
Iyaz masih menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakan hantu Nadifa. Meski pun itu artinya ia membutuhkan
sedikit waktu lebih banyak. Hingga ia melihat Nuara yang tadi dibawa ke klinik nampak telah keluar dari klinik bersama karyawati yang membantunya.
Karena merasa cemas, Iyaz pun melangkah menghampiri Nuara dan karyawati itu.
“ Kamu gapapa Nuara...?” tanya Iyaz.
“ Alhamdulillah, Saya gapapa Pak...,” sahut Nuara sambil tersenyum.
“ Syukur lah...,” kata Iyaz balas tersenyum.
Kemudian Iyaz meminta seorang security memanggil Taxi untu Nuara. Iyaz juga membayar ongkos Taxi untuk kedua karyawati itu.
“ Tolong jangan ngebut ngebut dan antar mereka sampe rumah masing-masing ya Pak. Ini ongkosnya...,” kata Iyaz pada supir Taxi.
“ Baik Pak...,” sahut supir Taxi dengan mata berbinar melihat dua lembar uang ratusan ribu yang disodorkan padanya.
“ Makasih Pak...,” kata Nuara dan karyawati itu bersamaan.
“ Sama-sama...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.
Iyaz menatap kepergian Taxi yang melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman kantor itu sambil
tersenyum. Setelahnya Iyaz pun kembali menghampiri motor miliknya. Sayangnya ia tak mendapati hantu Nadifa di sana.
Iyaz pun melajukan motornya meninggalkan halaman kantor sambil sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan hantu Nadifa.
\=====
Nuara tiba di rumah saat adzan Maghrib berkumandang. Kedua orangtua Nuara bingung melihat Nuara pulang menggunakan Taxi. Apalagi wajah Nadifa terlihat sangat pucat.
“ Kamu kenapa Nak...?” tanya mama Nuara.
“ Aku ga tau Ma...,” sahut Nuara.
“ Maksud Kamu apa sih, kok ga tau. Terus kenapa naik Taxi segala...?” tanya mama Nuara lagi.
“ Aku capek Ma, tolong biarin Aku masuk dulu ya. Aku mau sholat Maghrib dulu...,” kata Nuara sambil melenggang masuk ke dalam kamar.
“ Nuara...!” panggil sang mama.
“ Udah Ma, biarin dia istirahat dulu...,” kata papa Nuara menengahi.
__ADS_1
Mama Nuara mengangguk lalu menutup pintu saat sang suami pamit untuk sholat berjamaah di musholla.
Di dalam kamar Nuara tengah menunaikan sholat Maghrib. Setelahnya ia membaca Al Qur’an. Saat itu lah Nuara teringat kembali dengan peristiwa yang ia alami di lift tadi.
Nuara yang sedang membahas suara wanita di lift dengan Iyaz tadi terkejut saat melihat kehadiran sosok hantu wanita yang tiba-tiba melesat masuk ke dalam tubuhnya. Nuara bisa melihat semua yang ada di sekitarnya dan mendengar apa yang dikatakan Iyaz. Hanya saja tubuh Nuara membeku dan tak bisa digerakkan.
Nuara mendengar apa yang dikatakan Iyaz dengan jelas. Dan anehnya mulutnya bergerak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Iyaz tadi dengan lancar walau Nuara yakin jika yang menjawab bukan dirinya.
“ Apa itu yang disebut ketindihan atau ketempelan ya...,” gumam Nuara sambil meraba tengkuknya yang terasa menebal.
Tiba-tiba pintu kamar Nuara diketuk hingga memaksa Nuara mendekati pintu dan membuka pintu kamar. Nuara kembali mematung karena melihat penampakan hantu wanita yang tadi dilihatnya di lift. Hantu wanita berambut panjang itu nampak menundukkan wajahnya sambil merintih kesakitan. Dan lagi-lagi Nuara tak bisa bergerak atau bicara. Hantu wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya hingga membuat Nuara menahan nafas sambil memejamkan matanya karena takut.
Suara sang mama yang memanggil namanya mengejutkan Nuara hingga kedua mata Nuara refleks membuka.
“ Nuara...!” panggil sang Mama.
“ Iya Ma...,” sahut Nuara.
“ Kenapa malah bengong di depan pintu gitu sih, nakutin tau ga. Maghrib-maghrib kaya gini, pake mukena putih,
berdiri di ambang pintu, mau ngapain coba. Mau nakutin Mama sama Adikmu ya...?” tanya mama Nuara sambil cemberut.
“ Ga Ma, Aku...,” ucapan Nuara terputus karena tak ingin membuat sang mama cemas.
