
Pria bertopeng itu membawa Gayatri ke suatu tempat.
“ Kita sembunyi di sini dulu ya...,” kata pria bertopeng itu dan diangguki Gayatri.
Kini mereka ada di sebuah tempat yang cukup asing. Walau pun masih ada di area kekuasaan Graha, tapi Gayatri sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu.
“ Ini tempat apa...?” tanya Gayatri.
“ Di sini lah Aku tinggal selama ini. Makanya tak seorang pun yang bisa menemukanku...,” sahut pria bertopeng itu sambil tersenyum.
Tiba-tiba suara seorang wanita menyapa sang pria hingga membuat Gayatri dan pria bertopeng itu menoleh. Gayatri terkejut saat melihat seorang wanita cantik berperut buncit berjalan cepat kearah mereka.
“ Kamu pulang juga Sayang...,” kata wanita cantik itu sambil menghambur ke dalam pelukan pria bertopeng itu.
“ Tentu saja. Aku ga mungkin meninggalkanmu di sini kan Sayang...,” sahut pria bertopeng itu sambil memeluk wanita cantik itu lalu mengecup keningnya dengan lembut.
“ Sayang...?!” kata Gayatri terkejut.
Seolah tersadar jika ada orang lain di sana, pria bertopeng dan wanita cantik itu saling mengurai pelukan.
“ Apa maksud semua ini...?!” tanya Gayatri marah.
“ Tenang lah Gayatri, Aku bisa jelaskan semuanya. Sekarang Kita masuk dulu ke dalam rumah ya...,” bujuk pria itu sambil menggamit tangan Gayatri dan membawanya masuk.
Wanita cantik itu pun tersenyum lalu mengikuti Gayatri dan pria itu masuk ke dalam rumah. Namun belum lagi langkahnya mencapai pintu rumah sepasang tangan menghadang langkahnya dan membekap mulutnya. Wanita itu pun menjerit tertahan hingga mengejutkan Gayatri dan pria bertopeng itu.
Saat Gayatri membalikkan tubuhnya ia melihat pasukan pengawal pribadi raja Graha sudah mengepung tempat itu. Meski pun hanya berjumlah beberapa orang tapi itu membuat nyali Gayatri menciut karena ia tahu betul kadar kekuatan mereka.
“ Kalian sudah terkepung. Sebaiknya menyerah saja atau Kalian tanggung sendiri akibatnya...!” kata salah seorang pengawal pribadi raja dengan lantang.
“ Apa Kalian sedang mengancamku ?. Apa Kalian lupa sedang berhadapan dengan siapa, mana sikap sopan Kalian...?” hardik Gayatri marah.
__ADS_1
“ Maafkan Kami. Tapi sejak Anda lari dengan pria itu sejak itu lah sopan santun Kami untuk Anda hilang Bu Gayatri...,” sahut sang pengawal sambil tersenyum sinis.
Jawaban sang pengawal membuat Gayatri tersentak kaget. Ia sadar jika tindakannya lari dari suaminya secara otomatis telah menggugurkan haknya sebagai permaisuri raja yang harus dihormati oleh semua orang.
Gayatri makin terkejut saat sebilah pedang menempel di lehernya. Ternyata pedang itu adalah milik pria bertopeng yang selama ini dicintai Gayatri dan tengah ia perjuangkan untuk bisa menguasai kerajaan. Dalam hati Gayatri merasa kecewa karena dijadikan sandera untuk menyelamatkan wanita cantik yang tengah hamil itu yang statusnya pun belum diketahui oleh Gayatri.
“ Persetan dengan sopan santun itu. Sekarang lepaskan wanita itu jika Kalian ingin Gayatri selamat...!” kata pria bertopeng itu sambil menempelkan sebilah pedang kearah leher Gayatri.
