
Hari peresmian kantor cabang pun tiba. Semua anggota keluarga besar Erik dan Farah pun turut hadir dalam acara
peresmian itu. Mereka datang beriringan menggunakan beberapa mobil. Tiba di tempat acara mereka pun langsung bergegas berkumpul di lapangan.
Semua tamu undangan dan para karyawan telah hadir termasuk beberapa perwakilan perusahaan yang mensponsori acara itu. Diantara mereka terlihat Qiana yang datang mewakili Bank tempatnya bekerja. Saat itu Qiana datang bersama tiga orang rekan kerjanya.
Di pintu masuk terlihat deretan papan karangan bunga yang berjajar rapi. Isi ucapan selamat pun nampak tertera
pada karangan bunga mencerminkan betapa luasnya pergaulan perusahaan Erik. Beberapa pejabat juga nampak mengirimkan karangan bunga mewakili pribadi atau instansi yang dipimpinnya.
Melihat deretan papan karangan bunga yang berwarna warni membuat Hanako tersenyum bangga. Ia bahkan berhenti untuk membaca beberapa kalimat ucapan yang tertera di papan karangan bunga yang dikirim oleh rekanan perusahaan sang opa. Hal itu tak lepas dari perhatian Pandu yang berdiri di sampingnya sambil menggendong Paundra.
“ Kenapa senyum-senyum sendiri Sayang...?” tanya Pandu.
“ Aku lagi ngeliat deretan papan karangan bunga ini Mas. Kebayang kan gimana terkenalnya Opa sampe jumlah karangan bunganya berdesakan kaya gini...,” sahut Hanako sambil tersenyum.
“ Itu karena Opa orang baik. Jadi wajar kalo banyak orang respect sama Beliau...,” kata Pandu sambil mengecup
pipi Hanako dengan sayang.
Hanako pun mengangguk sambil tersenyum lalu kembali melangkah untuk mengamati situasi.
Sementara itu Iyaz dan Izar juga sibuk mengatur beberapa persiapan sebelum acara inti dimulai. Sedangkan di
deretan kursi terlihat Nuara duduk menemani Shera dan Farah sesuai permintaan suaminya.
Di pintu masuk terlihat Usep yang baru saja tiba bersama Tinah dan Ratih. Ketiganya pun masuk ke dalam area peresmian sambil menatap ke sekelilingnya dengan takjub.
“ Wah gedungnya bagus banget Bang, ini kan yang Abang kerjain selama ini ya...,” kata Tinah.
“ Iya Tin. Abang juga ga nyangka setelah dikasih hiasan, gedung yang dibangun keliatan megah dan cakep...,”
sahut Usep bangga.
Ratih yang mendengar percakapan Usep dan Tinah pun ikut tersenyum. Saat itu ia mengedarkan pandangan untuk
mencari keberadaan Izar. Wajahnya pun berbinar saat melihat Izar datang mendekat kearah Usep.
“ Maaf Mas Saya terlambat...,” kata Usep sambil menjabat tangan Izar.
“ Gapapa Pak Usep. Acaranya belum dimulai kok. Apa kabar Bu Tinah, Ratih...,” sapa Izar sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah baik Mas...,” sahut Tinah dan Ratih bersamaan.
“ Kalo gitu Saya pinjem Pak Usep sebentar ya. Bu Tinah dan Ratih bisa keliling dulu sambil ngeliat bazar dan pameran seni di sebelah sana...,” kata Izar.
__ADS_1
“ Iya Mas...,” sahut Tinah cepat lalu segera menggamit lengan Ratih dan membawanya ke tempat yang dimaksud.
Saat tengah melihat tenda tempat pameran seni berada, tak sengaja Ratih melihat Qiana. Ia pun menepuk pundak Qiana hingga gadis itu menoleh. Keduanya tertawa lalu saling memeluk. Tinah pun ikut tersenyum melihat tingkah keduanya. Qiana menganggukkan kepalanya kearah Tinah. Setelah mengurai pelukannya, ia mendekati Tinah dan menyapanya.
“ Apa kabar Bu Tinah...?” tanya Qiana santun sambil menjabat tangan Tinah.
“Alhamdulillah baik Mbak…,” sahut Tinah sambil tersenyum.
“ Ngapain Kamu di sini Qi, kok pake seragam...?” tanya Ratih.
“ Iya. Aku datang untuk mewakili Bank tempat Aku kerja sekalian cari nasabah baru Tih...,” sahut Qiana sambil
tersenyum.
“ Oh gitu. Jadi masih jam kerja dong...,” kata Ratih sedikit kecewa.
“ Cuma sebentar kok, kalo udah selesai Aku temenin Kamu nanti...,” janji Qiana.
“ Ok. Kalo gitu Aku sama Bu Tinah ke sana dulu ya...,” pamit Ratih sambil melangkah mengikuti Tinahyang terlihat bergeser ke tenda bazar.
