Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
352. Bukan Pelakor


__ADS_3

Sore itu Tinah kembali ke rumahnya ditemani Ratih. Tinah khawatir pada Usep karena tak juga memberi kabar hingga sore hari. Ratih yang menemani Tinah pun tak punya stok kalimat lagi untuk menenangkan Tinah. Karena itu Ratih pun memutuskan menemani Tinah yang memaksa pulang ke rumah.


“ Kenapa Kita ga nunggu sebentar lagi Bu. Kali aja Pak Usep jemput Bu Tinah nanti...,” kata Ratih.


“ Saya ga perlu dijemput kok Mbak. Saya kan biasa pulang sendiri. Lagian kan jarak dari kost ini ke rumah Saya


juga ga jauh kok...,” sahut Tinah.


Melihat sikap Tinah yang keras kepala akhirnya Ratih pun mengalah. Ia terus mengekori Tinah hingga tiba di


rumahnya. Menyadari Ratih mengikutinya membuat Tinah risih namun tak dapat berbuat apa-apa karena Ratih memang ditugaskan menjaga dirinya oleh Iyaz dan Izar.


Saat melihat kedatangan Tinah di teras rumah, Usep pun tampak tersenyum menyambut sambil merentangkan kedua tangannya. Melihat sikap suaminya yang sedikit aneh membuat Tinah mundur selangkah untuk menghindari jangkauan tangan Usep. Dan itu justru membuat Iyaz, Izar dan Ratih tertawa geli.


“ Kok Kamu malah menghindar gitu sih Sayang...,” kata Usep sambil cemberut.


“ Lagian Abang tuh yang aneh, pake peluk-peluk segala. Malu kan Bang banyak orang di sini...,” sahut Tinah cuek


sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Saat tiba di dalam rumah tatapan Tinah membentur sofa yang terlihat berbeda bentuk dan warnanya.


“ Sofa baru Bang...?” tanya Tinah.


“ Iya, gimana Kamu suka ga...?” tanya Usep.


“ Suka sih. Emangnya sofa Kita yang lama dikemanain Bang...?” tanya Tinah sambil mengusap lengan sofa dengan telapak tangannya.


“ Rusak...,” sahut Usep cepat.


“ Rusak kenapa. Kemaren waktu ditinggal masih Ok kok. Masa mendadak rusak, aneh banget...,” kata Tinah tak percaya.


“ Abang cuma pengen suasana baru aja kok. Yang penting Kamu suka kan sama sofa ini, jadi sofa yang lama dilupain aja ya...,” kata Usep sambil merengkuh pundak Tinah.


“ Iya...,” sahut Tinah sambil tersenyum.


Tinah mengira jika sofa lama mereka rusak karena telah terjadi pertempuran sengit antara tiga pria di hadapannya itu dengan makhluk ghaib yang menerrornya. Dan Tinah tak mempermasalahkan itu karena kini ia telah mendapat ganti sebuah sofa cantik yang jauh lebih baik dari sofa lama mereka.


Sore itu suasana di rumah Usep terlihat berbeda dan lebih ramai dari biasanya. Canda tawa mewarnai sore yang


indah itu. Tinah dan Ratih keluar dari dapur sambil membawa kopi dan makanan ringan untuk melengkapi perbincangan santai mereka.


Sesekali Ratih terlihat mencuri pandang kearah Izar. Iyaz yang duduk di samping Izar pun beberapa kali melihat


wajah Ratih yang merona tiap kali Izar melirik kearahnya.


Saat jam menunjukkan pukul lima sore Iyaz dan Izar pun pamit. Usep,Tinah dan Ratih melepas kepergian si kembar hingga ke teras rumah. Sesaat kemudian mobil yang dikendarai Izar pun melaju meninggalkan rumah Usep.


“ Keliatannya Ratih tertarik sama Kamu Zar...,” kata Iyaz membuka percakapan.


“ Biarin aja Yaz. Aku ga punya hak buat ngelarang orang suka sama Aku kan...?” tanya Izar santai.


“ Iya sih. Terus gimana sama perasaanmu...?” tanya Iyaz.

__ADS_1


“ Perasaan apa. Aku ga punya perasaan apa-apa kok sama dia...,” sahut Izar cuek.


“ Tapi Ratih punya Zar. Dan dia berharap banyak sama Kamu. Berharap Kamu mau menerima cintanya dan Kamu membalas cintanya dengan tulus...,” kata Iyaz.


“ Aku ga bisa Yaz...,” sahut Izar.


“ Kenapa, apa karena Qiana...?” tanya Iyaz hati-hati.


“ Bukan. Aku belum pengen punya hubungan serius sama wanita mana pun. Aku masih mau berkarir dan nyenengin Bunda sama Ayah...,” sahut Izar cepat sambil menginjak pedal gas untuk mempercepat laju mobilnya.


Mendengar ucapan Izar membuat Iyaz tersenyum karena ia tahu Izar tak suka dipaksa. Selain itu Iyaz menghormati


prinsip kembarannya itu. Sesaat kemudian Iyaz pun memilih diam sambil mengecek notifikasi di ponselnya. Saat melihat nama ‘istriku’ di layar ponselnya, Iyaz nampak tersenyum lalu menerima panggilan itu dengan antusias.


“ Assalamualaikum Sayang, kenapa kangen ya...?” sapa Iyaz sambil tersenyum.


Mendengar ucapan Iyaz dan mimik wajahnya membuat Izar berdecak sebal lalu kembali menginjak pedal gas untuk


mempercepat laju mobilnya. Bukannya marah, Iyaz malah tertawa senang karena telah berhasil membuat Izar kesal.