Keadaan pun menjadi hening seketika. Dua kubu sama-sama memiliki satu sandera wanita untuk mengancam. Sedangkan Gayatri merasakan jika sisi pedang yang tajam itu mulai menggores kulit lehernya. Rupanya pria bertopeng itu sangat marah melihat wanitanya disandera hingga tak menyadari jika pedangnya justru telah melukai Gayatri.
Melihat Gayatri yang meringis karena sakit akibat goresan pedang membuat para pengawal pribadi Graha mulai goyah. Mereka nampak saling menatap bingung. Bagaimana pun Gayatri masih berstatus istri Raja mereka dan mereka tak ingin disalahkan jika Gayatri terluka akibat mereka lalai menjaganya.
Namun keheningan itu pun berakhir saat sebuah angin menerjang Gayatri hingga pria yang menyanderanya pun terpelanting jatuh ke samping. Lalu sebuah tangan menarik Gayatri menjauh dari pria bertopeng itu. Saat Gayatri mempertajam penglihatannya ia pun terkejut karena raja Graha lah yang telah menyelamatkannya tadi.
Kemudian raja Graha menyerahkan Gayatri pada pengawalnya yang lain dan memintanya untuk menjaga Gayatri.
“ Jaga dan awasi dia baik-baik. Jangan biar kan dia lari, sejengkal pun...,” kata raja Graha datar.
Pria bertopeng itu pun segera bangkit. Kini ia berdiri berhadapan dengan raja Graha.
“ Buka topengmu dan hadapi Aku secara ksatria. Jika Kau laki-laki sejati, Kau tak akan menyembunyikan wajah aslimu di balik topeng itu...,” kata raja Graha ketus.
Pria itu tertawa lalu perlahan membuka topengnya dan membuangnya ke sembarang arah. Kini wajah pria yang ternyata adalah Jaladra itu nampak terpampang jelas di hadapan semua orang. Raja Graha tersenyum sinis melihat Jaladra.
“ Beruntung Aku menolak lamaranmu waktu itu. Karena putriku terlalu sempurna untuk pria busuk sepertimu...,” kata raja Graha.
“ Tapi pria busuk ini lah yang telah membuat Istrimu berpaling darimu...,” sahut Jaladra bangga.
“ Sayangnya Aku harus mengakui kehebatanmu yang satu itu...,” kata raja Graha dengan wajah merah padam lalu merangsek maju menyerang Jaladra.
Pertempuran sengit pun terjadi. Raja Graha dan Jaladra ternyata memiliki kekuatan yang seimbang. Iyaz dan Izar yang hadir di sana pun nampak terkagum-kagum melihat pertempuran dua pria hebat itu.
__ADS_1
“ Ini pertempuran langka. Sayangnya ponselku ga bisa digunakan di sini...,” keluh Izar.
“ Apa-apaan sih Kamu Zar, masih aja mikirin ponsel di saat genting kaya gini...,” sahut Iyaz sebal.
“ Lho ini kan pertempuran unik, life lagi. Kalo bisa dishare kan seru tuh...,” gurau Izar sambil tersenyum.
Namun senyum Izar memudar saat melihat raja Graha terpelanting jatuh akibat serangan Jaladra. Raja Graha terlihat sulit untuk bangkit dan itu membuat Jaladra tertawa puas. Mengira dirinya menang Jaladra pun menyerang raja Graha dengan kekuatan penuh sambil mengacungkan sebuah batu berbentuk bola berwarna biru. Sinar kebiruan keluar dari bola itu dan bergerak lurus menuju kearah sang raja. Para pengawal pribadi raja Graha pun bergerak melindungi raja mereka dari serangan Jaladra dengan membuat lingkaran mengelilingi sang raja.
Akibatnya membuat Iyaz dan Izar terkejut. Para pengawal pribadi raja Graha menderita luka bakar cukup parah akibat terkena sinar yang keluar dari bola biru itu. Namun para pengawal itu tetap bertahan melindungi sang raja.
