjarakannya. Makanya tolong awasi putra Ibu agar tak mengganggu dan mendekati Nona Qiana lagi...,” kata polisi tegas.


“ Baik Pak. Saya janji akan mengawasi Reno supaya ga bikin ulah lagi...,” janji mami Oce.


Polisi pun mengangguk. Setelah mami Oce menandatangani surat perjanjian sebagai penjamin, Reno pun dibebaskan.


\=====


Saat tiba di rumah mami Oce segera melemparkan tasnya ke lantai. Kemudian ia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Reno. Tiba-tiba mami Oce menampar Reno hingga pria bertatto itu memalingkan wajahnya karena saking kerasnya tamparan sang mami.


Plakkk..., plaakkk !.


“ Dasar anak kurang ajar, idiot, tolol. Kenapa Kamu malah mendekati Qiana. Aku menyuruhmu mengawasi dia dari jauh dan bukan mendekatinya apalagi menyentuhnya...!” kata mami Oce marah.


“ Aku ga bisa hanya melihatnya aja. Aku juga mau dia tau siapa Aku...,” sahut Reno.


“ Tapi liat akibatnya kan. Kamu malah membuatku harus pergi ke kantor Polisi untuk menjemputmu...!” kata mami Oce lantang.


“ Aku tak mintamu menjemputku. Kau sendiri yang datang dan memberi jaminan...,” sahut Reno cuek.


“ Hah, sudah lah. Sekarang sudah waktunya Kau diam dan ikuti apa kataku. Gara-gara ulahmu Aku harus terlambat menyerahkan tumbal yang dijanjikan...,” kata mami Oce sambil beranjak masuk ke dalam kamar rahasianya.


Mendengar kata ‘tumbal’ membuat Reno terkejut. Ia mengejar mami Oce lalu mencekal tangannya dan menahannya agar tak masuk ke dalam kamar.


“ Apa Mami mau menjadikan Qiana tumbal yang berikutnya...?” tanya Reno sambil menatap sang mami lekat.


“ Iya, memangnya kenapa...?” tantang mami Oce.


Jawaban mami Oce membuat Reno mendengus marah. Ia menyentak tangan mami Oce lalu memutarnya. Setelahnya Reno mendorong sang mami hingga jatuh terpelanting ke lantai.


“ Apa-apaan ini Reno. Kamu gila ya...?!” jerit mami Oce sambil meringis.


“ Iya Aku memang gila. Dan Kau tau gimana akibatnya kalo berurusan dengan orang gila. Jadi berhenti lah mengganggu Qiana karena dia adalah milikku. Milikku...!” kata Reno sambil menegaskan kata milikku sekali lagi.


“ Ga bisa Reno...,” sahut mami Oce hingga membuat Reno marah lalu melempar meja hingga membentur televisi.


Mami Oce terkejut lalu memejamkan matanya karena tak sanggup melihat televisi itu hancur lagi di depan matanya. Sesaat kemudian terdengar langkah kaki Reno yang mendekati mami Oce.


“ Jangan ganggu Qiana...!” kata Reno lantang dengan wajah beringas sambil mencekik sang mami.


“ Baik lah...,” sahut mami Oce lirih dan berhasil meredakan kemarahan Reno.


Reno pun bangkit meninggalkan mami Oce lalu membanting pintu dengan keras hingga membuat mami Oce memegangi dadanya yang berdebar kencang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2