Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
127. Berubah Jadi Siluman


__ADS_3

Sementara itu di dalam hutan larangan Izar dan Inar nampak tengah duduk bersila di atas altar batu tempat dimana dulu Suharsa tewas meregang nyawa. Di sekeliling altar batu terlihat obor menyala untuk memberi penerangan.


Rupanya Inar juga ingin menumbalkan Izar pada siluman yang dipujanya selama ini. Namun sisi hati Inar sedikit terusik saat menatap Izar. Ia merasa sangat menyayangi Izar. Rasa sayang yang tak ia mengerti dan belum pernah ia miliki terhadap lawan jenis selama ini. Biasanya Inar menyukai pria yang datang padanya begitu saja. Lalu Inar akan menumbalkan mereka untuk memperoleh keinginannya.


“ Kenapa berat sekali rasanya. Ini berbeda dengan yang lain. Aku belum pernah ragu kaya gini untuk menyerahkan laki-laki. Ada apa ini, siapa Anak ini sebenarnya...?” tanya Inar dalam hati sambil menatap Izar dengan lekat.


Perlahan Izar membuka matanya dan mulai sadar jika ia berada di tempat asing.


“ Ada apa, dimana ini...?” bisik Izar dengan suara lirih sambil menatap ke sekelilingnya dengan kesadaran yang mulai pulih.


“ Kita ada di tengah hutan Sayang...,” sahut Inar sambil membelai pipi Izar dengan lembut.


“ Kita mau apa di sini...?” tanya Izar sambil berusaha menepis tangan Inar dari wajahnya.


“ Kita mau ini...,” sahut Inar sambil menghambur memeluk Izar dan menciumi wajahnya dengan penuh hasrat.


Izar menjerit karena tak menyangka akan diperlakukan oleh seorang wanita dewasa dengan cara tak lazim seperti itu. Izar terus menjerit sambil berusaha mendorong tubuh Inar yang kini sedang menind*ih tubuhnya.


“ Berhenti, lepasin Aku...!” jerit Izar sambil berusaha lepas dari pelukan Inar yang terus berusaha mencumbunya.


Jeritan Izar terdengar dari kejauhan dan membuat Faiq berlari cepat meninggalkan semuanya lalu bergegas mendatangi asal suara itu. Saat itu lah kemarahan Faiq mencapai puncaknya melihat anaknya sedang dilecehkan oleh Inar.


“ Biadab...!” maki Faiq sambil menendang tubuh Inar hingga jatuh terjengkang ke tanah.


Semua warga yang ikut mendatangi suara Izar tadi nampak bingung karena tak tahu persis apa yang dialami Izar. Mereka memang berada jauh di belakang Faiq tadi. Saat mereka tiba di sana mereka melihat Faiq sedang memeluk tubuh Izar yang gemetar dengan erat.


“ A..., Ayah...,” bisik Izar dengan suara gemetar.


“ Iya Nak. Ayah di sini...,” sahut Faiq sambil memeluk erat tubuh Izar dan mengusap punggungnya untuk menenangkan Izar.

__ADS_1


Erik yang tiba setelah warga pun nampak membulatkan matanya saat menyaksikan kondisi Izar yang terlihat kacau.


Apalagi Erik juga melihat jejak kemerahan di leher dan dada Izar yang ia yakini adalah akibat ulah Inar.


“ Brengs*ek, wanita gila ga tau diri...,” maki Erik marah lantas mendekat kearah Inar dan menampar wajahnya dengan sangat keras.


Tak terima diperlakukan seperti itu oleh Erik, Inar marah lalu menyerang Erik. Beruntung Erik berhasil berkelit hingga Inar hanya menyentuh angin dan jatuh tersungkur di atas altar batu dengan posisi tertelungkup. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh warga untuk meringkusnya. Inar berteriak marah saat tubuhnya diikat ke pohon besar yang ada di dekat altar batu itu dengan tali pengikat yang terbuat dari bambu.


“ Jadi ada apa ini sebenarnya Pak...?” tanya Sopran bingung.


“ Dia menculik remaja ini untuk memuaskan hasrat liarnya. Setelah itu, jika dia sudah tak menginginkannya lagi maka dia akan menumbalkan pemuda ini pada siluman sembahannya...,” sahut nek Niken.


“ Astaghfirullah aladziim...,” kata warga bersamaan.


“ Emangnya siapa dia Nek. Kenapa bisa tau area hutan larangan ini...?” tanya Mukhlis.


“ Dia Inar, temanku sekaligus rivalku...,” sahut nek Niken sendu.


“ Betul...,” sahut nek Niken.


“ Oh, jadi ini orangnya. Tapi kenapa masih keliatan muda banget ya Nek. Padahal setau Saya, usianya udah sepuh kaya Nenek gini. Atau jangan-jangan...,” ucapan Tamim terhenti saat melihat nek Niken menganggukkan kepalanya.