“ Lho, kenapa Kamu ngikutin Mama kaya gitu sih Ra...?” tanya papa Nuara hingga membuat mama Nuara pun menoleh ke belakangnya.
“ Ga tau nih Pa. Anakmu ini aneh banget hari ini...,” sahut sang mama sambil mencium punggung tangan sang suami.
“ Aku abis ngeliat hantu Pa...,” sahut Nuara sambil memegang lengan sang papa.
“ Ngeliat hantu dimana...?” tanya sang papa sambil menahan tawa.
“ Di depan kamarku Pa...,” sahut Nuara karena tak ingin lagi menyimpan semuanya sendiri.
“ Maksud Kamu berdiri di depan pintu kaya gitu tadi karena lagi ngeliat hantu Ra...?” tanya sang mama.
“ Iya Ma...,” sahut Nuara lirih.
“ Sebentar, setau Papa di rumah ini ga pernah ada hantu lho Ra. Sejak belasan tahun Kita tinggal di sini Papa sama Mama ga pernah diganggu sama hantu apa pun bentuknya...,” kata sang papa.
“ Iya. Mungkin itu hantu yang ngikutin Kamu dari luar Ra...,” kata sang mama menambahkan.
“ Kayanya sih gitu Ma. Soalnya Aku juga ngeliat hantu itu di lift tadi. Hantu itu juga langsung masuk gitu aja ke dalam badan Aku sampe Aku kaget dan ga bisa ngapa-ngapain...,” sahut Nuara gusar.
__ADS_1
“ Kamu kerasukan tadi...?” tanya sang mama tak percaya.
“ Iya Ma. Makanya Aku pulang naik Taxi tadi karena setelah hantu itu keluar dar badanku, Aku ngerasa badanku lemes banget...,” kata Nuara lalu menceritakan pengalamannya di dalam lift bersama Iyaz tadi.
Kedua orangtua Nuara terkejut bukan kepalang. Apalagi sat Nuara mengatakan jika Iyaz bisa berinteraksi dengan hantu wanita yang bersemayam dalam tubuhnya dengan santai. Nuara juga mendengar saat Iyaz meminta hantu wanita yang merasuki tubuhnya keluar dari tubuhnya.
“ Jangan-jangan temanmu itu dukun Ra...,” kata mama Nuara.
“ Bukan dukun Ma. Mungkin indigo maksud Kamu Ma...,” sela papa Nuara sambil tertawa.
“ Iya itu maksud Mama...,” sahut mama Nuara.
“ Kayanya sih gitu Ma. Emangnya kenapa Ma...?” tanya Nuara.
“ Kalo gitu Kamu bisa minta tolong sama dia dong Ra...,” sahut sang mama.
“ Minta tolong gimana maksud Mama...?” tanya Nuara tak mengerti.
“ Ya minta tolong supaya hantu itu ga ngikutin Kamu terus. Atau bantu nanya apa maunya hantu itu kenapa ngikutin
Kamu sampe ke rumah. Itu kan bahaya Ra, apalagi kalo pas ga ada orang sama sekali. Mama ga bisa bayangin Kamu kerasukan dalam jangka waktu lama terus di tempat yang ga seharusnya. Mama khawatir ada orang yang memanfaatkan keadaanmu dan melakukan tindakan yang ga baik seperti melecehkan Kamu misalnya...,” sahut
sang mama.
“ Mama Kamu betul Ra...,” kata papa Nuara.
“ Terus gimana caranya Aku ngomong sama Pak Iyaz itu Pa. Aku malu...,” sahut Nuara dengan wajah bersemu merah.
“ Ya bilang aja kalo Kamu diikutin sama hantu yang kemarin diajak ngobrol sama dia di lift...,” kata mama Nuara.
“ Ntar dikiranya Aku modus doang Ma...,” sahut Nuara salah tingkah membayangkan reaksi Iyaz saat ia mengatakan permintaannya.
“ Ya ngomongnya jangan genit dong biar dia ga salah paham...,” kata Mama Nuara.
“ Aku ga genit ya Ma...,” sahut Nuara sambil cemberut hingga membuat kedua orangtuanya tertawa.
“ Atau Kamu emang lebih suka kalo diikutin sama hantu itu Ra...?” tanya sang mama.
“ Ya ga mau lah Ma. Kerasukan itu ga enak Ma. Setelah makhluk halusnya pergi, badan tuh rasanya lemes kaya ga ada tulangnya. Dan itu ga nyaman banget...,” sahut Nuara.
“ Nah kalo gitu Kamu harus cepat bertindak Ra...,” kata mama Nuara memberi semangat.
Nuara pun mengangguk lalu mulai memikirkan susunan kalimat yang tepat untuk menyampaikan keluhannya itu kepada Iyaz.
__ADS_1
\=====