\=====


Hari itu Ratih bertandang ke rumah Qiana. Setelah hampir dua bulan pindah, baru kali ini Ratih menyambangi rumah orangtua sahabatnya itu.


“ Ummi senang ngeliat Kamu baik-baik aja Tih...,” kata ummi Qiana.


“ Iya Mi. Tempat kost yang sekarang beda banget sama kost yang lama. Sedikit lebih mahal tapi Ok lah. Kalo dipikir-pikir, mana ada kost yang harganya kelewat murah kaya di tempatnya Pak Memed. Iya kan Mi...?” tanya Ratih.


“ Betul Nak. Yang penting dari itu semua, Kamu harus waspada. Apalagi Kamu cewek, sendirian merantau ke sini, duh rasanya Ummi ga bisa ngebayangin Kamu terlantar di jalanan Tih...,” kata ummi Qiana sambil menggelengkan kepalanya hingga membuat Ratih tertawa.


belakangnya terlihat Qiana yang juga baru tiba.


“ Assalamualaikum Abi...,” sapa Qiana.


“ Wa alaikumsalam Nak...,” sahut abi Qiana sambil tersenyum.


“ Ada tamu ya Bi...?” tanya Qiana sambil mencium punggung tangan sang abi.


“ Iya...,” sahut abi Qiana.


Kemudian Qiana dan sang abi pun bergegas masuk ke dalam rumah dan mendapati Ratih di sana. Qiana menjerit


senang melihat kehadiran Ratih yang sudah dianggapnya saudara itu. Keduanya saling memeluk dan melompat-lompat seperti anak kecil hingga membuat kedua orangtua Qiana tertawa melihatnya.


“ Kamu nginep di sini kan Tih...?” tanya Qiana.


“ Mmm..., gimana ya...,” sahut Ratih seolah keberatan.


“ Ayolah Tih, besok kan weekend...,” kata Qiana dengan wajah menghiba.


“ Ok. Tapi Aku ga bawa baju ganti Qi..,” sahut Ratih.


“ Gampang, kan bisa pake baju Aku...,” kata Qiana yang diangguki Ratih.

__ADS_1


Keduanya pun larut dalam obrolan panjang mereka. Hanya terjeda saat waktu sholat dan makan. Kedua orangtua Qiana pun maklum dan membiarkan keduanya bersama untuk saling melepas rindu.


“ Begini lah resikonya punya anak tunggal. Saat temannya datang justru Kita yang dicuekin...,” keluh abi Qiana.


“ Yang sabar ya Bi...,” sahut Ummi Qiana sambil mengusap punggung suaminya dengan lembut.


Abi Qiana pun tersenyum lalu kembali menikmati kopi yang dibuatkan sang istri untuknya.


\=====


Malam itu Qiana dan Ratih tak tidur hingga menjelang pagi karena mereka asyik bergosip.


“ Aku ketemu sama Mas Izar beberapa kali lho Qi...,” kata Ratih mencoba mencari tahu bagaimana hubungan Qiana dengan pria yang disukainya itu.


“ Oh ya, dimana...?” tanya Qiana.


“ Di rumahnya Bu Tinah. Ternyata Suaminya Bu Tinah itu teman kerjanya Mas Izar...,” sahut Ratih.


“ Oh gitu...,” sahut Qiana cuek sambil mengenakan cream malam di wajahnya.


Melihat sikap cuek Qiana membuat Ratih memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.


“ Aku suka sama Mas Izar Qi...,” kata Ratih tiba-tiba hingga membuat Qiana terkejut.


“ Kamu serius...?” tanya Qiana sambil menatap Ratih lekat.


“ Iya, apa boleh Mas Izar untukku...?” tanya Ratih hati-hati.


Mendengar pertanyaan Ratih membuat Qiana terdiam sejenak lalu tertawa hingga membuat Ratih bingung dibuatnya.


“ Kok ketawa sih Qi. Aku serius lho...,” kata Ratih kesal.


“ Iya iya, maaf. Aku bingung aja kenapa Kamu minta ijin sama Aku. Kan Aku bukan Ibunya...,” sahut Qiana di sela tawanya.


“ Tapi Kalian kan deket. Aku malah ngira kalo Kalian punya hubungan spesial...,” kata Ratih cepat.


“ Aku sama Mas Izar itu ga punya hubungan apa-apa Tih. Bukan saudara apalagi pacar. Jadi Kamu bebas mau deketin dia...,” sahut Qiana akhirnya.


“ Alhamdulillah. Jadi Aku bukan pelakor kan Qi...?” tanya Ratih dengan wajah berbinar.


“ Iya lah. Kamu bukan pelakor...,” sahut Qiana menegaskan.


“ Aku seneng dengernya Qi. Jujur Aku ga mau bersaing rebutan cowok sama Kamu. Dan Aku juga ga mau Kita musuhan gara-gara cowok. Aku tuh sayang banget sama Kamu Qi...,” kata Ratih sambil memeluk Qiana erat.


“ Iya Tih, makasih. Aku juga sayang sama Kamu. Semoga perjuanganmu mendapatkan hati Mas Izar berhasil ya...,” kata Qiana sambil menepuk punggung Ratih dengan lembut.


“ Aamiin..., makasih suportnya ya Qi...,” sahut Ratih dengan wajah berbinar.


Qiana tersenyum melihat wajah berbinar Ratih yang jarang sekali dilihatnya.


“ Ternyata cinta itu ajaib banget ya. Bisa bikin orang kaku kaya Ratih jadi ceria dan bersinar...,” gumam Qiana


dalam hati sambil tersenyum.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2