
Sementara itu di luar toko terlihat mobil Heru tengah terparkir di halaman toko. Heru turun lalu mengamati sejenak suasana toko dan sekitarnya. Melihat kehadiran Heru yang masih menggunakan seragam polisi lengkap itu membuat security menghampirinya.
“ Selamat malam Pak, apa ada yang bisa Saya bantu...?” tanya security sambil mengangguk hormat.
“ Selamat malam. Saya mau jemput Anak Saya Pak. Keliatannya masih ada meeting di dalam sana...,” sahut Heru.
“ Kalo boleh tau siapa nama Anak Bapak itu, biar Saya coba panggilkan...,” kata security menawarkan diri.
“ Hanako Pak...,” sahut Heru cepat.
“ Oh jadi Bapak ini Ayahnya Mbak Hanako...?” tanya security takjub.
“ Iya...,” sahut Heru sambil tersenyum.
“ Baik, sebentar ya Pak...,” kata security sambil melangkah cepat kearah toko buku yang sudah tertutup rapat itu.
Tok tok tok....
“ Mas Bobi masih lama ga rapatnya, Mbak Hana udah dijemput nih sama Ayahnya nih...!” kata sang security.
Bobi menoleh kearah pintu lalu melangkah menemui security dan mengatakan jika rapat mereka selesai sepuluh menit lagi.
“ Kamu dijemput sama Ayah Kamu Han...?” tanya Madani sambil mengulum senyum.
“ Iya Bang, abis mau gimana lagi. Saya udah nolak tapi Ayah kan ga terima penolakan...,” sahut Hanako santai.
“ Wah kalo gini bakal susah ya buat deketin Kamu Han...,” kata Madani sambil tertawa.
Hanako hanya menggedikkan bahunya karena malas menanggapi gurauan Madani. Sedangkan Wina nampak tak suka mendengar gurauan Madani tadi. Saat Bobi mendekat rapat kembali dilanjutkan.
“ Jadi sekarang udah clear ya. Ga ada lagi yang ditutupi dan ga ada lagi larangan buat Hanako masuk ke dalam gudang. Ngerti ga Win...?!” tanya Bobi.
“ Iya Bang...,” sahut Wina malu-malu.
“ Lagian percuma Lo ngelarang si Hana, dia aja ga takut liat penampakan si Tania. Artinya dia ga bakal resign dalam waktu dekat ini. Iya ga Han...?” tanya Madani.
__ADS_1
“ Maksud Lo gimana sih Bang, Hanako bakal resign juga akhirnya gitu...?” tanya Wina.
“ Iya lah, masa gitu aja ga ngerti sih Win. Hanako ini mahasiswi, dia kerja di sini juga sementara doang. Ntar pas lulus dia pasti cari kerjaan yang sesuai dengan pendidikannya lah. Ngapain juga jaga toko kaya gini. Realistis sedikit lah Win. Lagian Lo juga bakal married kan. Belum tentu Suami Lo ngijinin Lo kerja terus di sini sampe beranak pinak. Terus ntar kalo Lo hamil dan melahirkan, gimana?. Duh, jangan-jangan malah ga sempet nengok ke sini juga...,” sahut Madani berapi-api.
Ucapan Madani membuat Wina dan Hanako tertawa, sedangkan Bobi nampak tersenyum melihat pertikaian mereka sore tadi berakhir manis.
“ Udah malam, Kita pulang yuk. Hanako juga udah dijemput kan sama Bokapnya di luar sana...,” kata Bobi.
“ Ok Bang...,” sahut Hanako, Madani dan Wina bersamaan.
“ Jangan lupa lampu gudang dimatiin ya Dan...,” kata Bobi sambil memadamkan lampu ruangan.
“ Udah daritadi Bob...,” sahut Madani cepat.
Kemudian keempatnya keluar dari toko sambil tertawa-tawa. Saat melihat siapa yang menjemput Hanako, Madani mematung di tempat. Ia tak menyangka jika ayah Hanako adalah seorang perwira polisi. Dari tempatnya berdiri Madani melihat Hanako menghampiri ayahnya sambil tersenyum lalu mencium punggung tangan sang ayah dengan khidmat. Heru pun nampak tersenyum sambil mengusap kepala Hanako dengan sayang.
“ Udah selesai meetingnya...?” tanya Heru.