“ Ok…,” sahut Qiana sambil tersenyum.
Kemudian Qiana kembali melanjutkan pekerjaannya. Kali ini ia mendapat beberapa calon nasabah baru. Ternyata ajang peresmian cabang perusahaan Erik yang baru membawa keberkahan tersendiri untuk Qiana. Ia nampak membantu menulis data calon nasabah Bank di formulir pendaftaran yang dipegangnyakarena calon nasabahnya sedang sibuk melayani pembeli.
Tak lama kemudian Qiana kembali kembali bergabung dengan rekan-rekannya di loby kantor. Ia melihat Desi dan Nita juga sedang sibuk menjelaskan jenis layanan di Bank tempat mereja bekerja kepada para karyawan perusahaan.
“ Aus banget kayanya Qi…,” sapa Nita.
“ Iya Nit, baru jam Sembilan tapi di luar udah panas banget…,” sahut Qiana sambil menyeka peluh di keningnya.
“ Nih minum Aku masih ada kalo kurang…,” kata Nita sambil menyodorkan botol air miliknya kearah Qiana.
“ Ga usah, makasih. Ini aja udah cukup kok…,” sahut Qiana sambil tersenyum.
“ Dapat banyak Qi…?” tanya Desi yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
“ Alhamdulillah. Dapat tiga di tenda pameran seni plus dua karyawan di dekat gerbang masuk sana…,” sahut Qiana sambil tersenyum.
“ Hebat banget sih Qi. Baru keluar sejam aja pulang udah bawa hasil…,” puji Desi.
“ Alhamdulillah, Allah yang kasih mudah dan menggerakkan hati mereka untuk nerima tawaranku tadi…,” sahut Qiana merendah.
“ Mungkin kasian ngeliat Qiana yang berdiri kaya anak ilang…,” gurau Nita yang disambut tawa Desi dan Qiana.
“ Betul, apalagi dia pake tampang culun plus ngeselinnya itu…,” kata Desi.
__ADS_1
“ Sia*an, mana ada Aku kaya gitu. Aku tuh professional ya…,” sahut Qiana sambil membulatkan matanya hingga membuat Desi dan Nita kembali tertawa.
Saat itu lah tak sengaja Qiana melihat Izar melintas di hadapannya. Izar terlihat sibuk mengatur beberapa karyawan untuk melakukan sesuatu. Melihat penampilan Izar yang tengah serius membuat Qiana tersenyum dan itu tak luput
dari perhatian Desi.
“ Ganteng ya Qi…,” kata Desi setengah berbisik.
“ Iya…,” sahut Qiana tanpa sadar dengan netranya yang terus menatap Izar kemanapun pria itu melangkah.
“ Kalo gitu deketin yuk…,” bisik Desi membuat Qiana tersadar lalu menoleh kearah Desi.
“ Kamu ngomong apaan sih Des…?” tanya Qiana.
“ Aku bilang deketin yuk, emang salah…?” tanya Desi dengan mimik lucu.
“ Jangan macem-macem ya. Kamu ga boleh deketin dia…,” kata Qiana tegas.
“ Kenapa, Kamu udah deketin dia duluan…?” tanya Nita penasaran hingga membuat Qiana salah tingkah.
“ Bukan Aku tapi teman Aku. Jadi please jangan ganggu cowok itu ya…,” pinta Qiana.
Mendengar ucapan Qiana membuat Nita dan Desi tertawa terbahak-bahak hingga membuat Qiana menatap bingung kearah keduanya.
“ Kalian kenapa ketawa sih…?” tanya Qiana.
“ Jadi Kamu ngelarang Kita deketin dia karena temanmu juga mau deketin dia…?” tanya Nita di sela tawanya.
“ Iya…,” sahut Qiana cepat.
“ Hei Qi. Mas Izar itu masih jomblo dan dia bukan milik siapa-siapa. Bilang sama temanmu itu ya, kalo mau bersaing ya harus sportif dong. Tunjukin aja usaha terbaiknya dan kasih kesempatan Mas Izar buat milih siapa yang terbaik diantara Kita. Gimana…?” tanya Desi sambil menaik turunkan alisnya.
“ Betul, Aku setuju sama yang dibilang Desi…,” sela Nita.
“ Iya iya, terserah Kalian aja deh…,” sahut Qiana tak enak hati.
“ Jadi gimana Qi, mau ikut bersaing…?” tantang Desi.
“ Ga mau…,” sahut Qiana sambil menggeleng hingga membuat Nita dan Desi mengerutkan kening.
“ Kenapa ga mau, cewek-cewek berlomba lho mencari perhatian dia. Masa Kamu ga ikutan…?” tanya Nita heran.
Qiana tak menjawab. Ia memilih keluar dari loby dan meninggalkan rekannya yang tengah menatap bingung kearahnya.
“ Kalian ga tau aja betapa nyebelinnya cowok itu…,” gumam Qiana sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
\=====