Iyaz dan Izar pun turun tangan membantu saat melihat Jaladra kembali bergerak menerjang kearah raja Graha. Tatapan matanya yang kejam menandakan jika Jaladra berniat membunuh sang raja. Iyaz dan Izar pu harus menanggung kemarahan Jaladra karena gagal menghabisi sang raja. Kini ketiganya terlibat pertempuran sengit.
Raja Graha pun bangkit dibantu para pengawalnya. Ia menatap kearah si kembar dan Jaladra yang tengah bertempur. Kemudian ia menatap Gayatri yang terlihat cemas menyaksikan pertarungan itu. Detik itu lah raja Graha sadar jika cinta Gayatri untuknya telah berakhir. Raja Graha pun mengepalkan tangannya dan melangkah ke depan untuk menghentikan pertarungan Jaladra dengan si kembar.
Tiba-tiba wanita cantik yang tadi menyambut kedatangan Jaladra menjerit kesakitan. Rupanya ia mengalami kontraksi karena tegang menyaksikan pertempuran yang terjadi sejak tadi. Jeritan itu membuat Jaladra lengah dan menguntungkan si kembar. Keduanya melompat bersamaan lalu merebut bola biru dari tangan Jaladra dan menendangnya dengan kekuatan penuh hingga Jaladra terpelanting ke tanah.
Bola biru yang merupakan benda pusaka kerajaan Graha bukan lah benda biasa yang bisa disentuh sembarangan. Siapa pun yang menyentuh bola biru itu akan terbakar menjadi abu jika tak memiliki kemampuan istimewa. Tapi si kembar dengan santainya memegang benda itu lalu menyerahkannya kepada raja Graha. Jaladra pun menjerit marah dan mencoba menyerang raja Graha namun gagal. Rupanya keberadaan bola biru itu memberikan kekuatan khusus pada raja Graha.
Cahaya kebiruan perlahan keluar dari bola itu lalu membesar dan menyelimuti tubuh raja Graha. Para pengawal pribadi raja Graha dan semua orang yang ada di sana kemudian jatuh terduduk sambil menundukkan kepala. Rupanya cahaya itu pertanda jika leluhur sakti hadir di sana.
Iyaz dan Izar yang menyaksikan hal itu pun bergerak menjauh untuk memberi ruang kepada raja Graha dan rakyatnya berkomunikasi dengan leluhur mereka itu.
“ Sudahi pertempuran ini karena Kalian hanya akan saling menyakiti. Kau Jaladra, tahta itu tak kan pernah menjadi milikmu meski pun Kau membunuh Graha. Karena Graha memiliki tanda khusus yang dibawa sejak ia lahir. Hanya dia yang bisa memimpin kerajaan ini dengan baik dan bukan yang lain hingga penerus itu lahir nanti...,” kata leluhur sakti.
“ Tapi Aku juga memiliki tanda lahir yang sama dengannya Tuanku...,” sahut Jaladra gusar.
“ Itu tanda lahir yang diciptakan iblis untuk memecah belah persatuan Kalian. Lupakan itu karena Kami tak akan terkecoh. Kami hanya memilih orang yang membawa tanda lahir itu sejak dalam kandungan ibunya untuk menjadi pemimpin di kerajaan ini...,” kata leluhur sakti.
Kemudian diperlihatkan bagaimana seorang tabib menggambar tanda kebiruan di lengan atas Jaladra yang masih bayi. Tabib itu adalah pengawal pribadi ayah Graha yang memberontak. Setelah menggambar tanda lahir yang sama persis dengan yang dimiliki Graha, tabib itu bunuh diri dengan meninggalkan sepucuk surat yang menyatakan jika Jaladra adalah pewaris tahta kerajaan yang sesungguhnya.
Melihat gambaran itu membuat Jaladra malu dan makin menundukkan wajahnya. Ia pun menangis menyesali perbuatannya lalu bersimpuh di hadapan raja Graha.
__ADS_1
\=====