“ Alhamdulillah udah Yah. Oh iya kenalin ini teman-teman aku Yah. Ini Bang Bobi, ini Wina dan yang di belakang itu Bang Madani...,” kata Hanako sambil memperkenalkan ketiga rekan kerjanya.
pertikaian antar karyawan...,” kata Bobi bergurau sambil menjabat tangan Heru.
“ Tapi udah clear kan...?” tanya Heru.
“ Alhamdulillah udah Om. Kami hanya berempat, terus kalo salah satu ada yang musuhan kan ga enak Om. Apalagi
ruang lingkup kerjanya ga besar, yah mau ga mau pasti bakal ketemu terus kan. Makanya biar ga kelamaan musuhannya mendingan dikelarin sekarang biar besok udah normal lagi kaya biasanya...,” sahut Bobi sambil tersenyum dan diangguki Heru.
Sesaat kemudian Hanako pamit pada ketiga rekannya lalu masuk ke dalam mobil sang ayah setelah menitipkan motornya pada security.
“ Kami duluan ya..., Assalamualaikum...,” kata Heru sambil melajukan mobilnya perlahan meninggalkan area toko.
“ Iya Om, wa alaikumsalam...,” sahut Bobi, Madani dan Wina bersamaan.
Ketiganya menatap kepergian mobil Heru dengan berbagai macam perasaan. Wina menoleh kearah Madani yang masih nampak shock saat mengetahui siapa ayah Hanako.
__ADS_1
“ Kenapa muka Lo kaya gitu Bang...?” tanya Wina.
“ Muka Gue kan emang dari lahir kaya gini Win, gantengnya natural...,” sahut Madani sambil tersenyum.
“ Cih, kepedean Lo Bang...!” kata Wina kesal.
“ Tapi pedenya Madani ga laku di depan Ayahnya Hanako. Buktinya Ayahnya Hanako ga ngelirik sama sekali kearahnya Madani tadi...,” sela Bobi sambil menstarter motornya.
“ Sia*an Lo Bob, suka bener kalo ngomong...,” sahut Madani sambil melempar bungkus rokok kearah Bobi tapi berhasil dihindari oleh Bobi.
Wina pun tertawa lalu duduk di belakang Bobi. Saat motor melaju Wina melambaikan tangannya seolah mengejek Madani yang tampak mati kutu di hadapan ayah Hanako tadi.
\=====
Sejak cerita tentang hantu Tania sampai di telinga Hanako, suasana toko pun lebih nyaman. Keempat karyawan toko nampak makin kompak dan selalu mendiskusikan apa pun termasuk siapa yang bergantian berjaga saat salah seorang diantara mereka ada yang memiliki keperluan pribadi seperti sholat atau ke toilet.
Gofar sebagai pemilik toko merasa senang melihat kekompakan empat karyawannya itu. Selain itu omset toko meningkat. Buku yang mereka jual laris manis hingga keempat karyawan toko buku itu mendapat bonus bulan ini.
Saat Bobi menyampaikan bonus dari Gofar, ketiga rekannya nampak melompat kegirangan seperti anak kecil.
“ Alhamdulillah..., setelah sekian lama akhirnya dapat bonus juga...,” kata Wina antusias sambil mencium amplop berisi uang pemberian Gofar tadi.
“ Iya Win. Rasanya udah lama banget Gue ga megang amplop bonus kaya gini. Berarti Hanako jimat keberuntungan Kita. Sejak dia datang penjualan meningkat, makanya Kita dikasih bonus...,” kata Madani terharu.
“ Bukan gitu Bang. Ini semua kan karena kerja sama Kita semua yang bikin aura toko lebih hidup. Itu yang bikin para pembeli tertarik untuk mampir ke toko ini dan ngeborong buku yang dijual di sini...,” sahut Hanako meluruskan ucapan Madani.
Mendengar ucapan Hanako yang meralat ucapannya tadi membuat Madani malu sedangkan Bobi dan Wina nampak tertawa geli. Sejenak kemudian keempatnya tertawa bersama.
Tiba-tiba tawa mereka terhenti saat mendengar suara berdetak dari dalam gudang. Keempatnya saling menatap lalu sama-sama menoleh kearah gudang. Suara itu begitu dekat dan makin dekat seolah berada di balik pintu gudang.
Tak tak tak....
Dan pintu gudang pun terbuka hingga membuat Wina menjerit lalu jatuh pingsan.
Bersambung
__ADS_1