“ Iya, dia menggunakan ilmu hitam untuk membuatnya tetap awet muda dan cantik. Selain itu dia juga menjadikan laki-laki dewasa yang jatuh hati padanya sebagai tumbal. Khasiat ilmu hitam itu akan lebih terpancar jika Inar bisa mempersembahkan laki-laki muda dan perjaka kepada siluman sembahannya itu. Dan Kalian bisa liat kan hasilnya. Usianya sama denganku, tapi penampilannya bak wanita muda beranak satu. Sungguh hal di luar nalar bukan...?” kata nek Niken sambil tersenyum mengejek kearah Inar.


“ Sia*an Kau Niken. Apa manfaatnya Kau mengatakan itu semua kepada mereka hah. Apa Kau pikir mereka percaya pada bualanmu itu Nenek tua...!” sahut Inar marah.


“ Kami percaya...!” sahut Tamim yang diangguki warga.


“ Jangan-jangan menghilangnya beberapa pemuda dari kampung ini beberapa tahun ini juga karena ulahmu Nek Inar...?” tanya Sopran.

__ADS_1


“ Berhenti memanggilku Nenek, Aku tak setua itu...!” kata Inar marah.


“ Bagaimana cara mereka menghilang...?” tanya Faiq.


“ Mereka ditawari bekerja di sanggar tari Inar di kota. Ga ada uang ga ada kabar, semuanya pergi dan hilang begitu saja. Salah seorang warga mencoba mencari ke kota tapi nihil. Nek Inar bilang ga ada yang datang ke tempatnya untuk bekerja, padahal alamat yang ia berikan sama dengan alamat yang didatangi warga...,” sahut Mukhlis.


“ Kenapa ga lapor Polisi...?” tanya Hanako.


“ Apa yang mau Kami laporkan Nak, kehilangan ?. Ga mungkin. Para pemuda itu udah cukup dewasa dan pergi dengan kemauan sendiri. Pasti polisi ga akan merespon laporan Kami karena mereka pasti mengira para pemuda itu pergi untuk membangun hidupnya di kota lain. Jadi sampe detik ini ga ada yang berani melapor dan merelakan begitu saja anggota keluarga mereka hilang begitu saja tanpa kabar...,” sahut Mukhlis.


Suasana hening sesaat usai Mukhlis menceritakan tentang hilangnya para pemuda kampung. Tiba-tiba Inar tertawa sangat keras hingga membuat semua orang terkejut dan menatap bingung kearahnya.


“ Ha ha ha. Sudah sampe sini Kalian masih ga paham juga. Aku lah yang melenyapkan mereka. Mereka terlalu naif dan mudah sekali dirayu. Hanya dengan menyibak sedikit kain di tubuhku mereka mau menuruti semua keinginanku dan berakhir di atas altar batu itu. Nah, itu lah yang terjadi. Bagaimana, apa Kalian percaya...?” tanya Inar sambil tertawa.


“ Dasar wanita gila. Sebaiknya Kita bawa aja dia ke kampung dan laporkan dia ke polisi...,” kata salah seorang warga.


“ Ga bisa Pak, Kita selesaikan di sini aja sekarang...,” sahut Faiq.


“ Maksudnya gimana ya Pak...?” tanya Sopran tak mengerti.


“ Coba Kalian liat ke sana...,” sahut Faiq sambil menunjuk kearah Inar yang saat itu terikat di batang pohon.


Dalam kegelapan malam dan hanya diterangi obor terlihat penampilan Inar perlahan berubah. Wajah cantiknya memudar, rambut yang disanggul pun terurai dan menjadi gimbal, tubuhnya pun membesar. Pakaiannya sobek perlahan seolah tak sanggup menyembunyikan payu*daranya yang menyembul keluar sangat besar hingga menjuntai menyentuh tanah. Kulit segarnya perlahan mengeriput disertai lendir berbau busuk.


Hanako menjerit tertahan sambil menutupi mulutnya karena tak menyangka bisa menyaksikan perubahan wujud manusia menjadi siluman seperti ini.


“ I..., itu, dia berubah ja..., jadi kolong wewe ya Nek...?” tanya Hanako terbata-bata.


“ Betul Nak. Hanya saja kalong wewe yang ini bukan menculik Anak-anak tapi pria baligh dan dewasa untuk memenuhi hasrat liarnya dan dijadikan tumbal...,” sahut nek Niken prihatin.

__ADS_1


Semua orang menatap nanar kearah siluman jelmaan Inar. Mereka menunggu dengan jantung yang berdetak cepat apa yang akan dilakukan oleh siluman itu setelah wujudnya berubah sempurna.


\=====


__ADS_2